Oleh: Vanny Sutiari

KH. Bisri Syansuri lahir dari pasangan Syansuri dan Mariah, pada tanggal 18 September 1886 (2 Dhulhijjah 1304 H). Anak pertama dari pasangan ini bernama Mas’ud, yang kedua adalah anak perempuan bernama Sumiyati. Bisri adalah anak ketiga dan setelah itu masih ada dua anak lagi yaitu Muhdi dan Syafa’atun. Mereka semuanya lahir di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah.  Keluarga ini sangat kuat dalam menjalankan ibadah, dari garis silsilah ibunya, Bisri merupakan keluarga besar Kiai Kholil Kasingan Rembang dan Kiai Baidlowi Lasem[1].

Masyarakat Tayu pada umumnya memiliki tingkat kehidupan yang rendah apabila di bandingkan dengan derah lainya di pulau Jawa. Tanah pertanian yang tidak subur dan laut yang tidak meghasilkan ikan, menjadikan masyarakatnya bersikap pasrah dan mempercayai segala macam takhayul. Pada kondisi yang  seperti itu, banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di pesantren. Pesantren merupakan pusat pendalaman ilmu dan pesantren juga memiliki peran yang vital sebagai penyedia calon ulama bagi daerah pedalaman Jawa. Ulama yang dihasilkan dari pesantren tidak pernah putus hingga  saat ini. Bisri, anak ketiga dari Syansuri  dan Maniah nantinya juga ditakdirkan akan menjadi bagian dari proses pengembangan ajaran Islam di pedalaman Jawa.

Bisri mulai belajar Al-Qur’an pada usia tujuh tahun dengan belajar membaca dan aturan bacaan (tajwid) pada Kiai Shaleh di Desa Tayu. Pelajaran tersebut ditempuh Bisri hingga usia Sembilan tahun, kemudian beliau melanjutkan belajarnya kepada keluarga dekatnya yang menjadi ulama terkenal dan memiliki pesantren di Desa  Kajen sekitar 8 km dari Tayu. Gurunya adalah Kiai Abdul Salam yang hafal Al-Qur’an dan terkenal dengan penguasaannya yang mendalam tentang ilmu fiqih. Melalui ulama ini pula, Bisri mempelajari dasar-dasar tata bahasa Arab, fiqih, tafsir, serta kumpulan hadits. Kiai Abdul Salam dalam mendidik Bisri sangat ketat. Sikap Kiai Salam yang fiqih oriented inilah yang kemudian mempengaruhi pola pikir dan karakter Bisri di kemudian hari[2].

Pada usia 15 tahun, Bisri berpindah lokasi belajar. Beliau menuju pesantren di Demangan, Bangkalan Madura di bawah asuhan KH. Kholil, seorang ulama besar yang menjadi guru dari hampir semua kiai yang terpandang di Jawa pada saat itu. Bisri mulai mempelajari ilmu nahwu dan shorof sebagai pendukung ilmu Al-Qur’annya. Saat berguru pada Kiai Kholil inilah, beliau bertemu dengan Abdul Wahab Hasbullah, seorang santri yang menjadi sahabat dan rekan perjuangannya.

Pada waktu itu tradisi santri berkeliling untuk menuntut ilmu masih sangat kuat terjadi di beberapa pesantren. Begitu pula yang dilakukan oleh Bisri dan Wahab Hasbullah. Pada tahun 1906 keduanya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Pesantren Tebuireng Jombang, asuhan KH. Hasyim Asyari.  Bisri belajar di Pesantren Tebuireng selama 6 tahun. Bisri dan Wahab sangat mengagumi reputasi pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng yakni KH. Hasyim Asy’ari, karena kedalaman ilmu-ilmu agamanya sehingga membuat beliau mendapat gelar maha guru atau Hadratussyaikh[3].

