Oleh: Rian Hidayat

Profil Syaikh Abd Rauf as-Singkel

Nama lengkapnya adalah Abd Rauf bin Ali al-Fansuri al-Jawi. Beliau merupakan seorang ulama melayu dari Fansur. Singkil (Singkel) berada di wilayah pantai barat laut Aceh. Sebab itu pula kadang kala namanya ditambahkan as-Singkili. Lebih lanjut ada sumber lain yang mengatakan bahwa beliau juga dikenal dengan nama sebuatn Syaikh Kuala atau tuangku di Kuala. Sebagai nisbat dimana tempatnya mengajar yang kemudian menjadi tempat pemakamannya, soal tempat dan tahun kelahirannya masih ada persilangan pendapat, belum ada data yang pasti terkait tanggal dan tahun kelahirannya.[1] Namun, suatu pendapat mengatakan bahwa beliau dilahirkan di sekitar tahun 1620 M.

Seorang sejarawan barat yaitu Ringkes mengajukan tahun yang sedikit berbeda, dengan menghitung mundur mulai saat kembalinya Abd Rauf as-Singkel dari Arabia (Timur Tengah) ke Aceh pada tahun 1661 M. Menurutnya usia wajar seorang mulai berkelana adalah anatara 25-30 tahun.  Sedangkan data yang mengatakan bahwa bahwa Abd Rauf as-Singkel selama 19 Tahun. Sehingga dari sini Ringkes mengemukakan pendapat bahwa Abd Raud as-Singkel dilahirkan sekitar tahun 1024/1615 M. Angka ini dalam perkembangannya telah diterima oleh sebagian ahli  sejarah tentang Abd Rauf as-Singkel.[2]

Perdebatan mengenai Abd Rauf as-Singkel tidak hanya tentang angka tahun kelahirannya melainkan juga tentang sisilah atau asal-usul keturunannya. Dapat diduga beliau seorang Jawi (melayu) dari Fansur (sekarang Barus), sedangkan menurut pendapat  Peunoh  Daly, ayah  Abd Rauf as-Singkel yaitu syaikh Ali al-Fansuri adalah seorang pendatang dari timur tengah (Arab) yang berhasil mengawini seorang wanita pribumi yang berasal dari Fansur, lalu pindah ke Singkil dan di sinilah Abd Rauf as-Singkel dilahirkan.[3]

Sementara itu menurut A. Hajsami, nenek moyang Abd Rauf as-Singkel berasal dari tanah persia yang datang ke samudra pasai pada tahun XIII M yang kemudian menetap di Fansur, sebuah pelabuhan Tua terpenting di pantai Sumatra Barat. Sedangkan Ayah Abd Rauf as-Singkel menurut dia adalah kakek dari Hamzah Fansuri, sebuah tokoh tasawuf dari Aceh yang menyebarkan Ajaran Wujudiyah. Pendapat ini dibantah oleh Azyumardi Azra dalam karyanya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII/XVIII” bahwa pendapat yang di kemukakan A. Hasjmi perlu diragukan tentang Abd Rauf as-Singkel merupakan keponakan Hamzah Fansuri, sebab tidak ada sumber lain yang mengatakan hal itu. Meski begitu, Azra menduga Abd Rauf as-Singkel masih mempunyai hubungan darah dengan keluarga Hamzah Fansuri, sebab dalam beberapa karyanya, nama Abd Rauf diikutkan dengan pernyataan yang berbangsa Hamzah Fansuri.[4]

Mengenai wafatnya dikatakan bahwa beliau wafat pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Beliau dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, Desa Deyah Raya, Kecamatan Kuala, sekitar 5 Km dari Banda Aceh. Untuk mengenang jasanya, namanya digunakan sebagai nama Universitas di Banda Aceh yaitu salah satu Perguruan Tinggi terbesar di Aceh, di situ pula tempat Maqbarah sang istri-istrinya serta para muridnya. Karena tempat pemakakaman itulah di kemudian hari Abd Rauf as-Singkel dikenal dengan sebutan Syiah Kuala atau Teungku di Kuala.

