Oleh: Budi Gunawan

Kelahiran

Tuan Guru Kiyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, mempunyai nama sejak kecil Muhammad Saggaf. Beliau dilahirkan di kampung Bermi, desa Pancor (Lombok) pada hari Rabu, 20 April 1908 M atau bertepatan dengan 18 Rabi’ul Awal 1316 H. Orang tuanya bernama Tuan Guru Abdul Madjid dan Hj. Halimatus Sa’diyah. Terdapat beberapa versi mengenai kelahiran beliau, di antaranya ada yang menyebut tahun 1898 dan 1908. Akan tetapi yang paling masyhur yaitu pada tanggal 18 Rabiul Awal 1326 H, mengenai tahun Masehinya hanya ditulis tahun 1908 sesuai identitas saat beliu mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Sesudah memasuki usia sembilan tahun, nama Muhammad Saggaf berubah menjadi Muhammad Zainuddin, hal ini terjadi karena Tuan Guru Abdul Madjid mencari keberkahan dari seorang ulama besar dari daerah Sarawak yaitu Syaikh Muhammad Zainuddin. Bertepatan dengan kelahirannya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada tahun 1908, merupakan dekade awal penjajahan Hindia Belanda yang ditandai dengan penaklukan Puri Cakranegara dan pembuangan Raja Lombok, Ratu Agung-Agung Ngurah ke Batavia. Dua tahun sebelum kelahiran TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yakni tahun 1906 M kebijakan pertanahan kolonial di Lombok atau dikenal dengan Peraturan Agraria Lombok diberlakukan efektif. Melalui regulasi ini, pemerintah kolonial memberikan pusat pemilikan tanah yang semakin bertambah ke tangan tuan-tuan tanah Bali dan Sasak, sehingga semakin memperburuk situasi pangan masyarakat Lombok secara keseluruhan.

Mengenai permasalahan silsilah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid masih belum valid, hal ini dikarenakan pada tahun 1940 rumah tempat tinggal beliau terbakar oleh si jago merah pada saat peristiwa kebakaran menimpa kampung Bermi Pancor, sehingga mengakibatkan sebagian besar informasi dan data-data secara tertulis terbakar oleh api. Akan tetapi kendati ada yang berasumsi bahwa TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, termasuk keturunan yang ke tujuh belas dari Kerajaan Selaparang, merujuk pada kegiatan ziarah yang dilakukan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ke Makam Selaparang pada tahun 1971 M karena raja Salamparang termasuk kerajaan Islam yang berkuasa di Lombok.

Keluarga Abdul Madjid sebagai keturunan campur Bugis Makassar dengan Sasak, saat Kerajaan Gowa Makassar menguasai Lombok. Kerajaan Gowa menjadi penyebar Islam di Lombok bagian timur. Seperti yang terlihat secara realistis sisa peninggalan Bugis Makassar di Lombok masih bisa kita saksikan seperti keberadaan musik Cilokaq yang merupakan perpaduan musik Bugis Makassar dan musik Sasak. Cilokaq ini berkembang di daerah Sakra dan sekitarnya. Keberadaan kampung Bugis-Makassar di sepanjang pesisir Lombok Timur, khususnya berpusat di Labuan Lombok, Labuan Haji, dan wilayah Tanjung Luar. Versi ini lebih kuat dikarenakan sesuai dengan argumentasi dari salah seorang putra dari ibunda beliau yaitu bernama H. Mahsun Ainy, yang mengatakan bahwa nenek moyang orang tuanya berasal dari luar Pulau Lombok, konon dari Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa nama silsilah yang beredar seperti Papuq Kowar, Baloq Andia, Baloq Lendang, dan Papuq Jumlah yang merupakan orang tua dari Tuan Guru Abdul Madjid. Dalam pendapat lain mengaggap bahwa keluarga Tuan Guru Abdul Madjid berasal dari keturunan Lebe dari Kerajaan Selaparang. Lebe merupakan tokoh kunci kerajaan yang bertugas dalam bidang agama dan menangani hal yang terkait dengan agama. Di setiap wilayah tertentu kerajaan menunjuk tokoh agama setempat atau tokoh dari luar yang memiliki pengetahuan agama untuk bertugas sebagai penguat argumentasi. Namun untuk silsilah ke bawah dari Tuan Guru Abdul Madjid, bisa diperoleh secara terperinci yaitu: anak pertama adalah Siti Sarbini, anak kedua adalah Siti Cilah, anak ketiga adalah Hajjah Saudah, anak keempat adalah Haji Ahmad Shabur, anak ke lima adalah Hajjah Masyitah, dan TGKH. Muhammad Zainuddin termasuk anak bungsu dari enam bersaudara. Selain dari saudara kandung, TGKH. Muhammad Zainuddin juga mempunyai saudara sebapak, di antaranya: Muhammad Faishal, Ahmad Rifa’i, Muhammad Badil, Maksum dan Maksud

