Oleh: Hafizh Syahputro

Almaghfurlah Abuya KH.Abdurrahman Bin H.Nawi merupakan seorang ulama besar yang berasal dari suku Betawi. Beliau dilahirkan pada 08 Desember  1920 dan wafat pada 18 November 2019. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Awwabin yang berada di tiga titik. Pertama terletak di Tebet, Jakarta yaitu menjadi Al-Awwabin Pusat, yang ke-2 terletak di Sawangan, Depok, yang ke-3 terletak di Bedahan , Depok. Beliau meninggalkan sanak keluarga dan keturunan dengan jumlah yang tidak sedikit, yaitu beliau meninggalkan 3 istri[1], 15 anak[2], 45 cucu[3], dan 25 cicit[4].

Sanad keilmuan beliau pun sudah tidak diragukan lagi karena beliau belajar dengan ulama-ulama yang sangat masyhur ke’alimannya, di antaranya ialah Al-Habib Ali Bungur, Al-Habib Abdurrahman As-Segaf (Sayyidil Walid), Al-Habib Ali Kwitang, dan masih banyak lagi guru-guru beliau yang sangat ‘alim.

Beliau dikenal sebagai ulama yang karismatik dan sangat ‘alim pada ilmu agama. Terutama dalam bidang Nahwu. Kegigihan beliau dalam bidang ilmu nahwu dapat dilihat dengan rasa cintanya beliau dan kecerdasan beliau dalam membaca kitab kuning. Kitab kuning selalu ada disamping beliau kemanapun dan dimanapun beliau berada karena begitu besar cintanya beliau kepada ilmu agama.[5]

Beliau pun telah mencetak murid-muridnya untuk menjadi kader penerus beliau, terutama dua murid beliau yang sangat dekat dan mereka keduanya merupakan alumni angkatan pertama Ponpes Al-Awwabin Depok yaitu yang bernama KH. DR. Muhammad Yusuf Hidayat Lc, MA dan KH. Ubaidillah Hamdan. Masing – masing daripada beliau telah berhasil menjadi seorang da’i dan pengajar di Pondok Pesantren, masing-masing daripada beliaupun telah membangun Ponpes masing-masing. DR. KH. Muhammad Yusuf Hidayat Lc, MA memiliki Ponpes yang bernama At-Tibyan yang terletak di Jl. Wadas, Depok . dan KH. Ubaidillah Hamdan mempunyai Ponpes yang bernama Darul Musthafa Al-Mukhtar yang terletak di Pondok Aren, Banten[6].

Beliau mempunyai moto yang sangat khas, yaitu “Tanam padi rumput ikut, tanam rumput padi. Tuntut akhirat dunia ikut, tuntut dunia akhirat luput.” Ketika di masa hidup, beliau senantiasa menyebutkan kata tersebut ketika mengajar agar para santri beliau tidak menjadi pribadi yang Hubbud Dunia (Cinta kepada dunia) yang berdampak kepada melupakan urusan akhirat. Dengan jargonan beliau kita dapat mengambil sebuah pelajaran bahwasanya hakikat hidup kita ialah menyukseskan kehidupan akhirat kita dengan cara beramal sholeh, dunia hanya dijadikan sebagai perantara saja agar kita mencapai sukses untuk kehidupan kita. Apalagi jika kita pahami kalimat tersebut dengan sastra, maka kita akan menemukan makna yang sangat dalam pada kalimat tersebut.

Sedikit membahas tentang moto beliau yang tadi seakan-akan mengisyaratkan bahwa akhirat itu sebagai padi dan dunia itu sebagai rumput. Jika analisa dengan pola pikir Ilmu Mantiq dengan teori Dilalah Iltizamiah, lazimnya ketika kita menanam padi itu pasti rumput akan mengikuti dengan sendirinya, tanpa harus kita sengaja menumbuhkan rumput tersebut untuk melengkapi tanaman padi yang kita tanam. Begitupun sebaliknya, ketika kita sibuk untuk menanam rumput pasti kita tidak akan dapat menuai hasil daripada padi. Inilah gambaran kehidupan kita layaknya seperti padi dan rumput yang saling berkelaziman dalam penggunaan dan pemanfaatan. Ketika kita sibuk mencari dunia dan melupakan urusan akhirat niscaya kita tidak akan menuaikan hasil yang bagus pada urusan akhirat kita. Namun sebaliknya, jika kita memprioritaskan urusan akhirat kita daripada urusan dunia kita maka kita akan menuaikan hasil yang bagus dan memuaskan, baik pada urusan akhirat kita dan urusan dunia kita.