Tempat tersebut hingga kini menjadi tempat yang kramat dan banyak masyarkat dari berbagai daerah yang Ziarah ke Maqbarah Syaikh Abd rauf as-Singkel. Tempat itu pula tidak luput dari dentuman Tsunami Aceh pada tahun 2004 silam. Ada sebuah cerita mistik, konon katanya sebelum terjadinya bencana tersebut ada beberapa golongan anak muda yang mabuk-mabukan di area pemakaman Abd Rauf as-Singkel, sehingga ada bebebrapa warga sekitar yang mencium aroma minuman keras tersebut, ketika itu ada seorang laki-laki berjubah putih yang menegor golongan anak muda itu karena telah berbuat hal yang tidak pantas, bukannya mendengarkan dan mematuhinya, mereka malah mengusir laiki-laki mistis yang berjubah putih tersebut, dan pada ke esokan harinya Aceh di mendapatkan bencana tsunami yang sangat besar itu. Anehnya, pemakaman Syaikh Abd Rauf ketika tsunami itu melandanya bisa naik mengikuti aliran gelombang dan tetap utuh.[5]

Pendidikan dan karier Intelektualnya

Abd rauf as-Singkel dalam riwayat pendidikannya bermula dari sang ayah sendiri yang merupakan salah satu tokoh agama di Singkel. Bahkan ada satu pendapat yang mengatakan bahwa ayahnya mendirikan madrasah di halaman rumahnya tersebut dan santri-santrinya terdiri dari berbagai tempat di kesultanan Aceh.[6] Setelah menimba ilmu di kediamannya sendiri, Abd Raud as-Singkel melanjutkan pendidikannya ke daerah Fansur (Barus) yang pada saat itu terkenal sebagai pusat pengkajian yang penting dan menjadid pusatnya hubung antara orang Melayu dengan kaum Muslim di Asia Barat dan Asia Selatan.

Setelah dari Fansur beliau dikabarkan melanjutkan ke daerah Pusat yaitu Banda Aceh, Ibu Kota Kesultanan Aceh, namun mengenai itu tidak terdapat sumber yang pasti yang menjelaskan pendidikannya di Banda Aceh, akan tetapi ada laporan yang mengatakan bahwa Abd Rauf as-Singkel pernah belajar ke Hamzah Fansur, Syam al-Din al-Sumatri. Menganai pendapat yang mengatakan bahwa Abd rauf as-Singkel pernah belajar ke Hamzah Fansuri jelas tidak benar dan perlu di krtisi. Sebab, Abd Rauf as-Singkel Tidak bertemu dengan Hamzah Fansuri, karena Hamzah Fansuri meninggal sekitar tahun 1016 H/1607 M, yang pada saat itu Abd Rauf as-Singkel belum lahir. Meskipun begitu, tidak menampik kemungkinan bahwa Abd Rauf pernah belajar ke Syam al-Din al-Sumatri yang wafat tahun 1040 H/1630 M, meskipun beliau bertemu disekitaran umur belasan tahun. Pendapat itu semua sampai sekarang masih belum terdapat indikasi yang pasti dan mendukung terkait probabilitas itu.[7]

