Oleh: Dwi Indah Nursita

KH. Ahmad Sanusi mungkin tidak semasyhur KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan Ahmad bin Muhammad Surkati, bahkan KH. Ahmad Sanusi juga kalah masyhur jika dibandingkan dengan KH. Zainal Mustafa. Namun, KH. Ahmad Sanusi sangatlah masyhur di kota Sukabumi. KH. Ahmad Sanusi adalah seorang Ulama Nusantara yang lahir pada hari Jumat 12 Muharram 1306 H atau tanggal 18 September 1888 di Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Beliau adalah putera dari Ajengan KH. Abdurrahim bin H. Yasin bin Nurzan bin Nursalam bin Nyi Raden Candra binti Syekh H. Abdul Muhyi Pamijahan bin Raden Ageng Tanganziah bin Kentol Sumbirana bin Wira Candera bin Syekh ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Ishaq Ma’sum bin Ibrahim Al-Ghazali bin Jamal Al-Din Husein bin Ahmad bin ‘Abd Allah bin ‘Abd Al-Malik bin ‘Alawi bin Muhammad bin Sahib Al-Mirbat bin ‘Ali Khalil Qasam bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abd Allah bin Ahmad Al Muhajir bin ‘Isa Al Bisari bin Muhammad Al Faqih bin ‘Ali Al ‘Uraydi bin Ja’far Sadiq bin Muhammad Al Baqir bin ‘Ali Zayn Al ‘Abidin bin Husayn bin Siti Fatimah binti Muhammad S.A.W.[1] dan Ibu Epok.

Berdasarkan jalur nasab tersebut, maka KH. Ahmad Sanusi memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Namun beliau menyembunyikan identitasnya. Ayah KH. Ahmad Sanusi merupakan pengasuh pesantren Cantayan di Sukabumi. Semasa kecil, beliau akrab dipanggil dengan sebutan “Si Uci”. Sebagai putera seorang Ajengan, beliau sudah terbiasa dengan lingkungan pesantren untuk belajar agama. Namun, menjadi seorang putera Ajengan juga membuat KH. Ahmad Sanusi menjadi pusat perhatian banyak orang, baik dari lingkungan santri maupun dari lingkungan masyarakat sekitar pesantren. Beliau memperoleh perlakuan istimewa dari para santri maupun masyarakat di lingkungannya. Keinginannya jarang ditolak. Namun justru sebaliknya, apabila perilakunya dianggap telah menyimpang atau keluar dari kaidah dan norma agama, maka akan ada banyak orang yang mengingatkan dan menghalanginya. Oleh karena itu, sejak dini beliau telah mengalami proses internalisasi terhadap nilai-nilai keagamaan yang membentuk kepribadian KH. Ahmad Sanusi menjadi seorang yang saleh.[2]

Meskipun begitu, KH. Ahmad Sanusi hanyalah seorang anak biasa yang sama seperti anak lain pada umumnya. Pada usia 7 hingga 10 tahun, beliau sering melakukan kegiatan seperti teman sebayanya yaitu menggembala kambing, kerbau, atau kuda.[3] Sejak kecil pula, KH. Ahmad Sanusi mempelajari Ilmu Agama di Pesantren milik ayahnya hingga memasuki usia 16 tahun. Setelah dianggap cukup dewasa, memasuki usia 17 tahun, beliau disuruh orang tuanya untuk belajar di luar pesantren yang dipimpin ayahnya, guna mendalami Ilmu Agamanya, menambah pengalaman dan memperluas pergaulannya di lingkungan masyarakat.

