Oleh: Muhammad Nashir

KH. Ma’shum Sufyan terlahir dari dua insan yang sholih-sholihah, Ayahnya bernama H. Muhammad Sufyan, sedangkan ibunya bernama Hj. Amnah, di desa Dukun, pada hari Sabtu Kliwon pada tahun  1334 M. Beliau merupakan putra pertama dari empat bersaudara.

KH. Ma’shum Sufyan masih keturunan Joko Tingkir dari garis silsilah nenek moyang yang bernama Mbah Kiai Onggoyudo (keturunan kelima dari Sultan Pajang alias Joko Tingkir). Berdasarkan silsilahnya yaitu Brawijaya IV, Raden Ayu Jayadiningrat, Sultan Adiwijaya/ Mas Krebet (Joko Tingkir), Pangeran Benowo, Pangeran Selarong, Pangeran Kosmoyudo (Kiai Abdul Jabbar Jojokan), Kiai Abdullah Sambo, Kiai Onggoyudo, Nyai Sarimah(sidayu), Nyai Siman, Kiai Kudoleksono, Nasli,Sa’ib, Amnah, Ma’shum Sufyan.

Pada usia enam sampai tujuh tahun  KH. Ma’hum Sufyan sudah fasih dan terampil membaca ayat-ayat al-Qur’an. Hal tersebut berkat asuhan kakek beliau yang dikenal ‘alim dalam membaca al-Qur’an, yakni Kiai Amari. Pada usia yang masih kecil KH. Ma’shum sudah nampak kepandaiannya dalam ilmu agama, demikian pernyataaan yang dilontarkan oleh KH. Ahyat, salah seorang paman beliau yang sekaligus menjadi pengasuhnya. Sebagai lazimnya anak-anak waktu itu, selain kegiatan mengaji al-Qur’an, Ma’shum Sufyan muda ingin menempuh pendidikan formal. Yang pada akhirnya kedua orang tuanya mengizinkan untuk sekolah di Madrasah Islamiyah yang didirikan oleh KH. Faqih Abdul Jabbar yang tak lain adalah pendiri Pondok Pesantren Maskumambang, Dukun, Gresik. Bahkan, Ma’shum muda sempat berguru langsung kepada pendiri, Kiai Faqih Abdul Jabbar.

Berkat gemblengan langsung dari kakeknya, Ma’shum muda termotivasi untuk ngugemi al-Qur’an atau memegang al-Qur’an dengan erat. Supaya keilmuannya tetap abadi di dalam fikiran maupun hati. Untuk meneguhkan tekadnya tersebut, berangkatlah Ma’shum muda ke Sidayu, Gresik untuk berguru kepada Mbah Kiai Munawwar seorang ulama’ terkenal dalam tahfizh al-Qur’an. Kepada Mbah Kiai Munawwar lah Kiai Ma’shum Sufyan berguru dan mendapatkan sanad tahfidz al-Qur’an.

Sungguh takjub, kecerdasan dan ketekunan Ma’shum Sufyan muda telah mampu menghatamkan hafalan al-Qur’an 30 juz dalam usia 12 tahun. Untuk tahsin (fashohah) dibutuhkan waktu 3 bulan. Atas dasar sifat tawadhu’ yang kuat, banyak para santri dan masyarakat sekitar memuji begitupun Mbah Kiai Munawwar yang turut berbangga hati mendapati murid sehebat itu.

Prestasi yang dicapai oleh KH. Ma’shum  dalam usia yang semuda itu (12 tahun) yaitu pernah diminta untuk menetap di pondok dan mengabdi kepada Mbah Kiai Munawwar yang telah mengangkatnya sebagai asisten dalam tahfizh al-Qur’an sembari memperlancar hafalannya. Dasar sifat tawadlu’nya yang kuat banyak sanjungan dan tingginya kedudukan tidak membuatnya sombong, beliau tetap sebagaimana pohon padi semakin berisi semankin merunduk bahkan ketinggian yang dimiliki oleh beliau semakin merasa haus terhadap ilmu.

Setelah genap 7 bulan mengabdikan diri, Ma’shum meminta izin kepada mbah Kiai Munawwar  untuk melanjutkan pengembaraan ngangsu kaweruh ke pondok pesantrennya Kiai Muhammad Sa’id di wilayah Sampang Madura. Di pondok ini, Ma’shum muda hanya menghabiskan waktu selama 3 bulan. Karena, berkat ketekunannya, waktu yang sesingkat itupun sudah dianggap cukup untuk memberikan manfaat, kemudian sowan kepada Kiai Muhammad Sa’id untuk mengucapkan terima kasih dan  pamit pulang sambil memohon do’a  restu.

