Oleh: Qoirul Lilah

Ahmad Abil Fadhal bin Syaikh Abdus Syakur As-Swedangi seorang ulama yang lahir di desa Sedan, kabupaten Rembang, provinsi Jawa Tengah pada tahun 1917, desa Sedan dikenal sebagai “serambi Mekkah”-nya Rembang, hingga saat ini, daerah ini masih banyak menyimpan naskah atau manuskrib.  Beliau akrab dengan panggilan “Mbah Dhol”. Mbah Dhol merupakan anak terakhir dari delapan saudara di antaranya: Muhammad Fadhil, Muhammad Fadhal (keduanya meninggal ketika masih kecil), Nafisah, Nafi’ah, Muniroh, Saidah, Abul Khoyr dan yang terakhir adalah Abil Fadhal(Mbah Dhol). Beliau keturunan ulama’ kharismatik yaitu Syekh Abdul Syakkur yang tidak lain juga menjadi gurunya sendiri. Syaikh Abdul Syakur adalah cucu dari Haji Saman, sebutan jawa dari nama arab-Usman, pendiri pertama kali pondok di Sarang Rembang yang kemudian pesantren ini di wakafkan kepada Kiyai Ghozali bin Lanah hingga saat ini berkembang pesat dengan ribuan santri.

Kecerdasan dan Genealogy intelektual Abil Fadhal

Terlahir dari keturunan ulama’ kharismatik, Mbah Dhol dan Abul Khoyr (kakak beliau) dibina dan dididik oleh ayahnya sendiri untuk mendalami ilmu-ilmu agama, mulai dari kecil, keduanya diharuskan menghafal kitab-kitab agama, di antaranya: Aqidatul Awam, Jauhar At-Tauhid, Nazm Tafsir, Nazm Maqsud, Ajurumiyah, Imriti, AlFiah Ibnu Malik, Jauhar al-Maknun, Uqud al-Juman, dan Badr al-Lami’.  Abil Fadhal merupakan seorang pribadi yang cerdas dan memiliki daya ingat yang tajam, hal ini disampaikan oleh kakak beliau Abul Khoyr yang mengatakan “Saya dan dia mempelajari cabang ilmu (agama) dari ayah kami sendiri, dia selalu cepat dari pada saya dalam menghafal dan mengusai ilmu-ilmu arab, seperti  Nahw, Sharf, Balaghah, Mantiq, ‘Arud, Qafiyah, Ulum al-Hadis, Tafsir, dia juga hafal al-Qur’an pada usia 18 tahun. Dalam menghafal al-Qur’an sebanyak 30 jus Mbah Dhol hanya membutuhkan waktu kurang lebih selama 3 bulan, pada bulan pertama yaitu bulan romadhan tepatnya tanggal 9-27 Ramadhan hafal 9 jus, kemudian dilanjut lagi mulai tanggal 6-24 Syawal sudah hafal 23 jus, kemudian lanjutkan lagi hingga pada pertengahan bulan Dzul qa’dah mbah Dhol sudah hafal 30 jus.

Setelah ayahnya meninggal pada tahun 1942, Mbah Dhol kemudian pergi ke Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur, untuk belajar kepada KH. Hasyim Asy‘Ari, namun belum ada setahun beliau pulang kembali karena ada peristiwa penahanan Kiai Hasyim oleh tentara Jepang, hal ini disebabkan karena KH. Hasyim Asy’ari menolak melakukan saikere[1]. Meskipun tidak lama mengaji kepada KH. Hasyim Asy’ary,  tetapi banyak mata rantai sanad keilmuan yang Mbah Dhol dapatkan, terutama sanad periwayatan hadis. Bahkan disebutkan dari beberapa sumber bahwa Kiai Hasyim lah yang menginginkan putra sahabatnya Kiai Abdus-Syakur yaitu Mbah Dhol untuk belajar kepadanya, selain itu Mbah Dhol pada saat belajar kepada Kiai Hasyim sudah alim sehingga tidak membutuhkn waktu yang lama untuk mendapatkan sanad keilmuan[2]. Sebelum berangkat belajar ke Tebu Ireng, Mbah Dhol menjual seluruh harta warisan pemberian ayahnya untuk diberikan kepada Kiai Hasyim Asy’ary guna membantu pembangunan pesantren Tebu Ireng, beliau hanya menyisakan biaya hidupnya selama tiga tahun.

Bahtera Rumah Tangga dan Mendidik Santri

Mbah Dhol menikah yang kedua kalinya dengan Nyai Syariyati, putri dari Kiai Juned, Senori, Tuban dan menetap di sana. Sebelumnya Mbah Dhol menikah dengan Maskhiyah seorang perempuan dari  Ds.Karang Asem, Sedan, Rembang yang masih sepupunya sendiri. Namun bercerai dan tak lama kemudian setelah itu ayahnya, Syekh Abdus Syakur meninggal pada 1942. Dengan istri keduanya Mbah Dhol di karuniai tujuh putra, yaitu Abdul Jalil, Ahmad Muayyad, Shofiuddin, Machasin, Khoridah, Abul Mafakhir, dan yang terakhir adalah Lum’atud Dhuror.