Berdasarkan anjuran dari ayahnya, KH. Ahmad Sanusi mulai belajar di beberapa pesantren. Pertama, beliau belajar selama 6 bulan di Pesantren Selajambe Cisaat yang dipimpin KH. Muhammad Anwar. Kedua, berguru selama 2 bulan kepada KH. Muhammad Siddik di Pesantren Sukamantri Cisaat. Ketiga, belajar selama 6 bulan kepada KH. Djenal Arif/Ajengan Sulaeman/Ajengan Hafidz di Pesantren Sukaraja. Kemudian, beliau berguru di wilayah luar Sukabumi yaitu selama 12 bulan/1 tahun untuk belajar tasawuf di pesantren Cilaku Cianjur dan belajar di pesantren Ciajag Cianjur selama 5 bulan. Setelah itu beliau berguru selama 6 bulan kepada KH. Ahmad Satibi di Pesantren Gentur di Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Cianjur. Berguru di Pesantren Buniasih Cianjur selama 3 bulan. Selanjutnya, dari Cianjur beliau berguru ke Pesantren Keresek Blubur Limbangan Garut selama 7 bulan dan 4 bulan di Pesantren Sumursari Garut. Kemudian berguru kepada KH. Suja’i di Pesantren Gudang Tasikmalaya selama 12 bulan/1 tahun.[4]

Setelah belajar dan berguru ke berbagai pesantren, pada tahun 1909 KH. Ahmad Sanusi kembali ke Sukabumi dan belajar di Pesantren Babakan Selawi Baros Sukabumi. Ketika belajar di Pesantren Babakan selawi, KH. Ahmad Sanusi bertemu dengan seorang gadis yang bernama Hj. Siti Djuwairiyah yang merupakan putri dari KH. Affandi dari Kebon Pedes. Maka menikahlah KH. Ahmad Sanusi dengan Hj. Siti Djuwauriyah.[5]

Setelah menikah dengan Hj. Siti Djuwairiyah, tekad KH. Ahmad Sanusi untuk mencari dan memperdalam ilmu tidak surut begitu saja. Pada tahun 1910, KH. Ahmad Sanusi bersama sang istri berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun, setelah masa haji sudah usai, beliau dan sang istri tidak segera pulang ke tanah air, tetapi mereka memutuskan untuk menetap di kota Makkah Al-Mukarramah kurang lebih sekitar 5 tahun.[6] Di kota Mekkah KH. Ahmad Sanusi melanjutkan belajar Ilmu Agama Islam dan sedikit pengetahuan umum kepada para ulama di kota tersebut.[7] Kehidupan di kota Mekkah bersama istrinya ini KH. Ahmad Sanusi banyak berhubungan dengan berbagai pemikiran, mazhab serta tokoh-tokoh ilmuwan Islam di sana. Namun, walaupun begitu beliau tetap menganut mazhab syafi’i. Banyak tokoh ulama dan pergerakan yang beliau temui untuk dijadikan guru maupun teman diskusi. Dari kalangan ulama yaitu Syeikh Shaleh Bafadil, Syeikh Maliki, Syeikh Ali Thayib, Syeikh Said Jamani, H. Muhammad Junaedi, H. Abdullah Jawawi, H. Mukhtar. Sedangkan dari kaum pergerakan diantaranya KH. Abdul Halim  (Pendiri Persatuan Umat Islam/PUI Majalengka), Raden H. Abdul Muluk (Tokoh Serikat Islam), KH. Abdul Wahab Hasbullah (Tokoh Pendiri NU), KH. Mas Mansyur (Tokoh Muhammadiyah).[8]

Selama 5 tahun tinggal di Kota Mekkah, KH. Ahmad Sanusi memanfaatkan waktunya dengan baik untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu Agama Islam. Maka tidak heran apabila atas kepandaian ilmunya beliau mendapat penghargaan dari para Syeikh di Mekkah bahkan beliau juga mendapat kesempatan untuk menjadi imam shalat di Masjidil Haram. Ada seorang Syeikh mengatakan, “Jika ada orang Sukabumi yang ingin memperdalam ilmu keagamaannya, ia tidak perlu pergi jauh-jauh ke Mekkah karena di Sukabumi telah ada seorang guru agama yang ilmunya telah cukup untuk dijadikan sebagai guru panutan yang pantas diikuti”.[9] Bahkan sebelum pulang ke tanah air, KH. Ahmad Sanusi berkesempatan menjadi guru di Mekkah Al-Mukarromah tepatnya di Masjidil Haram.

