Oleh: Aviskha Izzatun Noilufar

KH. Muhsin Ali, seorang ulama yang lahir di Jepara pada tanggal 12 Juni 1942 dari pasangan KH. Ali Mardam dan Nyai Hj. Muslimah. Sebetulnya nama beliau hanyalah Muhsin kemudian ditambahi kata “Ali” di belakangnya yang diambil dari nama depan ayahnya (KH. Ali Mardam). Ayahnya wafat sejak beliau masih 4 bulan dalam kandungan yang telah membuat beliau terlahir dalam keadaan yatim. Beliau adalah anak bungsu dari 6 bersaudara: 2 perempuan dan 4 laki-laki. Keenam saudaranya tersebut secara berurutan adalah Hj. Ni’mah, Hj. Fadhlah, H.Abdul Jamil, H. Abdul Khamid dan yang terakhir yaitu KH. Muhsin Ali.[1]

KH. Muhsin Ali menikah dengan ibu Zibdah. Kemudian bercerai dan menikah lagi dengan ibu Nyai Hj. Mas’adah yang dikaruniai 5 anak, yaitu: Hj. Elok faiqoh, Hj. Luluk Zahiroh, KH. Sholahuddin, K. Habiburrohman, dan Hj. Nor hidayah. Setelah Nyai Hj. Mas’adah wafat, KH. Muhsin Ali menikah dengan Nyai Hj. Marfu’atin.[2]

K.H. Muhsin Ali memiliki kepribadian yang sederhana, penuh semangat, gigih berani, arif bijaksana, berdedikasi tinggi, kharismatik, berwibawa serta cinta terhadap ilmu keagamaan, karena beliau terlahir dari keluarga yang sederhana namun sangat menjunjung tinggi nilai agama.[3]

Masa Kecil

Semasa kecilnya mbah sin sudah dididik hidup sederhana, begitulah kalimat yang sering terlontar dari Nyai Hj. Muslimah, “ Bekti, Setiti, Ngati-ati” (Berbakti, teliti, berhati-hati).[4]

Muhsin kecil sudah merasakan pahitnya kehidupan, karena yatim, lebih-lebih ekonomi keluarga waktu itu tidak cukup menopang kehidupannya. Nyai Hj. Muslimah bekerja sebagai penjual hasil kebun sendiri yang dianggap tidak menyusahkan orang lain serta memiliki banyak manfa’at, seperti: bunga, kucai, daun seledri, daun siri, dll. Nyai Hj. Muslimah juga dibantu oleh KH. Abdul jamil, beliau adalah putra laki-laki tertua. KH. Abdul jamil bekerja mencari rumput laut.[5]

Semasa kecil, Mbah Muhsin Mengaji dan berguru kepada Kiai Mawardi, suami dari Bu Nyai Hj. Salmah (Adik KH. MA Sahal Mahfudh). Mbah Kiai Mawardi adalah tokoh pendiri Yayasan Matholi’ul Huda Bugel Kedung Jepara yang terkenal dengan kharisma dan kepemimpinan keagamaannya. Setelah selesai mengaji dengan Kiai Mawardi, Mbah Muhsin membantu ibunya bertani. Dalam proses membantu ibunya di sawah, terjadi semacam “Pergolakan Intelektual” dalam diri beliau. “Lho saya hidup kok cuma di sawah tidak mengaji di pesantren, besok pada waktu yang akan datang, saya akan menjadi apa?. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang tertuju pada dirinya sendiri.

