Oleh: Umi Nafisah

Di Indonesia ada banyak sekali ulama yang dikenal oleh masyarakat, akan tetapi yang belum dikenal oleh masyarakat jumlahnya lebih banyak lagi. Sama halnya dengan ulama yang satu ini, KH. Ahmad Dahlan Ahyad. Tidak begitu banyak masyarakat yang mengenalnya. Sekilas nama beliau mirip dengan nama tokoh pendiri organisasi Islam Muhammadiyah di Yogyakarta yaitu KH. Ahmad Dahlan. Namun ulama ini mempunyai nama tambahan di belakang yang diambilkan dari nama ayah beliau yakni KH. Muhammad Ahyad. Selain adanya persamaan nama, keduanya juga berada pada rentang masa yang hampir sama. Pun keduanya telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan pergerakan bangsa. KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya, sedangkan KH. Ahmad Dahlan Ahyad dengan Tashwirul Afkar dan MIAI (Majelis Islam ‘ala Indonesia).

Ulama asal Surabaya ini lahir pada 23 Oktober tahun 1885 M bertepatan pada tanggal 13 Muharrom 1303 H di Kebondalem, Surabaya. Beliau wafat pada 20 November 1962 M, yang saat itu usianya 77 tahun. Kyai Dahlan merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara. Kelima saudarnya yaitu Nur Chadijah, Achmad, H. Fatimah, Chalimah dan Maimunah. Ayah beliau adalah KH. Muhammad Ahyad yang merupakan ulama besar di Surabaya serta pendiri pondok pesantren di Kebondalem. Secara silsilah Kiai Ahyad merupakan keturunan ke-tujuh yang bersambung dengan Sayyid Sulaiman, makamnya bertempat di Mojoagung, Jombang. Sayyid Sulaiman merupakan putra dari Syekh Abdul Rahman al-Syaibani suami dari Nyai Syarifah Khodijah, putri dari Maulana sultan Hasanuddin, Banten serta cucu dari Sunan Gunung Jati, Cirebon. Sedangkan ibu beliau adalah Nyai Mardliyah, adik KH. Abdul Kahar yang merupakan kyai serta saudagar kaya di Kawatan, Surabaya yang juga cukup dekat dengan Kiai-Kiai NU. Selain itu dalam pendirian pondok Kebondalem, Kyai Kahar juga ikut membiayainya.

KH. Ahmad Dahlan Ahyad semasa hidupnya menikah sebanyak 3 kali. Istri pertama beliau adalah Nyai Chasinah, dari Bangilan yang sekarang lebih dikenal dengan nama Pabean. Dari pernikahan pertamanya ini beliau dikaruniai 5 orang anak (2 putra dan 3 putri). Di antaranya adalah Sobihah (lahir pada 1918 M / 1336 H), Afifah (lahir pada 1921 M / 1339 H), Muhammad Qirom (lahir pada 1923 M / 1341 H), Muhammad Mudjri (lahir pada 1927 M / 1345 H), dan Zakiyah (lahir pada 1933 M / 1351 H). Setelah istri pertamanya wafat, beliau kemudian menikah dengan Nyai Latifah, namun dari pernikahannya ini tidak dikaruniai seorang anak. Nyai Latifah pun wafat mendahuluinya akhirnya beliau menikah lagi dengan Nyai Fatimah, dari pernikahan ketiga ini beliau dikaruniai seorang anak yaitu Achmad Hadi yang dikemudian hari mendirikan LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab) di Masjid Sunan Ampel Surabaya.