Kepandaian ilmu yang dimilikinya telah menjadikannya sebagai pribadi yang pandai dalam bersikap, giat menyuarakan kebenaran, serta pandai dalam beretorika maupun berdiplomasi. Kepopuleran seorang KH. Ahmad Sanusi semakin menjadi perbincangan Para Ulama di Mekkah.

Apalagi ketika terjadi insiden, kemudian nama KH. Ahmad Sanusi dipanggil oleh seorang penguasa di Mekkah karena penjelasannya tentang ciri-ciri dajjal kepada muridnya. KH. Ahmad Sanusi menjelaskan apa yang telah dijelaskan di Al-Quran, hadits, maupun kesepakatan Para Ulama. Penjelasan ciri-ciri dajjal yang beliau sampaikan memiliki kesamaan dengan penguasa yang ada di kota Mekkah kala itu. Sontak berita pemanggilanya tersebar ke seluruh wilayah Mekkah. Ketika tiba waktu persidangan sekaligus eksekusi mati yang akan ditimpakan kepada KH. Ahmad Sanusi, beliau didampingi dua algojo dengan pedang ditangannya yang siap mengekseskusi mati leher KH. Ahmad Sanusi. Namun, dengan santai dan piawai, KH. Ahmad Sanusi menjelaskan permasalahan yang sedang diperbincangkan. Dengan kecerdasan dan kepandaian retorikanya berhasil membatalkan hukuman yang akan ditimpakan kepada beliau. Kemudian, kabar mengenai KH. Ahmad Sanusi yang batal dieksekusi mati sontak tersebar ke seluruh wilayah Mekkah bahkan sampai juga ke tanah air khususnya Sukabumi.[10]

Pada saat tinggal di Mekkah, KH. Ahmad Sanusi mulai menggeluti dunia perpolitikan. Hal ini berawal dari pertemuannya dengan Abdul Muluk (Tokoh Serikat Islam) di Mekkah. Kemudian KH. Ahmad Sanusi menyetujui untuk bergabung dengan organisasi Serikat Islam setelah mengetahui tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi tersebut.[11] Dalam organisasi tersebut, beliau mulai belajar dan bergaul dengan tokoh pergerakan yang akhirnya mempengaruhi pola pikirnya. Maka muncullah jiwa juang dalam pergerakan nasional, karena salah satu alasan KH. Ahmad Sanusi bergabung dengan organisasi Serikat Islam adalah adanya Anggaran Dasar (AD) yang bertujuan untuk melepaskan ketergantungan masyarakat pribumi terhadap negara asing.[12]

Lima tahun berlalu, tepatnya tahun 1915 KH. Ahmad Sanusi bersama istrinya pulang ke tanah air dan kembali ke Cantayan, Sukabumi.[13] Beliau membantu ayahnya untuk mengajar di Pondok Pesantren Cantayan. Metode mengajar yang beliau terapkan di pesantren ayahnya berbeda dengan kyai-kyai lainnya, materinya mudah diterima oleh santri dan jamaahnnya. Maka tidak heran jika dalam waktu singkat sejak kepulangannya dari kota Mekkah, KH. Ahmad Sanusi dengan cepat dikenal oleh masyarakat hingga mendapat julukan Ajengan Cantayan.

Pada tahun 1921 atas arahan ayahnya, beliau mendirikan pesantren di daerah Genteng Babakan Sirna, Cibadak, Sukabumi. Sejak saat itu pula beliau mendapat julukan tambahan yaitu sebagai Ajengan Genteng. Di Sukabumi, tepatnya 14 Syawwal 1354/ 5 Februari 1935 beliau mulai mendirikan pesantren di Gunung Puyuh. Dinamakan Gunung Puyuh, karena di daerah tersebut terdapat sebuah gunung (bukit kecil) yang banyak dihuni oleh burung puyuh. Sekarang gunung itu terletak di sebelah barat kompleks perguruan Syamsul ‘Ulum. Oleh sebab itulah, pemerintah Staadgemeente Sukabumi memberi nama jalan yang melintasi daerah itu Vogelweg (jalan burung).