Dan jika diperhatikan dalam aspek Ilmu Balagoh, beliau menggunakan metode Isti’aroh Tahsrihiyyah (biasa disebut di kitab-kitab Balagoh iyalah Isti’aroh Mushorrohah). Isti’aroh Tashrihiyyah itu 2 kalimat / 2 pernyataan yang seling terikat dengan hal yang sama tanpa perlu dicantumkan kata sambung yang bermakna analogi. Yang dimaksud beliau itu ialah akhirat kita dan dunia kita seakan-akan diumpamakan layaknya padi dan rumput yang dimana padi dan rumput itu memiliki keterkaitan makna yang erat. Meskipun beliau tidak menyebutkan konjungsi analogi, namun dapat kita pahami dari ucapan beliau ialah kehidupan akhirat dan dunia kita diperumpamakan sebagai padi dan rumput.

Tentang keilmuan beliau tak perlu diragukan, beliau telah mengarang beberapa kitab yang sangat beguna dan populer di kalangan masyarakat luas. Di antara kitab-kitab beliau yang paling fenomenal ialah Pelajaran Ilmu Nahwu, Misykatul Anwar, Mutiara Ramadhan, Tujuh Kaifiyyat Solat Sunnah, dan masih banyak lagi[7].

Sedikit tentang kitab beliau, khususnya tentang kitab yang berjudul Pelajaran Ilmu Nahwu. Kitab beliau ini merupakan ringkasan daripada kitab AnNahwu Waldhi karangan Syekh Ali Jarim dan Syekh Musthafa Amin. Kitab beliau ditulis dengan bahasa arab melayu, bukan dengan bahasa arab guna mempermudah para pembaca dalam memahami intisari kitab tersebut. Pada bagian muqoddimah, beliau memberikan sebuah pernyataan tujuan beliau membuat kitab tersebut dengan kata “Semoga kitab ini menjadi batu loncatan untuk memahami Ilmu Nahwu”. Yang dimaksud batu loncatan ialah sebelum kita mempelajari kitab-kitab nahwu yang lebih tinggi, kita dianjurkan untuk mempelajari kitab yang beliau agar mempermudah untuk memahami Ilmu Nahwu.

Sama halnya dengan metode yang tercantum dalam kitab Mutammiah Al-Ajurumiyah yang artinya berbunyi :  تكون واسطة بينها و بين غيرها من المطولات“Semoga kitab ini dapat menjadi perantara antara Jurumiyah dan kitab lain yang lebih besar”.

Karena keahliannya dalam Ilmu Nahwu, beliau mendapat gelar yaitu Imam Syibawaih zaman sekarang, sebagaimana tercantum dalam kitab karangan murid beliau yaitu KH. Ubaidillah Hamdan beliau yang bernama Al-Masyrob Ar-rowi Fi Manaqib Abuya KH. Abdurrahamn Nawi yang berbunyi :,  لَقَبُهُ شِبَوَيْهَ زَمَنِهِ  وَ كَانَ نَحْوِيًا فَوْقَ أًقْرَنِهِ     yang artinya “Dan Ilmu Nahwu itu sudah di luar kepala beliau dan beliau mendapat julukan sebagai Imam Syibawaihi pada zamannya”[8].

Kita bahas sedikit tentang Nadzom yang dibuat oleh KH.Ubaidillah Hamdan yang ditujukan untuk Abuya KH. Abdurrahman Nawi. Di dalam nadzom tersebut, beliau menggunakan kata فوق   yaitu dalam konteks nahwu menurut Al-Ustad Thohir Yusuf Al-Khotib dalam kitab beliau yaitu المعجم المفصل في الاعراب   yang berbunyi ظرف مكان معناه الدلالة على أن شيأ أعلى من شيء . Yang dimaksud dengan فوق  ialah berupa zhorof makan yang bermakna menunjukkan dzat yang berada di atas suatu dzat yang lain. Akan tetapi keberadaan itu tidak langsung bertemu dengan zat yang ada di bawah, melainkan jauh berada di atas dzat yang ada di bawah.