Pulangnya beliau dari Madura, bukan karena ingin beristirahat mengaji. Tetapi justru karena hausnya ilmu, maka kembalilah beliau ngangsu kaweruh kepada Kiai Faqih Abdul Jabbar sampai 5 tahun lamanya. Kemudian melanjutkan ke Rembang ngangsu kaweruh KH. Kholil. Kedatangan beliau bersamaan datangnya seorang pesmuda yang pada akhirnya terkenal KH. Makhrus Ali Pimpinan Podok Pesantren Lirboyo Kediri. Perkenalan beliau dengan KH. Mahrus Ali membuat persaudaraan yang erat sampai pada saatnya Al Mukarrom KH. Mahrus Ali pulang ke rahmatullah.

Terpetik suatu cerita lucu dari pengalaman kedua kiai tersebut saat sama-sama mondok di KH. Kholil Rembang. Suatu hari lurah pondok mendapat surat yang isinya tantangan dari orang-orang kampung di sekitar pondok untuk bermain sepak bola. Sebetulnya surat tersebut merupakan surat yang kesekian kalinya. Oleh lurah pondok, berkali-kali tidak pernah dilayani karena tidak pernah menang. Ternyata berita itu diketahui oleh kedua santri baru itu (KH. Ma’shum dan KH. Mahrus). Untuk menjaga nama baik pondok dan menanamkan rasa jera pada penantang yang PKI itu, kedua santri menyarankan untuk dilayani dan keduanya siap untuk mengaturnya.

Dikumpulkannya santri-santri yang masih kecil yang mengerti aturan permainan. Entah bekal apa yang dipersiapkan, tapi suatu yang lucu dan mendebarkan terjadi pada waktu pertandingan berlangsung. Banyak pemain dari kesebelasan kampung yang jatuh pingsan tidak sadarkan diri karena kena tendangan ke-sebelasan pondok. Pergantian pemain terus tejadi namun jumlah pemain yang pingsan semakin bertambah. Akhirnya permainan dihentikan dengan skor 14-0 (lupa bilangan persisnya) untuk kesebelasan pondok. Sejak peristiwa itu orang-orang PKI tidak lagi berani mempermainkan santri-santri pondok.

Ketika menginjak usia 17 tahun, Kiai Ma’shum akhirnya melepas status bujangnya dengan menikahi Masrifah binti H. M. Rusdi. Kemudian tinggal di rumah mertuanya sembari menghafalkan kitab Alfiyah Ibnu Malik pada waktu satu malam.

Dari pernikahannya dengan Ibu Nyai Masrifah, Kiai Ma’shum dikaruniai 13 keturunan. Dari 13 orang tersebut yang masih hidup hingga saat tulisan ini dipublikasikan adalah 8 orang. Adapaun 13 orang tersebut adalah Mahfud Ma’shum (alm.), Ma’mun Ma’shum (alm.), Mahfudz Ma’shum, Sakinah Ma’shum (almh.), Afif Ma’shum; Robbach Ma’shum, Muhammad Ma’shum (alm.), Sa’dan Maftuh Ma’shum, Sakinah Ma’shum, Robi’ah Ma’shum, Ahmad Mulaqqob (alm.), Maziyah Ma’shum, dan Wafiroh Ma’shum.

Merintis Pesantren

Pondok Pesantren Ihyaul Ulum bukanlah pondok pesantren pertama dan satu-satunya di Kabupaten Gresik khusunya di Kecamatan Dukun. Sebab jauh sebelumnya telah berdiri Pondok Pesantren Maskumambang yang didirikan oleh ulama’ kharismatik sekaligus gurunya bernama Kiai Faqih Abdul Jabbar. Selain itu, telah berdiri juga pondok pesantren yang diasuh oleh Kiai Ahyat yang tak lain adalah paman dari Kiai Ma’shum Sufyan. Di pesantren yang diasuh oleh Kiai Ahyat inilah, Kiai Ma’shum ketika masih muda mendarma baktikan ilmunya dan sorenya beliau menuntut ilmu kepada Kiai Faqih.

Pada tahun 1942, wilayah Dukun terkena musibah banjir bandang yang menyebabkan pondok pesantren Kiai Ahyat perkembangannya menurun. Dan, setelah wafatnya Kiai Ahyat, pondok pesantrennya tidak lagi berkembang karena tidak ada yang meneruskan. Begitu halnya dengan Pondok Pesantren Maskumambang, setelah wafatnya Kiai Faqih, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Kiai Amar Faqih.