Pada awalnya, di pesantren Gunung Puyuh hanya terdapat sebuah masjid dan sebuah bangunan sederhana. Namun demikian, sama seperti Pesantren Cantayan dan Genteng, Pesantren Gunung Puyuh juga banyak diminati para murid. Bahkan karena banyaknya antusias para penimba ilmu satu itu, banyak rumah-rumah penduduk yang dijadikan sebagai pondok untuk menampung seluruh murid-muridnya.[14]

KH. Ahmad Sanusi sangat produktif menuangkan gagasan pemikirannya dalam bentuk kitab atau risalah yang mencakup berbagai bidang. Sebagai seorang ulama produktif dalam dunia tulis menulis, tercatat kurang lebih ratusan karya telah beliau tulis dalam berbagai disiplin ilmu kegamaan Islam. Seperti bidang Tauhid atau Ilmu Kalam (Teologi), Fikih (Islamic Laws), Tasawwuf (Mistisisme Islam), Tafsir (Qur’an Interpretation) dan sebagainya. Karya-karya diatas tersebut baik itu tulisannya yang bersifat elementer (berupa ajaran Islam) ataupun yang sifatnya polemis atau diskursus intelektual. Maka atas dasar tersebut tidaklah salah kalau Martin Van Brunessen menggolongkan KH. Ahmad Sanusi ke dalam para pengarang kitab yang terkenal pada zamanya. Bahkan karya-karya dari KH. Ahmad Sanusi masih banyak tercecer dan bahkan belum dipublikasikan karena masih terdapat di tangan-tangan masyarakat umum dan dijadikan sebagai referensi permanen. Menurut penuturan keluarga dan kerabat KH. Ahmad Sanusi masih banyak karangan lainnya yang belum dicatat dan masih dalam bentuk manuskrip (tulisan tangan) hingga jumlah keseluruhannya diperkirakan hampir mendekati angka sekitar 400-an judul kitab.[15]

Pada saat memimpin dan mengelola Pesantren, KH. Ahmad Sanusi telah menghasilkan banyak karya tulis baik tentang keislaman, semangat juang maupun yang ditujukan untuk menegur ulama yang menjadi tangan kanan Belanda, yang pada saat itu dikenal dengan sebutan Ulama Pakauman. Kemudian direspon oleh Belanda dengan tujuan memenjarakan KH. Ahmad Sanusi melalui tuduhan memobilisasi masa pada peristiwa perusakan jaringan telepon yang menghubungkan Bogor, Sukabumi, dan Bandung. Pada tahun 1927 KH. Ahmad Sanusi dipenjarakan selama 9 bulan di penjara Cianjur dan dipindah ke penjara Sukabumi hingga bulan November 1928, kemudian diasingkan di Batavia Centrum Senen. Hikmah yang dapat diambil dari pengasingannya tersebut adalah beliau dapat fokus untuk menuangkan segala pemikirannya dalam bentuk karya tulis yang didominasi responnya terhadap berbagai persoalan Khilafiyyah yang mengemuka di tengah masyarakat.[16]