Dengan keterangan tersebut, dapat dipahami bahwasanya Ilmu Nahwu itu sudah sangat tinggi kedudukannya di dalam kehidupan Abuya KH Abdurrahman Nawi, sehingga beliau dijuluki sebagai Imam Syibawaih zaman sekarang.

Cara beliau mengajar pun sangat bagus dan membuat para santri menjadi paham. Beliau kertika mengajar memrioritaskan agar para santri itu paham, tidak harus menghatamkan kitab yang dikaji oleh beliau, yang terpenting ialah pemahaman yang bagus dan sesuai dengan apa yang telah beliau ajarkan.

Biasanya beliau mengajar di jadwal halaqoh pada hari rabu subuh yang biasa kitabnya itu Ta’limul Muta’alim dan Nasoihud Diniyah. Semua santri tidak ada yang berani tidur jika beliau yang mengajar karena beliau tidak suka kepada santri yang tidur ketika mengaji. Biasanya santri kan kalau ngaji subuh itu menjadi tantangan untuk melawan rasa ngantuk yang sangat hebat, tapi tidak tahu mengapa ketika beliau yang mengajar, kita para santrinya selalu fresh dan tidak ada rasa ngantuk sedikit pun. Mungkin itulah di antara karomah beliau.

Ketika mengaji dengan beliau, pasti kita ditanya tiap-tiap kata yang ada di kitab tarkibnya menjadi apa, apakah mubtada atau fail dan sebagainya. Jadinya, nahwu dan shorof itu sangat melekat pada santri karena selalu dididik oleh beliau dengan bagus dan tegas.

Di masa muda, beliau dikenal sebagai ulama yang pantang capek dalam mengajar. Kurang lebih 27 majlis ta’lim yang beliau ajarkan rutin setiap minggunya. Terlebih lagi di daerah DKI Jakarta dan sekitarnya. Dan beliau dikenal juga dalam perdagangan, selain menjadi kyai dan pendakwah beliau dikenal dengan pedagang yang sukses, sehingga beliau dapat mendirikan pondok pesantren yang sampai sekarang masih kokoh.[9]

Sekarang ponpes Al-Awwabin Depok diasuh oleh Abuya Kh. Drs. Ahmad Mukhtar (ketua yayasan Ponpes Al-awwabin), Kh. Fatchurrohman MA Al-Jombangi (Musyrif Tholabah Ponpes Al-Awwabin Depok) yang merupakan menantu beliau & Ustz. Diana Abdurrahman S,Ag (Musyrifah Tholibah Penpes Al-Awwabin Bedahan). Didikan Kh.Fatcurrohman pun sama persis dengan yang diajarkan oleh buya Nawi, tidak kenal lelah untuk mendidik, tidak kenal kasta dalam bergaul. Beliau seorang kiyai yang sangat karismatik karena kedekatannya beliau kepada seluruh santri itu bagaikan ayah dan anak saja.

Saya sering dawuh dengan beliau, biasanya setiap ba’da ashar saya ngobrol dan bertanya-tanya kepada beliau, terutama tentang pelajaran yang saya belum pahami. Beliau banyak memberi inspirasi kepada kehidupan saya, terutama pada aspek bersosialisasi dan berorganisasi.

Di pondok Al-Awwabin Depok terdapat organisasi yaitu IKSAD (Ikatan Santri Al-Awwabin Depok) untuk santriwan dan OPPTA (Organisasi Pondok Putri Terpadu Al-Awwabin) untuk santriwati. Saya merupakan bagian Tarbiyyah (pendidikan). Dan kita dididik menjadi menjadi pemimpin yang benar dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita pimpin. Terutama berlangsungnya kegiatan pesantren yang harus kami jalankan dan pertahankan dengan bagus dan seksama.

Cara mengajar beliau pun unik, dengan mengeraskan suara dan memukul meja agar para santri tidak tidur. Banyak guyonan-guyonan pula ketika sedang mengaji.

Di antara tulisan beliau ialah تيسير الطالبين على ألفية ابن مالك  yang berisikan tentang ringkasan kitab Al-Khulasoh alfiyyah. Kitab ini dikaji pada jum’at shubuh berbarengan dengan kitab usul fiqh  yaitu مبادئ أولية .

