Oleh : Rifki Yusak

Demak adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah, merupakan kota tempat ziarah yang kerap disebut sebagai Kota Wali atau Nagari Para Wali. Kota yang menjadi cikal bakal Islam di Jawa ini meninggalkan kenangan dan ingatan religius berupa Masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di barat, Kabupaten Jepara di utara, Kabupaten Kudus di timur, Kabupaten Grobogan di tenggara dan Kota Semarang serta Kabupaten Semarang di sebelah barat.

Dengan menjadi kota peninggalan kerajaan Bintoro Demak, kota ini melahirkan banyak ulama yang berperan penting dalam melanjutkan syiar Islam di Demak dan sekitarnya yang tentunya meneruskan perjuangan Raden Fattah dan Sunan Kalijaga. Di antara ulama yang ada di Demak adalah KH. M. Zainal Arifin Ma’shum yang sekarang menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Demak masa khidmah 2017-2022. Beliau adalah putra pertama dari KH. Ma’shum Mahfudhi seorang kiai Ahli Riyadhoh dari Karang Gawang yang sudah di akui kewaliannya.

KH. M. Zainal Arifin Ma’shum atau biasa dipanggil Gus Zain Lahir pada hari Senin, 01 Juni 1964 M / 20 Muharam 1384 H di dusun Karang Gawang Sidorejo Sayung Demak. Secara administratif, Desa Sidorejo terdiri atas lima dusun; Karang Gawang, Kuripan, Bugangan, Karang Waru, Patar dan Sampit yang masih termasuk wilayah dari Kecamatan Sayung.

Jika dilihat dari sisi topografi, Desa Sidorejo terletak di antara Desa Rejosari sebagai batas sisi timur, Desa Wonowoso sebagai batas sisi selatan, Desa Tugu sebagai batas sisi barat dan Desa Banjarsari sebagai batas sisi utara. Kemudian dari kota Kabupaten Demak, Desa Sidorejo sendiri berjarak sekitar 13 km.

KH. M. Zainal Arifin Ma’shum lahir Sembilan belas tahun sesesudah Indonesia mengumandangkan kemerdekaan, dari pasangan KH. Ma’shum Mahfudhi dan Nyai Hj. Sayyidah. KH. Ma’shum Mahfudhi sendiri adalah Scholar yang alim dan zuhud serta ahli riyadhah dari Karang Gawang. Beliau adalah pendiri Pondok pesantren Fathul Huda Karang Gawang Sidorejo Sayung Demak. Pernikahan beliau dengan Nyai Hj. Sayyidah melahirkan 7 orang anak, yaitu:

  1. M. Zainal Arifin Ma’shum
  2. Nyai Hj. Nur Izzah Ma’shum
  3. Ainistiqamah Ma’shum (wafat saat kecil)
  4. Nyai Hj. Nur Aliyah Ma’shum
  5. Luthfin Najib Noor Ma’shum
  6. Gus Muhammad Badruddin Ma’shum
  7. Gus Abdul Latif Ma’shum

Dalam menelusuri nasab Beliau, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum dari ayahnya KH. Ma’shum Mahfudhi bin KH. Ahmad Yasir bin Tobri bin Rofi’i bin Mustafa Singodrono. Singodrono sendiri adalah salah satu abdi kerajaan Mataram. Sedang nasab dari arah Ibunya KH. M. Zainal Arifin Ma’shum bin Nyai Hj. Sayyidah binti KH. Umar al-Dhimaky.

Riwayat Pendidikan

Keluarga KH. M. Zainal Arifin Ma’shum sangat kental akan ilmu agama. Hidup dalam lingkungan pondok pesantren membantu membentuk karakter beliau sejak kecil. Ayahandanya, KH. Ma’shum Mahfudhi sangat tegas dan telaten dalam mendidik putra-putranya, begitu juga terhadap putra pertamanya, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum. Ketika sang putra masih kecil sering kali diajak dalam majlis ilmu dan keagamaan. Dengan cara digendong atau dipangkunya sehingga sang anak sudah dikenalkan majlis ilmu. Ketika sang anak sudah mulai tumbuh remaja, diajarkanlah dasar-dasar agama Islam, seperti ilmu membaca Al-Qur’an, tauhid, fikih, gramatika arab (nahwu dan shorof) dll. Beliau, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum juga mendapat bimbingan belajar membaca dan mengkaji al-Qur’an dari ibunya, Nyai Hj. Sayyidah binti KH. Umar al Dimaky yang notabenya adalah seorang wanita yang hafal al-Qur’an (khafidzoh).