Jenjang Pendidikan

TGKH. Muhammad Zainuddin hidup di dalam lingkungan keluarga yang memahami ilmu-ilmu agama (agamis) sehingga sejak kecil, beliau sudah digembleng untuk memahami berbagai disiplin ilmu-ilmu keagamaan guna meningkatkan kapasitasnya agar lebih tajam dan komprehensif. Karena kondisi ekonomi yang sangat cukup untuk biaya mencari ilmu pengetahuan selain agama, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memulai pendidikan formal di Sekolah Desa Volkscholen yang merupakan lembaga pendidikan yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, akan tetapi hal tersebut hanya dirasakan sampai kelas III dan melanjutkannya di sekolah lanjutan, yakni GIS (The Gouvernement Indlandsche Scool) yang merupakan sekolah favorit di kala itu. Beliau termasuk salah satu anak dari 854 murid yang bisa belajar di sekolahan GIS, hanya masyarakat yang mempunyai ekonomi di atas rata-rata dapat menyekolahkan anaknya di sekolahan ini.

Selain belajar di lembaga pendidikan formal, TGKH. Muhammad Zainuddin belajar dengan beberapa para Tuan Guru yang berada desa Pancor di antaranya TGH. Syarafuddin, TGH. Muhammad Sa’id Pancor, TGH. Abdullah bin Amaq Dulaji dari Kelayu, dan lainnya. Belajar dari para Tuan Guru tersebut menggunakan sistem pembelajaran halaqah dan mentransfer ilmu-ilmu kaidah bahasa Arab (nahwu dan sharaf ) dan beberapa pelajaran yang membahas tentang materi-materi keislaman di antaranya ilmu fiqh, Hadis, Mustahlah al-Hadis, hukum-hukum tajwid, tafsir al-Qur’an, dll.

Pada tahun 1923 M, Tuan Guru Abdul Madjid berasumsi untuk menjadikan keturunannya manusia yang berpendidikan dan dapat bermanfaat bagi seluruh makhluk. Akhirnya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid diberangkatkan ke tanah suci Makkah untuk melanjutkan pendidikanya. Beliau diantar langsung oleh ayah dan ibunya bersama adik tirinya yaitu Muhammad Faisal, Ahmad Rifa’i, dan seorang keponakan. Dalam rombongan, ikut pula salah seorang gurunya, yaitu Tuan Guru Haji Syarafuddin dan beberapa anggota keluarga dekat lainnya. Selama dua tahun baliau belajar dengan salah satu ulama besar kota suci Makkah yaitu Syaikh Marzuki yang menerapkan teori pembelajaran halaqah. Dua tahun berikutnya TGKH. Muhammad Zainuddin, mengembara dari satu guru ke guru lainnya. Kondisi ini dipicu oleh gejolak politik yang saat itu terjadi. Proses belajar yang dijalani di Makkah dengan segala dinamikanya merupakan sumbu utama pergulatan pemikiran dan visi TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Tahun-tahun awal ketika Zainuddin datang ke Hijaz situasinya sedang memanas. Sejak 1923-1924 M berlangsung konferensi antar negara Arab yang terus menerus mengalami kebuntuan dan terjadi sejumlah penyerangan terhadap Irak dan kejadian lainnya yang kian memperkeruh suasana. Sejumlah peristiwa maha penting terjadi para era ini, mulai dari invasi Raja Najed Abdul Aziz ke daerah Hijaz yang saat itu dikuasai Raja Syarif Husain. Invasi Raja Abdul Aziz ini didukung pasukan Al-Ikwan dari kelompok Wahabi. Awal kedatangan Zainuddin juga ditandai dengan runtuhnya kekhalifahan Ottoman Turki, dengan dideklarasikannya negara Republik Turki oleh Kemal Attaturk.