Suatu ketika saat beliau berjalan di depan kantor kecamatan Kedung Jepara, tanpa sengaja beliau melihat truk berplat nomor Pati sedang terparkir. Karena keinginan mondok beliau yang kian menggebu, membuatnya nekat naik ke dalam bak truk tersebut tanpa sepengetahuan sopirnya. Truk itu pun melaju. Setelah beberapa jam perjalanan, truk tersebut berhenti di daerah sekitar Pati. Mengetahui kalau truk yang ditumpanginya berhenti, KH.Muhsin Ali pun turun. Sopir truk tersebut terkejut, karena ada anak kecil yang turun dari truknya. Sopir itu pun bertanya kepada Muhsin Ali kecil tentang asal dan tujuan kepergiannya. Beliau pun menjawab jika beliau berasal dari Bugel dan hendak pergi ke Kajen, Pati untuk mondok. Mendengar pernyataan beliau, sopir truk tersebut menjelaskan jika beliau harus berjalan berkilo-kilo meter dahulu untuk bisa sampai di sana, karena tempat berhentinya truk tersebut jauh dari tempat yang beliau tuju. Tekat beliau semakin bulat, beliau tidak peduli meskipun hari semakin larut malam, beliau berjalan sendirian tanpa ada seorang pun yang menemani. Akhirnya beliau sampai di Kajen pada waktu shubuh. Beliau ikut berjama’ah sholat shubuh di pondok pesantren tersebut. Setelah selesai sholat shubuh, beliau langsung sowan ke ndalemnya KH. Abdullah Zain Salam. Pada saat sowan Mbah Dulloh bertanya kepada beliau tentang asal dan keluarganya, dari situlah Mbah Dullah tau jika KH. Muhsin Ali sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan beliau. Akhirnya beliau diterima menjadi santri ndalem mbah Dullah dan bersekolah di Matholi’ul Falah Kajen. Setelah itu mbah Dullah mengirimkan surat kepada ibu beliau, Nyai Hj. Muslimah, yang mana isi daripada surat tersebut adalah untuk memberitahu bahwa KH. Muhsin Ali sekarang mondok di Kajen.[6]

Setelah beberapa tahun mondok dikajen dan mematangkan ilmunya, beliau tidak langsung pulang kerumah, melainkan melanjutkan berkelananya untuk mondok di Pondohan, Tayu, Pati yang diasuh oleh KH. Muhammadun Ali Murtadho. Beliau memilih untuk mondok di Pondohan karena mbah Madun adalah sosok yang memiliki karisma dan ilmu keagamaan yang tinggi. Beliau seorang yang ahli dalam ilmu nahwu sehingga Sayyid Muhammad Alawwi al-makki memberikan gelar: “Syibawaih Jawa” kepada beliau. Selain itu beliau adalah Kiai Jadhug [7]yang ahli riyadlah, tirakat, puasa dan suwuk.[8]

Selama mondok di Pondohan, KH. Muhsin Ali gemar melakukan tirakat-tirakat yang diijazahkan mbah Madun. Bahkan beliau menjadi santri kinasih mbah Madun karena menjadi santri yang paling kuat tirakatnya. Gus Badruddin Muhammadun pernah berkata kepada beliau “ Ilmune Bapak Ingkang Bangsa Jerohan Di Wekke Sampean Kabeh[9]. Gus Bad memang salah satu putra Mbah Madun yang paling akrab dengan Mbah Muhsin. Di samping itu beliau juga mempelajari berbagai macam kitab, antara lain: Alfiyah ibnu malik, nadhom maksud, fathul qorib, fathul mu’in, tafsir jalalain, ihya’ ulumuddin, jawahirul maknun, dan banyak kitab lain.[10]

Berdirinya Pondok Pesantren

Sepulang dari pesantren, KH. Muhsin Ali mengamalkan ilmunya di lingkungan sekitarnya. Awal didirikannya ponpes Al-Mustaqim pada tahun 1900, yaitu ayahnya (KH. Ali Mardam) merintis sebuah surau ( Musholla) dengan nama Al-Firdaus, sebagai tempat mengaji anak-anak di lingkungan sekitarnya. Setelah KH. Ali Mardam wafat, maka pada tahun 1918 ponpes ini diserahkan kepada menantunya yang bernama KH. Amin Hasan (suami dari Hj. Ni’mah). Sa’at KH. Amin Hasan sudah mulai lanjut usia, pada tahun 1945 pesantren ini diserahkan kepada adik iparnya yang bernama KH. Suyuti Ahmad. Kemudian, pada tahun 1965 KH. Suyuti Ahmad pindah rumah. Sehingga pesantren ini diserahkan kepada adik iparnya yaitu KH. Muhsin Ali.[11]

Setelah itulah beliau mulai merintis Pondok Pesantren Al-Mustaqim, dengan mengubah nama Al-Firdaus menjadi Al-Mustaqim. Mula-mula beliau hanya mengajar anak-anak di kampungnya mengaji Al-Qur’an, kemudian mengajarkan kesenian Islam melalui rebana, dengan tujuan supaya santri-santri kampung semakin giat dan mempunyai himmah yang kuat untuk berangkat mengaji di musholla. Pada tahun 1990, beliau mulai mengajar santri-santri di ponpes, kemudian mulai ada sistem muhadhoroh dari kelas 1 Wustho sampai 3 Wustho dan 4 Ulya sampai 6 Ulya di Al-Mustaqim dan TPQ.[12]

