{"id":2923,"date":"2022-09-19T05:21:13","date_gmt":"2022-09-19T05:21:13","guid":{"rendered":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923"},"modified":"2023-03-11T02:03:54","modified_gmt":"2023-03-11T02:03:54","slug":"kh-hamid-pasuruan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923","title":{"rendered":"KH. Hamid Pasuruan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong>kh hamid pasuruan.\u00a0 <\/strong>Nama KH. Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid Pasuruan begitu melegenda dalam bab kewalian. Ia dikenal dengan sosok <em>waliyullah<\/em> yang mempunyai banyak karomah. Kediamannya menjadi tempat berlabuh untuk mencari\u00a0 berkah, baik berkah keilmuan atau doa, serta petuah keagamaan yang diharapkan menjadi obat\/ pelipur hati dari gundah gulana. Sosok tersebut dikenal dengan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Abdul_Hamid_Pasuruan\">Kiai Hamid Pasuruan<\/a>.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: left;\">Pendahuluan<\/h2>\n<p style=\"text-align: left;\">Gus Mus berkata, \u201cKiai Hamid bukanlah Wali Tiban. Wali Tiban, kalau memang ada, tentulah kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidaklah demikian. Beliau dianggap wali secara Muttafaq \u2018alaihi.\u201d<\/p>\n<p>Tentang kedalaman agamanya Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Mukti Ali mengatakan, \u201cYang paling terkesan dalam diri Kiai Hamid adalah akhlaknya; penghargaannya kepada orang, kepada ilmu, kepada orang alim, ulama, dan juga tindak tanduknya.\u201d<\/p>\n<h2><strong>Garis Keturunan<\/strong><\/h2>\n<p>Kiai Hamid Pasuruan dahulunya bernama Abdul Mu\u2019thi. Ia dilahirkan pada 1914 M\/1333 H di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang Jawa Tengah \u00a0Ia merupakan putra dari pasangan Kiai Abdullah dan Nyai Roihanah. Kedua orang tuanya ini, nasabnya bersambung dengan Sayyid Syambu Lasem. Untuk nasab jalur ayahnya yaitu, Abdul Mu\u2019thi ibn Abdullah ibn Umar ibn \u2018Arabi ibn Muhammad ibn Ahmad Jamal ibn Abdul Adzim ibn Sayyid Abdurrahman (Eyang Syambu Lasem). Sedangkan untuk jalur ibunya, Nyai Roihanah binti Muhammad Shiddiq ibn Abdullah ibn Shalih ibn Asra ibn Barda\u2019i ibn Syaikh Yusuf ibn Eyang Syambu Lasem.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>&#8230;\u00a0<a href=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/mbah-syambu-lasem-cucu-joko-tingkir\/\">Mbah Syambu Lasem (Cucu Joko Tingkir)<\/a><\/p>\n<p>Ketika usai menunaikan ibadah haji bersama sang kakek (Kiai Shiddiq), nama Abdul Mu\u2019thi diganti menjadi Abdul Hamid, yang kemudian hari dikenal dengan Haji Abdul Hamid, lalu dikenal dengan nama Kiai Hamid Pasuruan, sebab ia hijrah ke Pasuruan Jawa Timur. Nama Mu\u2019thi di kemudian hari diberikan kepada salah satu muridnya, ketika ia nyantri dan ikut berpartisipasi dalam mengajar di Pesantren Termas yang diasuh oleh Kiai Dimyathi, adik dari Syaikh Mahfudz al-Termasi, yaitu Mukti Ali yang aslinya bernama Bujono. Oleh Kiai Hamid, nama Bujono diganti menjadi Mukti, sedangkan nama Ali yang ada di belakangnya adalah nama ayahnya. Ia termasuk tokoh berpengaruh di Indonesia, yaitu pernah menjadi Menteri Agama Republik Indonesia.<\/p>\n<h2><strong>Rihlah Ilmiah<\/strong><\/h2>\n<p>Semasa kecilnya Abdul Mu\u2019thi dikenal sebagai anak yang nakal. Ia menjadi musuh bebuyutan China Lasem. Ia sangat tidak senang dengan orang China, sebab orang tuanya, Kiai Abdullah, suatu ketika kediamannya pernah diserang oleh orang China yang tidak suka dengannya. Namun, Allah melindungi hamba-Nya, sehingga serangan tersebut tidak membuahkan hasil kecuali beban malu yang ditanggung oleh orang China. Mereka menjadi takut dan mundur. Mereka berbeda dengan sebelumnya, ketika zaman Tumenggung Widyaningrat dan Ki Jayatirta.