Oleh: Irfan Asyhari

Kegiatan sosial kemasyarakatan selalu menjadi isu yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan, terutama dalam menawarkan regulasi religi dan perdamaian. Ummat manusia selalu disuguhkan dengan penilaian hukum, baik pelanggaran secara moral, maupun dalam pemahaman yang bersifat radikal.

Dalam penerapan regulasi New Normal di masa pandemi ini, banyak juga yang menyebutkan akibat dari gejala sosial, tentu, siapa saja merasakan dampak dari semua ini, namun bagi beberapa masarakat, hal ini merupakan sebuah kenikmatan yang memberikan kesempatan untuk meminimalisir seabrek kegiatan sosial. Tak dapat dinafikan, berbagai urusan yang menyangkut kemanusiaan tak pernah berhenti, toh nyatanya kita juga manusia yang fungsi dan tugasnya adalah memanusiakan-manusia.

Dalam berbagai hal, mestinya banyak kalangan ummat Islam yang mempunyai kesibukan dengan komunitasanya, apalagi dengan datangnya bulan suci Ramadhan kemarin, tentu saja bagi aktivis muslim agenda kesalehan akan selalu terjadwal dalam setiap harinya. Misalnya, buka bersama di berbagi komunitas, dan kegiatan lainnya yang menjadikan sebuah alternatif muslim dalam menabung amaliyah selama bulan Ramadhan. Akan tetapi, ini semua tidak berjalan mulus, sehingga problematis sosial muncul dengan regulasi baru, akhirnya pranata sosial dinilai dengan sebuah kekacauan kebijakan. Nalar sehat, bisa saja menerima segala peraturan yang ada, nemun bagi kaum yang menjadi korban peraturan negara, hal ini justru membuat penghalang dalam membentuk khazanah yang bercorak Islam.

Pemaknaan konsep pancasilais tak menjadi perdebatan, akan tetapi penafsiran dalam mengejawantahkan makna sosial-lah yang menyebabkan kotradiksi tak berujung, sehingga konseptual yang diberlakukan akan menjadi kontradiksi dalam pemersatuan ummat masnusia. Hal ini bukan saja merusak tatanan interaksi sosial, tapi juga menghambat proses penyadaran pemikiran yang statis dan elegan. Di sisi lain, interaksi sosial dijadikan sebagai landasan proses implementasi persatuan semua kalangan dalam membentuk hubbul wathan dengan segala kemahirannya di lingkup civil society yang unggul.

Masalah agama, kemanusian dan keadialan, Nurcholis Madjid (2012), menjelaskan bahwa, jika asa keadilan dikaitkan dengan agama, maka yang pertama-tama dapat dikatakan ialah berusaha mewujudkan keadilan menjadi salah satu dari sekian banyak sisi kenyataan agama.

Liqo’, Kajian Islam, Pengajian Umum, Majlis-an dan varian kajian lainnya selalu mewarnai dinamika kehidupan sosial. Namun yang menjadi persoalan pokok adalah bagaimana kita akan selalu menjadi orang yang mudah memilih dalam berbagi suguhan kajian Islam yang tersebar luas di lingkungan kita. Tak dapat dipungkiri, bahwa sepintas lalu memang laiknya menggaungkan syiar Islam, akan tetapi lambat laun akan menghayutkan pemikiran bahkan mendiskrimansi sebuah ajaran menjadi sebuah pengaruh dan permasalah sosial. Wajar, problem sosial hanya akan damai jika menguntungkan kehidupan sosialnya.

Kontemplasi sejarah dan perdadaban manusia sangatlah memerlukan relevansi yang tak sedikit memihak, dengan kata lain tidak menyelakan paradigma yang sangat konservatif, sehingga akan menumbuhkan absolutisme dalam memandang satu pihak yang dapat memunculkan gagasan baru. Sangat disayangkan, realitas sangat jauh dengan idealita.