Melihat merosotnya lembaga pendidikan di daerahnya, Kiai Ma’shum tak bisa tinggal diam. Terlebih dirinya pernah ngangsu kawaruh di pondok pesantren tersebut. Rasa prihatin ituah yang mendorongnya untuk mendirikan pondok pesantren yang kini cukup pesat perkembangannya, Pondok Pesantren Ihyaul Ulum. Waktu itu, beliau baru pulang dari menuntut ilmu di rembang sekitar tahun 1950.

Kiai Ma’shum mulai mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam di rumahnya sendiri karena kebetulan rumah beliau sangat besar dan bertingkat. Rumah yang terbuat dari kayu jati. Kegiatan belajar-mengajar pun dilaksanakan di bagian atas rumah sekaligus menjadi asrama santri.

Seiring berjalannya waktu, perjuangan Kiai Ma’shum mengalami kemajuan pesat. Banyak orang berdatangan untuk menimba ilmu kepadanya. Karena rumah yang dijadikan tempat belajar sudah tidak muat, membuat mertua beliau (H. Rusdi) membelikan rumah. Rumah tersebut akan digunakan untuk menampung para santri. Dengan bantuan masyarakat, dibangunlah sebuah pondok pesantren pada tanggal 1 Januari 1951 yang diberi nama Pondok Pesantren Ihyaul Ulum (PPIU).

Nama “Ihyaul Ulum” sendiri merupakan inisiasi dari Kiai Ma’shum. Sebagaimana tujuan didirikannya, pondok pesantren yang baru didirikan ini semata-mata ingin menghidupkan kembali pengajaran dan pendidikan ilmu-ilmu agama di wilayah Dukun. Di samping itu, nama “Ihyaul Ulum” diambil dari kitab favorit beliau karangan Hujjatul Islam Imam Muhammad Abu Hamid Al-Ghozali berjudul “Ihyaulumuddin”.

Cita-cita luhur ini mendapat sambutan serta dukungan dari masyarakat. Wujud dukungan tersebut berupa mempercayakan putra-putrinya untuk dididik di pondok pesantren yang baru didirikan tersebut.

Perkembangan Pesantren

Tak berhenti mendirikan pondok pesantren saja, komitmen Kiai Ma’shum untuk pendidikan agama menuntunnya untuk mendirikan Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1955. Sejak saat itulah pondok pesantren ini dikenalkan dengan sekolah formal.

Suatu ketika, terjadilah pertentangan atau khilafiyah yang mengakibatkan adanya perpecahan antar umat Islam dan permusuhan sesama teman bahkan saling mengkafirkan. Begitu juga di wilayah Dukun. Badai khilafiyah tersebut berupa G30/S PKI. Di tengah gejolak khilafiyah tersebut, banyak masyarakat yang bingung dan resah. Begitu pula dengan para wali santri yang tidak sefaham dengan apa yang diajarkan di Pesantren Maskumambang sampai pada akhirnya mereka menarik kembali putri-putri mereka. Akibatnya, banyak kader muslimah yang menganggur dan tidak meneruskan sekolah. Peristiwa tersebut terjadi setelah wafatnya Kiai Amar Faqih.

Situasi demikian mendorong Kiai Mahfduz Ma’shum (putra tertua) mendirikan pondok pesantren khusus putri pada tahun 1965, atas restu dari Kiai Ma’shum Sufyan. Peminatnya pun tak pernah surut. Sehingga mengharuskan untuk mendirikan jenjang pendidikan formal berupa Madrasah Tsanawiyah pada tahun 1960 yang dipimpin oleh Kiai Ma’shum sendiri. Dan, 5 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1965 didirikan lagi Madrasah Aliyah pada di bawah pimpinan Kiai Mahfudz Ma’shum.

Melihat kenyataan yang pahit dan mengenaskan dengan banyaknya pengangguran yag sangat berbahaya, sebagai dampak masalah khilafiyah dan atas dorongan rasa tanggung jawab serta desakan wali santri putri maka atas restu KH. Ma’shum sufyan, pada tahun 1965 KH. Machfud Ma’sum (putra KH. Ma’shum Sufyan) membuka pesantren putri. Dengan demikan bertambahlah tanggung jawab yang dipikul oleh pesantren ihyaul ulum. Sarana semakin tidak memadai untuk menampung pesatnya minat masyarakat menitipkan putri-putri mereka. Maka pada tanggal 8 desember 1968 dibangunlah sebuah gedung berlantai dua sebagai sarana belajar. terus berkembang sehingga dibangun beberapa gedung-gedung yang lain.

