Oleh: Lina Munadlirotul Qomariyah

Riwayat Hidup

KH. Achmad Asrori Al Ishaqy RA dilahirkan di Surabaya pada tanggal 17 Agustus 1951.[1] Beliau merupakan putra keempat dari sepuluh bersaudara. Ayahnya bernama KH. Muhammad Utsman Al Ishaqy yang menjadi guru mursyidnya.[2] Dan ibunya bernama Hj. Siti Qomariyah binti Munaji.[3] Al Ishaqy adalah gelar yang dinisbatkan dari Maulana Ishaq, ayah dari Sunan Giri. Beliau KH. Achmad Asrori Al Ishaqy merupakan cucu maulana al – Ishaq yang ke 16 dan cucu Rasuluallah yang ke 38.[4]

Kiai Asrori sudah nampak tanda-tanda kewaliannya semenjak berada di dalam kandungan. Ibundanya sering merasakan kesejukan, kedamaian, dan tidak ada beban sama sekali selama mengandung, bahkan kesemangatan dalam beribadah dan melakukan amal salih semakin tinggi terutama shalat malam dan puasa.[5]

Ketika Kiai Utsman berkunjung di kediaman Habib Ali bin Husain al-Attas (1889-1976) yang meminta nama-nama putra Kiai Utman. Setelah  semua nama selesai ditulis di atas kertas, Habib Ali langsung menunjuk nama Achmad Asrori sambil berkata: “Ini yang akan menjadi pengganti mursyid setelahmu. Sikap tawadu dan kebersihan hati Gus Rori yang masih kecil sudah sangat terlihat.[6]

Beliau sempat menolak amanah kemursyidan dari ayahnya dengan alasan masih ada saudara-saudaranya yang lebih tua. Akhirnya Gus Rori menerima amanah kemursyidan tersebut bukan karena ambisi, akan tetapi beliau mempunyai prinsip, orang yang mencari dan meminta amanah termasuk kemursyidan adalah orang gila, jika seseorang diberi amanah maka hendaknya diterima, karena hakikatnya itu dari Allah. Kemursyidan adalah amanah yang dianugrahkan Allah sebagai jiwa al-kamilah.[7]

Kiai Asrori menegaskan bahwa estafet kemursyidan dan keguruan tarekat tidak disyaratkan adanya hubungan biologis, sanak famili dan teman dekat. Juga bukan karena senioritas, banyaknya ilmu, banyaknya amal, besarnya mujahadah atau nilai tambah dengan keistimewaan yang lain antara guru dan murid. Akan tetapi karena wujudnya al-rabitah al-qalbiyah wa al-silat al-ruhiyah antara syaikh dan murid yang didorong oleh kecintaan syaikh kepada Allah.[8]

Aktivitas Keilmuan dan Dakwah

Di usia 13 tahun, Kiai Asrori mondok di Dar al-Ulum Jombang di bawah asuhan KH. Musta’in bin Romli. Selang beberapa tahun, melanjutkan menimba ilmu dan pengalamannya di beberapa Pondok Pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, salah satunya di Pondok Pesantren Bendo Pare Kediri yang diasuh oleh KH. Hayyat al-Makki, yang kurang lebih satu tahun. Kemudian beliau melanjutkan di Pondok Pesantren al-Hidayah Tretek Pare Kediri yang diasuh oleh Kiai Juwaini, di sana beliau kurang lebih tiga tahun.[9] Putra Kiai Juwaini menuturkan bahwa Gus Rori mempunyai kelebihan istiqomah, tuma’ninah, disiplin dan selalu tepat waktu dalam mengaji kitab kuning, beliau selalu datang lebih awal dari Kiai Juwaini. Ketika pengajian sudah dimulai, beliau tidak bergeser sedikit pun dari tempat duduknya sampai pengajian selesai.[10]

Kiai Asrori melanjutkan di Pondok al Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH. Ali Ma’sum. Gus Rori diperintah oleh Kiai Ali Ma’sum untuk mengajar Ihya’ Ulum al-Din. Setelah beberapa bulan di Pondok Krapyak, beliau melanjutkan ke Pondok Lasem, beberapa bulan kemudian melanjutkan ke Pondok Buntet Cirebon di bawah asuhan KH. Akyas bin Abdul Jamil, KH. Anas bin Abdul Jamil dan Abdullah Abbas, itupun hanya beberapa bulan.[11] Sikap kesungguhannya ketika masih nyantri menjadi faktor terbentuknya jiwa yang penuh istiqomah, tuma’ninah dan sidq al-tawajjuh.