Selama di Tebuireng, Bisri mendapat ijazah ajar dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang terkenal dalam literatur lama, seperti kitab fiqih Al Zubad (yang kemudian menjadi kegemarannya), hingga ke kitab hadis yang menjadi spesialisasi KH. Hasyim Asyar’i yaitu hadits Bukhari, dan Muslim. Ketika itu sudah terlihat corak keilmuan Bisri yang akan membuatnya terkenal di kemudian hari. Pendalaman pokok-pokok pengambilan hukum agama dalam fiqih sangat beliau kuasai. Bisri menyelesaikan pendidikannya di Tebuireng pada tahun 1911-1914, kemudian berangkat ke Mekkah bersama Abdul Wahab Hasbullah. Keduanya kemudian belajar pada sejumlah ulama terkemuka di Tanah Suci, semisal Syaikh Muhammad Baqir, Syaikh Muhammad Sa’d Yamani, Syaikh Ibrahim Madani, dan Syaikh Jamal Maliki. Juga belajar kepada gurunya Kiai Hasyim Asy’ari seperti Kiai Ahmad Khatib Padang, Syu’aib Daghistani dan Kiai Mahfuz Termas[4].

Ketika Kiai Bisri berada di Mekkah selama dua sampai tiga tahun, di sana awal mula pembentukan sebuah cabang Sarekat Islam di tanah suci. Pendirinya antara lain, KH. A. Wahab Hasbullah, KH. Asnawi Kudus, KH. Abbas Jember, dan KH. Dahlan Kertosono. Kiai Bisri tidak melibatkan diri dalam organisasi tersebut, namun hal ini kemudian mengubah pola pikirnya bahwa perlunya mengorganisir dalam melakukan perjuangan keagamaan di luar jaringan pesantren. Selain itu Kiai Bisri tidak ikut terlibat secara intens dalam organisasi Sarekat Islam karena menunggu perkenaan dari guru yang sangat dihormatinya, Kiai Hasyim Asy’ari, hanya saja, sebelum mendapat izin dari gurunya, beliau harus kembali ke Tanah Air[5].

Sebelum kembali ke tanah air, Kiai Bisri menikah dengan Nur Khadijah, adik perempuan sahabat karibnya, KH. A. Wahab Hasbullah. Pernikahan ini terjadi pada tahun 1914, dan pada saat itu pula Kiai Bisri memutuskan untuk kembali ke tanah air. Sepulangnya dari tanah suci Kiai Bisri menetap di pesantren mertuanya, Tambak Beras Jombang. Bisri tinggal selama dua tahun, untuk membantu mertuanya di bidang pendidikan dan pertanian.

Pada tahun 1917 Kiai Bisri berencana untuk mendirikan sebuah pesantren di Desa Denanyar Jombang. Denanyar merupakan sebuah desa yang terletak di garis perbatasan antara Kota Jombang dengan daerah pedalaman sebelah barat laut. Dengan letak yang strategis, didukung adanya pabrik gula yang praktis, namun ternyata Desa Denanyar rawan dengan berbagai tindak kejahatan, seperti perampokan, pencurian, dan pembunuhan. Kiai Bisri tidak gentar melihat berbagai kejahatan di desa tersebut, beliau tetep yakin dengan niat awalnya untuk mendirikan pesantren dan mertuanya Kiai Hasbullah sangat mendukung langkahnya untk mendirikan pesantran.

Hingga pada akhirnya Kiai Bisri berhasil mendirikan pesantren sendiri di Denanyar. Hanya saja sebagaimana kebiasaaan saat itu, Kiai Bisri menerima santri putra saja dan tidak menerima santri perempuan. Pada era tersebut masyarakat masih memandang remeh pendidikan bagi anak perempuan, ditambah lagi tidak ada sekolah ataupun pesantren yang menerima perempuan. Perempuan pada zaman tersebut hanya disuruh diam saja di rumah untuk membantu memasak dan setelah itu disuruh menikah walaupun umur mereka masih terbilang dini untuk menikah. Akses pendidikan juga sangat terbatas, hanya anak-anak priyayi yang bisa bersekolah. Kiai Bisri kemudian bertekad untuk memajukan pendidikan Islam yang kemudian bersama istrinya melakukan sebuah inovasi dengan membuka kelas khusus untuk santri-santri putri.