Ketika Kiai Dahlan lahir, pondok pesantren Kebondalem sudah dahulu berdiri. Sehingga masa kecil beliau dihabiskan untuk mempelajari dasar-dasar ilmu agama di pondok tersebut dengan ayah dan ibunya, seperti praktik sholat serta ibadah-ibadah lainnya. Beliau juga dididik untuk taat kepada Allah SWT. Setelah dirasa cukup memiliki dasar-dasar ilmu agama, Kyai Dahlan kemudian mendapat restu untuk menimba ilmu kepada KH. Kholil Bangkalan. Saat nyantri di Bangkalan beliau mempelajari ilmu Nahwu, Shorof, dan Fiqih. Selesai belajar dengan KH. Kholil, beliau melanjutkan belajar agama di pondok Sidogiri yang waktu itu dalam pengasuhan Kiai Mas Bahar ibn Noer Hasan. Di pondok Sidogiri beliau belajar ilmu tafsir, ilmu hadist, dan ilmu hisab.

Selesai menimba ilmu di Sidogiri, KH. Ahmad Dahlan Ahyad kemudian kembali kepada ayahnya untuk melanjutkan estafet kepemimpinan pondok pesantren Kebondalem. Ketika sudah menjadi pengasuh pondok, beliau juga menjadi pembimbing haji.

Kiprah KH. Ahmad Dahlan Ahyad di Tashwirul Afkar

Pada tahun 1918 M beliau bersama KH. Wahab Hasbullah serta beberapa ulama NU lainnya, mendirikan forum diskusi yang dinamakan Tashwirul Afkar yang diartikan sebagai potret pemikiran. Tujuan didirikannya forum ini yaitu sebagai tempat berdiskusi mengenai perkembangan islam ahlussunnah wal jamaah, mempertahankan sistem bermadzhab, serta membahas masalah-masalah sosial masyarakat Surabaya dan sekitarnya yang sedang ramai pada saat itu. Forum ini merupakan kumpulan dari para Kiai antar pesantren, baik yang tua maupun yang muda serta memiliki semangat untuk menjaga paham aswaja. Salah satu kegiatan dari forum ini yaitu menjawab tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh kelompok wahabi terhadap ahlussunnah waljamaah. Tuduhan taersebut yaitu mengenai praktik kegiatan masyarakat aswaja yang telah dilakukan sejak lama, namun sejatinya kegiatan ini dilakukan berdasar pada dalil yang jelas.

Beridirinya Tashwirul Afkar tidak lepas dari organisasi Budi Utomo yang saat itu lebih dahulu berdiri dan berada di Surabaya. Peran Budi Utomo tampak jelas pada nama pengenal yang disandarkan kepada Tashwirul Afkar yaitu Suryo Sumirat Afdeeling Tashwirul Afkar. Nama tersebut menunjukkan bahwa Tashwirul Afkar merupakan bagian dari Suryo Sumirat. Suryo Sumirat sendiri merupakan forum yang didirikan oleh organisasi Budi Utomo. Hal ini bertujuan untuk mempermudah ijin operasional Tashwirul Afkar oleh pemerintah Hindia Belanda agar Tashwirul Afkar dapat beroperasi secara resmi.

Pada tahun 1919 M Tashwirul Afkar berkembang menjadi lembaga pendidikan madrasah dengan sistem berjenjang yang bertempat di Ampel. Madrasah ini merekrut para santri yang berasal dari Surabaya bagian utara. Selain itu para santri di Kebondalem juga diijinkan untuk menimba ilmu di madrasah ini. Meskipun Tashwirul Afkar sudah menjadi lembaga pendidikan madrasah yang  berjenjang, kegiatan diskusi oleh para kyai juga masih berlangsung. Sehingga dari forum ini, kemudian semakin berkembanglah perkumpulan-perkumpulan lain yang muncul untuk membela paham aswaja. Kemudian untuk menopang pembiayaan Tashwirul Afkar dibentuklah Syirkatul Amal, yaitu sebuah koperasi yang dapat diperjual-belikan kepada anggota Tashwirul Afkar.

