Oleh: Siti Zulaikhah

Dr. K.H. Abdurrohman Wahid, merupakan tokoh yang sangat legendaris di kalangan masyarakat Indonesia, beliau yang akrab dengan nama panggilan Gus Dur. Nama itu merupakan singkatan dari kata Bagus dan Abdurrohman (nama asli beliau), di mana nama Bagus merupakan nama yang dinobatkan kepada mereka yang menjadi putra seorang Kiai di Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah. Gus Dur memiliki nama asli Abdurrohman Ad-Dakhil (yang memiliki arti sanga pendobrak). Gus Dur  dilahirkan di Jombang tepat pada tanggal 04 Agustus 1940 di Denanyar, Jombang, Jawa Timur dan meninggal pada tanggal 30 Desember 2009. Gus Dur merupakan anak pertama dari enam bersaudara putra dari K.H Abdul Wahid Hasyim, yang merupakan representasi tokoh pemuda Islam dalam TIM Panitia Sembilan pembahasan dan perumusan undang-undang dasar sekaligus menteri agama pertama republik Indonesia.

Siapa yang tak kenal Gus Dur, selain dikenal sebagai ulama’ oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Para jajaran pemerintahan dan elit politik pun pasti mengenal Gus Dur, kiprahnya yang sempat menjabat Presiden RI Ke-4 pada Tahun 1999-2001 itu membuatnya dikenal sebagai tokoh Muslim Indonesia dan Pemimpin Politik penuh dengan cerita dan perjuangan. Gus Dur  merupakan tokoh kontroversi dan berdedikasi tinggi, sikapnya yang membela kaum minoritas membuatnya dikenal oleh banyak Masyarakat, selain itu, keahlian Gus Dur  yang mengemas setiap pemikiran dan gagasannya menjadi lontaran yang jenaka dan membuat banyak orang tergelitik, mengantarkan Gus Dur menjadi figur yang sangat dicintai oleh banyak masyarakat Indonesia.

Beliau dilahirkan dari keluarga yang karismatik dan sangat menjunjung tinggi gerakan nasioanalisme, Gus Dur adalah cucu kandung dari tokoh terkenal KH. Hasyim Asy’ari, yang merupakan pendiri pondok pesantren Tebu Ireng dan pendiri Nahdatul Ulama’ (NU), Organisasi terbesar di Indonesia. Neneknya bernama Ny Hj. Solehah, juga putri tokoh besar Nahdotul Ulama’ (NU), KH. Bisri Syamsuri, pendiri pondok pesantren Denanyar Jombang dan Ro’is Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdotul Ulama’ (PBNU) setelah KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Pada masa kecil, Gus Dur tidak seperti kebanyakan anak kecil lainnya, Gus Dur  lebih memilih tinggal  bersama kakeknya dari pada dengan ayahnya. Karena Gus Dur  hidup dengan kakeknya yang merupakan tokoh besar dan sering dikunjungi banyak tokoh politik, membuat Gus Dur mengenal banyak tokoh-tokoh tersebut dan sering mendengarkan diskusi serta percakapan ringan yang dilontarkan oleh kakeknya bersama para tamu. Jiwa nasionalisme Gu Dur sendiri diwarisi langsung dari sang kakek yang kerap kali memberikan pelajaran tentang ilmu pemerintahan dan negara kepadanya sewaktu Gus Dur tinggal bersama kakeknya, yaitu K.H Hasyim Asy’ari. Namun di samping itu semua, Gus Dur kerap kali menunjukkan kenakalannya seperti kebanyakan anak lainnya, Gus Dur sering dihukum oleh sang kakek. Di usianya yang menginjak 12 tahun, lengannya sudah mengalami dua kali patah.

Di waktu muda beliau tinggal bersama ayahnya di Jakarta karena ada tuntutan tugas negara yang mengharuskan mereka pindah ke Jakarat, Gus Dur sering dikirim oleh ayahnya ke tempat Williem Iskandar Bueller, Orang Jerman yang tinggal di Jakarta yang telah memeluk agama Islam. Biasanya Gus Dur datang kerumahnya selepas sekolah dan berada di sana sempai sore. Di tempat inilah Gus Dur belajar sastra dan bahasa asing membuatnya mulai menyukai musik klasik, sastra, utamanya karya-karya Beethoven. Sejak pertama mendengarnya lewat gramofon Buellerahatinya langsung terpikat oleh musik itu. Dari pengalaman yang beliau dapat inilah, Gus Dur mulai muncul sebagai seseorang yang berbeda dari yang lainnya, beliau mulai menunjukkan pemikiran dan gagasannya yang beliau lontarkan secara jenaka dengan ilmu sastra yang beliau kuasai.