Langkah inovatif ini dimulai pada tahun 1919 dengan memberikan pendidikan yang sistematis kepada santri putri. Dalam tradisi pesantren, pondok pesantren putri Denanyar dipandang sebagai satu-satunya yang ada pada masa itu atau setidaknya di wilayah Jawa Timur. Tidak heran apabila kemudian Kiai Bisri disebut sebagai pejuang kesetaraan gender, khususnya di kalangan pesantren. Kiai Bisri lah orang pertama yang mendirikan kelas khusus untuk santri-santri perempuan di pesantren yang didirikannya.

Di zaman yang masih kental dengan nilai-nilai patrimonial waktu itu, apa yang dilakukan Kiai Bisri termasuk kategori aneh. Guru yang sangat dihormatinya, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tidak menentang terobosan yang dilakukannya. Kalau saja hadratussyaikh melarang, niscaya Kiai Bisri tidak akan melanjutkan langkah fenomenal yang telah dibuatnya. Hal ini semata-mata karena takdzimnya yang begitu mendalam kepada sang guru yang dicintainya.

Pesantren Kiai Bisri di Desa Deanyar tersebut kemudian dinamai dengan pesantren Mamba’ul Ma’arif. Pada tahun 1923, Kiai Bisri mendirikan Madrasah Salafiyah yang pelajarannya khusus pada pelajaran agama. Lama pelajarannya 6 tahun dengan menyandang nama resmi Madrasah Mabadi’ul Huda. Masyarakat antusias, terbukti madrasah untuk santri putra dan putri ini terisi penuh empat kelas. Inovasi terus dilakukan oleh Kiai Bisri dengan cara mengubah bentuk madrasah salafiyah menjadi madrasah modern. Perubahan radikal ini dilakukan kurang lebih pada awal tahun 1950-an, setelah bangsa Indonesia benar-benar berdaulat.

Di tengah-tengah proses reformasi pendidikan pesantren ini, istri Kiai Bisri, Hj. Nur Khadijah meninggal dunia pada tahun 1955. Wafatnya istri yang setia mendampingi Kiai Bisri dalam melakukan reformasi di bidang Pendidikan Islam ini tentu banyak mempengaruhi pemikiran Kiai Bisri. Hanya saja, Kiai Bisri tidak mau larut dalam kesedihan. Pada tahun 1956, atas prakarsa Kiai Bisri, dibukalah Madrasah Tsanawiyah yang setara dengan SLTP. Dua tahun berikutnya, tepatnya tahun 1958, Madrasah Tsanawiyah putri dibuka. Modernisasi terus dijalankan secara konsisten. Tepat pada tahun 1962, didirikanlah Madrasah Aliyah yang kemudian juga berjalan dengan stabil. Pada tahun itu juga status organisasi dikukuhkan dengan membentuk Yayasan Mamba’ul Ma’arif (YAMAM)[6].

Kiai Bisri tidak pernah berkeinginan mengubah Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif menjadi lembaga pendidikan modern, namun dalam perkembangannya Kiai Bisri menghendaki adanya kurikulum Salaf dan Kholaf dalam Pondok Pesantren. Mengenai hal kurikulum pengajaran di Lembaga Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif  terdapat perpaduan kurikulum salaf  dan kholaf yang sejatinya tidak dapat diprosentasikan secara pasti, dikarenakan adanya lembaga pendidikan baru yang bersifat formal ini menopang pendidikan salaf pondok pesantren, namun dapat diperkirakan sekitar 70% pendidikan salaf dan 30% pendidikan kholaf (departemen agama).