Tashwirul Afkar pada awal berdirinya dipimpin oleh Kyai Dahlan Ahyad, namun peran Kiai Dahlan Ahyad ini kurang mendapat tempat dalam sejarah. Padahal selain ikut mendirikan Tashwirul Afkar beliau juga ikut mengusahakan perizinan operasional kepada pemerintah Hindia Belanda. Beliau juga mengizinkan para santri untuk menuntut ilmu di madrasah Tashwirul Afkar.

Kiprah KH. Ahmad Dahlan Ahyad di Nahdlatul Ulama

Pada masa awal terbentuknya NU (1926 M) Kiai Dahlan ditunjuk oleh KH. Hasyim Asyari yang saat itu menjabat sebagai ketua Rais Akbar untuk menjadi wakilnya. Kedudukan beliau menjadi Wakil Rais Akbar atau orang nomor 2 di NU membuat beliau cukup berepengaruh. Pada tahun 1928 M, digagas misi ke tanah haram yang dikenal dengan komite hijaz untuk menghadap raja Abdul Aziz bin Sa’ud untuk tidak menerapkan egoisme dalam bermadzhab. Misi tersebut berhasil dan akhirnya keleluasan bermazhab dapat berlangsung di tanah haram.

Setelah beberapa waktu berkiprah di Nahdlatul Ulama beliau pada akhirnya memutuskan untuk berhenti karena cenderung lebih berat pada Tashwirul Afkar yang sudah lebih dulu didirikan beberapa tahun sebelumnya.

Kiprah KH. Ahmad Dahlan Ahyad di MIAI

Dalam membangun jaringan antar pesantren dan ormas Islam Indonesia, Kiai Dahlan merupakan salah satu tokoh penting di dalamnya. Letak pondok Kebondalem yang strategis menjadi salah satu pendukung Kiai Dahlan dalam merintis jaringan tersebut. Dengan jaringan ini pula, beliau dapat update infoemasi mengenai kondisi yang dihadapi bangsa dan isu-isu keagamaan. Selain ikut mendirikan Tashwirul Afkar, beliau juga turut mendirikan Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI) pada 12-15 rajab 1358 H / 18-21 september 1937 M. Tujuan didirikannya organisasi ini yaitu untuk mempersatukan semangat kebangsaan antar seluruh ormas Islam yang ada di Indonesia dan merespon segala bentuk penjajahan. Dalam pembentukan majelis ini Kiai Dahlan menjadi tuan rumahnya. Di sini beliau mendapat mandat untuk menjadi ketua MIAI pertama sekaligus menjadi penasehat dengan didampingi oleh sekretarisnya yaitu KH. Mas Mansur. Ketika menjadi ketua MIAI kepedulian terhadap islam semakin jelas terlihat.

Pada masa kepemimpinan beliau, MIAI dapat menyelenggarakan beberapa kongres al-Islam. Berikut adalah beberapa kongres tersebut:

  • Kongres al-Islam pertama dilaksanakan pada 26 Februari- 1 Maret 1938 M, dalam kongres tersebut dihasilkan beberapa pembahasan yaitu: UU perkawinan, hak waris, permulaan bulan puasa, dan perbaikan perjalanan haji yang diajukan kepada pemerintah Hindia Belanda.
  • Kongres kedua materi yang dibahas lebih banyak mengulang dari materi kongres pertama. Materi yang banyak diulang yaitu masalah perkawinan, selain itu juga dibahas mengenai artikel yang berisi tentang penghinaan terhadap umat Islam.

Untuk menangkal penghinaan tersebut, dalam kongres ini dibuatlah sebuah komisi untuk melakukan penelitian terhadap masalah tersebut dan mempersiapkan pembelaannya.

  • Pada kongres ketiga dilaksanakan di Solo pada tangal 7-8 Juli 1941 M. Materi yang dibahas pada kongres ini adalah perjalanan haji, tempat sholat di kereta api, penerbitan surat kabar MIAI, fonds MIAI, zakat fitrah, dan transfusi darah.