<\/p>\n<p>Mu\u2019thi sangat tidak suka dengan orang China. Masa kecilnya memang dikenal nakal jika dihadapkan dengan orang China. Ia pernah <em>ngumpet<\/em> di Kelenteng, tempat peribadatan orang China. Ketika orang China merayakan Cap Go Meh yang melintasi kediaman abahnya. Tindakan ini dinilai tidak sopan, sehingga ia meminta teman-temannya untuk melempari orang China tersebut dengan comberan air. Hal ini membuat orang China Lasem marah besar.\u00a0 Ia juga pernah memukul orang China, dan lain-lain. Karena dianggap nakal dan selalu membikin onar bagi orang China, maka ia diburu China Lasem untuk dikasih ganjaran. Ia merasa takut, sehingga akhirnya ia pergi ke tempat yang jauh, di kediaman kakeknya, Kiai Shiddiq yang ada di Jember. Ketika datang, ia langsung diajak oleh sang kakek menunaikan ibadah haji.<\/p>\n<p><strong>Baca juga..<\/strong>.\u00a0<a href=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/mbah-mashum-lasem-ulama-kharismatik-yang-terlupakan\/\">Mbah Ma\u2019shum Lasem, Ulama Kharismatik Yang Terlupakan<\/a><\/p>\n<h2>Berganti Nama<\/h2>\n<p>Usai Menunaikan ibadah haji bersama kakeknya (Kiai Shiddiq), Mu\u2019thi namanya diganti menjadi Abdul Hamid (Haji Abdul Hamid). Diharapkan dengan ibadah haji dan mengganti nama ini, kenakalan Mu\u2019thi akan semakin berkurang, namun kenyataannya belum. Ketika ia melihat orang China yang merokok dengan congkak, maka ia tidak mau berfikir panjang, ia langsung menempeleng orang tersebut. Kasus ini membuat geger\u00a0 orang China, sehingga harus melibatkan pihak Hindia Belanda. Dari peristiwa ini, akhirnya Kiai Abdullah memerintahkan Abdul Hamid untuk mondok di Pesantren Termas yang diasuh oleh Kiai Dimyathi, adik dari Syaikh Mahfudz al-Termasi. Sebelum nyantri di Pesantren Termas, ia sempat dipondokkan abahnya di Pesantren Kasingan yang diasuh oleh Kiai Khalil ibn Harun, adik sekaligus murid dari Kiai Umar ibn Harun al-Sarani.<\/p>\n<p>Ketika mondok di Pesantren Termas, Abdul Hamid terbilang santri yang menonjol, sehingga ia dekat dengan pengasuhnya.\u00a0 Selama nyantri di pesantren ini, ia pernah dipercaya sebagai lurah pesantren. Di antara sahabat seperguruannya di Pesantren Termas adalah Kiai Ali Maksum dan Gus Hamid (putra Kiai Dimyathi). Selama kurang lebih 12 tahun, ia mengeyam pendidikan di pesantren ini, sehingga keilmuannnya menjadi <em>ta\u2019am<\/em><em>m<\/em><em>uq<\/em> (mendalam).<\/p>\n<p>Selain belajar kepada Kiai Abdullah, Kiai Khalil Kasingan, dan Kiai Dimyathi, Abdul Hamid juga pernah belajar kepada Kiai Baidlowi al-Lasemi, Kiai Ma\u2019shum Ahmad, dan lain-lain. Ia sering tirakatan seperti menjalani puasa sunnah dan membaca amalan wirid tertentu sehingga membuatnya semakin dekat dengan Rab-nya. Ia menjadi hamba pilihan-Nya. Ia dikenal sebagai waliyullah yang <em>kesuwur<\/em> (masyhur\/ terkenal), bukan hanya di tanah Jawa, namun sampai ke luar Jawa. Salah satu <em>waliyullah<\/em> luar Jawa yang beristifadah dengannya adalah Abah Guru Sekumpul yang berasal dari Martapura.<\/p>\n<h2><strong>Membina Rumah Tangga<\/strong><\/h2>\n<p>Ketika Kiai Hamid masih nyantri di Pesantren Termas, ia sudah diincar oleh Kiai Ahmad Qusyairi untuk diambil menjadi menantunya. Mulanya, ia hendak dijodohkan dengan\u00a0 putrinya yang ketiga, Nyai Maryam, namun karena ia merasa belum siap untuk menikah dan masih ingin melanjutkan belajarnya, maka pernikahan itupun akhirnya tidak jadi.<\/p>\n<p><strong>Baca juga.<\/strong>..\u00a0<a href=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/menapak-jejak-kyai-hamid-baidhowi-lasem\/\">Menapak Jejak Kiai Hamid Baidhowi Lasem<\/a><\/p>\n<p>Kiai Ahmad Qusyairi sangat mengharapkan Kiai Hamid menjadi bagian keluarganya. Ia menemukan aura kelak Kiai Hamid akan menjadi seorang ulama yang berpengaruh. Karena sang putri yang ketiga sudah dinikahkan dengan Kiai Ahmad ibn Sahal, maka iapun dinikahkan dengan adiknya Nyai Maryam, yaitu Nyai Nafisah. Pernikahan tersebut berlangsung pada 12 September 1940 yang dihadiri oleh beberapa ulama Lasem, salah satunya adalah Kiai Ma\u2019shum Ahmad.