KH. M. Zainal Arifin memulai pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyyah Fathul Huda, beliau dikenal sebagai santri yang sangat cerdas. Kelihaiannya dalam menghafal membuat dirinya disegani teman-temanya. Setelah lulus beliau lanjut ke Madrasah Tsanawiyyah Fathul Huda, pada waktu itu beliaulah yang menjadi siswa pertama di MTs Fathul huda, dalam catatan nomor induk siswa madrasah beliau tercatat no 001 hingga pada tahun 1978 beliau lulus.

Pada usia 14 tahun, tepat seusai tamat dari MTs Fathul Huda. KH. Ma’shum Mahfudhi menyuruh putranya, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum untuk hijrah mencari ilmu ke daerah Pati, tepatnya di Pondok Pesantren Mansajul Ulum, Cibolek yang pada waktu itu diasuh KH. Abdullah Rifa’i (yang kelak akan menjadi mertuanya) sembari meneruskan bangku sekolah di PIM (Perguruan Islam Mathali’ul Falah) di situlah beliau mengkaji kepada ulama-ulama terkemuka seperti KH. Abdullah Salam, KH. Abdullah Rifa’i, KH. Sahal Mahfudz, KH. Nafi’ Abdillah dll, hingga pada tahun 1982 M beliau lulus.

Saat menimba ilmu di Pati KH. M. Zainal Arifin Ma’shum dikenal sebagai santri cerdas dan baik hati, selain mempunyai akhlak yang baik (tata krama) serta menjadi santri teladan, berprestasi, giat bermuthola’ah, beriyadhoh dan berkhidmah. Hal itu disaksikan langsung oleh teman-temannya. Karena sangking giatnya belajar dan beriyadhoh beliau terlihat kurus. Dalam setiap majlis ilmu beliau tak pernah terlambat dan selalu duduk paling depan. Hingga oleh para teman-temanya, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum menjadi jam pengingat bahwa ketika beliau sudah berangkat pertanda sebentar lagi akan memasuki jam pengajian/sekolah. Hingga tak heran bila beliau menjadi santri terbaik di pondok dan sekolahnya yang unggul dalam prestasi dan akhlak hingga KH. Abdullah Rifa’i terkagum dan berniat menjodohkan KH. M. Zainal Arifin Ma’shum dengan anaknya, Ning Khiyarotun Nisa’.

KH. Abdullah Rifa’i sendiri adalah Scholar yang lahir di Bugel Pecangaan Jepara dari pasangan Kiai Ahmad Rifa’i dan Nyai Mustamah. Pada usia sepuluh tahun, ayahandanya meninggal dunia. Setelah itu, Beliau diajak ibunya pindah ke Kajen untuk belajar di bawah asuhan pamannya, KH. Abdullah Zain Salam. KH. Abdullah Rifa’i kecil kemudian belajar di perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen hingga ia menjadi pengajar di situ. Namun, karena hasratnya dalam menuntut ilmu masih mengebu-ngebu Beliau kemudian lanjut nyantri di Pondok Bendo Kediri yang pada saat itu diasuh oleh KH. Muhajir. Pada saat itu juga beliau satu waktu dengan KH. Ma’shum Mahfudhi (Ayahanda KH. M. Zainal Arifin Ma’shum) yang kelak akan menjadi besannya.