Setelah situasi di Makkah sudah kembali normal, TGKH. Muhammad Zainuddin bertemu dengan seseorang yang bernama Haji Mawardi dari Jakarta, dari perkenalannya ini, beliau diajak belajar di madrasah al-Shaulatiyah. Madrasah ini adalah Madrasah yang sangat legendaris didirikan oleh Syaikh Muhammad Rahmatullah yang berasal dari India dan telah menghasilkan ulama-ulama besar dunia seperti KH. Hasyim Asya’ri (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan ratusan ulama di wilayah Asia Tenggara. Pada tahun 1927 M, ketika Muhammad Zainuddin masuk di Madrasah al-Shaulatiyah yang dipimpin cucu dari pendirinya yaitu Syaikh Salim Rahmatullah. Pada hari pertama masuknya beliau bertemu dengan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath yang merupakan guru besar madrasah al-Shaulatiyah, beliau lah yang menguji TGKH. Muhammad Zainuddin. Karena kecerdasannya, sang guru menempatkan di tingkat III ulya, tidak lagi bersama dengan calon murid baru lainnya. Akan tetapi TGKH. Muhamad Zainuddin menolaknya dan meminta untuk ditempatkan di kelas II ulya, lama belajar yang seharusnya ditempuh 9 tahun dari tingkatan ulya sampai wustha tetapi dapat ditempuh hanya dalam waktu 6 tahun (Tingkat ulya II, IV,VI, dan tingkat wustha I, II, III) dan selama mengikuti pelajaran beliau tercatat sebagai murid berprestasi. Sehingga para gurunya sering menunjuknya untuk mewakili di berbagai acara, seperti saat ada kunjungan pengawas madrasah kerajaan Saudi Arab.

Setelah mendalami ilmu agama selama 6 tahun di madrasah al-Shaulatiyah. Akhirnya pada tahun 1351 H (1933 M), beliau lulus dengan menyandang predikat mumtaz. TGKH. Muhammad Zainuddin adalah satu-satunya murid yang mendapatkan predikat itu. Bahkan hanya ijazahnya yang ditulis dengan tangan (kaligrafi) oleh seorang ahli khath terkenal di Makkah pada saat itu yaitu al-Khaththath Syaikh Dawud ar-Rumani atas usul dari Mudir Madrasah al-Shaulatiyah. Karena prestasi inilah beliau diminta oleh para gurunya untuk mengabdi di madrasah al-Shaulatiyah. Kemudian permintaan itu dipenuhi selama satu tahun dengan mengajar kelas yang diajar Syaikh Yasin al-Fadani.

Kurang lebih sepuluh tahun belajar di Tanah Suci Makkah, TGKH. Muhammad Zainuddin berguru kepada ulama siapa saja yang berada di Makkah dan berpemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah. Dalam bidang ilmu fiqh, tasawuf, ushul fiqh, dan tafsir pada beberapa ulama besar, di antaranya: Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, Syaikh Umar Bajunaid al-Syafi’i, Syaikh Marzuki al-Palembani, Syaikh Mukhtar Batawi al-Syafi’i, Syaikh Salim Rahmatullah al-Maliki, Syaikh Jamal Mirdad.

Dalam bidang syair-syair dan ilmu al-Quran, beliau juga berguru kepada: Syeikh Abdul Lathif (guru besar ilmu Qiroah Sab’ah), Syeikh Muhammad Ubaid (guru besar ilmu tajwid dan qiroah), Syeikh Abdul Gani (ahli syair arab), Sayyid Muhammad Amin Kutubi (ahli syair arab), Syeikh Salim (guru ilmu falak), Syeikh Falaki (guru ilmu falak), Syeikh Khalifah Maliki (guru ilmu falak), Syeikh Ahmad Dahlan Shadaqah Syafi’iy (guru ilmu falak)

Dalam ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu faraid, ilmu tarikh, dan ilmu nahwu sharaf, beliau belajar kepada: Syeikh Mustafanin Sibawaihi, Syeikh Abdullah (mufti Istanbul), Syeikh Mukhtar,Syeikh Abdul Qadir al-Syalabi, Syeikh Umar Faruq al-Malikiy dan Syeikh Malla Musa al-Maghribi

