Oleh: Redaktur

Di awal bulan Agustus ini jagat dunia maya dihebohkan dengan trending topik film Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN). Film yang dibuat oleh Nicko Pandawa itu telah menuai pro-kontra. Pasalnya bagi para peneliti sejarah, seperti Prof. Peter Carey dan Dr. Ismail Hakki Kadi, mengatakan bahwa film tersebut tidak ada hubungannya antara Utsmaniyyah dengan Jawa (Nusantara). Kesultanan Demak (1475-1558) yang menjadi raja Islam pertama kali di Jawa tidak termasuk dalam jajaran daerah naungan Turki Utsmani. “Jika pun ada data yang mengatakan seperti itu, maka akan kami masukan ke dalam hasil penelitian yang terbaru dengan judul Ottoman-Southeast Asian Relations; Sources from the Ottoman Archives (Leiden: Brill, 2019), berjumlah dua jilid yang bisa diakses di Brill”, kata Dr. Ismail Hakki Kadi.

Sedangkan bagi para kalangan yang pro film JKDN mengatakan, jika film dokumenter ini harus ditonton oleh generasi muda supaya mengetahui sejarah khilafah di Nusantara, menegakkan sistem khilafah adalah solusi atas segala permasalahan yang alami nagara Indonesia saat ini. Begitulah narasi yang sering digunakan oleh sebagian kelompok pro khilafah. Dilihat dari para pembuat dan pengusungnya, serta ditambah lagi yang isinya tidak sesuai dengan sejarah secara konkrit, menunjukan bahwa film ini serat akan bau politik yang diusung oleh kalangan HTI, sebagai ormas yang ingin menegakan sistem khilafah di tanah air Indonesia.

Saya sendiri memiliki catatan kecil atas beberapa data yang disampaikan dalam film tersebut. Supaya suatu keilmuan bisa hidup, kita bisa sama-sama menunjukan data untuk bahan diskusi atau koreksi. Di dalam film JKDN mengatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia pada masa kerajaan Sriwijaya (Palembang). Dengan dibuktikan adanya surat yang dikirimkan oleh Sri Indra Warman kepada Khalifah Umar ibn Abdul Aziz di Damaskus.

Sependek pengetahuan saya berdasarkan pendapat Prof. Dr. Buya Hamka dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia yang diselenggarakan di Medan, pada tanggal 17 – 20 Maret 1963 M. Ada beberapa point yang beliau sampaikan pada saat itu yaitu;

  1. Agama Islam telah berangsur-angsur datang ke Indonesia sejak abad pertama (abad ke 7 M) yang dibawa oleh saudagar-saudagar Islam dari Arab. Lalu diikuti oleh orang Persia dan Gujarat.
  2. Penyebaran Islam tidak dilakukan dengan cara kekerasan atau penaklukan, maka dilakukan secara berangsur-angsur.
  3. Kedatangan para ulama sekaligus saudagar Arab di Aceh telah memperteguh ideologi Mazhab Syafi’i.
  4. Mereka datang tidak untuk menghilangkan kepribadian umat muslim Indonesia, justru telah membuat Aceh terkenal dengan sebutan “Serambi Mekkah” karena banyaknya ulama yang berada di sana.

Akan saya tambah satu lagi bukti sejarah jika Islam pertama kali masuk ke Indonesia berada di daerah Aceh. Kali ini pendapat dari Haji Abubakar Aceh yang mengatakan bahwa:

  1. Islam masuk ke Indonesia pertama kali di Aceh, tidak mungkin dari daerah lain.
  2. Di antara mazhab yang dipeluk pertama kali di Aceh yaitu Syi’ah dan Syafi’i.
  3. Para saudagar yang menyiarkan agama Islam ke Indonesia tidak hanya dari Gujarat India, tetapi juga dari mubaligh-mubaligh Islam dari Arab.

Dua pendapat para ahli sejarah tersebut semoga sudah cukup menjadi hujjah yang kuat, sebagai rujukan mengenai sejarah pertama kali masuknya Islam ke Indonesia. Meskipun masih ada beberapa pendapat lainnya dari para pakar sejarah yang juga hadir di acara tersebut. Adapun kesimpulannya dari beberapa pendapat ahli sejarah di atas yaitu :

  1. Islam masuk pertama kali di Indonesia langsung dari Arab pada abad ke 7 – 8 M.
  2. Daerah pertama kali yang didatangi bangsa Arab untuk menyebarkan Islam yaitu pesisir Sumatera dan setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka kerajaan Islam pertama kali di Aceh.
  3. Penyebaran agama Islam dilakukan secara damai.
  4. Kedatangannya ke Indonesia membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian masyarakat tanah air.