Setelah itu beliau pindah Nyantri lagi di Pondowan kepada KH. Muhammadun hingga kemudian beliau di nikahkan dengan Nyai Salamah, putri KH. Muhammadun. Setelah itu, KH. Abdullah Rifa’i mengajak istrinya pindah ke Cebolek untuk menghidupkan pondok pesantren yang diwakafkan oleh neneknya, Mbah Nyai Halimah. Lalu dari buah pernikahan KH. Abdullah Rifa’i dengan Nyai Salamah dikaruniai tujuh anak, yaitu A’lam (wafat), KH. Ulil Abshar Abdalla (Menantu KH. Musthofa Bisri), Nyai Hj. Khiyarotun Nisa’ (Istri KH. M. Zainal Arifin Ma’shum), Dzurwatul Ula (wafat), Umdatul Baroroh, Maljaul Abror dan Dzakiroh (wafat).

Setelah lulus dari PIM, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum berpindah ke Lasem tepatnya di Pondok Pesantren Al Islah Soditan yang saat itu di asuh oleh KH. Abdul Hakim Masduqi. Di Pondok ini beliau mengkaji kitab-kitab salafus sholih selama satu tahun.

KH. Abdul Hakim Mashduqie sendiri adalah Scholar dari lasem putra Syaikh KH. Mashduqie bin Sulaiman al-Lasimi , yang dilahirkan sekitar tahun 1942 M. Di usia yang sangat muda, 12 tahun, KH. Abdul Hakim sudah mengajarkan kitab Jam’ al-Jawami’. Di usia 17 tahun beliau menyusun karya tulis dalam fan ilmu tauhid berbentuk sya’ir yang dinamai “Nadzam Ibn al-Lasimiy”. Kemudian kitab tersebut disyarahi pada usia 40 tahun dan diberi nama “adz-Dzakhair al-Mufidah” yang sudah tersebar di berbagai penjuru negeri seperti Bangladesh, Mekkah dan Yaman. Karya tulis lainnya berjudul “Ghayat al-Maram fi Ahadits al-Ahkam” yang berhubungan dengan hadits-hadits Rasulullah Saw.

KH. M. Zainal Arifin Ma’shum selalu merasa haus dengan dunia keilmuan. Beliau merasa tidak cukup jika belajarnya berhenti di Al Islah Lasem. Oleh sebab itu, beliau melanjutkan pencarian ilmunya di wilayah Jawa Timur, lebih tepatnya di Pondok Pesantren Darul Ulum Senori Tuban yang saat itu di asuh KH. Abul Fadhol Senori. Di Pondok Pesantren ini, beliau digembleng harus lebih disiplin. Pengajaran yang diberikan KH. Abul Fadhol Senori sangat mempesona di hati para santri dibidang ilmu agama dan kedisiplinan. Tak heran bila banyak santri termasuk KH. M. Zainal Arifin Ma’shum yang meniru laku beliau.

KH. Abul Fadhol Senori sendiri adalah Scholar yang terkenal kealimannya sejak kecil. Beliau putra dari KH. Abdus Syakur bin Muhsin bin Saman bin Mbah Serut. Kelahiran Sedan, Rembang, kemudian pindah ke Kebonharjo Kecamatan Jatirogo, karena di sana masih minim pemahaman agama. Beliau sejak kecil sudah alim. Umur 6 tahun sudah mahir membuat syiir Arab tanpa belajar. Sambil bermain di pinggir sungai, umur segitu beliau sudah mendendangkan syiir Arab buatannya sendiri. Beliau adalah murid dari Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

KH. M. Zainal Arifin Ma’shum juga pernah nyantri kilatan dengan KH. Abdul Hakim Mashduqie dan KH. Dimyati Rois Kaliwungu Kendal beberapa waktu, kitab yang pernah dikaji adalah Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Mizan Kubro, Fathul Wahab, Asybah wan Nadhair dll.