Periode Pertama Pondok Pesatren Ihyaul Ulum (1951-1991 M)

Pengajaran masih berbasis pondok pesantren, jadi hampir sama dengan periode sebelumnya. Kiai Ma’shum mengajar para santrinya setelah Ashar dengan mengaji kitab Riyadus Sholihin dan setelah maghrib dengan mengajar kitab Alfiyah Ibn Malik.

Jadi, bisa dikatakan periode pertama Ponpes ini adalah pada masa kepemimpinan KH. Ma’shum Sufyan. Pada masa itu Ponpes mengalami masa naik turun. Pada tahun 1955 berdirilah Madrasah Ibtidaiyah, tahun 1960 berdirilah Madrasah Tsanawiyah, dan tahun 1965 berdirilah Madrasah Aliyah dan ponpok pesantren khusus putri. Dan sejak tahun 1955-lah pondok pesantren ini dikenalkan dengan sekolah formal.

Pada masa ini juga terjadi gejolak, banyak kasus santri yang meninggalkan pondok dan berhenti mengaji. Hal tersebut juga dikarenakan pergantian kepemimpinan, KH. Ma’shum Sufyan yang mendadak jatuh sakit digantikan oleh anak pertamanya dari tiga belas bersaudara, yakni KH. Mahfudz Ma’shum pada tahun 1991. Namun, dalam hal ini KH. Mahfudz Ma’shum sebagai pengganti saja, belum resmi menjadi seorang pemimpin karen KH. Ma’shum Ma’shum masih ada.

Periode Kedua Pondok Pesatren Ihyaul Ulum

Untuk perkembangan pondok pesantren itu sendiri bisa dilihat ketika kepemimpinan beralih ke anaknya, KH Mahfudz pada tahun 1991. KH. Mahfudz Mashum adalah dalam hal pergantian pemimpin ini hanya terjadi satu kali setelah KH. Ma’shum Sufyan wafat. Dan sampai sekarang Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukunanyar mengalami perkembangan dalam jumlah santri dan fasilitas. Seperti yang dituturkan nailul santri puteri Ihyaul Ulum yang duduk di bangku Aliyah kelas tiga ini. “Pemimpin dan pendirinya dulu itu KH. Ma’shum Sufyan Mas, kemudian digantikan dengan KH. Mahfudz Ma’shum sampai sekarang.”

Sekarang, pondok pesantren ini bisa berkembang dari sebuah langgar menjadi bukan hanya bangunan yang megah. Tapi juga santri-santri memiliki potensi yang handal dalam bidang intelektual dan agama. Bisa dikatakan bahwa saat itu terdapat banyak tuntutan masyarakat untuk mendirikan sebuah instansi lagi.

Oleh karena itu, pada tahun 1998 berdirilah Sekolah Tinggi Agama Islam Ihyaul Ulum (STAI) dan disusul baru-baru ini adalah SMK Ihyaul Ulum yang masih berumur jagung yang berdiri pada tahun 2012.

Tak heran, dalam pondok pesantren ini memang banyak memadukan pembelajaran salafi yang modern. Karena dalam sistim pengajarannya, sudah tertata dengan adanya sekolah formal dan pada sore hari maupun malamnya adalah pengajaran pondok. Jadi, pondok pesantren ini tidak meninggalkan nilai-nilai agama dan nilai-nilai umumnya.

METODE PEMBELAJARAN

Pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren Ihyaul Ulum juga mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan zaman, akan tetapi masih berpegang teguh pada visi dan misi utamanya sebagai kawah condrodimuka tempat menggodokan dan penggemblengan kader muslim/musimat, muballigh/muballighah yang mempunyai kemauan dan semangat tinggi, serta kemampuan yang memadai dalam mengembangkan syariat islam Ala ahlusunnah Wal Jama’ah di lingkungan masyarakatnya masing-masing.

     Program Non Formal

    1. Weton, yakni sistem pengajaran/pengajian pada waktu-waktu tertentu dengan diikuti oleh semua santri tanpa memandang batasan usia, kemampuan dan lain-lain. Sistem ini dilaksanakan dengan cara sang Kiai/Ustadz membaca kitab (mbala kitab) tertentu dan memberikan penjelasan-penjelasan seperlunya, sementara santri/santriwati menyimak kitabnya masing-masing sesuai dengan yang dibaca oleh sang Kiai/Ustadz.
    2. Sorogan, yakni menyodorkan (nyorok) sebuah kitab yang sudah mereka kaji, kepada sang Kiai/Ustadz guna mendapatkan pembenaran apabila ada kekurangan/salahan serta memperoleh pengesahan.