Pesantren yang dirintis oleh Mbah Muhsin berkembang pesat yang semula hanya pesantren non formal, pada tahun 2014 Mbah Muhsin berijtihad dengan mendirikan yayasan yang diberi nama “Yayasan Muhsin Ali”. Lewat Yayasan Muhsin Ali ini kemudian beliau membuka Madrasah Tsanawiyah yang mewajibkan siswa-siswinya untuk mondok di Pesantren Al-Mustaqim. Mulai tahun 2018 Yayasan Muhsin Ali membuka Madrasah Aliyah untuk mewadahi anak MTs yang masih mempunyai semangat belajar di bawah Yayasan Muhsin Ali.[13]

Karir Keorganisasian

  1. Menjadi GP Anshor
  2. Ketua MWC NU Kedung
  3. Ketua KBIH NU Jepara
  4. Wakil Rois Suriya
  5. Penasihat RMI-NU
  6. Kepala Ma Matholi’ul Huda Bugel

Kebijakan beliau di dalam organisasi GP. Anshor adalah membuat inisiatif menanam pohon pisang di tanah warga yang hasilnya digunakan untuk kepentingan NU.[14] KH. Muhsin Ali menjadi ketua MWC NU Tanfidziyah Kedung pada tahun 1977. Beliau menjabat selama 2 periode, yaitu sampai tahun 1982.[15] Ketika pemilihan MWC NU, KH. Muhsin Ali mengajak para MWC NU sekabupataen untuk berziarah. Beliau menggunakan uang pribadi dengan anggaran tiga juta dan jumlah orang yang mengikuti berjumlah 11 orang.[16] Setelah itu beliau naik jabatan menjadi rais suriyah beserta menjadi ketua KBIH NU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji ) Jepara, hingga tahun 2015. Beliau juga menjadi penasihat RMI-NU (Robithat Ma’ahid Islamiyah) Jepara. Pada masa hidmah 2010-2015. Beliau adalah perintis gedung NU dan beliau sangat keras dalam berpendirian ( gigih ) terhadap apapun. Jika melakukan sesuatu yang beliau anggap benar, maka beliau tidak takut untuk melakukannya walaupun banyak orang yang menentangnya. Dan beliau juga membantu kelancaran NU secara total tidak pandang bulu.[17] hal ini dibuktikan pada tahun 1973,  saat  itulah gempar-gemparnya partai dan Mbah Muhsin menyokong partai PPP. Saat diadakan deklarasi di lapangan Bugel, Mbah Muhsin mengisi pengajian, kemudian beliau disuruh turun oleh komandan kapolsek Kedung dengan menodongkan pistol, lalu Mbah Muhsin berkata “ Tembak dada saya” tiba-tiba tangan komandan tersebut bergetar dan lemas, lalu komandan tersebut pergi. Pengajian tetap berjalan sampai selesai. Pada peristiwa tersebut kemaluan komandan membesar dan diobatkan kemana-mana tidak ada yang sanggup mengobatinya. Kemudian komandan tertsebut menemui orang tuanya, orang tuanya menyarankan agar meminta maaf pada Mbah Muhsin. Komandan tersebut akhirnya sowan ke ndalemnya Mbah Muhsin. Dengan pertolongan Alhamdulillah sembuh.[18]

Beliau menjabat sebagai kepala di MA Matholi’ul Huda Bugel selama 1 periode kurang lebih tahun 1987-1988. Beliau juga menjadi motor penggerak kepentingan MA Matholi’ul Huda Bugel yang dibantu oleh simbah kh suyuti (kakak ipar KH. Muhsin Ali).[19]

Pesan-Pesan Yang Sering Di Ucapkan Kepada Para Santri.