Hal yang luar biasa lagi dalam diri Gus Dur, beliau memang lahir dari ayah seorang menteri dan tokoh terkenal, namun saat kecil Gus Dur dan ke enam adiknya tidak menempuh pendidikan di sekolah elit seperti kebanyakan anak menteri lainnya, beliau sekolah di sekolah rayata (SR), di mana merupakan sekolah bentukan pemerintahan Hindia untuk anak pribumi yang kini terletak di Jl.Samratulangi. Ketika mereka pindah rumah dari Jl jawa (Jl. Cokroaminoto) ke Taman Matraman, ia dan adik-adiknya pindah ke sekolah SD Perwari yang tempatnya tidak jauh dari kediaman mereka, Hanya Aisyah, anak nomor dua yang tetap melanjutkan di SD KRIS hingga lulus. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Tanah Abang. Selanjutnya ia pindah ke Yogyakarta dan tinggal di rumah tokoh Muhamadiyah, KH. Junaid, anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah.

Setelah beliau lulus dari SMEP, beliau mulai belajar di banyak pesantren yang ada di Jawa yang di bawah naungan NU. Awalnya beliau mondok di Tegal Rejo (Magelang), di sana beliaua belajar ilmu keislaman dan banyak membaca karangan sarjana barat. Kemampuan Gus Dur untuk membaca karangan sarjana barat inilah yang tidak dimiliki oleh santri lainnya. Gus Dur mulai mengenal karya-karya sastra tingkat dunia, pemikiran filsafat karangan tokoh-tokoh terkemuka seperti Karl Marx, lenin, Gramsci, Mao Zedongn, serta karya-karya pemikir Islam yang berhaluan radikal, dan kekiri-kirian seperti Hasan Hanafi. Gus Dur pernah mengeyam pendidikan di Al-Azhar, pada saat di sana Gus Dur  merasa tidak puas dengan sistem pengajaran di Al-Azhar, maka pada tahun 1966-1970 ia meninggalkan Kairo untuk melanjutkan studinya di fakultas Seni Universitas Banghdat. Selama belajar di Universitas Banghdat inilah, Abdurrahman Wahid merasa puas dan telah menemukan apa yang sesuai dengan dengan panggilan jiwanya yang modernis. Perkuliahan di Universitas Baghdad, beliau tempuh dengan menyelesaikan ujian strata 2 (S2). Namun sebelum Gus Dur munempuh ujian tesisnya, profresor pembimbingnya meninggal dunia, sehingga ujian tesisnya itu tidak dapat dilanjutkan.

Gus Dur merupakan sosok kharismatik, menurut penuturan tokoh yang sempat bertemu dengannya, masalah yang dihadapi Gus Dur sangatlah komplek, banyak hinaan dan cacian yang dilontarkan kepadanya, namun semua hanya ditanggapi dengan sikap yag arif dan bijaksana, hingga memunculkan pendapat bahwa, ulama besar memang yang mencaci tidak henti-henti dan yang memuji juga tidak henti-henti. Waktu beliau telah lengser dari kursi Presiden RI ke-4 Gus Dur mengalami banyak gangguan lahir maupun bathin, beliau beristikhoroh dengan berbagai ulama di Nusantara untuk bermusyawaroh bagaimana jalan keluar menghadapi orang-orang yang berniat jahat pada beliau, pada masa itu beliau didampingi oleh ajudannya yang bernama Bpk. Sulaiman, beliaulah yang pada masa itu menjadi pintu masuk semua orang yang diundang dan ditemui oleh Gus Dur , termasuk sosok Ifa Badri yang menjadi salah satu narasumber dalam tulisan biografi kali ini. Menurut pemaparan beliau, Gus Dur merupakan sosok ulama Nusantara yang berjiwa sangat besar, pada waktu itu masa di mana Gus Dur mendapat gangguan dari beberapa pihak, baik lahir maupun bathin, beliau sama sekali tidak berniat untuk menjatuhkan nama baik orang tersebut, apalagi berniat membalas menyakiti, Gus Dur hanya berniat untuk menghindari serangan, tidak lebih dari itu. Selebihnya Gus Dur serahkan pada yang Maha Kuasa.