Tidak terlepas daripada itu, setiap subuh beliau selalu membangunkan para santri dengan istiqomah, selagi beliau sehat pasti istiqomah membangunkan para santri dengan teko hijau yang menjadi ciri khas beliau. Yang di mana teko tersebut memiliki jasa yang banyak karena dengan teko tersebut kita dapat bangun dan tidak menjadi ma’mum masbuk ketika sholat berjama’ah di masjid. Bukan hanya solat shubuh saja, setiap ingin sholat fardhu beliau mengontrol santri yang masih ada di kamar untuk bergegas sholat.

Didikan beliau bukan hanya sebatas pendidikan intelektual saja, pendidikan spritiual kita pun dididik pula oleh beliau. Ketika kita melakukan kesalahan, tak luput beliau untuk menasehati dan memberi arahan kepada kita agar kita tidak memilih jalan yang salah. Cara didikan beliau dalam aspek spiritual pun beranekaragam, ketika mengajar kitab beliau dapat memberikan nasihat kepad kita, ketika pidato beliau pun sama, ketika sowan (dipanggil secara individualis) pun sama, dan banyak cara lain yang membuat beliau dapat menasehati kita hingga masuk kedalam hati kita.

Dua guru besar ini yang kita para santri sebut sebagai Murobbi Ruhina Wa Jasadina. Bukan hanya sebatas Mua’llim atau ‘Alim, tapi 2 guru ini sudah mencapai derajat Murobbi Ruhina Wa Jasadina, yaitu seseorang yang dapat mendidik baik lahir maupun batin kita agar kita dapat mengenal siapa tuhan kita dan mengenal siapa rosul kita.

Sebagaimana sebuah pepatah bahasa arab yang berbunyi لو لا مربي ما عرفت ربي   , yang biasa kita artikan “Jika tanpa seorang Murobbi, diriku niscaya tak akan kenal siapa Tuhan ku”. Kita kupas sedikit makna tersirat (makna murod) yang terdapat pada penggalan pepatah arab tersebut.

Pada kalimat tersebut, terdapat kata لو  لا   yang bermakna تمنع الجواب لوجود الشرط   (mencegah adanya jawab fiil karena adanya syarat). Ketika kita telaah maqolah tersebut, maksud yang tersirat ialah jika ketika kita ingin mengenal siapa Tuhan kita maka kita harus memiliki pembimbing diri kita (Murobbi Ruh Wal Jasad). Maka sudah dipastikan Murobbun itu sangatlah penting bagi kehidupan kita, terutama pada aspek Tauhid kita terhadap Allah SWT yang merupaka Ilmu yang Fardhu ‘Ain yang berarti wajib bagi setiap individu untuk mempelajari dan memahaminya secara global.

Didikan beliau kepada santrinya sangat membekas, seperti makna للمطاوعة   pada ilmu shorof yang memberikan efek yang pasti dan tidak pernah hilang dari benak para santrinya. Terutama didikan beliau pada spiritual santri agar terbentuk jiwa santri yang sangat kental, dimanapun dan kapanpun kita tetap berjiwa santri. Karena santri dan guru itu kalimat isim yang tak terkait dengan zaman, atau yang tertera di dalam kitab مختصر جدا شرح متن الاجرومية   karangan Syekh Ahmad Zaini Dahlan, makna isim ialah كلمة دالت على معنى في نفسها و لم تقترن بزمن  (Kalimat yang menunjukkan eksistensi dirinya sendiri dan tak terpaut dengan waktu). Dengan makna tersebut dapat dipahami bahwasanya santri dan guru itu akan tetap menunjukkan eksistensinya pada keadaan apapun, pada waktu kapanpun. Jadi tidak ada mantan santri atau mantan guru, dari dulu sampe kiamat pun guru akan tetap menjadi guru , dan santri akan tetap menjadi santri bagi gurunya.

Beliaupun juga disebut-disebut sebagai waliyyun min auliya illah oleh para alim ulama dan para kerabat-kerabat beliau. Banyak kisah-kisah yang menarik seputar kehidupan beliau bersama para ulama-ulama yang sepuh dan karismatik.

