Oleh: Moh. Sukroni, S. Pd.

Pada zaman Nabi Musa a.s, ada seorang laki-laki fasiq yang meninggal dunia sementara orang-orang enggan untuk memandikan dan menguburkannya. Mereka membuang jasad laki-laki tersebut di tempat sampah. Atas peristiwa ini, Allah s.w.t menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s “Wahai Musa ada seorang laki-laki yang meninggal dunia lalu jasadnya dibuang di tempat sampah, dia termasuk salah satu kekasihku, namun orang-orang enggan untuk mengurus kematiannya, maka pergilah dan uruslah jenazahnya”.

Lalu Nabi Musa mendatangi tempat tersebut dan menanyakan perihal jenazah yang dibuang di tempat sampah. Mereka Menjawab: ”Laki-laki itu meninggal dunia dengan sifat begini dan begini (menyebutkan keburukan sifatnya) dan dia orang yang fasiq”. Nabi Musa bertanya: ”Dimana tempatnya ?, sesungguhnya Allah s.w.t telah mewahyukanku untuk mencari jenazah laki-laki tersebut”. Lalu kemudian mereka bersama Nabi Musa mendatangi jenazah laki-laki tersebut.

Setelah Nabi Musa a.s. melihat jenazah laki-laki tersebut yang dibuang ditempat sampah dan mendengarkan cerita dari orang-orang mengenai keburukannya, Nabi Musa a.s. bermunajat kepada Allah s.w.t. “Wahai Tuhanku, Engkau memerintahkanku untuk mengurusi jenazah lelaki tersebut sedangkan orang-orang menyaksikan atas keburukannya, sesungguhnya engkau lebih mengetahui dari pada mereka”. Kemudian Allah s.w.t berfirman: “Wahai Musa benar apa yang diceritakan oleh orang-orang tentang keburukan lelaki tersebut akan tetapi saat menjelang ajalnya dia meminta Syafaat kepadaku melalui 3 hal yang mana jika orang-orang yang melakukan dosa memohon melalui 3 hal tersebut pastilah aku akan penuhi, bagaimana mungkin aku tidak mengasihinya sedangkan Aku adalah dzat yang maha pengasih. Nabi Musa a.s. bertanya : ’’Wahai Tuhanku, apa ketiga hal tesebut ?”.

Alloh s.w.t berfirman: ”Saat menjelang ajal lelaki tersebut memohon: ”Ya Robbi, Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku pernah melakukan kemaksiatan namun hatiku sangat membenci kemaksiatan. Ada 3 hal yang membuatku melakukan maksiat, pertama, hawa nafsu, ke dua, teman yang buruk, ketiga Iblis laknatulloh alihi. Ketiga hal tersebutlah yang membuatku terjerumus kedalam kemaksiatan. Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang aku ucapkan maka ampunilah aku.

Yang Kedua, ‘’Ya Robb, Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah melakukan kemaksiatan dan kedudukan saya adalah bersama orang-orang fasiq akan tetapi sebetulnya aku lebih menyukai berkawan dengan orang-orang sholih dan mempunyai kedudukan bersama orang-orang sholih lebih aku cintai dari pada bersama orang-orang fasiq”.

Yang ketiga, “Wahai Tuhanku, Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa orang-orang sholih lebih aku cintai dari pada orang-orang fasiq hingga seandainya ada dua orang yang satu sholih dan yang satunya lagi tidak Sholeh (fasiq) maka pastinya aku akan mendahulukan hajatnya orang yang sholih dari pada orang yang fasiq”.

Dalam riwayatnya Wahab bin Munabbih lelaki tersebut berkata : ”Ya Robb, Jika Engkau mamaafkan dan mengampuni dosaku maka kekasih dan para Nabimu akan merasa senang sedangkan Syaiton dan musuhku serta musuhmu akan merasa sedih. Namun apabila Engkau menyiksaku sebab dosa-dosaku maka Syaitan beserta golongannya akan merasa senang sedangkan para Nabi dan kekasihmu akan merasa sedih. Sesungguhnya aku menyakini bahwa kebahagiaan para kekasih lebih aku sukai dari pada kebahagiaan para Syaitan beserta golongannya. Maka ampunilah aku sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang aku panjatkan Kasihilah aku”.

Alloh s.w.t berfirman: “Maka Aku mengampuni dan mengasihinya karena sesungguhnya aku adalah dzat yang maha pemurah lagi penyayang khususnya bagi orang-orang yang mau mengakui dosanya dihadapanku. Dan lelaki ini telah mengakui dosanya sehingga aku mengampuninya”. “Wahai Musa lakukan apa yang aku perintahkan kepadamu, seungguhnya Aku mengampuni orang-orang yang mau mensholati dan menguburkan jenazah lelaki tersebut”.

Dari kisah tersebut diatas ada beberapa hikmah yang bisa kita petik sebagai berikut:

  1. Kita diajarkan untuk senantiasa mengaharap rahmat Alloh dan jangan sampai berputus asa dari rahmatNYA meski kita banyak dosa.
  2. Kita diajarkan untuk bergaul, berteman serta cinta dengan Orang yang Sholih.
  3. Kita diajarkan Untuk mau mengakui segala dosa dihadapan Alloh SWT. Dengan senantiasa beristighfar.

 

Sumber: Kitab “Al Mawaidz Al-Usfuriyah” Karya Syekh Muhammad Bin Abi Bakar halaman: 3