Pemikiran Kiai Bisri tercatat sebagai penggagas terobosan-terobosan yang sangat maju pada masanya dalam aspek fiqih. Contohnya dalam hal RUU Perkawinan, dan Keluarga Berencana. Salah satu prestasi yang paling mengesankan yaitu ketika Kiai Bisri Syansuri berhasil mendesakkan disahkannya UU perkawinan hasil rancangannya bersama-sama ulama NU. Padahal sebelumnya pemerintah sudah membuat rancangan Undang-Undang Perkawinan ke Dewan Perwakilan Rakyat. Kiai Bisri memiliki pola pikir  fiqih minded, ternyata mampu memberikan pengaruh signifikan pada setiap gagasan yang beliau lahirkan. Modernisasi pendidikan Islam agar tetap berkembang sesuai kemajuan zaman terus dilakukan oleh Kiai Bisri. Maka atas dasar itu pendirian pesantren putri yang pertamaka kali di Jawa dipelopori oleh Kiai Bisri, kelak di kemudian hari diikuti oleh banyak kiai lainnya. Sehingga pendidikan tidak diskriminatif dengan mengutamakan laki-laki saja.

KH. M. Bisri Syansuri dikatakan sebagai “Kiai Plus“. Dalam diri KH. Bisri Syansuri paling tidak melekat tiga karakter sekaligus. Yaitu sebagai perintis kesetaraan gender dalam pendidikan di pesantren, seorang ahli dan pecinta fiqh dan sekaligus seorang politisi. Kiai Bisri berupaya membekali para santrinya dengan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan kinestetikal (keterampilan). Santri yang tidak mempunyai keterampilan hidup, maka akan menghadapi berbagai problematika yang akan mempersempit perjalanan hidupnya.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan Kiai Bisri adalah untuk memenuhi kebutuhan duniawi dan ukhrowi, moralitas dan ahlak, dengan titik tekan pada kemampuan kognisi (iman), afeksi (ilmu) dan psikomotor (amal, akhlak yang mulia).

Kiai Bisri Syansuri selain menjadi pengasuh pesantren juga berperan aktif dalam mendirikan Organisasi Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Beliau duduk sebagai A’wan (anggota) Syuriah dalam susunan PBNU pertama kali. Pada masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Bisri bergabung ke dalam barisan Sabilillah dan menjabat sebagai Kepala Staf Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBO-DT) yang kantornya di belakang pabrik paku Waru, Sidoarjo. Kiai Bisri juga menjadi anggota BP KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) mewakili Masyumi (tempat Nahdlatul Ulama tergabung secara politis). Tetapi keterlibatan tersebut dilanjutkan dalam keanggotaan Dewan Konstituante tahun 1956, hingga kemudian Kiai Bisri memilih untuk menghendaki keluarnya Nahdlatul Ulama dari keanggotaan partai Masyumi.

Kemudian setelah Nahdlatul Ulama keluar dari Masyumi yang menjadi partai politik tersendiri dengan kemampuan menyuguhkan kekuatan besar dalam pemilihan umum tahun 1955. Terakhir keterlibatannya yang semakin besar dalam urusan pemerintahan di negeri ini, tugas yang dipikul Kiai Bisri menjadi tidak semakin ringan dan waktu yang dapat disediakannya langsung untuk mendidik santri di pesantrennya juga semakin mengecil. Sifat dari kekuasaan Syuriah (Dewan  Agama) yang begitu besar dalam lingkup pengambilan keputusan di lingkungan Nahdlatul Ulama, yang bahkan dapat  membatalkan keputusan yang diambil oleh pihak Tanfidziah (Dewan Pelaksana), dengan sendirinya membuat lebih penting lagi keterlibatan Kiai Bisri dalam proses pengambilan keputusan politik. Setelah wafatnya Kiai Hasyim Asy’ari, kedudukan Ra’is Akbar dihapuskan dan digantikan kedudukan Rais Am sejak 1947, dengan Rais Am pertama Kiai Abdul Wahab dan Kiai  Bisri sebagai wakilnya.

Untuk memasuki era Demokrasi terpimpin bukan perkara mudah bagi para pemimpin NU. Walaupun organisasi para ulama tersebut setuju dengan Manifesto politik dan kembali ke UUD 1945, tetapi ketika hendak masuk Kabinet dan DPR-Gotong Royong menjadi masalah karena pada waktu itu ada dua aliran. Kiai Wahab menghendaki NU masuk dalam sistem tersebut, sementara Kiai Bisri Syansuri menentangnya. Dengan argumen yang kuat akhirnya pendapat Kiai Wahab yang diterima secara resmi, sehingga NU masuk ke dalam sistem Demokrasi Terpimpin.