Setelah dari Aceh Abd Rauf as-Singkel melanjutkan pendidikannya ke Timur Tengah tepatnya di tanah Arab, kemungkinan besar dia merantau ke Arab sekitar tahun 1052 H/1652 M, di Arab beliau belajar terhadap beberapa guru salah satunya Muahammad al-Babili dari mesir dan Muhammad al-Barzanji dari Anatolia yang menjadi ladang pencarian ilmu secara formal. Bahkan menurut sumber yang lebih eksplisit di timur tengah beliau belajar di beberapa tempat, mulai dari Doha, Qatar, yang terletak di pesisir teluk Persia, kemudian Yaman, Jeddah, Makkah dan yang terakhir Madinah.[8] Dikatakan beliau belajar pada 19 Guru yang berbeda-beda dan mempelajari berbagai disiplin ilmu agama.[9] Tercatat Dalam pengembaraannya ke Doha, Abd Rauf as-singkel belajar ke Abd Qadir al-Maurir, tetapi tidak lama menimba ilmu disana, setelah dari sana beliau melanjutkan Nyantri-nya ke daerah Yaman, tepatnya di Bait al-Faqih dan Zabid yang merupakan dua pusat pengetahuan Islam tertinggi di Yaman. Meskipun beliau mempunyai beberapa Guru di Mouza’, Nokha, al-Luhayyah, Hudaidah, dan Ta’izz, di Bait al-Faqih. Abd Rauf as-Singkel terutama belajar pada keluarga Ja’man, seperti Ibrahim Ibnu Muhammad Ibnu Ja’man, dan Qadhi Ishaq Ibnu Muhammad Ibnu Ja’man. Di samping itu Abd Rauf-as-singkel belajar kepada Faqih at-Thayyib Ibnu Abi al-Qasim Ibnu Ja’man dan Muhammad Ibnu Ja’man. Sementara di Zabid belajar ke Abd al-Rahman Ibnu al-Shiddiq al-Khash, Amin Ibnu al-Shiddiq al-Mizjaji, dan Abdullah Ibnu Muhammad al-Andani. Selain itu beliau juga menjalin hubungan dengan ulama terkemuka di Yaman seperti Abd al-Fattah al-Khash, Sayyid at-Thahir Ibnu al-Husain al- Ahdal, dan beberapa ulama lainnya.[10]

Dari negri Yaman Syaikh Abd Rauf as-singkel melanjutkan Pengembaraannya ke Jeddah, di sana beliau belajar kepada Abd al-Qadir al-Barkhali, yang menjadi Mufti di sana. Tidak lama di Jeddah, Abd Rauf as-Singkel melanjutkan petualangannya ke Makkah, di sana belia belajar kepada beberapa guru terkemuka, di antaranya adalah Ali Ibnu Abd al-Qadir al-Thabari (w. 1070 H/ 1660 M). Ali al-Thabari merupakan seorang Mufti, pakar Fiqh dan ahli sejarah, beberapa buku yang membahas sejarah telah beliau tulis. Sebagai seorang ahli Fiqh beliau sering dimintai fatwa untuk menentukan sebuah hukum. Guru Abd Rauf as-Singkel lainnya adalah Bahruddin al-Bahuri dan Abdullah al-Lahuri, di samping itu beliau menjalani hubungan pribadi dengan beberapa ulama lainnya. Sama seperti yang dilakukannya ketika di Yaman. Di Makkah Abd Rauf as-singkel Juga belajar pada ulama besar lainnya seperti; Isa al-Maghribi al-Makki, Abd al-Aziz al-Zamzami, Taj al-Din Ibnu Ya’qub dan beberapa guru lainnya.[11]

Setelah dari Makkah Abd Rauf as-Singkel Mengakhiri perjalanannya di Timur tengah di Madinah, sebuah pengakuan bahwa di kota Nabi inilah beliau merasa puas dalam perjalanan studinya. Di Madinah belia belajar pada beberapa guru terkemukan sama seperti riwayat gurunya di daerah-daerah sebelumnya, seperti; Ahmad al-Qusyasyi, Ibrahim al-Kurani yang sekaligus merupakan Khalifahnya pada waktu itu. Dengan al-Qusyasyi beliau belajar tentang ilmu Batin yaitu tasawuf dan ilmu-ilmu terkait lainnya, sebagai tanda selasainya pelajaran ilmu batin, al-Qusyasyi menunjuk Abd Rauf as-Singkel sebagai Khalifat Tarekat Syatariyah. Dengan al-Qusyasyi beliau menjalin hubungan yang sangat erat, di ceritakan bahwa suatu ketika beliau disuruh pulang oleh sang guru karena dianggap ilmu yang didapat Abd Rauf as-Singkel sudah cukup untuk menyebarkan dan memperkuat ajaran Islam di tanah kelahirannya, mendengar perintah itu Abd Rauf as-Singkel menangis karena tak ingin jauh dari sang Guru, maka setelah itu al-Qusyasyi membiarkan muridnya itu menetap selama dia ingin tinggal bersamanya. Sedangkan dengan Ibrahim al-Kurani, Abd rauf as-Singkel mempelajari beberapa ilmu yang meluaskan ke intelektualannya. Tampaknya, al-Kurani yang mempunyai sifat lembut dan toleransi berpengaruh pada diri Abd Rauf as-Singkel, dikatan murid dan guru ini semakin terlihat ketika sang Syaikh Kuala  kembali ke tanah Aceh, ketika itu Abd Rauf as-singkel mengirim surat pertanyaan untuk menanggapi sifat dan tindakan Nuruddin ar-Raniri terhadap pengikut Wujudiyah di Aceh. Dan Ibrahim al-Kurani menurut cerita merupakan guru terakhirnya selama merantau serta menimba ilmu di timur tengah. Kendati demikian Abd Rauf as-Singkel masih menjalani hubungan pribadi dengan beberapa ulama terkemu lainnya.[12]