    Program Formal

  1. Taman kanak-kanak (Roudhotul Athfal)
  2. Madrasah Ibtidaiyah (MI)
  3. Madrasah Tsanawiyah (MTS)
  4. Madrasah Aliyah (MA)
  5. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
  6. Madrasah Diniyah
  7. Sekolah tinggi agama islam (STAI)

Perkembangan santri/santriwati, baik santri mukim yakni santri yang menetap di pesantren maupun santri Kalong yakni santri yang tidak menetap di  pesantren secara kuantitatif juga mengalami kemajuan yang pesat, jumalah santri yang mukim untuk mengaji kitab kuning yang berkaitan dengan aqidah, syariah, tasawuf, qowaidul fihiyah, qowaidul lughoh dll, Di samping mengikuti pendidikan formal, kurang lebih berjumlah 600 santri/santriwati. Sedangkan santri kalong yang hanya mengikuti pendidikan formal kurang lebih 1400 santri/santriwati.

Mengenai hubungan pesantren dengan masyarakat dapat diketahui dari banyaknya pengajian-pengajian di masyarakat yang diasuh oleh para asatidz pondok pesantren Ihyaul Ulum. Para asatidz pengasuh pengajian di masyarakat diantaranya KH. Machfud Ma’shum, KH. Afif Ma’sum, KH. Robbach Ma’shum, KH. Sa’dan Maftuh, KH. Syaichun Hs, KH. Labiq reksawardoyo, Dra. Hj. Sakinah ma’shum, Dra. Hj. Robi’ah Ma’shum, Hj. Maziyah Ma’shum(alm),Dra. Wafiroh Ma’shum, Dll.

Adapun metode yang diajarkan di pondok pesantren ini seperti halnya pondok pesantren pada umumnya, yaitu weton dan sorogan. Kiai Ma’shum mengajar santri-santrinya ba’da ashar dengan mengaji kitab Riyadus Sholihin sedangkan ba’da maghrib mengaji kitab Alfiyah Ibn Malik.

Kiprah dan Teladan

Sepanjang perjalanan hidup, Kiai Ma’shum Sufyan dikenal sebagai sosok kiai yang berkecimpung dalam Nahdhatul Ulama’ dan patut dijadikan cermin kehidupan. Kepribadian beliau sangat sederhana, berwawasan luas, istiqomah dalam beribadah dan konsisten mendidik santri.

Kiai Ma’shum Sofyan adalah seorang kiai yang sangat tinggi kepeduliannya terhadap bangsa dan negara. Pada zaman perjuangan kemerdekaan, beliau termasuk pejuang yang gigih di daerahnya bahkan terkenal ahli strategi perang di kalangan teman-teman dan masyarakatnya. Satu di antara strategi yang pernah dilakukan dalam perang kemerdekaan Indonesia adalah “untuk mempertahankan dan melindungi wilayah Dukun dari kehancuran akibat peperangan, maka semua pejuang harus mempertahankan daerah Dukun di luar perbatasan.”

Sebagai seorang kiai pemimpin pesantren, Kiai Ma’shum bukan hanya sebagai guru agama yang pintar dalam balaghoh maupun tafsir, namun juga sebagai guru keteladanan masyarakat. Oleh karenanya berbagai masalah kehidupan oleh masyarakat ditanyakan kepada beliau. Nasehat Kiai Ma’shum Sufyan yang selalu disampaikan kepada santri-santrinya adalah “Jadikan dirimu bagaikan beras” artinya setiap hari selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Kalau tidak bisa jadi beras, “Jadikan dirimu sebagai obat” artinya walaupun tidak dibutuhkan setiap hari, kadang-kadang dibutuhkan.”Jangan sekali-kali menjadikan dirimu seperti binatang kala” artinya selalu ditakuti karena bahayanya.

Kiai Ma’shum memang termasuk kiai yang memilki kharisma luar biasa. Sambil mengajar di pondok pesantren, beliau nyambi bekerja di sawah dan tambak. Sungguh beliau salah seorang konseptor perjuangan islam yang memberikan corak kehidupan masyarakat sampai pada akhir beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Ahad Kliwon 25 Rabiul Awwal 1411 H/14 Oktober 1990.