Pada 1943, yang saat itu Indonesia berada dalam kekuasaan Jepang, pemerintah menganggap bahwa MIAI sudah tidak relevan dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sehingga pada tahun tersebut MIAI terpaksa dibubarkan.

Menggantikan Kyai Ahyad Sebagai Pengasuh Pondok Kebondalem

Kiai Dahlan kembali setelah dari pondok Sidogiri untuk menggantikan sang Ayah memimpin pesantren. Pada masa kepemimpinan beliau dikatakan sebagai masa keemasan pondok Kebondalem. Banyak peran sejarah yang diambil pondok Kebondalem di masa pra-kemerdekaan. Peran tersebut tidaklah lepas dari kiprah beliau di Tashwirul Afkar, NU, serta MIAI. Selain itu juga bersumber dari semangat berjihad beliau untuk memerangi paham wahabi yang pada era tersebut sedang sangat berkembang di Surabaya, tempat beliau tinggal. Dari pondok tersebut kemudian lahirlah beberapa ulama yang dikemudian hari dikenal luas oleh masyarakat, yaitu Kyai Abdul Adhim Rangkut, Kyai Abdul Ghoni Rangkah (ayah dari KH. Miftahul Akhyar, Wakil Rais A’am NU) dan Kyai Hasan Asykari atau yang labih dikenal sebagai mbah Mangli, Magelang.

Di era 30-an Surabaya mengalami perang ideologi keagamaan. Umat Islam di Surabaya saat itu diintervensi oleh paham wahabi. Oleh karenanya beliau menulis kitab Tadzkirotun Naf’ah yang kemudian dapat dicetak pada 1935 M atau 1353 H. Perlawanan beliau terhadap wahabi tidak ditunjukkan dengan cara yang radikal, jika tetap dilakukan dengan cara seperti itu dikhawatirkan nantinya paham Wahabi akan semakin menyebarkan pahamnya. Dengan adanya kitab tersebut, harapannya beliau dapat menjaga akidah umat Islam yang berpaham Aswaja. Kitab fikih berbahasa arab itu berisi tentang hukum melaksanakan sholat dzuhur dan sholat jum’at menurut pandangan 4 madzhab. Namun yang menjadi perhatian beliau adalah maraknya pembid’ahan kepada amaliyah-amaliyah masyarakat NU. Selain itu dalam kitab tersebut juga dibahas menganai pandangan suatu kelompok yang mengatasnamakan Islam namun perilakunya tidak mencerminkan nilai-nilai Islami. Beliau juga mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu menjaga ideologi islam, apalagi dari pengaruh luar. Karena sekarang ini banyak kelompok-kelompok Islam yang mudah mengkafirkan sesama umat Islam.

Selain aktif dalam forum-forum di atas, ketika menginjak usia ke 65 tahun beliau masih aktif mengabdikan diri untuk agamanya. Hal ditunjukkan dengan keberadaan beliau menjadi ketua pengadilan agama di Gresik yaitu pada tahun 1956-1959 M. selama kepemimpinan beliau banyak permasalahan yang telah dapat diselesaikan.

 

 

 

 

 

 

Sumber :

Anonim. 2019. “KH Ahmad dahlan Ahyad dan Tashwirul Afkar”. https://www.nu.or.id/post/read/105377/kh-amad-dahlan-ahyad-dan-tashwirul-afkar (diakses pada 25 April 2020)

Muhyiddin dan Muhammad Hafil. 2020. “KH Ahmad Dahlan Ahyad, Ulama NU Penjaga Aqidah Umat (1)”. https://m.republika.co.id/amp/q3pwdb430 (diakses  pada 25 April 2020)

Najib. Mochammad Fuad. 2018. “Mengenal KH. Muhammad Ahyad, Pandiri Pondok Pesantren Kebondalem I”. https://www.halaqoh.net/2018/03/pondok-pesantren-kh-muhammad-ahyad.html?m=1 (diakses pada 1 Mei 2020)