KH. Ahmad Sanasi adalah seorang ulama dan pejuang. Dalam mendukung gerak perjuangannya dalam mengembangkan syiar Islam, beliau dengan para ulama Sukabumi mendirikan sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang keagamaan dan kemasyarakan Al-Ittihadiyatul Islamiah (AII) yang resmi berdiri pada bulan November 1931 ketika beliau berada di dalam pengasingannya. Program pertama perkumpulan ini adalah menyeIenggarakan pengajian-pengajian, tabligh-tabligh, dan mendorong para Kiai untuk mendirikan madrasah-madrasah. Para Kiai yang pada awalnya berdiri sendiri-sendiri pun, pada waktu itu beramai-ramai ikut bergabung ke dalam AII, tidak hanya Para Kiai yang berada di Sukabumi, tetapi juga di Bogor, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis. Dalam tempo yang relatif singkat telah berdiri 26 cabang yang tersebar di seluruh Jawa Barat (Pasundan) dan dua cabang lainnya terdapat di Jakarta. Perhimpunan ini menerbitkan majalah bulanan yang diberi nama “Attablighul Islami” dan majalah “AI-Hidayatul Islamiah”. Pada tahun 1935 majalah tersebut terbit untuk pertama kalinya.[17] Pada tanggal 20 Pebruari 1939 KH. Ahmad Sanusi dapat bebas melalui Surat Keputusan (SK) dari Gubernur Jendral Hindia Belanda No. 3 yang diterbitkan berdasarkan usulan pejabat baru Advicer Voor Inlandse Zaken, G.F. Pijper kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda A.W.L. Tjarda di akhir tahun 1939 menyatakan bahwa penahanan KH. Ahmad Sanusi harus dicabut. Menurutnya, kekhawatiran para pejabat Hindia Belanda atas rongrongan KH. Ahmad Sanusi terhadap kewibawaan pemerintah Hindia Belanda adalah terlalu berlebihan. Pengaruh positif dari KH. Ahmad Sanusi sebagai guru yang baik membuat beliau segera bertemu dengan murid-muridnya.[18]

Setelah kembali dari pengasingan, KH. Ahmad Sanusi lebih memperhatikan kegiatan yang berorientasi kepada bangkitnya sebuah rasa nasionalisme, yang pada gilirannya dapat menumbuhkan kesadaran baru para Kiai yang tergabung dalam AII untuk terjun secara langsung ke dunia politik dan membebaskan diri dari penjajahan Belanda. Dengan demikian mulailah tertanam rasa kebangsaan atau patriotism seperti para pejuang lainnya. Secara nyata, sikap tersebut muncul bersamaan dengan satu peristiwa “Cililin”. Peristiwa itu akhirnya menimbulkan isu bahwa KH. Ahmad Sanusi merupakan salah seorang penggeraknya. Kalangan AII merasa perlu melindungi keselamatan para Kiai-nya terutama dari berbagai hasutan dan fitnahan dari luar. Perkembangan positif tersebut oleh KH. Ahmad Sanusi kemudian memanfaatkannya dengan membentuk sebuah wadah khusus dalam AII. Wadah ini diberi nama Barisan Islam Indonesia (BII) sebagai organisasi pemuda AII.[19] Pada tahun 1942, ketika Sukabumi telah dikuasai oleh penjajah Jepang, KH. Ahmad Sanusi dan BII mempunyai peran besar dalam memberi informasi kepada pihak militer Jepang tentang basis pertahanan Hindia Belanda yang tersebar di kota Sukabumi. Bermodalkan dari informasi tersebutlah Belanda dapat dihancurkan dengan mudah.[20]

Mundurnya Belanda dari tanah air menjadikan babak baru pendudukan militer Jepang di Sukabumi. Oleh karena itu, semangat untuk meraih kemerdekaan terus dikobarkan dengan cara memanfaatkan keadaan seperti mengikuti pelatihan khusus bagi Para Ulama dengan dalih memperkuat militer Jepang yang berlokasi di Kantor Masjoemi yang beralamatkan jalan Imamura No. 1 Jakarta. Kemudian KH. Ahmad Sanusi, KH. Agus Salim, dan Dr. Amrullah beserta tokoh penting lainnya ditunjuk sebagai instruktur.[21] Pada tahun 1943 KH. Ahmad Sanusi diangkat sebagai Dewan Penasehat Daerah Bogor (Giin Bogor Shu Sangi Kai) oleh Jepang dengan syarat AII diaktifkan kembali dengan nama baru yaitu Persatuan Oemat Islam Indonesia (POII). Hal ini merupakan siasat dari KH. Ahmad Sanusi untuk menyusun kekuatan melawan penjajahan Jepang.[22]