Di antara cerita menarik beliau ialah pernah salah seorang muridnya meminta do’a restu kepada beliau untuk pergi haji ke tanah suci. Lalu beliau berpesan kepada sang murid untuk menggunakan kitab karangan beliau yaitu  Manasik Haji dan Umroh sebagai pedoman baginya ketika melaksanakan haji. Selang beberapa hari ketika ia sudah sampai ke mekkah untuk melaksakan haji, ketika ia thowwaf ia bertemu dengan Al-Maghfurlah Abuya KH. Abdurrahman Nawi di Ka’bah. Lalu beliau menegur dirinya ketika selesai thowwaf. Lantas dengan kejadian tersebut, sang murid merasa bingung terhadap beliau kenapa beliau bisa berada di Mekkah sedangakan kemarin baru saja memberi restu kepadanya untuk berangkat haji.

Lalu setelah pulang dari hajinya, sang murid pun menghampiri (sowan) kepada Abuya KH. Abdurrahman Nawi. Lalu tak lama kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau dengan kejadian tadi. Lalu ia berkata “Afwan buya, kemarin buya naik haji juga yah buya, kemare\in kok bisa ketemu pas selesai Thowwaf?” , lalu beliaupun menjawab “Tidak, ane engga naik haji kemarin.”. lantas dengan hal tersebut, sang murid merasa bingung dan merasa bahwa gurunya merupakan seorang waliyyun min auliya illah.

Dan siapa saja yang ingin meminta do’a kepada beliau, pasti hanya satu kata yang dilontarkan oleh beliau yaitu “Berkah”. Tidak ada kata lain yang beliau ucapkan ketika mendo’akan seseorang yang datang kepada beliau selain “Berkah.

Inilah yang membuktika beliau seorang waliyulloh dalam kategori Wali Thoy (الولي الطي في اللسان). Maksudnya beliau ini dapat melipat (mempersingkat) segala do’a dengan kata berkah saja, jadinya seluruh do’a yang akan diberikan kepada orang tersebut dipersingkat dengan kata berkah.

Dengan segala hal itu lah, kami selaku santri beliau sangat merindukan sosok beliau yang sangat menginspiratif kami dalam segala hal, tidak pernah capek dalam belajar, tidak pernah mengeluh dalam mengajar, selalu ikhlas dalam berdakwah dimanapun dan kapanpun.

Ada satu pesan terakhir beberapa hari sebelum beliau wafat, beliau pernah berkata “kita kalo dibutuhin sama orang lain, jangan segan-segan untuk membantunya. Ketika kita ngajarin ilmu agama di suatu majlis atau dimanapun, jangan melihat berapa orang yang ikut ngaji. Ajarin saja mereka yang membutuhkan ilmu agama, karena mereka butuh dengan ilmu agama”.

Daftar Pustaka

  • Nawi, Abdurrahman. Pelajaran Ilmu Nahwu. Jakarta : Menara Kudus.
  • Hamdan, Ubaidillah. Al-Masyrobur Rowi Fi Manaqibi Abuya Kh. Abdurrahman Nawi.
  • Asymawi. Hasyiyah Al-Asymawi ‘Ala Al-Ajurumi. Singapura – Jeddah. Al-Haramain.
  • Thomum, Mushtofa , Qowaidullutil ‘Arobiyyah. Syirkah Maktabah Wa Math’abah Ahmad Bin Sa’ad Bin Nabhan. 1905
  • Yusuf, Thohir. Al-Mu’jam Al-Mufassol Fil I’rob.Singapura – Jeddah. Al-Haramain.
  • Dahlan, Ahmad Zaini . Muhktasor Jiddan Fi Syarhi Matn Al-Ajurumiyah. Maktabah Tholitholah.
  • Jarim, Ali. Amin, Musthofa. An-Nahwul Wadhi. Ponpes Al-Awwabin. 2002.
  • Ar-Ro’ini, Muhammad Bin Muhammad. Mutammimah Al-Ajurumiyah Fi ‘Ilmi Al-Arobiyah. Singapura – Jeddah. Al-Haramain.

[1] Istri beliau : Hj. Hasanah binti Hasbi bin Hasan (Almh), Hj. Su’dah binti H. M. Jamil, Hj. Ruqoyyah binti H. Ahmad Damanhuri.