Ketika beliau mengajar kitab kuning kepada santri senior Jatiputwo dengan metode bandongan. Banyak hal yang menarik dalam metode pembacaan kitab kuningnya. Pertama, Kiai Asrori memakai kitab baru. Kedua, santri dianjurkan membawa pena berwarna hitam dan merah, pena warna hitam untuk menulis makna dengan metode (makna gundul) dan penjelasan penting yang ditulis di buku tersendiri. Pena merah sebagai penanda jika ada penjelasan yang penting dengan tulisan “muhimmun” atau “matlab”. Ketiga, Istiqomah dan selalu tepat waktu dalam memulai dan mengakhiri pengajian.

Sepulang menuntut ilmu, Gus Rori mulai berdakwah di masyarakat dengan cara yang cukup unik dengan memanfaatkan media kearifan lokal. Padahal, di pondok yang diasuh oleh ayahnya masih membutuhkan tenaga. Beliau lebih memilih mengembara untuk berdakwah di masyarakat, khususnya kepada anak-anak jalanan. Majlis yang pertama kali diadakan bertempat di Gresik di kampung Bedilan.[12]

Dengan sikap dan akhlak yang mulia dan terpuji seperti kasih sayang, lemah lambut, bijaksana, panutan, istiqomah, tuma’ninah, kesabaran dan ketulusan yang mengakar kuat di hatinya, para murid dan pencintanya semakin banyak yang hadir di majlis zikir, Maulidur Rasul dan manaqib. Jumlah mereka ratusan ribu dan semakin tersebar luas di berbagai daerah bahkan di manca negara. Pada tahun 2005 beliau membuat sistem yang ditandai dengan penyusunan pedoman dalam berorganisasi yang dinamakan “Jamaah Al-Khidmah” yang diresmikan di Semarang.[13]

Dalam membimbing santri dan jama’ahnya,  Kiai Asrori selalu mengedepankan sikap istiqomah dan disiplin waktu yang diwarisi ayahnya, laksana kereta api yang melaju, jika beliau lewat maka siapa saja yang berada di depannya akan berhenti, termasuk pejabat terkemuka sekali pun. Kiai Asrori memiliki sikap tawadu’ yang luar biasa. Ketika dalam majlis atau memimpin do’a, beliau selalu membawa kitab atau membawa catatan kecil saat mau’idhoh, padahal beliau sangat hafal dengan kitab karangan sendiri, meskipun tidak selalu dilihat atau dibaca. Hal ini dilakukan agar terhindar dari sikap sombong terhadap ilmu dan bangga atas kemampuan diri sendiri.[14]

Beliau juga memiliki tuntunan dan bimbingan Rabithah, Riyadah dan Mujahadah[15] mutih[16]  dari ayahnya. Jadi musuh terbesar manusia adalah hawa nafsu. Dan mutih itu sebagai salah satu upaya mengengkang hawa nafsu agar kita tidak mengikuti syahwat atau keinginan, ketika berbuka puasa dan sahur agar tidak sekehendak hati. Menurut Imam Ghozali, ruh dan rahasia puasa adalah melemahkan kekuatan hawa nafsu. Jika nafsu sudah lemah maka hati akan mudah bergerak untuk beribadah di bulan ramadhan, dan hal ini tidak akan tercapai apabila tidak menyedikitkan makan.

Maka dari itu Kiai Asrori sebagai seorang guru thariqah tahu betul bahwa kita tidak akan bisa menyedikitkan makan kecuali dengan mutih, maka dari itu para jama’ah dan pengikutnya dianjurkan untuk mutih. Dengan welas asihnya ketika satu minggu sekali, tepatnya hari kamis malam jum’at diberbolehkan berbuka dengan menu yang jama’ah  kehendaki, sebagai gantinya untuk membaca sholawat sebanyak 1000 kali. Bila hari biasa dianjurkan membaca tiga sholawat, masing-masing 100 kali.