Setelah memperistri Syariyati, Mbah Dhol mulai mengajar santri, beliau sangat disiplin dalam mendidik santri, sehingga banyak santri dari berbagai daerah datang kepada beliau, maka Mbah Dhol pun mulai membangun pondok pesantren yang kelak akan di beri nama “Daar Ulum Al-Fadhalani” pesantren ini selesai dibangun pada 1962 dengan dukungan biaya dari mertua beliau, Kiai Juned. Santri yang didiknya berkisar 30-50 dalam setiap angkatan, namun dari jumlah yang sedikit itu banyak yang menjadi pengasuh pesantren dan menjadi tokoh-tokoh yang berpengaruh. Di antaranya : Kiai Abdullah Faqih (w. 2012) Tuban, Jawa Timur; Kiai Sahal Mahfuzd (w. 2014) Pati, Jawa Tengah; Kiai Hasyim Muzadi (w. 2017); Kai Haizul Ma’ali Rembang; Kai Muhibbi Hanzawi Pati, Jawa Tengah; Kiai Mahrus Ali (w. 1907-1985) Pengasuh Pondok Lirboyo, Jawa Timur (mengaji Kepada Abil Fadhol sebulan puasa); Kiai Maimun Zubair (w. 2019), mencantumkan Kiai Abil Fadhal dalam silsilah jalur sanad guru-gurunya.[3]

Metode yang digunakan Mbah Dhol adalah sorogan dengan satu kitab sampai katam, baru ganti kitab lain lagi, dengan tujuan agar benar-benar paham. Mbah Dhol juga terkadang menulis kitab sendiri sebagai sarana untuk mengajar santri, seperti Kitab Tafsir Ayat Ahkam min Al-Qur’an Al-Karim. Selain kegitan mengaji bersama santri beliau juga sering menggunakan waktu malamnya untuk dihabiskan bersama sang kholiq, sayup-sayup terdengar suara dzikir dan bacaan al-Qur’an dari kamar pribadinya, ketika menjelang subuh dzikir itu ditutup dengan hizb saifi mughni, hizb Nashr, hizb Bahr.

Kendati demikian Mbah Dhol adalah manusia biasa, punya istri dan anak yang harus dinafaqahi, oleh sebab itu beliau bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Berbagai profesi yang beliau kerjakan, jadi buruh jahid, penjahit, jualan benang, jualan kain, membuka reparasi sepeda pancal dan sepeda motor, mendirikan pabrik rokok dan sebagainya. Yang mengherankan, setiap kali usahanya berkembang dengan pesat, seketika itu juga pekerjaannya dihentikan dan diganti dengan pekerjaan lain, dan dimulai dari nol lagi. hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang zuhud, bagi beliau tujuan bekerja hanyalah ibadah dan hanya menta’ati perintah Allah SWT semata, bukan untuk mencari harta.

Karya- Karya Abil Fadhol dan Kontribunya Terhadap NU

Selain mendidik para santri, Mbah Dhol sangat produktif dalam menulis kitab, hal ini dibuktikan banyak-nya karya beliau, bahkan di setiap bidang cabang ilmu agama ada karya beliau di antaranya kitab-kitab karangan Mbah Dhol, dalam bidang tauhid: Kawakib al-Lama’ah fi Tahqiq al-musamma bi ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah, Syarh Kawakib al-Lama’ah , ad-Durr al-Farid fi Syarh Nazm jauhar al-Tauhid, dan Mazumah al-Asma al-Husna; bidang bahasa Arab: Tashil al-Masalik, Kaifiyyah al-Tullab, serta Zubad Syarh alfiyah, semuanya merupakan syarh Alfiyah Ibnu Malik; Manzar al-Muwafi: yang membahas tentang ilmu ‘Arud; serta al-Jawahir al-Saniyyah, tentang ilmu Sarf (membentuk nadzm); serta Syarh Uqud al-Juman; bidang fiqih meliputi: Istilah al-Fuqaha, Nazm Asybah wa Nazair, Nazm Kifayah at-Tullab fi al-Qawa’id al-Fiqhiyyah, al-Wirdah al-Bahiyyah fi al-Istilah al-Fiqhiyyah, serta Kasyf alTabarih fi Bayani Shalat al-Tarawih; serta bidang sejarah: Ahla al-Musammarah fi Hikayah al-Auliya’ al-Asyarah, dan masih banyak lagi. di antara karya-karya yang disebutkan di atas masih banyak lagi karya beliau yang ditemukan dalam keadaan masih berbentuk manuskrib.