Tokoh muslim Indonesia tentu sangat berjasa dalam menyebarkan dan melanggengkan ajaran Islam. Patut diapresisasi dan diacungi jempol dengan segala jasa baiknya untuk kemashlahatan negeri ini. Yang terpenting lagi adalah menelusuri jejek langkahnya dalam segala hal dan senantiasa membangun pemikiran yang selaras dengan warisan keilmuan yang telah dibangun. Ada banyak cabang keilmuan yang menjadi pengaruh besar dalam meletakkan ajaran Islam secara kaffah dan maslahah.

Untuk menjadi sholeh, tak perlu memprovokasi masa dengan menyerukan esensi beragama yang sahih, karena pada dasarnya kesalehan sosial menjadi perlu bukan karena sebagai ideologi berdalil dengan benar, akan tetapi kesalehan akan membentuk karakter individu muslim menjadi baik dengan dimulai dari diri sendiri ibda’ binafsik. Yang mendasari perubahan sosial adalah kesalehan yang telah mendarah daging, sudah mampu untuk diterapkan dalam ranah yang luas, sehingga mampu menciptakan sebuah keharmonisan lingkungan kesalehan. Dan penyeru kesalehan inilah yang nantinya disebut dengan muslih, di mana diri seorang muslih tentu saja sudah di bekali dengan kesalehan.

Menjadi muslim yang hidup di atas bumi nusantara, tentu kudu mengetahui duduk perkara yang terjadi. Banyak hal yang tidak mampu diselesaikan, namun seiring berjalannya waktu, syari’at agama dengan tegas akan memberikan rambu-rambu lalu lintas beragama yang selaras dengan kehidupan.

Salah satu keluhan yang sering datang kepada orang yang mafhum tentang agama adalah problem sosial, lah kok bisa? Iya mau tidak mau, yang dikatakan orang paham mengenai persoalan aturan kehidupan, itu adalah orang paham tentang agama, karena pada dasarnya agama itu mengatur kehidupan. Masyarakat itu selektif, tentu saja bukan asal memilih, tapi juga meyakinkan jawaban demi terciptanya sebuah tatanan kehidupan bermasyarakat dengan wajah yang sumringah.

Dalam melakoni seabrek dinamika kehidupan, seringkali kita mendapati seonggok problematika yang musykil. Entah karena faktor internal ataupun dikarenakan hambatan eksternal.

Hal ini tentu saja sering diskusikan di berbagai forum disiplin keilmuan, namun persoalan yang merubah pola hidup individu adalah seseorang yang paham dengan diri tersebut, bisa jadi masing-masing individu memang seharusnya paham dengan kapasits dan kemampuan yang ada dalam dirinya sendiri.

Dalam Hadits Nabi juga disebutkan Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal Tuhannya, man arofa nafsahu faqod arofa robbahu,  Penjelasannya simpel, namun pemahamannya yang sedikit rumit. Jadi begini, seseorang memiliki kemampuan, merasa punya keahlian dalam bidang tertentu, punya skill yang mumpuni, merasa berkehendak dalam bertindak, seabrek persoalan tersebut tentu saja yang mengetahui dan mengerti adalah seseorang itu sendiri. Orang lain hanya mengetahui sekilas saja, sebatas apa yang disampaikan dan ditunjukkan melalui skill atau keterampilan tertentu.

Kemudian, sejauh apa yang ia kenali dalam dirinya, lalu ia paham dengan metode kehidupan yang akan ia lakukan, tentu saja kita akan mengenal Tuhan yang semestinya kita hadirkan dalam segala aspek kehidupan, kemudian kita  memahami bahwa kehidupan ini diciptakan oleh Allah SWT untuk menyembah kepada-Nya, dengan demikian berdasarkan Firman-Nya, wamaa kholaqtul jinna wal insa, illaa liya’ buduun (QS. Adz-Dzariyat; 56)

Nah, akhir kata, hikmah atau lesson learnt dan kesimpulan yang dapat kita petik adalah, perlunya kita memahami karakter pribadi, konsep kehidupan yang shorih dan tujuan kehidupan yang bermanfaat serta bermartabat. Kemudian, menyadari bahwa tugas kita sebagai hamba adalah menghamba kepada Allah SWT.