Begitu sekiranya pendapat saya mengenai kapan masuknya Islam ke Indonesia yang diambil dari beberapa sumber. Aceh lah yang menjadi daerah pertama kali menerima ajaran Islam. Jika dikatakan bahwa Islam pertama kali masuk ke Indonesia melalui kerajaan Sriwijaya (Palembang), kenapa ada data yang mengatakan, bahwa pada tahun 375 H (986 M) tentara Sriwijaya justru menyerang Perlak, yang kemudian dapat dipukul mundur. Padahal Perlak sendiri merupakan kerajaan Islam pertama kali di Aceh sebelum digabung dengan Samudra Pasai oleh Sulthan Muhammad Malikud Dhahir (688 – 725 H).

Di dalam film tersebut juga telah menyebutkan, bahwa kerajaan Islam pertama kali di Aceh itu Samudra Pasai yang menjadi saksi awal masuknya Islam di sana. Kata Buya Hamka Samudra Pasai itu didirikan pada tahun 1275 M atau abad ke 13 M, itu bukan awal masuknya Islam tetapi perkembangan agama Islam. Sebelum para mubaligh Islam datang ke Aceh, kerajaan Perlak ada sejak dulu di sana. Dalam kurung waktu kurang dari setengah abad, di dalam kerajaan Perlak telah berdiri masyarakat dengan anggota-anggotanya dari turunan asli atau campuran, yaitu pernakan Arab, Persia, dan Gujarat. Sehingga pada hari selasa 1 Muharam 225 H (840 M) diploklamirkan berdirinya Kerjaan Islam Perlak dengan diangkatnya sulthan yang pertama yaitu Saiyid Maulana Abdul Aziz (Keturunan Quraisy) dengan gelar Sulthan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah.

Terakhir, di dalam film JKDN tersebut telah mengatakan bahwa Syaikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) pergi ke Jawa atas baiat atau utusan dari khilafah Timur Tengah. Benar jika dikatakan bahwa beliau berasal dari Pasai, tetapi pergi ke Jawa bukan atas baiat atau utusan dari khilafah.

Di dalam buku karangan Damar Shashangka yang berjudul Kisah Nusantara yang Disembunyikan menjelaskan bahwa “Semangat menyebarkan Islam begitu mengembara di hati Syaikh Jamaluddin Syah Jalal yang berdakwah ke Negara-negara tentangga Pasai. Walau usianya sudah sepuh, semangatnya tidak pernah surut. Beliau melakukan ekspedisi ke timur menuju Champa. Setelah beberapa waktu di sana, beliau bertolak ke Semenanjung Malaka, lalu dilanjutkan lagi perjalanan ke selatan mengerah ke pusat Kerajaan Majapahit di Jawa yang ditemani adiknya Syaikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)”.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) masih keturunan Hadrahmaut yaitu Sayyid Ahmad ibn Isa al-Muhajir. Jadi kepergiannya ke Jawa atas dorongan niat tulusnya untuk berdakwah menyebarkan agama Islam bersama sang kakak. Tidak ada yang perintah maupun paksaan dari siapa pun.

Waalllahu’alam Bisshowab

 

 

Sumber Rujukan

Ayu Alfiah Jonas, “Terkait Film Jejak Khalifah di Nusantara Buatan HTI, Ini Penjelasan Sejarawan”, dalam Bincang Syariah, 21 Agustus 2020.

  1. Hasjmy, “Kebudayaan Aceh dalam Sejarah”, Penerbit Beuna, Jakarta, 1983.

Damar Shashangka, “Kisah Nusantara yang Disembunyikan”, Dolpin, Jakarta Selatan, 2011.

Amirul Ulum, “Sunan Bonang Dari Rembang Untuk Nusantara Biografi, Pemikiran, & Jejaring Isnad”, Global Press, Yogyakarta, 2018.

Ahmad Mansur Suryanegara, “Api Sejarah”, Penerbit Salamadani, Bandung, 2009.