Nilai Sufistik Thoriqoh

Kiai Asrori adalah seorang pewaris, pengganti dan pengikut nabi dan rasul dalam pintu dakwah serta seorang guru al-tariqah yang berjiwa kamilah.[17] Disebut berjiwa kamilah karena jiwanya sempurna menyayangi semua makhluq, menyayangi orang kafir untuk beriman, menyayangi orang yang maksiat untuk bertaubat, dan menyayangi orang yang taat untuk tetap istiqomah kepada Allah.[18] Dan bertugas menyebarkan rahman di muka bumi.

Kiai Asrori mempunyai cara sendiri mengajak seorang murid atau orang awam untuk ingat kepada Allah dengan kadar kemampuan yang pas sesuai porsinya. Karena seorang dokter ruhaniyah paham betul racikan obat yang sesuai dengan pasiennya. Karena seseorang itu sangat sulit untuk diajak mengingat Allah dengan hati yang terhijab oleh nafsu.[19] Beberapa amalannya seperti zikir lailahailallah 165 setelah shalat, mutih, membaca sholawat tertentu di bulan Ramadhan, khususi, membaca Fathatu Nuriyah (amalan setelah shalat). Yang harus dilakukan untuk mendapatkan Robithah (hubungan hati) kepada Allah.

Hakikat al-tariqah menurut Kiai Asrori adalah adab secara menyeluruh, sebab al-toriqah dibangun di atas pondasi adab kesempurnaan dan akhlaq yang mulia.[20]Ajaran penting dalam al-tariqah adalah zikir. Zikir laksana pohon, sedangkan maqomat laksana buah, sehingga ketika pohon tersebut besar dan mengakar dengan kuat maka faedahnya akan besar[21]. Zikir akan membuahkan ma’rifat menuju kehadirat Allah, sehingga dunia tidak pernah terlintas di dalam hatinya. Hati mereka akan selalu mengingat Allah meskipun jasad mereka bersama dengan makhluk. Dengan berzikir hati akan menjadi lapang, dan rohnya menjadi luhur.[22]

Kenetralan dalam Politik

Di masa Orde Lama selama lima belas tahun. Hubungan tokoh-tokoh Islam dengan pemerintah sangatlah sinis dan tidak mengenal kompromi, sehingga menimbulkan ketegangan dan polemik serius di kalangan tokoh Islam dan nasional.[23] Dalam hal ini Kiai Asrori menjumpai Orde Lama, kurang lebih tiga puluh dua tahun.[24]

Menyikapi kondisi seperti ini Kiai Asrori selalu menjaga kenetralan, beliau tidak terlibat langsung dalam dukung-mendukung politik praktis, beliau lebih berkosentrasi pada pesantren, tarekat dan membangun karakter masyarakat yang shalih dan shalihah. Kiai asrori selalu berpesan kepada politikus yang mengajak kerjasama Al-Khidmah bahwa kita adalah saudara, sudah sewajarnya pertemuan silaturrahim didorong rasa kasih sayang, tanpa membawa baju dan dinding jabatan, sehingga meski tidak menjabat persaudaraan tetap berlangsung, bahkan diharapkan sampai akhirat.[25]

Karena menurutnya : “Seorang Kiai adalah sosok orang tua dan orang yang dituakan bagi semua umat yang mengikuti tuntunanya”.  Tuntunan kiai yang dimaksudkan ialah hal-hal yang lebih bersifat amaliah serta ubudiyyah, yang dapat menunjukan jalan ruju’ menuju dan kembali kepada Allah SWT. Adapun kepentingan partai politik hanya bersifat duniawi dan temporer (terbatas kurun waktu) yang akhirnya buahnya berhenti pada kepuasan basyariah duniawiyah.[26]

Tidak bisa dibayangkan apabila seorang kiai yang dijadikan panutan oleh umat memiliki kecondongan kepada salah satu pihak calon politik. Karena saling bela-membela antara calon sehingga mengorbankan jalinan hubungan (shilah) batiniah, mengahapus hubungan i’tiqod, dan meninggalkan kebiasaan saling mendo’akan. Maka dari itu Kiai Asrori terpikul tanggung jawab untuk menetralkan majlis dan membuat prosedur kenetralan atas kepengurusan jama’ahnya.[27]