Setelah menyelsaikan perantauwannya di Negeri timur tengah, Abd rauf as-Singkel memilih kembali ke tanah Asalnya yaitu Aceh. Menurut suatu riwayat setelah kepulangannya dari Arab beliau membangun sebuah madrasah. Beberapa murid berdatangan untuk menimba ilmu kepadanya salah satunya yang terkenal adalah Burhan al-Din (w 1140 H/ 1692 M), yang dikenal dengan julukan Tuanku Ulakan yang menyebarkan ajaran Tarekat Syathoriyah di Sumatera Barat dan Muhyiddin yang menyebarkan ajarannya ke Pulau Jawa. Sampai sekarang ajaran Tarekat Syathariyah masih diamalkan di pedesaan.[13]

Sekembalinya dari Arab, masyarakat Aceh antusias menyambutnya bahkan Raja Shafiyat al-Din yang mengutus anggota kerajaan untuk memberi pertanyaan padanya, sepontan pertanyaan itu di jawab oleh Abd Rauf as-Singkel, dan sejak itulah beliau diangkat menjadi Mufti dan Qadhi di kerajaan. Abd Rauf as-Singkel tidak hanya berpengaruh di Tanah Aceh saja, melainkan diseluruh Nusantara, itulah mengapa beliau ternobatkan salah satu Guru Besar yang sangat berjasa yang memiliki peranan penting terhadap Islam Nusantara.[14]

Karya-karya Abd Rauf as-Singkel

Sebagai pemuka Agama yang telah berkelana ke berbagai Negara hususnya di Arab yang merupakan salah satu pusat peradaban Islam, Abd Rauf as-Singkel mempunyai berbagai karya yang masing-masing membahas berbagai disiplin keilmuan. Ini menunjukkan bahwa Abd Rauf as-Singkel tidak diragukan lagi kemahirannya terhadap masalah Agama, itulah salah satu alasan mengapa beliau dulu dijadikan Mufti dan Qadhi oleh Raja Shafiyat al-Din. Akan tetapi karya tulisnya jumlahnya tidak dapat dipastikan dengan tepat. Azyumardi Azra mengutip pendapat Voorhoeve dan Hasjimi yang mengatakah jumlah karangannya sebanyak 22 buah, Tetapi Oman Faturrahman menyebutkan karyanya berjumlah tidak kurang dari 36. Namun perlu diketahui dari berbagai karyanya yang paling monumental adalah kitab yang berjudul Tarjuman al-Mustafid. Karya ini merupakan tafsir pertama di Indonesia yang berbahasa Melayu, Pengaruh karya ini sangat luas bahkan dicetak di beberapa negara, seperti Istanbul, Singapura, Pulau Pinang dan Jakarta, bahkan karya ini pernah dijumpai di pemukiman masyarakat melayu yang tinggal di Afrika Selatan. Selain itu beliau juga mempunyai karya tulis dalam bidang Hadis yaitu Syarh Lathif ‘Ala ‘Arba’in Haditsan lil Imam al-Nawawi dan Mawa;iz al-Badi’ah. Di antara berbagai disiplin ilmu, nampaknya beliau lebih fokus pada Ilmu Tasawuf. Hal ini dapat dilihat dari jumlah karya tulisnya yang spesifik membahas Tasawuf yang menurut sumber berjumlah 23 buah karya tulis, diantaranya yaitu:[15]