Pulang ke Kampung Halaman

Setelah mengembara mencari ilmu, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum pada tahun 1987  kembali ke kampung halaman, dusun Karang Gawang. Di tanah kelahirannya ia mendapat amanah dari ayahandanya untuk mengajar beberapa fan pelajaran seperti : Fiqih, Ushul Fiqih dan Balaghoh di Madrasah Dininyyah Fathul Huda. Pada masa itu sampai sekarang beliau dikenal sebagai seorang Scholar yang cerdas,  telaten dan disiplin dalam pelajaran, penerangan yang jelas dan lugas membuat para santri cepat paham. Di samping itu juga ketika menerangkan pelajaran diselingi dengan sedikit guyonan yang menyegarkan, tak heran bila para santri senang saat diampu beliau.  Pada saat itu juga, di sela-sela kesibukan beliau mengajar, beliau menyempatkan waktunya untuk berkeliling Pondok Pesantren saat jam KBM dimulai, jika nantinya ada kelas yang kosong maka beliau akan mengisi.

Kisah Pernikahan

Perlu diketahui bahwa KH. Yasin Bareng Kudus adalah Scholar yang memberikan ijazah (mujiz) Dalail al-Khairat. Beliau pernah mempunyai seorang santri terbaik yang sekaligus masih kerabatnya bernama Muhammadun, oleh beliau, santri tersebut kemudian dinikahkan dengan putrinya, Nafisatun. KH. Muhammadun kemudian mendirikan Pondok Pesantren yang diberi nama Darul Ulum di Pondohan Tayu Pati. Bertahun-tahun kemudian, beliau juga mempunyai seorang santri terbaik bernama Abdullah Rifa’i, kemudian beliau menikahkan santri tersebut dengan putrinya, Salamah.

KH. Abdullah Rifa’i kemudian melanjutkan perjuangan di pesantren peninggalan neneknya, pesantren tersebut beliau beri nama Mansajul Ulum. Selanjutnya, beliau mempunyai santri terbaik pula yang bernama M. Zainal Arifin Ma’shum, putra KH. Ma’shum Mahfudhi yang juga pernah mondok di Darul Ulum Pondohan, seorang kiai zuhud dari Karanggawang Demak. Kemudian oleh KH. Abdullah Rifa’i, santri tersebut dinikahkan dengan putrinya, Neng Khiyarotun Nisa’. Pernikahan itu dilaksanakan pada tahun 1991 di Cebolek pati yang dihadiri para ulama Pati. Waktu itu yang memimpin Doa walimah adalah KH. Abdullah Salam dan yang memberi Mauidzah adalah KH. Sahal Mahfudz.

Dari pernikahan tersebut, KH. M. Zainal Arifin dikaruniai 4 orang anak ; 1. Khoiru Imadatil Ummah, 2. Muhammad Nabil Mujtaba, 3. Ifadlun Nada, 4. Nahika Asna Taqiyya.

Berguru Ilmu Thariqoh

KH. M. Zainal Arifin Ma’shum adalah Scholar yang cerdas dan Alim, karena kecerdasan dan Kealimanya beliau pernah ditawari mengajar di Universitas UNISFAT dan perguruan tinggi SETIA WS Semarang namun beliau tidak berkenan, serta beliau juga pernah di tawari Doctor Honoris Causa di salah satu Universitas California namun beliau juga tidak berkenan.

Di samping menjadi Scholar yang alim dalam bidang Fiqih beliau juga menjadi scholar yang alim di bidang Tasawuf, buktinya masa muda beliau dihabiskan untuk belajar dan lelaku Riyadhah serta di umur yang masih begitu muda beliau sudah terjun ke dunia sufistik mengikuti ajaran Thoriqah Qodiriyah wa Naqsabandiyyah melalui Ayahnya. Thariqah yang beliau amalkan adalah gabungan antara dua thariqoh qodiriyah yang didirikan oleh Syekh Abdul Qodir al-Jailani pada tahun 521 H dan Thariqoh Naqsabandiyyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad Baha’uddin al-Uwaisyi al-Bukhori yang mashur dengan nama syekh Naqsabandi tahun 717 H sampai 791 H hingga pada umur 40 tahun beliau di angkat menjadi seorang Mursyid menggantikan ayahnya.