  1.  وَلْيُقَسْ مَالَمْ يُقَلْ : Jika ada suatu perkara yang belum diucapkan maka disamakan.
  1. مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ اَوْرَثَهُ اللَّٰهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَم : Barang siapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akan mewariskan padanya ilmu yang belum ia pahami.
  2.  لَيْسَتِ القُوَّةِ اِلاَّ بِالجَمَاعَةِ  وَلَيْسَتِ الجَمَاعَةِ اِلاَّ بِالْاِمَارَةِ وَلَيْسَتِ الْاِمَارَةِ اِلاَّ بِالطٌاعَةِ : Tidak Ada kekuatan kecuali dengan berkelompok, tidak ada kelompok kecuali dengan pemimpin, tidak ada pemimpin kecuali dengan ta’at.
  3. Poro santri do dereso mumpung durung kesrimpet udet, kesrimpung bengkung, kegubel popok. Maksudnya adalah selagi masih di pesantren rajinlah ber muthola’ah sebelum terlanjur menikah, dan memiliki anak.
  4. Waktu diantara 2 sholat yang panjang agar dibuat sholat sunnah yakni waktu antara sholat shubuh dan dzuhur di tengah-tengahnya dibuat sholat dhuha dan waktu antara sholat isya’ dan shubuh dibuat sholat tahajjud.
  5. Setiap selesai sholat malam kirimlah pahala bacaan musabbiat kepada orang tua dan guru-gurumu.
  6. Satu orang yang hafal akan mengalahkan 1000 orang yang yang tidak hafal.[20]
  7. Tri Santri Ojo Dadi Meri, Ojo Dadi Trayoli, Tapi Dadi Santri Seng Haqiqi. (Menjadi santri harus mengamalkan ilmunya, baik ilmu syari’at maupun ilmu thoriqoh untuk mencari ketenangan hidup di dunia maupun di akhirat).
  8. Dadi Santri Ojo Koyok Robot. (Menjadi santri dalam belajar tidak harus menunggu perintah guru tetapi menjadi kebutuha sehari-hari).
  9. Santri-Santri Kudu Duwe Eri. (Sanri diharuskan mau bertirakat atau belajar ilmu kanuragan).
  10. Santri-Santriku Uripono NU Ojo Golek Urip Nok NU. (Santri-santriku hidupkanlah NU jangan mencari kehidupan di NU).
  11. Lisanul Hal Afsohu Min Lisanil Maqol. (Berbicara dengan langsung di kerjakan lebih fasih atau baik dari pada berbicara saja tanpa dikerjakan).
  12. Wal Ahammu Tsummal Aham (Menjadi seoarang santri harus mendahulukan hal yang lebih penting dan yang lebih mendesak).[21]
  13. Perkoro Loro Paleng Apek, Khusnudhan Mareng Allah, Lan Khusnudhan Mareng Makhluke Allah. (Dua perkara yang paling baik, berprasangka baik kepada Allah, dan berprasangka baik kepada makhluk Allah).[22]
  14.  كُنْ رَجُلاً (Jadilah Kaki), Maksudnya kaki tetap berpijak namun himmah nya tetap fitsurayya.[23]
  15. عَلَيْكُمْ بِلاِخْتِيَارِ وَاللًه رَافِعُ الاَسْتَارِ وَمَنْ تَرَكَ الاِخْتِيَارِ فَقَدْ ظَلً وَخُسْرَ خُسْرَنًا مُبِيْنًا. Maksudnya seorang santri di wajibkan untuk berikhtiyar (belajar) dan Allah yang akan mengangkat derajatya,barang siapa meninggalkan ikhtiyar dalam belajar, maka di dalam keadaan rugi yang nyata.
  16. كُنْ الدِّيَانِ وَلَاتَكُنْ اَزِمًا. Maksudnya, jadilah Agama dan janganlah menjadi zaman.[24]
  17. Janganlah menjadi santri robot, maksudnya dalam belajar santri tidak harus menunggu perintah guru, tetapi harus menjadi kebutuhan sehari-sehari

Berpulang Kepada-Nya

“كُلُّ نَفْسٍ ذآئِقَةُ المَوْت “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati begitu juga dengan KH. Muhsin Ali. Jum’at malam Sabtu tepatnya pada tanggal 11 maret 2016 di rumah sakit sultan hadlirin, KH. Muhsin Ali dipanggil oleh sang Maha Kuasa dalam usia 73 tahun.

Kepergiannya menjadi duka bagi setiap orang. Tunai sudah tugas keulamaan dan keilmuwan beliau. Kedua putranya lah yang melanjutkan estafet kepemimpinan di yayasan Muhsin Ali, KH. Sholahuddin muhsin dan K. Habiburrahman Alhafidz dan dibantu oleh putra menantu yang lainnya.[25]

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Gelora MA MaT\tholi’ul Huda Bugel Kedung Jepara Edisi XXVII TH. 2016.

Modul Materi Matasba MTS. Nu Al-Mustaqim  Tp. 2019/2020.