Dalam kedudukannya sebagai Dewan Penasehat Daerah Bogor, dimanfaatkan oleh KH. Ahmad Sanusi untuk membentuk tentara PETA (Pembela Tanah Air) di Pesantren Guung Puyuh. KH. Abdullah bin Nuh dari Bogor dan KH. Acun Basyuni dari Sukabumi dan beberapa tokoh lain dipilih sebagai komandan.[23] Pada tahun 1944 KH. Ahmad Sanusi bersama KH. Wahid Hasyim dan Djoenaedi masuk kedalam kepengurusan Jawa Hokakai (Kebangkitan Jawa) mewakili Masyumi.[24] Setelah itu, pada tahun 1945 beliau diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bersama R. Soekarjo Wirjopranoto, Mr. R. Syamsudin dan tokoh lainnya yang kemudian namanya berubah menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).[25] KH. Ahmad Sanusi aktif memberikan pendapat seperti dalam rapat PPKI tanggal 10 Juli 1945. Beliau mengajukan sebuah konsep negara yang disebut “Imamat” yang artinya berbentuk Republik.[26]

Sesuai kesepakatan perjanjian Renville maka pada tahun 1948 KH. Ahmad Sanusi dan para pejabat Republik Indonesia yang lain harus pindah ke Yogyakarta karena pada saat itu wilayah Jawa Barat telah dikuasai oleh penjajah.[27] Setelah cukup lama di Yogyakarta, kemunculan Darul Islam yang diresmikan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo ditolak keras oleh KH. Ahmad Sanusi karena dianggap mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, Anggaran Dasar (AD) dari Darul Islam seperti adanya hak veto bagi Imamnya (Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo) juga dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.[28]

Pada tahun 1949 KH. Ahmad Sanusi masih berada di Yogyakarta sehingga tidak bisa melihat ayahnya wafat. Baru pada awal tahun 1950, beliau pulang kampong ke Sukabumi. Namun, pada hari Ahad tanggal 31 Juli 1950 KH. Ahmad Sanusi wafat di rumahnya tepatnya di Pondok Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi.[29] Atas segala jasanya, pada tanggal 12 Agustus 1992 Pemerintah Republik Indonesia memberi tanda kehormatan dengan dipimpin oleh Presiden Suharto menganugerahkan kepada KH. Ahmad Sanusi Bintang Maha Putera Utama dan dianugerahi Bintang Maha Putera Adipradana oleh Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 10 November 2009 yang diterima oleh ahli warisnya di Istana Negara.[30]

 

Daftar Rujukan

[1] H. Istikhori, K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): Biografi Ulama Hadis Keturunan Nabi SAW Asal Sukabumi, Refleksi, Vol. 18, No. 1, 2019, hlm. 31

[2] A. Saifuddin, Haji Ahmad Sanusi: Ulama dan Pejuang, Al-Qalam, No 53/X/1995, hlm. 1

[3] Mohammad Iskandar, Kyai Haji Ahmad Sanusi: Biografi Singkat Guru dan Pejuang Pedesaan (Depok: Universitas Indonesia, 1991), hlm. 4

[4] Munandi Saleh, K.H. Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangannya di Pergolakan Nasional (Tangerang: Jelajah Nusa, 2014), hlm. 3

[5] Asep Mukhtar Mawardi, “Haji Ahmad Sanusi dan Kiprahnya dalam Pergolakan Pemikiran Keislaman dan Pergerakan Kebangsaaan Sukabumi 1888-1959” (Tesis tidak diterbitkan, Program Magister Ilmu Sejarah Pascasarjana Unipersitas Diponegoro, 2011), hlm. 94