Sanad keilmuan Thoriqah beliau sebagai berikut: KH. M. Zainal Arifin Ma’shum, dari Syekh Ma’shum Mahfudhi, dari Syekh Muslih Mranggen, dari Syekh Abdul Karim Banten, dari Syekh Ahmad Khotib Syambas, dari Syekh Syamsuddin, dari Syekh Muhammad Murad, dari Syekh Abdul Fatah, dari Syekh Usman, dari Syekh Abdur Rohim, dari Syekh Abi Bakar, dari Syekh Yahya, dari Syekh Isyamudin, dari Syekh Waliyyuddin, dari Syekh Nuruddin, dari Syekh Syafaruddin, dari Syekh Syamsuddin, dari Syekh Muhammad Hattak, dari Syekh Abdul Aziz, dari Sultan Al-Auliya’ As-Syekh Abdul Qadir Al-Jilany, dari Syekh Abi Sa’id al Mubarak al-Mahzumy, dari Syekh Abil Hasan Ali Al-Hakkary, dari Syekh Abil Faraj At-Thurthus, dari Syekh Abdul Wahid At-Tamimy, dari Syekh Abi Bakar As-Syibly, dari Syekh Abil Qasim Al-Baghdady, dari Syekh As-Sarry As-Saqathy, dari Syekh Ma’ruf Al-Harkhy, dari Syekh Abil Hasan Ali ibnu Musa Ar-Rida, dari Syekh Musa Al-Kadhim, dari Imam Ja’far Ash-Shadiq, dari Al-Imam Muhammad Baqir, dari Al-Imam Zainal Abidin, dari Asy-Syahid Sayidina Husain bin Fatimah Az-Zahra, dari Sayyidina Ali RA, dari Sayyidil Mursalin wa Habibi Rabbil ‘Alamin; Sayyidina Muhammad SAW, dari Ar-Ruh al-Amin; Malaikat Jibril as, dari Robbil Arbab wa Mu’tiqir Riqab; Allah SWT.

Memimpin Pesantren

Pada hari senin, 4 Rajab 1426 H, tepatnya tanggal 29 Agustus 2005 ayah beliau, KH. Ma’shum Mahfudhi wafat, secara otomatis kendali pondok pesantren dipegang oleh KH. M. Zainal Arifin Ma’shum yang sebagai putra tertua.

Disitulah beliau memulai mengonsep Pesantren dan Madrasah secara strategis, yang awalnya kurang sistematis menjadi sistematis. Dalam memimpin pesantren beliau mengkolaborasikan pemikiran ayahnya (santri itu kudu riyadhah) dan mertuanya (santri iku kudu sinau) hingga beliau menyimpulkan santri iku kudu riyadhah lan kudu sinau, Penataan kurikulum santri juga di kembangkan pada masa beliau. Hingga beliau mewajibkan hafalan dan kehadiran sebagai syarat naik kelas.

Hal itu mengacu para santri untuk lebih giat dan berfastabiqul khoirat, selain itu beliau membentuk ITFADA dan IKSADA sebagai wadah organisasi santri madrasah. Pembentukan itu bermula dari usul salah satu santri bernama Kang Faizin yang sowan kepada beliau, karena melihat  idenya bagus. Maka beliau meridhoi hal itu.

Pada masa kepemimpinannya, beliau telah menghantarkan Pondok Pesantren Fathul Huda berkembang pesat. Pembangunan dan perluasan ditingkatkan karena melihat semakin banyaknya santri yang menimba ilmu di Pesantren tersebut. Dengan berbekal khazanah keilmuan yang mumpuni ditambah lagi akhlak serta kedisplinan beliau yang begitu tinggi menjadikan Pondok Pesantren Fathul Huda semakin maju.

Gagasan, pemikiran dan keluarga besar beliau yang mendukung menghantarkan Pondok Pesantren Fathul Huda semakin maju, maju dalam infrastruktur dan juga SDM para santri. Hingga kini, pondok pesantren membuka lembaga pendidikan dari RA, MI, MTs, MA, Perguruan Tinggi, TPQ, Madrasah Diniyah : al-Ula, al-Wustha, al-Ulya, Pengajian Tafsir Al-Qur’an , Pengajian Al-Qur’an bin Nadhar , Pengajian Al-Qur’an bil Ghoib, Pengajian Kitab Kuning, Pengajian Thariqah Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah.