Tim Penyusun. 2019.“Riwayat Para Penuntun”. Semarang: CV. Asna Pustaka

Wawancara dengan salah satu santri Ndalem  KH. Muhsin Ali yang bernama Misbahun Nasihin S. Pd. I

Wawancara dengan putra ke lima simbah KH. Muhsin Ali  yang bernama Hj. Nor Hidayah S. Pd. I

Wawancara dengan putra ke tiga simbah KH. Muhsin Ali  yang bernama Agus Sholahuddin M.A

Wawancara dengan tokoh yang di beri amanah meneruskan perjuangan KH. Muhsin Ali yang bernama  Anwar Suhadi (Tokoh Masyarakat Bugel).

Wawancara pesan Via Medsos dengan salah satu santri yang pernah menjadi ketua pondok yang bernama Tamam Bashori S. Pd. I

Wawancara  pesan Via Medsos dengan salah satu santri Alumni yang bernama Nadia Fatimatus zahro

Wawancara  pesan Via  Medsos dengan salah satu santri Alumni yang pernah menjadi ketua pondok yang bernama Adricha

[1]Wawancara dengan putra ke tiga simbah KH. Muhsin Ali yang bernama Agus Sholahuddin M.A

[2]Gelora MA MaT\tholi’ul Huda BugelKedungJeparaEdisi XXVII TH. 2016.

[3]Wawancara dengan salah satu santri yang dekat dengan KH. Muhsin Ali yang bernama Asro Sulaiman S. Pd. I

[4]Wawancaradenganputrakelimasimbah KH. MuhsinAli  yangbernamaHj. Nor Hidayah S. Pd. I

[5]ModulMateriMatasba MTS. Nu Al-Mustaqim  Tp. 2019/2020, Hlm. 2

[6] Wawancara dengan Ibu Farhanah (orang yang dekat dengan KH. Muhsin Ali.)

[7] Kiai Jadhug adalah istilah jawa untuk menyebut orang yang hebat, mampu dalam suatu hal.

[8]  Tim Penyusun, “Riwayat Para Penuntun”, (Semarang: CV. Asna Pustaka, 2019), hlm. 61

[9]  Maksudnya Ilmu bapak yang sifatnya bathin diberikan kepada kamu semua.

[10] Ibid

[11]  Wawancara dengan putra ke tiga simbah KH. Muhsin Ali  yang bernama Agus Sholahuddin M.A

[12]  Wawancara dengan putra ke lima simbah KH. Muhsin Ali  yang bernama Hj. Nor Hidayah S. Pd. I

[13]  Tim Penyusun, “Riwayat Para Penuntun”, (Semarang: CV. Asna Pustaka, 2019), hlm.62

[14] Wawancara dengan salah satu santri Ndalem  KH. Muhsin Ali yang bernama Misbahun Nasihin S. Pd. I

[15]  Wawancara dengan tokoh yang di beri amanah meneruskan perjuangan KH. Muhsin Ali yang bernama  Anwar Suhadi (Tokoh Masyarakat Bugel).

[16] Wawancara dengan salah satu santri Ndalem  KH. Muhsin Ali yang bernama Misbahun Nasihin S. Pd. I

[17] Wawancara dengan tokoh yang di beri amanah meneruskan perjuangan KH. Muhsin Ali yang bernama  Anwar Suhadi (Tokoh Masyarakat Bugel).

[18]  Wawancara dengan salah satu santri Ndalem  KH. Muhsin Ali yang bernama Misbahun Nasihin S. Pd. I

[19]  Gelora MA MaT\tholi’ul Huda Bugel Kedung Jepara Edisi XXVII TH. 2016.

 

 

[20]  Wawancara pesan Via Medsos dengan salah satu santri yang pernah menjadi ketua pondok yang bernama Tamam Bashori S. Pd. I

[21] Wawancara dengan salah satu santri Ndalem  KH. Muhsin Ali yang bernama Misbahun Nasihin S. Pd. I

[22]  Wawancara pesan Via Medsos dengan salah satu santri Alumni yang bernama Nadia Fatimatus zahro

[23] Wawancara pesan Via Medsos dengan salah satu santri Alumni yang pernah menjadi ketua pondok yang bernama Adricha

[24]  Wawancara dengan salah satu santri Ndalem  KH. Muhsin Ali yang bernama Misbahun Nasihin S. Pd. I

[25]  Tim Penyusun, “Riwayat Para Penuntun”, (Semarang: CV. Asna Pustaka, 2019), hlm.63