Dalam kiprahnya di dunia politik pada masa Pilpres, ada sedikit lontaran yang sangat kejam dituduhkan pada Gus Dur, beliau sempat dihina karena kekurangannya dalam hal pengelihatan, lawan politiknya sempat menggembar-gemborkan slogan “Onok tekek kok meleh cecek, onok seng melek kok meleh seng p***k”. Dalam bahasa Indonesia kalimat itu dapat diartikan, “Kalau ada yang normal dalam hal pengelihatan, kenapa memilih yang tidak normal”. Lawan politiknya yang berniat menjegal kiprah Gus Dur, beliau sama sekali tidak berdiri untuk membalas siapa pun yang mencoba menyakitinya, Gus Dur memang seseorang yang kurang dalam hal pengelihatan, namun mata bathinnya sebagai ulama’ Nusantara tidak bisa diragukan lagi, keilmuan agama yang dipelajarinya, serta latar belakang keluarganya merupakan bukti besar untuk mengantarkan Gus Dur menjadi sosok Ulama’ Nusantara.

Penuturan lain terkait Gus Dur dari Ifa Badri yang pernah bertemu langsung dengan Gus Dur, ada sedikit cerita menggelitik tentang Gus Dur di hadapan para Kiai. Pada waktu itu, ada seseorang yang berceramah di hadapan publik dengan ratusan jama’ah, dia mengulas kejelekan Gus Dur hampir 1 jam lamanya, dia dengan antusias menjelaskan detail-detail kejelekan Gus Dur, namun pada saat ceramah berlangsung, salah satu jama’ah merupakan sosok Kai besar yang berpenampilan biasa layaknya kaum awam, Kiai tersebut mendengarkan secara detail penuturan dari orang tersebut dalam mengulas kejelekan Gus Dur, singkat cerita ceramah selesai, akhirnya sang Kiai besar itu menghampiri orang tersebut dan berkata “Samean pun mampu ngulas sedanten awone Gus Dur, sakniki cobi samean ulas nggean awone setunggal mawon tiang kafir” seseorang itu diam tanpa mampu berucap apapun dan tidak mampu melakukan permintaan Kiai besar itu, Kiai itu melanjutkan perkataannyaa”Gus Dur niku jelas islamnya, sampun jelas imannya, samean ngulas awone tiang kafir kok mboten saget, awone Gus Dur kok samean beber kados ngoten” akhirnya seseorang itu langsung menangis di hadapan sang Kiai dan ingin dipertemukan dengan Gus Dur untuk meminta maaf.

Gus dur merupakan sosok tokoh negarawan, politik, agamawan dan guru bangsa. Banyak karyanya yang dimuat di media massa baik berupa artikel dan karya-karya lainnya. Ada beberapa karya Gus Dur yang menjadi panutan pemikiran banyak orang, pemikirannya yang merangkul banyak kalangan menghadirkan dan membuat beliau sangat dikagumi banyak orang, namun di samping itu, para petinggi pemerintahan pun banyak yang menghujat dan mencoba menggulingkan beliau, beberapa karya Gus Dur antara lain : Abdurrahamn Wahid, Gus Dur Bertutur (Jakarta : harian proaksi dan Gus Dur fodation, 2001); Abdurrahman Wahid. “Prospek Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan” Dalam Sonhaji Shaleh (terj); Dinamika Pesantren Kumpulan Makalah Seminar Internasional, The Role of Pesantren in Education and Community Development in Indonesia” (Jakarta : P3M, 1988) Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi, Esai-Esai Pesantren (Yogyakarta : LKIS Yogyakarta, a2001); Abdurrahman Wahid, Islam Kosmopolitan; Nilai-nilai Indonesia dan Tranformasi Kebudayaan, (Jakarta: The Wahid Institut, 2007); Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita; Agama Masyarakat Negara Demokrasi”( Jakarta: The Wahid Institut, 2006); Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren, (Jakarta: Darma Bhakti, 1994).