Sedangkan dalam ilmu kaligrafi atau khat beliau belajar kepada Syeikh Abdul Aziz Langkat, Syeikh Muhammad al-Rais al-Maliki, dan Syeikh Daud al-Rumani al-Fathani. Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil. Para guru di al-Shaulatiyah mengakuinya sebagai murid dengan kecerdasan istimewa. Bahkan Mudir Madrasah al-Shaulatiyah yaitu Syaikh Salim Rahmatullah lazim memercayakan TGKH. Muhamad Zainuddin ikut menghadapi Penilik Madrasah Pemerintah Saudi Arabia yang sering kali datang ke madrasah, setelah Hijaz dikuasai King Abdul Aziz yang membawa aliran Wahabi, sehingga madrasah yang mengajarkan aliran berbeda diawasi. Saat itu TGKH. Muhamamd Zainuddin sebagai salah satu murid al-Shaulatiyah dianggap menguasai paham Wahabi. Pertanyaan penilik itu biasanya menyangkut soal-soal hukum ziarah kubur, tawassul kepada anbiya dan auliya, bernazar menyembelih kambing berbulu hitam atau putih dan sebagainya. Dan beliau selalu berhasil menjawab pertanyaan penilik itu dengan memuaskan. Ketekunannya dalam belajar dan berdiskusi juga diakui oleh salah sorang teman sekelasnya di Madrasah al-Shaulatiyah, yaitu Syaikh Zakariyah Abdullah Bila, seorang ulama besar di Tanah Suci Makkah.

Jalan Dakwah

Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 1933 M TGKH. Muhammad Zainuddin, kembali ke kampung halamannya. TGKH. Muhammad Zainuddin menikah dengan seorang wanita yang bernama Siti Juhariyah dan Siti Rahmatullah. Dari hasil dari pernikahannya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dengan Siti Juhairiyah mempunyai satu anak yaitu Siti Rauhun (yang sekarang menetap di Desa Pancor – Lombok) dan mempunyai enam cucu, di antaranya: Siti Rohmi Djalilah, Muhammad Syamsul Lutfi, Muhammad Zainul Majdi (Ketua Alumni Al-Azhar wilayah Indonesia), Muhammad Jamaluddin, Siti Suraya dan Siti Hidayati.

Sedangkan hasil dari pernikahan Siti Rahmatullah menghasilkan satu seorang putri yaitu Siti Raihanun (yang sekarang menetap di Desa Anjani – Lombok) dan menghasilkan tujuh cucu, diantaranya: Lalu Gede Muhammad Ali Wirasakti Amir Murni, Lale Laksmining Puji Jagat, Lalu Gede Syamsul Mujahidin (Anggota DPR RI Periode 2019), Lale Yaqutunnafis, Lale Syifa’un Nufus (Ketua Pengurus Muslimat Nahdlatul Wathan), Lalu Gede Muhammad Zainuddin Tsani (Pengurus Besar Nahdlatul Wathan) dan Lalu Gede Muhammad Fatihin.

TGKH. Muhammad Zainudiin mendirikan sebuah majelis yang dinamai majelis Mujahidin bertempat di Mushallah al-Mujahidin. Tujuannya dikarenakan keadaan masyarakat Lombok pada waktu itu masih dalam keterbelakangan dan kebodohan akibat tekanan dari pemerintah kolonial Belanda dan lamanya kerajaan Hindu Bali yang bercokol di pulau Lombok. Dahulu pernah terjadi penekanan dari kolonial Belanda kepada TGKH. Muhamad Zainuddin untuk memilih strategi dakwahnya yaitu hanya menjadi khatib mesjid atau melanjutkan mendirikan madrasah. Dengan penuh keyakinan dan dalil yang dimilikinya beliau memilih tetap mendirikan madrasah, karena menurutnya menjadi khatib hukumnya fardu kifayah sedangkan mendirikan madrasah hukumnya fardu ain. Metode dakwah yang dibawanya sangatlah beragam, akan tetapi pada intinya menyebarkan kasih sayang, kesabaran, kecerdasan dan tanpa memaksa ajaran-ajaran Islam yang bercorak ke arab-araban. Di samping itu TGKH. Muhammad Zainuddin selalu bersifat jujur. Karena menurutnya, pendidikan adalah proses bimbingan untuk perubahan sikap, dan tata laku seseorang atau kelompok yang secara sadar proses pendewasaan manusia dan pembentukan pribadi yang mandiri.