[2] Anak-anak & menantu beliau (dari yang paling atas) : Abdulloh (Alm), Ustz. Hj. Busyro AR & Kh. Akandi Rodin, Abuya Kh. Drs. Ahmad Mukhtar (Ketua Yayasan Ponpes Al-Awwabin) & Ustz. Hj. Siti Hasamah M.Pd. , Mujib (Alm), Ustz. Hj. Zakiyah Rahman & Kh. Ahmad Taufiq Asri (Alm), Ust. Abdul Rosyid & Ustz. Ummi Aisyah, Ust. Muhsin Rahman, Ustz. Atikah Rahman (Almh) & Bpk. Samsul Bahri, Ust.H. Muhammad Shofi & Ustz. Hj. Supinah, Ust. H. Nadzoruddin & Ustz. Nurul Hasanah, Ustz. Imrithy Rahman S,Psi & Kh. Drs. Fatchurrohman MA, Ustz. Hj. Umamah Rahman S,Ag & Kh. Drs. Luthfi Zawawi, Ustz. Hj. Diana Rahman S,Ag & Habib Qosim Al-Qadrie, Ust. Ahmad Minatullah & Ustz. Ayati Adiyani, Ust. Muhammad Minaturrahman S,Ag. & Ustz. Syifa Fauziah.

[3] Cucu-cucu beliau : Irfan Fahmi S,Hi. MH. , Hanna Maria S,Pd, Mawardi S,Fil. , Darul Quthni S,Si. , Muhammad Labib S,Pd. , Abdurrahman Muchtari M.Pd. , Imammudin Muchtar S,Pd. , Lauda Muyassaroh, Achmad Maulana (Alm), Siti Fatimah (Almh), Robi’atul Adawiyah S,Pd.I. , Siti Khodijah Al-Kubro,  Muhammad Maula Rahman, Ahmad Rusydan Nawi, Al-Fauziyah, Fadhlan, Zainunah S,Pd.I. , Muhammad Nabil S,Kom. , Nailah Kamilah, Tsuwaibatul Aslamiyah, Aisyah Rahman, Ahmad Sahal, Fatimatuzzahra (Almh), Ahmad Sya’dan, Aida Munjida, Dzul Majdi, Nur Aini Infar, Ahmad Zaki Hamdi, Farhan Nurrahman, Robi’atunnisa, Za’im Najibuddin Rahman Lc, S,Pd. , Dzulhikam Masyfuqil Ibad, M. Tholhah Hasan (Alm), Annisa Fitria, Najwa Luthfiah, Tsalsa Fajriyyatul Izza, Muhammad Habiburrahman, Raihana Luthfiah, Sahlatul Ula, Misykatul Anwar, Shofwatul Binti, Salamah, Minhatussaniyah, Muhammad Ats-Tsaniy, Siti Rahmah.

[4] Cicit-cicit beliau : Najiha Adisa Fahmi, Izzat Muhammad Nawwaf, Aliza Hayfa, Zuhri Muhammad, Hammad Nawawi, Arifah Nurkasyifah Quthni, Rahima Sobihatul Pelangi, Siti Salma Abdurrahman, Halimatussa’diyah, Sulhatul Fakhriyah, Farhanah Mahbubah, Maknunatun Nafisah, Abdurrahman Syarif, Ahmad Abu Bakar, Wildan, Uwais Al-Qorni, Nasyatul Ula, Maaher Abdurrahman Ahmad, Shofiyyah Ahmad, Muhammad Afafan Nabil, Abdurrahman Badzlan, Juhdan (Alm), Najmi, Sayidah Alifah, Namiya Hubban Rubina.

[5] Diantara foto murid-murid beliau. DR. Kh. Yusuf Hidayat MA (kanan), dan Kh. Ubaidillah Hamdan (kiri).

[6] Beliau berdua merupakan alumni angkatan pertama di Pondok Pesantren Al-Awwabin Depok.

[7] Semua kitab-kitab beliau ditulis dengan bahasa arab melayu, agar mempermudah para pembaca untuk mempelajarinya.

[8] Dan/atau beliau juga diberi gelar sebagai Imam Nawawi masa sekarang, karena sangat ‘alimnya beliau dalam ilmu fiqh.

[9] Foto ini diambil ketika sedang berziarah ke makam Syekh Maulana Hasannudin, Banten. Kh. Fatchurrahman MA (sebelah kanan) yang sedang duduk bersama Abuya Kh. Abdurrahman Nawi (sebelah kiri).