[6] Munandi Shaleh, K. H. Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangan dalam Pergolakan Nasional (Tangerang Selatan: Jelajah Nusa, 2016), hlm. 5

[7] Sulasman, K.H. Ahmad Sanusi: Berjuang dari Pesantren Hingga Parlemen (Bandung: PW PUI Jawa Barat, 2007), hlm. 25

[8] Munandi Shaleh, K.H Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangan dalam Pergolakan Nasional (Tangerang Selatan: Jelajah Nusa, 2016), hlm. 5

[9] Sulasman, K.H. Ahmad Sanusi: Berjuang dari Pesantren Hingga Parlemen (Bandung: PW PUI Jawa Barat, 2007), hlm. 25

[10] Dendi Budiman, Islam Dan Negara: Telaah Pemikiran Politik K. H. Ahmad Sanusi Di Indonesia, (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018), hlm. 41-42

[11] Munandi Saleh, K.H. Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangannya di Pergolakan Nasional (Tangerang: Jelajah Nusa, 2014), hlm. 7

[12] Mohammad Iskandar, Para Pengemban Amanah: Pergulatan Pemikiran Kiai dan Ulama di Jawa Barat 1900-1950 (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2001), hlm. 26

[13] Sulasman, Sukabumi Masa Revolusi 1945-1946, (Disertasi, Depok: Universitas Indonesia, 2007), hlm. 129

[14] Anwar, Maslani, Ratu Suntiah, Kyai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950): Karya-Karya dan Pemikiran Ulama Sukabumi, Atthulab, Volume III, No. 2, 2018/1439, hlm. 203-204

[15] Ibid, hlm. 204

[16] Munandi Shaleh, K.H. Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangannya dalam Pergolakan Nasional, cetakan ke-IV, (Pamulang Timur: Jelajah Nusa, 2016), hlm. 10-11

[17] A. Saifuddin, Haji Ahmad Sanusi: Ulama dan Pejuang, hlm. 28-29

[18] Ajip Rosidi, Islam dalam Kesenian Sunda, cetakan ke-I (Bandung: Pusat Studi Sunda, 1995), hlm. 37

[19] A. Saifuddin, Haji Ahmad Sanusi: Ulama dan Pejuang, hlm. 29-30

[20] H. Istikhori, K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): Biografi Ulama Hadis Keturunan Nabi saw Asal Sukabumi, hlm. 34 

[21] Miftahul Falah, Riwayat Perjuangan K.H. Ahmad Sanusi (ttp.: Masyarakat Sejarawan Indonesia-Jabar, 2009), hlm. 131

[22] Ahmad Mansyur Suryanegara, Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, cetakan ke-II, (Bandung: Penerbit Mizan, 1995), hlm. 283

[23] Miftahul Falah, Riwayat Perjuangan K.H. Ahmad Sanusi, hlm. 139

[24] Mohammad Iskandar, Kiayi Haji Ajengan Ahmad Sanusi (Jakarta: PB PUI, 1993), hlm. 72

[25] Munandi Shaleh, K.H. Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangannya, hlm.18

[26] Mohammad Iskandar, Kyai Haji Ahmad Sanusi: Biografi Singkat Guru dan Pejuang Pedesaan (Depok: Universitas Indonesia, 1991), hlm. 21

[27] Miftahul Falah, Riwayat Perjuangan K.H. Ahmad Sanusi, hlm. 161

[28] Mohammad Iskandar, Kiayi Haji Ajengan Ahmad Sanusi, hlm. 23

[29] Munandi Shaleh, K.H. Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangannya, hlm. 22

[30] Munandi Shaleh, K.H. Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangannya, hlm. 215

 

Profil Singkat Penulis :

Nama             : Dwi Indah Nursita

Alamat            : RT 02, RW 02, Dusun Mojoanyar, Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang

No Telepon    : 085646563937

Email               : dwiindah1074@gmail.com