Pada tanggal 22 Agustus 1937 M TGKH. Muhammad Zainuddin berhasil mendirikan madrasah khusus laki-laki yang dinamai Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah atau disingkat menjadi NWDI. Setelah madrasah NWDI menghasilkan lulusan angkatan pertama tahun 1941 H, untuk mempeluas kader-kader pendidikan, TGKH. Muhammad Zainudin mendirikan madrasah khusus kaum perempuan yang bernama Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah pada tahun 1941 H atau yang bisa di singkat menjadi NBDI, karena TGKH. Muhammad Zainuddin mempunyai kekhawatiran terhadap kaum perempuan, karena pendidikan sangat urgent bagi kaum perempuan. Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah termasuk juga madrasah khusus perempuan yang pertama kali berdiri di pulau Lombok dan madrasah yang dahulu menggunakan sistem tradisional pada akhirnya menggunakan pengajaran klasikal.

Berdirinya kedua madrasah tersebut semakin menggelitik kaum hasidin (penghasut). Tantangan dan rintangan diterima beliau semakin besar khususnya dari pemerintah kolonial Belanda, sebab baginya wanita tidak perlu dididik membaca dan menulis karena baginya wanita adalah posisinya sebagai pelampiasan rasa sentimen dan rasa hasad saja. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, TGKH. Muhammad Zainuddin mempunyai dua konsep yaitu memasukan pengetahuan umum dan memodernisasikan sistem pengajaran, keduanya merupakan gagasan orisinil karena sebelumnya tidak ada institusi yang mengajarkan seperti itu. Beliau menegaskan kepada semua pelajar di madrasah tersebut bahwa pelajaran harus dimulai dengan sesuatu yang mudah agar dapat di pahami oleh para mubtadi’in (pelajar pemula) dan dapat membangkitkan semangat belajar murid tetapi bukan sebaliknya.

Dari kedua madrasah inilah menimbulkan embrio berdirinya organisasi yang bernama Nahdlatul Wathan (NW) pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 H atau tanggal 1 Maret 1953 M. Organisasi ini untuk mengkordinasi pendidikan di lingkungan TGKH. Muhammad Zainuddin. Di samping itu Nahdlatul Wathan melalui pergerakan pesantren berusaha membangun sumber daya manusia yang berkualitas, karena Nahdlatul Wathan adalah sebuah organisasi yang berorientasi dalam bidang pendidikan, sosial, dan dakwah islamiyah. Di sela-sela kesibukannya melakukan aktivitas di bidang pendidikan, sosial, dakwah, dan menjadi ulama kharismatik, TGKH. Muhamamd zainuddin bergelut di dalam dunia perpolitikan pada tahun 1950 Masehi. Dimulai sejak diangkat menjadi Konsulat Nahdaltul Ulama (NU) Sunda Kecil, setelah NU bergabung dengan ormas-ormas Islam lainya dalam partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI) di NTB beliau diangkat sebagai Ketua Badan Penasihat Partai Masyumi pada tahun 1952. Kemudian pada tahun 1953 Nahdlatul Wathan menetapkan kebijakan politik bebas dan berafiliasi dengan sekretariat partai Golkar dan pada akhirnya TGKH. Muhamad Zainuddin mengundurkan dirinya dari dunia perpolitikan pada tahun 1990. Di samping  sibuk menjadi anggota legislatif pada saat itu TGKH. Muhammad Zainuddin tetap produktif menulis karya-karya sebagai rujukan bagi para santri di madrasah NWDI dan NBDI Karya-karyanya memang tidak berbentuk kitab-kitab yang besar yang berisi kajian-kajian yang bertemakan berat, tetapi karyanya lebih merupakan kajian-kajian dasar dan biasanya dalam bentuk syair dan nadzham – nadzham berbahasa Indonesia, Arab dan Bahasa Arab Melayu. Karyanya juga ada yang dalam bentuk syarah atau penjelasan lebih lanjut terhadap suatu kitab serta dalam bentuk kitab-kitab lain. Berikut karya-karya tulis yang telah dihasilkannya dalam Bahasa Arab, di antaranya: Risâlah at – Tauhîd (Ilmu Tauhid), Sullam al – Hija Syarh Safinah an – Naja (Ilmu Fiqh), Nahdhah az – Zaniyyah (Ilmu faraidh), AlTuhfafh al-Anfananiyah (Sarah Nahdzah Az-Zaniyah), Al – Fâwakih an – Nahdhiyah (ilmu Faraidh), Mir’ju al-Shibyan Syarah al-Illm Bayan (ilmu bayan), Al-Nafahat ala Taqriratu al-Saniyah (ilmu musthalal hadis), Nail al – Anfâl (ilmu tajwid), Hizib Nahdlatul Wathan (doa-doa dan dzikir), Hizib Nahdlatul Banat (doa-doa dan dzikir khusus kaum wanita), Shalat al – Nahdhatain (shalawat), Tharîqah Hizib Nahdhah al-Wathan (dzikir-dzikir harian dan setelah shalat), Ikhtishâr Hizib Nahdhah al – Wathan (dzikir-dzikir), Shalat Nahdhah al – Wathan (shlawat), Do’a Hisnul Malik dan Fathu Rabbani bir Rinjan.