Pasca peristiwa G30 S/PKI tahun 1965, Kiai Bisri harus meninggalkan Jombang untuk turut dalam pengambilan keputusan di lingkungan NU mengenai masalah-masalah nasional. Kiai Bisri pun diangkat sebagai Rais Am. Ketika NU bergabung ke PPP (partai persatuan pembangunan), Kiai Bisri juga menjadi ketua Majelis Syuro partai ini. Pendirian prinsipil NU dalam sejumlah perbenturan dengan pemerintah selama tahun 1970-an biasanya dikaitkan dengan kepemimpinan KH. Bisri Syansuri.  Sikap rendah hati dan tidak gila jabatan tampak saat mengikuti dinamika perjuangan di tahun 1960-an.

Saat berlangsungnya Muktamar NU ke-24 pada tahun 967 di Bandung, Kiai Bisri menunjukkan sikap tawadlu’ yang perlu kita teladani. Ketika itu sedang terjadi pemilihan Rais Am yang melibatkan antara dua kiai sepuh yang sama-sama berwibawa, yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah Rais Syuriah PBNU dan Kiai Bisri. Hasil pemilihan ternyata di luar dugaan.Walaupun lebih muda, tiba-tiba Kiai Bisri bisa meraih suara terbanyak. KH. Abdul Wahab Chasbullah pun menerima kekalahan dengan berbesar hati, apalagi yang mengalahkan sahabat dekatnya sekaligus adik iparnya sendiri. Menanggapi sikap Kiai Bisri, Kiai Wahab menerima amanah itu. Tidak perlu merasa tersinggung, karena walaupun sudah uzur tetapi merasa masih dibutuhkan untuk memimpin NU dalam menghadapi situasi sulit masa orde baru. Sementara Kiai Bisri dipercaya sebagai Wakil Rais Am.

Kemudian ketika Kiai Wahab wafat pada tahun 1971, baru Kiai Bisri menduduki posisi sebagai Rais Am hingga wafat pada tahun 1980. Itulah keteladanan politik kiai. Beberapa partai politik di Indonesia cenderung terus mengalami degradasi dan gagal membangun sistem internal yang kokoh. Karena itu gagal pula menjadi unsur penting yang menopang proses stabilisasi politik nasional. Hal itu bisa terjadi karena beberapa elite partai tidak mampu mengawinkan ketiga perspektif di atas (teologis, akhlak dan fiqh) dalam berpolitik, bahkan sebagian lagi mengabaikan ketiga dimensi itu, sehingga terseret dalam pusaran konflik yang berkepanjangan.

Orientasi politiknya hanya kekuasaan jangka pendek, aturan main cenderung dilanggar, dan kesantunan politik diabaikan. Suatu praktik politik bertentangan dengan apa yang sudah dibangun para kiai di masa lalu. Kiai Bisri adalah orang besar, karena beliau memilih mengikuti sebuah pola kehidupan yang sepenuhnya tunduk kepada hukum fiqh. Dengan kewafatannya, hilang pula sebuah tonggak besar dalam kehidupan kita sebagai bangsa: angkatan ulama yang mampu menerapkan hukum fiqih.

Sumber Referensi

[1] KH. A, Aziz Masyhuri, Almaghfirlah KH. M. Bisri Syansuri: Cita-cita dan pengabdiannya (Surabaya:al-ikhas,tt), hal 21.

[2] Ibid., hal 25

[3] Abdurrahman Wahid, Kiai Bisri Syansuri : Pecinta Fiqih Sepanjang Hayat, (Jakarta: Amanah, 1989), hal 10.

[4] Abdurrahman Wahid, Kiai Bisri.., hal 15

[5] Ibid., hal 29

[6] Ibid.,hal 43.