Meninggalnya Kiai Asrori

Tahun 1993 beliau juga sakit parah. Meskipun sakit parah dalam keadaan diinfus, beliau mengatakan kepada dokter untuk melepas infusnya, jika tidak, beliau akan melepaskannya sendiri. Dengan terpaksa dokter melepas infusnya, kemudian beliau berangkat memimpin majelis zikir fida’ pada Sabtu malam, dan majlis houl pada Ahad pagi di Pondok Al Fithrah Surabaya.[28]

Tahun 2007 beliau diuji sakit parah kembali, Hikmah di balik ujian tersebut, diisi dengan berkarya dengan menulis kitab al-Muntakhabat sebanyak lima jilid. Beliau pernah menyampaikan di majlis Sowanan Ahad kedua bahwa ilmu seseorang akan meyumber dan mengalir jika diamalkan dan ketika belajar dan menulis tidak mempunyai interenst pribadi, akan tetapi didorong untuk melayani ilmu itu sendiri dan kemaslahatan umat manusia dunia dan akhirat.

Oleh karena itu Al-Muntakhabar dikembangkan dan diperluas kajian dan pembahasannya. Akan tetapi, ketika Habib Umar al-Jilani menghaturkan kepadanya tafsir al-jilani sebanyak enam jilid, ketika melihat hal itu beliau berkata kitab al-Muntakhabat hanya lima jilid, tidak akan melebihi kitab tafsir al-jilani sebagai bentuk akhlaq alkarimah, karena sudah tertanam pada diri Kiai Asrori sopan santun dan budi pekerti yang tinggi.[29]

Meskipun sakit yang semakin parah, Kiai Asrori tetap menghadiri majlis yang diadakan al-Khidmah. Bahkan di hari Jum’at lima hari sebelum meninggal, beliau dan rombongan telah menyiapkan tiket pesawat untuk menghadiri Majlis zikir di masjid al-Tin Taman Mini Indonesia Indah yang diselenggarakan oleh Rahmat Gobel yang bekerjasama dengan Al Khidmah Jakarta. Namun karena sakit semakin parah terpaksa beliau tidak menghadirinya.[30]

Di majlis-majlis terakhir, Kiai Asrori sudah mengisyaratkan akan kedekatan ajalnya, berupa membaca do’a yang tidak biasa di baca, yaitu do’a Rasulallah yang terakhir “Allahumma al-rafiq al-a’la”. Hari selasa, 26 Sya’ban 1430 H/18 Agustus 2009 M. Beliau di panggil oleh Allah.[31]

Karya-Karya Kiai Asrori

  1. Al Muntakhobat fi Rabitah al-Qolbiyah wa-Silat Al-Ruhiyah
  2. Al-Nuqhtah wa al-Baqiyah al-Salihah wa al-Aqibah al-Khairah wa Al-Khatimah al-Hasanah.
  3. Al Muntakhabat fi Ma Huwa al-Manaqib.
  4. Basya’ir al-Ikhwan fi Tabrid al-Muridin an Hararat al-Fitan wa Inaqazim an Shabakat al-Hirman.
  5. Al Risalah Al-Shafiyah fi Tarjamah al-Thamroh al-Rauzah Al-Shahiyah bi al-Lughah al-Maduriyah.
  6. Lailatul Qodar.
  7. Pedoman Kepemimpinan dan pengurus dalam kegiatan dan Amaliyah Ath Thoriqoh dan Al Khidmah.
  8. Mir’ah al-Jinan Fial-Istighathah wa al-Adhkar wa al-Da’wat Inda Khatmi al-Qur’an ma’a Du’a Birri al-Walidain wa Bihaqqi Ummi al Qur’an.
  9. Al Fathah al-Nuriyyah.
  10. Al Nafahat fi Ma Yata’allaq bi al-Tarawih wa al-Witr wa al-Tasbih wa al-Hajah.
  11. Bahjah al-wishah fi Dzikir al-Nubdah min Maulid Khoiri al-Bariyah SAW.
  12. Al Waqi’ah al-Fadilah wa Yasin al-Fadilah.
  13. Al-Anwar Al Khususuyah al-Khatmiyyah.
  14. Al – Salawat al-Husainiyah.
  15. Al-Ik’li fi Al Azkar wa al-Da’awat fi al Tahlil.
  16. Al Faid al-Rahmany liman Yadillu Tahta al-Saqf al-Uthmain fi al-Manaqib asy-Syaikh Abdul Qodir al-Jilany.[32]

Daftar Pustaka

[1] Rosidi, Konsep KH. Sufistik  Ahmad Asrori Al Ishaqy, (Yogyakarta : Bildung Nusantara, 2019), hlm.13.