Selain karya-karya yang tertulis dalam bahasa Arab, ada beberapa karnya TGKH. Muhammad Zainuddin yang menggunakan Bahasa Indonesia dan Sasak, di antaranya: Batu Ngompal (ilmu tajwid), Anak Nunggal Taqrîrat Batu Ngompal (ilmu tajwid), Wasiat Renungan Masa I dan II (nasihat dan pengalaman TGKH. Muhammad Zianuddin), dan Macam-Macam Nasyid- nasyid atau Lagu Perjuangan menggunakan bahasa Indonesia, Sasak dan Arab.

Wafat

Sejak awal tahun 1990 kesehatan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berangsur-angsur menurun. Para dokter yang merawatnya menyarankan untuk istirahat total. Namun, semangat perjuangan yang tidak kenal lelah tetap melaksanakan aktifitas dakwah. Tiada hari tanpa dakwah, itulah prinsip yang selama ini dijalankan. Walaupun dengan ditandu, beliau terus mengisi jadwal pengajian umum di seluruh wilayah Lombok. Di usia yang lanjut masih tetap tegar dan kuat berkeliling berdakwah ke tengah masyarakat, mendidik para santrinya, mengarahkan para guru-guru, mulai dari pagi sampai petang, keliling dari pelosok kota sampai ke pelosok desa-desa terpencil. Aktifitas dakwah yang dilakukan sangat menyenangkan dan sudah menjadi kebutuhan. Di penghujung tahun 1993, TGKH. Muhammad Zainuddin mendapat perawatan intensif. Setelah normal, aktifitasnya semula tetap kembali dijalankan.

Pada tahun 1995, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendapat bintang penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasa dan kiprahnya membangun bangsa dan negara. Selama 38 tahun, 1996, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid harus menerima kenyataan, fisik beliau sangat lemah dan terpaksa harus duduk di kursi roda dan banyak berbaring. Selama 1 tahun lebih, beliau sakit. Pada tanggal 20 Jumadil Akhir 1418 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 21 Oktober 1997 Masehi, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid wafat di kediamannya di kompleks Musholla al-Abror yang berada di kawasan Pondok Pesantren Darunnahdlatain Pancor Lombok Timur. Tempat pemakaman juga di komplek halaman Musholla Al-Abror. Ucapan bela sungkawa atau turut berduka cita berdatangan dari berbagai daerah. Pelayat laki-laki dan perempuan, tua-muda, pejabat ataupun rakyat biasa, membanjiri rumah duka. Terhitung lebih kurang 200 kali TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dishalatkan secara bergantian. Bangsa Indonesia kehilangan putra terbaiknya. Hari itu adalah hari duka bagi bangsa yang pandai berterimakasih kepada TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai pejuang pergerakan pembangunan bangsa. Pemerintah Republik Indonesia melalui Gubernur Nusa Tenggara Barat memerintahkan agar di seluruh Provinsi Nusa Tenggara Barat dikibarkan bendera setengah tiang, sebagai penghormatan dan tanda belasungkawa atas wafatnya TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Setelah 21 tahun dari kewafatan TGKH. Muhammad Zainuddin, Bapak Presiden Joko Widodo memberikan penghargaan terbaik kepada putra bangsa yang sudah membela dan mempertahankan bangsa Indonesia dari para penjajah serta mengembangkan pendidikan di Indonesia melaui lembaga pendidikan yang sampai saat ini berkembang pesat dari tingkat non formal seperti majelis talim dan pondok pesantren, adapun lembaga pendidikan yang formal dari tingkat Paud, TK, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Perguruan tinggi dan Pasca Sarjana. Adapun penghargaan yang diberikan kepada TGKH. Muhammad Zainuddin pada tahun 2018 dinobatkan sebgai Pahlawan Nasional.