Karya Mbah Dhol yang banyak dibaca oleh para elit pesantren adalah  Kitab al-Kawakib al-Lammaah, kitab ini di tulis Mbah Dhol untuk merespon kelompok reformis, terutama adalah Wahabi. Adapun latar belakang penulisan kitab juga tidak jauh dari kondisi sosial di sekitar beliau pada masa itu. Kondisi politik keagamaan kelompok modernis  dan tradisionalis yang bergejolak pada saat itu, mendorong Mbah Dhol untuk menulis kitab ini, yang kelompok modornis di wakili oleh Muhammadiyyah (yang terpengaruh Wahabi) dan kelompok tradisionalis di wakili oleh NU. Polemik keagamaan mulai muncul di Indonesia pada abad ke-20, yang sebelumnya diselidiki bahwa terdapat beberapa organisasi Pembaharuan Islam yang dianggap terinspirasi oleh Wahabi (ingin mengubah Negara menjadi negara Islam murni), di antaranya adalah Muhammadiyyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1912 dan Persatuan Islam (PerSis) yang didirikan oleh Haji Zam-Zam dan Haji Muhammad Yunus. Hal ini terjadi karena dua faktor, yaitu kelompok Muhammadiyyah sudah terpengaruh oleh ideologi Wahabi, dan terlibatnya tokoh-tokoh dari Padang (penyebar ajaran Wahabi setelah haji dari makkah) terhadap  ideologi Muhammadiyyah dan sikap mereka yang tidak pro terhadap penduduk lokal. Dengan demikian kelompok modernis berkeinginan untuk mengubah paham kelompok tradisional, termasuk di dalamnya adalah apa yang mereka anggap tahayyul, khurafat, bid’ah. Isu yang diperdebatkan adalah  menyangkut masalah-masalah konsep ahlus sunnah, ijtihad dan taqlid, tasawuf dan tarekat, serta seperti masalah khilafiyyah, misalnya pelafalan lafadz “usholli” , membaca qunut dalam sholat subuh, masalah bilangan sholat tarawih dan lain sebagainya.

Perdebatan kedua kelompok ini terjadi sangat intent, kelompok modernis sering menganggap kelompok tradisionalis sebagai pelaku syirik dan bid’ah, selain itu kelompok modernis seringkali menyerang praktik-praktik keagamaan yang sering dilakukan oleh kelompok tradisonalis. Sementara kelompok tradisonalisme yang diwakili oleh NU yang merasa kegiatannya keberagamaan diganggu pun melakukan counter. Perdebatan-perdebatan teologis pun menjadi intent. Selain itu kalompok modernis yang lain dipelopori oleh Abdullah Tufail Saputra kembali menyerang praktik taqlid dan bermazhab kaum tradisonalis. Kondisi tersebut secara lugas dibahas di dalam kitab Mbah Dhol al-Kawakib al-Lamma’ah, beliau menganalisis konsep penting yang diperdebatkan kelompok modernis seperti tahayyul, khurafat dan bid’ah, maka dari itu dengan kitab ini Mbah Dhol mengkritik orang-orang modernis bahwa kelompok modernis salah dalam memahami konsep tersebut, dan mengkritik Wahabi yang dianggap sebagai sumber ideologi kelompok modernis, dan di dalam kitab tersebut juga memuat konsep ajaran Ahlussunnah wa al-Jama’ah yang dipetakan Mbah Dhol secara mendetail.

Kitab ini selaesai ditulis pada hari senin tanggal 11 Jumadil Tsani tahun 1381H. oleh Kiai Khamdan Abdul Jalil (wakil khatib ‘am PBNU waktu itu) kitab ini dibawa pada muktamar NU ke 23 di Solo, Jawa Tengah. Para peserta muktamar pun menyambut kemudian memutuskan membentuk tim Khusus untuk men-tashih kitab tersebut pada akhir tahun 1383 H/1946 M, majllis tashih dibentuk di Denanyar, Jombang yang berdiri dari para ulama senior NU, seperti Kiai Bisri Syamsuri, Kiai Adlan Ali, Syekh Kholil, Syaikh Mansyur Anur, dan ulama-ulama besar lainnya. Kitab ini kemudian direkomendasikan agar dijarkan dan dibaca oleh semua pesantren, dan juga sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan NU. Abil Fadhal wafat pada tahun 1991 dan di makamkan di Senori, Tuban, Jawa Timur[4]

 

Sumber Rujukan

[1] Saikere adalah sikap hormat dengan memsbungkukkan badan yang diarahkan kepada kaisar jepang Tenno Haika yang dianggap keturunan dewan matahari yang dilakukan sejak pagi.

[2] Muhammad Asif, “Indonesia Tradisional Ulama’ Nation Againt Salafi-Wahhabi: A Study Of Kiyai Abil Fadhol as-Senory’s Thoghy”, Walisanga, vol.26, No.2, 2018.

[3] Muhammad Asif dan Mochammad Arifin, “Tafsir Ayat Ahkam Dari Pesantren telaah Awal Penafsiran Ayat Ahkam min Al-Qur’an Al-Karim Karya Asbil Fadhal As-Senory”, Suhuf,  vol.10, no.2, 2017.

[4] Muhammad Asif dan Mochammad Arifin, “Tafsir Ayat Ahkam Dari Pesantren telaah Awal Penafsiran Ayat Ahkam min Al-Qur’an Al-Karim Karya Asbil Fadhal As-Senory”, Suhuf,  vol.10, no.2, 2017.