  1. Tanbih al-Masyi al-Mansud ila Thariq al-Qusyasyi
  2. ‘Umdah al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufarridin
  3. Sullam al-Mustafidin
  4. Piagam Tentang Dzikir
  5. Bayan Tajalli
  6. Kifayat al-Muhtajin ila Masyrab al-Muahhidin al-Qa’ilin bi Wahdah al-Wujud
  7. Bayan Aghmadh al-Masa’il wa al-Shifat al-Wajibat li Rabb al-Ardh wa al-Samawat
  8. Risalah Adab Murid Akan syeikh
  9. Munyah al-I’tiqod
  10. Bayan al-Ithlaq
  11. Riasalah Ayan Tsabitah
  12. Risalan Jalan Ma’rifattullah
  13. Risalah Mukhtasarah fi Bayan Syuruth al-Syaikh wa al-Murid
  14. Faidah yang tersebut di dalamnya Kaifiyat Mengucap Dzikir la ilaha illa Allah
  15. Syair Ma’rifat
  16. Otak Ilmu Tasawuf
  17. ‘Umdah al-Anshab
  18. Idhah al-Bayan fi Tahqiq Masail al-Adyan
  19. Ta’id al-Bayan Hasyiyah Idhah al-Bayan
  20. Lubb wa al-Kasyf wa al-Bayan li Ma yarahu al-Mukhtadzar bi al-‘Iyan

Selain dunia Tafsir, Hadis, dan Tasawuf . Abd Rauf as-Singkel yang merupakan seorang mufti dan Qadhi yang notabene mengurus persoalan syari’ah, beliau juga tidak luput menuliskan kitab Fiqh, di antaranya:[16]

  1. Mirah al-thullah fi Tafshil Ma’rifat al-Ahkam Syari’iyyah li Malik al-Wahhab
  2. Bayan al-Arkan
  3. Bidayah al-balighah
  4. Washiyat
  5. Fatihah Syeikh Abd Rauf as-Singkel

Dari berbagai karya Abd Rauf as-singkel di atas yang membahas berbagai disiplin ilmu, menunjukkan bahwa beliau adalah seorang Guru Besar Nusantara yang ke intelektualannya tidak diragukan lagi, dan jika dilihat dari beragam karya tulisnya agaknya beliau merupakan pakar Tasawuf meskipun karya Magnum opus nya merupakan kitab yang berkarateristik Interpretasi al-Quran yaitu Tarjuman al-Mustafid, yang merupakan kitab Tafsir Pertama yang menyalin bahasa al-Quran (Bahsa Arab) ke Bahasa Melayu.

 

Daftar Rujukan

[1] Saifuddin Dan Wardani, Tafsir Nusantara (Yogyakarta: LkiS, 2017), hlm. 23

[2] Arivaie Rahman, Tafsir Tarjuman al-Mustafid Karya Abd al-Rauf al-Fansuri, Sebuah Jurnal, Vol. XLII, No. 1, 2018, hlm. 4

[3] Saifuddin Dan Wardani, Tafsir Nusantara, hlm. 24

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Muhammad Imron Rosyadi, Pemikiran Abd Rauf as-Singkili Dalam Kitab Mawa’izat al-Bidayah, Sebuah Jurnal, Vol. 2, No. 9, 2017, hlm. 56

[7] Saifuddin Dan Wardani, Tafsir Nusantara, hlm. 27

[8] Ibid, 28

[9] Dicky Wirianto, Meretes Konsep Tasawuf Syaikh Abdurrauf al-Singkili, Sebuah Jurnal, Vol. 1, No. 1, 2013, hlm. 106

[10] Saifuddin Dan Wardani, Tafsir Nusantara, hlm. 29

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Dicky Wirianto, Meretes Konsep Tasawuf Syaikh Abdurrauf al-Singkili

[14] Saifuddin Dan Wardani, Tafsir Nusantara, hlm. 33

[15] Saifuddin Dan Wardani, Tafsir Nusantara, hlm. 35

[16] Ibid.