Hingga kini Pondok Pesantren terkenal keseluruh daerah Demak dan sekitarnya yang sering menjuarai Mushabaqoh Qira’atul kutub dan jenis perlombaan lainnya. Hal itu menambah daya tarik tersendiri sehingga banyak santri berbondong-bondong ingin menimba ilmu agama di situ.

Tidak sebatas itu juga, banyak alumni yang sudah menebar keseluruh Nusantara yang kini mempunyai pondok pesantren cabang dari Pondok Pesantren Fathul Huda Pusat. Seperti di Jawa Timur, Jakarta, Jambi hingga ke Papua.

Mendirikan Jam’iyyah Hasatain

Jam’iyah Hasanatain merupakan perkumpulan Alumni Pondok Pesantren Fathul Huda. Salah satu wadah untuk mempererat tali silaturahmi antar Alumni dan juga sebagai salah satu jalan agar hubungan antara Santri dan Kiai tetap terjaga meski jarak memisah. Jam’iyyah Hasanatain sendiri hanya sebatas Jam’iyyah pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jaylani yang didiran pada tahun 1994 oleh KH. M. Zainal Arifin Ma’shum.

Setelah beberapa tahun terbentuk ternyata banyak dari Alumni yang antusias ingin ikut serta, sehingga Hasanatai-hasanatain lain bermunculan. Sampai saat ini sudah terdata 31 kelompok Hasanatain di seluruh pelosok Nusantara. Sepertihalnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Jambi, Sumatra Selatan hingga Papua.

Pondok Riyadhah

Pondok Fathul Huda terkenal menjadi Pondok Riyadhah, hal itu dinisbatkan oleh pendiri Pondok, KH. Ma’shum Mahfudhi karena beliau adalah Scholar yang suka riyadhah. Laku seperti ini sudah beliau jalani pada saat mengaji di pesantren hingga akhir hayat. Di samping mengajarkan kitab kuning kepada santrinya, beliau juga menyuruh agar para santri menjalani riyadhah yakni puasa dari tingkat bawah hingga tingkat yang lebih tinggi. Kini, perjuangan beliau diteruskan oleh, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum.

Setiap tahun beliau, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum memberikan ijazah Kubra yakni ijazah puasa Al-Qur’an, ijazah Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jaylani dan Ijazah Dalailul Khoirat. Ijazah kubra ini biasanya dilaksakan pada jum’at terakhir bulan Dzulhijjah dan jum’at terakhir bulan Jumadil Akhir. Santri dari berbagai macam daerah berbondong-bondong untuk meminta ijazah kepada beliau.

Kiprah di NU dan politik

Sepulang dari Senori, Tuban di sela-sela kesibukan mengajar di pondok pesantren beliau, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum juga turut terjun aktif di NU. Proses perjuangan beliau dalam organisasi ini di mulai dari tingkatan ranting, yaitu tingkatan paling bawah dalam struktural NU, beliau pernah menjadi Rais Syuriah Ranting Sidorejo. Bahkan karena kealiman dan ketokohannya maka diakui oleh para ulama khususnya yang ada di Demak, kemudian pada tanggal 30 juli 2017 beliau terpilih sebagai Rais Syuriyah PCNU Demak untuk masa khidmat 2017-2022.

Pada tahun 2000 an beliau juga sudah aktif dalam panitia perumus Bahstu Masail Idharoh Aliyyah Jatman bersama KH. M. Aziz Mashuri dan KH. Ishomuddin, waktu itu beliau menjadi sekretaris (katib) dan hingga kini beliau masih dipercaya menjadi wakil satu Katib Am pimpinan pusat JATMAN sedangkan di tingkat Idharoh wustha beliau menjabat sebagai Katib. Selain berkiprah di NU, beliau juga berkiprah di dunia politik. Pada tahun 2007 silam beliau menjabat sebagai Ketua Dewan DPC PKB periode 2007-2012.Wallahua’lam Bishowab.