/>
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Beli Buku

Karomah Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami Menghadapi Istrinya

Oleh: Ni’amul Qohar

Syaikh Syihabuddin ar-Ramli, merupakan salah seorang murid kebangaan Syaikh Zakariyya al-Ansari. Khusus kepadanya lah, Syaikh Zakariyya al-Ansari memberikan restu untuk mengedit karya-karyanya. Imam Ramli terkenal sebagai ulama pakar fiqih Madzab Syafi’i, yang juga termasuk golongan ulama mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Bisa dikatakan ia menjadi ulama yang kaya di masa itu, memiliki beberapa bisnis (perdagangan).

Selain Imam Romli, murid Syaikh Zakariyya al-Ansari yang tidak kalah alimnya dalam kepakaran ilmu fiqih Madzab Syafi’i, yaitu ada Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami. Namun ia hidup dalam kemiskinan, berbeda dengan Imam Romli yang hidup serba kecukupan. Bahkan Al-Haitami tidak pernah makan daging karena tidak punya uang untuk membelinya selama kurang lebih 4 tahun.

Suatu hari, istri Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami mengutarakan keinginannya untuk mandi air hangat di kolam pemandian setempat. Lantas Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “Wahai istriku, sabarlah sebentar, izinkan saya mengumpulkan uang dulu untuk bisa masuk di pemandian air hangat itu.”

Berhari-hari Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami menyisihkan uangnya sedikit demi sedikit, sehingga terkumpul mencapai setengah riyal yang cukup untuk membeli satu tiket masuk di pemandian air hangat waktu itu. Setelah terkumpul, sang istri merasa sangat berbahagia, ia pun segara berpamitan untuk pergi ke tempat pemandian air hangat. Sebelum masuk di tempat pemandian, ia menemui penjaga loket terlebih dahulu untuk meminta izin agar dibukakan pintu masuk untuknya. Namun penjaga toket tidak mau membukakan pintu, karena sudah diboking terlebih dahulu oleh istrinya Imam Romli beserta rombongan santri putrinya.

Penjaga loket berkata, “Mohon maaf bu, hari ini saya tidak membuka tempat pemandian untuk umum, karena sudah diboking khusus oleh istri Imam Romli beserta rombongannya, saya telah menerima 25 riyal sesuai pendapatan pemandian ini untuk sehari penuh, bila ibu berkenan untuk mandi air hangat silahkan datang besok saja.”

Mendengar jawaban penjaga loket, istri Ibnu Hajar al-Haitami merasa sangat kecewa yang langsung pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah ia menggerutu kepada suaminya sambil meluapkan emosi, seperti perempuan pada umumnya.

Beli Buku

“Ilmu yang sempurna itu sebenarnya ilmunya Imam Ramli, di mana istri beserta santri putrinya mampu memboking pemandian air hangat seharian penuh, lalu apa ilmu yang anda miliki? Tidak ada apa-apanya kecuali kefakiran dan kepayahan, ilmu anda tak mengahasilkan apapun,” Gerutu istri Ibnu Hajar al-Haitami sambil mengembalikan uang yang dikumpulkan suaminya berhari-hari itu.

Ibnu Hajar al-Haitami dengan tenang dan penuh kelembutan berkata, “Istriku, saya tidaklah mengharap harta duniawi, saya ridho dengan apa yang digariskan oleh Allah SWT, seandainya kamu ingin bergelimang harta benda, mari ikut saya ke Sumur Zamzam.”

Lalu keduanya bergegas berangkat menuju Sumur Zamzam. Sesampainya di sana, Ibnu Hajar al-Haitami memasukan timba ke dalam sumur, setelah timba diangkat ternyata di dalamnya dipenuhi dengan dinar (mata uang emas), lalu Ibnu Hajar al-Haitami bertanya kepada istrinya.

“Apakah ini sudah cukup?”

“Belum cukup”, jawab istri Ibnu Hajar al-Haitami.

Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami kembali menimba untuk kedua kalinya, setelah diangkat timbanya kembali dipenuhi dengan dinar. Lalu al-Haitami bertanya lagi,
“Apakah ini sudah cukup?”

“Satu kali lagi bah.” Jawab istrinya. Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami kembali menimba dan dipenuh dengan emas dinar lagi. Kemudian Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami berkata kepada istrinya,

“Saya lebih suka hidup fakir atas kemauan saya, memilih untuk diriku sesuatu yang dikehendaki Allah SWT, sedangkan harta duniawi bagiku sama saja, baik singgah maupun tidak, karena duniawi itu rasanya pahit, usianya pendek, dan kehidupannya nista. Sekarang pilihlah di antara dua hal: pertama, kembalikan emas dinar itu semuanya ke dalam Sumur Zamzam dan kamu tetap menjadi istriku, atau yang kedua, ambillah semua emas dinar itu dan pulanglah ke rumah orang tuamu lalu terimalah talak dariku.”

Beli Buku

Lalu sang istri berkata, “Bah sekali-kali saya punya uang banyak seperti orang-orang pada umumnya.

“Tidak”, kata al-Haitami dengan tegas.

Bah, saya kembalikan satu timba saja ya”. Kata sang istri berusaha merayu.

“Tidak”, jawab al-Haitami.

“Yaudah, saya kembalikan dua timba ya bah, yang satu timba saya simpan.”

“Tidak”, jawab al-Haitami.

“Saya ambil satu dinar (dua juta) untuk bersenang-senang hari ini saja.” Rayu sang istri.

“Tidak, kembalikan semuanya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya lalu pulanglah kepada orang tuamu dan ambillah takaj dariku,” Jawab tegas al-Haitami.

Beli Buku

Akhirnya sang istri memilih untuk mengembalikan semua emas dinar tadi ke dalam Sumur Zamzam, seraya berkata, “Iya bah saya kembalikan semua emas dinar ini ke dalam sumur, saya tidak mau pisah denganmu, sudah bertahun-tahun kita mengarungi bahtera rumah tangga ini, maka saya akan lebih bersabar untuk tidak tergoda dengan gemerlapnya harta duniami.”

 

NB

Dinarasaikan ulang dari postingan Instagram pribadi kalam hikmah Ning Dhomirotul Firdaus

Share:
Beli Buku
Avatar photo

Ulama Nusantara Center

Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *