/>
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Beli Buku

Nyantri di Jawa, Impian Santri Lampung Tengah

Nyantri di Jawa impian santri Lampung Tengah

Nyantri di Jawa, merupakan impian santri Lampung Tengah. Sebab Tanah Jawa banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka yang diakui keilmuannya, dan karomahnya seperti halnya, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Karim, KH. Achmad Djazuli Utsman, dan para ulama lainnya. Mereka ini masih memiliki garis keturunan para Walisongo.

Dakwah Walisongo di Jawa

Walisongo telah menyebarkan agama Islam dengan cara mencampurkan kultur budaya lokal dengan budaya Islam. (Ridin Sofwan, et al., 2000). Selain mencampurkan budaya lokal dengan budaya Islam, Walisongo juga mendirikan pesantren. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun pesantren juga menjadi tempat tarbiyah agama Islam.

Hingga saat ini pesantren terus berkembang dan memiliki fasilitas-fasilitas pendidikan yang semakin maju. Meski banyak pesantren yang berdiri saat ini, namun pesantren peninggalan para ulama terdahulu tetap menjadi idola para santri. Terdapat beberapa pesantren peninggalan para ulama terdahulu yang masih dikelola oleh keturunannya seperti Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari . KH. Abdul Karim yang mendirikan Pondok Pesantren Lirboyo. KH. Achmad Djazuli Utsman yang mendirikan Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

Nyantri di Jawa Impian Santri Lampung Tengah

Para santri salafiyah khususnya santri Pondok Pesantren Nurul Qodiri, Lampung Tengah, memiliki minat yang tinggi untuk nyantri di Jawa, khusunya di Lirboyo, Jombang, dan Kediri. KH. Imam Suhadi merupakan pendiri Pondok Pesantren Nurul Qodiri, beliau adalah murid KH. Muhsin Abdillah pendiri Pondok Pesantren Darussa’adah, Mojoagung.

Runtutan sanad keilmuannya yaitu sampai pada KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Pondok Pesantren Nurul Qodiri merupakan pesantren yang sangat menjunjung tinggi kata berkah dan itu menjadi salah satu alasan banyak santri-santri Nurul Qodiri yang ingin merasakan nyantri di Jawa. Menurut mereka, akan semakin berkah jika dapat menimba ilmu dari sumbernya langsung.

Nasihat KH. Imam Suhadi

Kemudian KH. Imam Suhadi, pernah menyampaikan nasehat bahwa “Ojo mandek golek ilmu lek durung ngrasakne ladzate ilmu” (jangan berhenti mencari ilmu jika belum merasakan nikmatnya ilmu). Nasihat tersebut telah membuat santri-santri Nurul Qodiri menjadi haus ilmu. Sehingga mereka berkeinginan untuk nyantri di Jawa. Para santri Nurul Qodiri menyakini bahwa Tanah Jawa sangatlah kramat. Karena terdapat banyak makam para wali yang berada di Jawa.

Beli Buku

Pada saat kajian kitab bandongan (kitab kuning) KH. Imam suhadi juga pernah menyampaikan “كن مع الله ولا تكن مع من مع الله ” yang artinya bersamalah dengan Allah, jika tidak bisa maka bersamalah dengan orang yang bersama dengan Allah.

Karomah Para Wali

Terdapat pula bukti-bukti karamah para wali yang masih bisa dijumpai. Seperti makam dua murid Sunan Ampel yaitu, Mbah Soleh yang memiliki sembilan makam. Beliau adalah tukang sapu Masjid Ampel yang terletak di dekat pesarean Sunan Ampel.

Selain Mbah Sholeh, di sana juga terdapat pula makam Mbah bolong yang dikisahkan melubangi  dinding masjid untuk membuktikan arah kiblat yang benar, sehingga terlihat Ka’bah dari lubang tersebut.

Kesimpulan Pilihan Nyantri di Jawa

Jadi, itulah beberapa alasan santri pondok pesantren Nurul Qodiri Lampung Tengah untuk nyantrri di Jawa sebagai tempat impian untuk menimba ilmu. Bagi mereka nyantri di Jawa memiliki keistimewaan tersendiri, asumsi besar mereka bahwa setiap orang yang nyantri di Jawa terkenal cerdas dan berwawasan luas.

By: Lutfi Azizah

Share:
Beli Buku
Avatar photo

Ulama Nusantara Center

Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *