Oleh: Ni’amul Qohar

Tepat di hari Ahad kemarin kita memasuki bulan Rabi’ul Awwal atau biasa disebut bulan Maulid. Dikatakan bulan Maulid karena tepat di bulan ini, baginda Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan. Di berbagai daerah di Indonesia perayaan Maulid Nabi dilaksanakan sesuai budaya lokal yang ada di daerah tersebut. Seperti di daerah Banten, Cirebon dirayakan dengan cara berziarah atau mencuci pusaka-pusaka kuno. Pun berbeda dengan di wilayah Surakarta atau Yogyakarta yang merayakan Maulid Nabi lebih dikenal dengan sebutan Sekaten (syahadatain: dua syahadat). Terlepas dari semua itu, ada salah satu budaya perayaan Maulid Nabi yang hingga saat ini masih dilestarikan, yaitu Berzanji atau orang Jawa menyebutnya Berjanjen.

Bagi umat muslim di pedesaan ketika memasuki bulan Maulid, mereka pada mengadakan acara berjanjen. Yaitu lantunan sholawat untuk memuji baginda Nabi Muhammad ﷺ . Menurut Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab karangannya Hasyiyat al-Bajuri ‘ala Matn Qasidah al-Burdah mengatakan bahwa pujian-pujian terhadap Rasulullah ﷺ merupakan tradisi yang harus didorong dan dilestarikan oleh umat muslim, agar senantiasa patuh kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya.

Ketika baginda Nabi Muhammad ﷺ masih hidup. Beliau sering kali mendapatkan pujian-pujian dari para penyair. Mereka para penyair di zaman itu ialah Hasan ibn Tsabit, Abdullah ibn Rawahah, dan Ka’ab ibn Malik. Diceritakan pula kalau baginda Nabi Muhammad ﷺ sempat memberikan burdah (sorban)-nya kepada penyair Ka’ab ibn Zubair lantaran qasidah pujiannya sangat berkesan pada beliau Nabi Muhammad ﷺ.

Tradisi pujian untuk baginda Nabi Muhammad ﷺ lalu dilestarikan oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir. Bahkan tradisi ini diresmikan secara konstitusional oleh negara yang mewajibkan para masyarakatnya untuk merayakan Maulud Nabi. Setelah Dinasti ini tutup usia, tradisi ini dirawat oleh Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayubi (1174-1193 M atau 570-590 H). Beliau pernah mengatakan kalau tradisi perayaan Maulid Nabi yang berisi pujian kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ dapat mempertebal keimanan dan ketaqwaan umat muslim. Khalifah Salahuddin merayakan Maulid Nabi pada tahun 580 H dengan menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat hidup baginda Nabi Muhammad ﷺ, beserta pujian-pujian kepada beliau dengan menggunakan bahasa seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan waktu itu diundang untuk mengikuti sayembara tersebut. Syaikh Ja’far al Barzanji keluar menjadi pemenangnya dengan hasil karyanya yang berjudul Iqd al Jawahir (kalung permata) atau lebih dikenal oleh khalayak umum Kitab Barzanji.

Syaikh Ja’far al Barzanji merupakan seorang Qadhi (hakim) dari Madzhab Maliki yang bermukim di Madinah. Selain dikenal sebagai Qadhi, beliau juga terkenal sebagai khatib dan pengajar di Masjid Nabawi. Keilmuannya sangat luas, akhlak dan ketaqwaannya telah menghiasai kepribadiannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Banyak orang-orang Madinah mendatangi beliau untuk meminta do’a, karena waktu itu beliau sangat terkenal sebagai ulama yang do’anya maqbul.

Dalam kitab tersebut menceritakan tentang riwayat Rasulullah ﷺ dengan bahasa yang sangat indah. Disajikan dalam bentuk puisi maupun prosa. Adapun isi kitab tersebut meliputi, (1) Silsilah Nabi dimulai dari Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Fihr bin Malik bin Nadar bin Nizar bin Maiad bin Adnan. (2) Kehidupan masa kecil baginda nabi Muhammad ﷺ yang sangat luar biasa. (3) Mengikuti Pamannya ke Syam untuk berdagang di usiannya yang baru 12 tahun. (4) Menikah dengan Siti Khadijah di usia  25 tahun. (5) Mendapatkan wahyu di usianya 40 tahun sebagai pertanda diangkatnya beliau menjadi Rasul untuk menyebarkan agama Islam, dan Rasulullah ﷺ meninggal dunia di Madinah ketika usianya 62 tahun.

Selain itu, di dalam kitab tersebut juga terpaparkan akhlak terpujinya baginda Nabi Muhammad ﷺ dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana beliau bisa mendamaikan para kabilah yang saling berebut meletakan Hajar Aswad di Ka’bah. Bagaimana beliau ﷺ menyayangi para sahabat dan umat muslim maupun non muslim lainnya, bagaimana beliau ﷺ  menjalani kehidupannya dengan sangat sederhana. Serta masih banyak lagi akhlak terpuji beliau lainnya di dalam kitab tersebut.

Tradisi pembacaan berjanjen sampai sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat Indonesia. Terlebih lagi di lingkungan pesantren, pembacaan berjanjen rutin dilaksanakan mulai dari awal masuknya bulan Rabi’ul Awwal sampai pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, yaitu tepat kelahiran baginda Nabi Muhammad ﷺ.  Para Masyayikh di pesantren melaksanakan tradisi ini berlandaskan pada pendapat para fuqoha Madhzab Syafi’i, seperi Ibnu Hajjar Altsqalani yang mengatakan bahwa tradisi seperti ini menyimpan banyak makna kebajikan. AlSuyuthi juga menunjukan sikap toleransinya terhadap produk kebudayaan memeringati kelahiran baginda nabi Muhammad ﷺ ini. Sikap kedua fuqoha tadi disepakati oleh Ibnu Hajjar alHaytami dan Abu Shamah, yang menurut mereka berdua peringatan Maulid Nabi merupakan perbuatan baru (bid’ah) yang sangat terpuji, karena di dalamnya disertai amal kebaikan, seperti sholawatan, shodaqoh, infaq dan kegiatan lainnya yang mengandung nilai ibadah.

Wallahu’alam bishowwab

 

Sumber rujukan

Wasito Raharjo Jati, “ ‘Tradisi, Sunnah, dan Bidah’ Analisa Berzanji Dalam Perspektif Cultural Studies”, dalam Jurusan Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM, el Harakah Vol.14 No.2 Tahun 2012.