[2] Dipanggil Kiai Sepuh

[3] Dipanggil nyai Sepuh.

[4] Ibid.

[5] Nyai Sepuh bercerita dengan  Adnan khadam dalem.

[6] Wasiat Hadaratus syaikh Utsman al-Ishaqi, (Surabaya : al-Wafa, th)

[7] Achmad Asrori Al-Ishaqi, Al-Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa al-Shilah al-ruhaniyyah Vol.  2, (Surabaya : Al-Wafa, 2009), hlm.190-191.

[8] Ibid.

[9] Rosidi, Konsep KH. Sufistik  Ahmad Asrori Al Ishaqy, (Yogyakarta : Bildung Nusantara, 2019), hlm.18-19.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Rosidi, Konsep KH. Sufistik  Ahmad Asrori Al Ishaqy, (Yogyakarta : Bildung Nusantara, 2019), hlm. 14-15.

[13] Ahmad Asrori Al-Ishaqi, Tuntunan dan Pedoman Kepemimpinan, (Surabaya : Jama’ah Al-Khidmah, 2011), hlm. 44.

[14] Ahmad Asrori Al-Ishaqi, Al-Anwar al-Khususiyah al-Khotmiyyah, Cet.VII (Surabaya:al-Wava, 2010), hlm. 70.

[15] Rosidi, Konsep KH. Sufistik  Ahmad Asrori Al Ishaqy, (Yogyakarta : Bildung Nusantara, 2019), hlm. 15.

[16] Mutih dilakukan ketika bulan puasa, tidak makan makanan yang mengandung unsur hewan-hewani, seperti : Daging, telur, susu, atau masakan yang di campur micin.

[17] Achmad Asrori Al-Ishaqi, Al-Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa al-Shilah al-ruhaniyyah Vol. 3, (Surabaya : Al-Wafa, 2009), hlm.190.

[18] Achmad Asrori Al-Ishaqi, Al-baqiyat al-salihat  al-Khairat wa al-Khatimat al-Hasanat, (Surabaya : al-Wafa, 2010), hlm. 156.

[19] Pengajian ustad wahdi Al-Alawy. Pada Hari/tanggal : Selasa, 28 April 2020.

[20] Achmad Asrori Al-Ishaqi, Al-Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa al-Shilah al-ruhaniyyah Vol 4, (Surabaya : Al-Wafa, 2009), hlm.4.

[21] Abd Qodir Isa, Haqaiq an Tasawuf, (Kairo : Dar al-Muqattam, 2005), hlm. 96

[22] Achmad Asrori Al-Ishaqi, Al-Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa al-Shilah al-ruhaniyyah Vol 3,, (Surabaya : Al-Wafa, 2009), hlm.112.

[23] Amirullah, Hubungan Islam dan Politik di Indonesia dan Implikasinya bagi pendidikan Islam (Surabaya : Saf Press,2015), 37.

[24] Ibid, hlm. 40.

[25] Yusuf Samsudin, wawancara. Surabaya kamis, 8 Muharram 1439/ 28 September, 2017 M.

[26] Imam Subakti,  BAF (Buletin Al-Fithrah) Netralisasi Al Khidmah edisi 82. hlm.7.

[27] Ibid, hlm.8.

[28] Ellynana Noer Sakinah, wawancara, Surabaya, 17 Agustus 2017.

[29] Rosidi, Konsep KH. Sufistik  Ahmad Asrori Al Ishaqy, (Yogyakarta : Bildung Nusantara, 2019), hlm.17.

[30] Ibid.

[31] Ibid.

[32] Rosidi, Konsep KH. Sufistik  Ahmad Asrori Al Ishaqy, (Yogyakarta : Bildung Nusantara, 2019), hlm. 25-31.