<\/p>\n<p>Dari pernikahan\u00a0 tersebut, Kiai Hamid dikaruniai enam anak, yaitu Muhammad Anas, Zainab, Muhammad Nu\u2019man, Muhammad Nasih, Muhammad, dan Muhammad Idris.<\/p>\n<p>Semenjak Kiai Hamid menjadi menantu Kiai Ahmad Qusyairi, maka ia diminta sang mertua untuk bertempat tinggal di Pasuruan. Sang mertua ini juga asalnya orang Lasem, namun karena diambil menantu oleh ulama Pasuruan, yaitu Kiai Yasin, yang merupakan salah seorang ulama terpandang di Pasuruan, maka iapun hijrah ke tempat yang diminta oleh mertuanya.<\/p>\n<p>Saat awal-awal berumah tangga, Kiai Hamid sebagaimana kebanyakan orang, yang dirundung masalah ekonomi. Namun, dalam menyikapi masalah ini, ia begitu santai. Yang penting bagi manusia adalah berusaha, jangan sampai berpangku tangan, mengharapkan pemberian orang lain. Ia mulanya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti berjualan sarung, kelapa, kedelai, dan bahkan pernah menjadi seorang broker sepeda.<\/p>\n<h2><strong>Sang Waliyullah<\/strong><\/h2>\n<p>Ketika pengasuh Pesantren Salafiyah Pasuruan, Kiai Abdullah ibn Yasin wafat (1951 M), telah terjadi sebuah kesepakatan keluarga besar Pesantren Salafiyah untuk mengangkat Kiai Hamid sebagai guru besar pesantren dengan wadifahnya sebagai pengajar, sedangkan yang menjadi nadzir adalah Kiai Aqib. Namun, karena Kiai Aqib merasa masih muda bila dibandingkan dengan Kiai Hamid, maka akhirnya ia menyerahkan urusan pondok kepada Kiai Hamid, termasuk menjadi imam di Masjid Jami\u2019. Dengan demikian, maka boleh dikata bahwa Kiai Hamid adalah pengasuh pesantren secara de facto.<\/p>\n<p>Baca juga&#8230;\u00a0<a href=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/al-ghazali-al-shaghir-dari-semarang\/\">Al-Ghazali Al-Shaghir Dari Semarang<\/a><\/p>\n<p>Ketika Pesantren Salafiyah diasuh oleh Kiai Abdullah ibn Yasin, santri yang belajar dengannya hanya sedikit. Banyak yang tidak krasan mondok di sana, sebab Kiai Abdullah ini dikenal galak dan terlalu ketat. Ia mengharamkan memelihara rambut dan wiridannya panjang-panjang. Hal ini berbeda dengan Kiai Hamid yang dikenal halus dan lentur dalam menghadapi santri. Ia sangat bersabar dalam menghadapi sebuah masalah, termasuk jika ada santrinya yang nakal. Dengan sikapnya yang seperti ini, lama-kelamaan, banyak santri yang ingin beristifadah untuk mengaji kepadanya. Jumlahnya semakin membludak.<\/p>\n<p>Mulanya ketika masih awal-awal bertempat tinggal di Pasuruan, Kiai Hamid dikenal biasa-biasa saja. Mereka sering menyebutnya Haji Hamid. Namun, setelah berkiprah penuh di pesantren, dirinya semakin istiqamah dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Allah telah menunjukkan tanda-tanda kewaliannya meskipun ia sendiri dengan semaksimal mungkin berusaha untuk menutupinya. Sinarnya semakin terang dan memancar.<\/p>\n<h2>Tanda Kewalian<\/h2>\n<p>Tanda-tanda kewalian yang terpancar dalam diri Kiai Hamid dirasakan oleh Habib Ja\u2019far. Menjelang wafatnya Habib Ja\u2019far (1945 M), cahaya kewalian Kiai Hamid semakin memancar.\u00a0 Saat ia hendak bertamu di kediaman Habib Ja\u2019far, maka sang tuan rumah kelihatan sangat sibuk sekali, sehingga sang istri merasa keheranan karena biasanya Habib Ja\u2019far tidak sesibuk ini.\u00a0 Saat sudah sampai di kediamannya, Habib Ja\u2019far memberikan Kitab Ihy\u00e2 Ul\u00fbmidin karya al-Ghazali disuruh untuk membacanya. Bukan itu saja, Habib Ja\u2019far juga menyuruhnya untuk\u00a0 menjadi imam Salat Maghrib dan Isya.<\/p>\n<p>Semakin hari, pancaran kewalian Kiai Hamid semakin ketara, sehingga terjadilah dalam dirinya sebuah karomah yang disaksikan oleh banyak orang. Ia mengetahui kejadian sebelum diketahui oleh kebanyakan orang. Dengan maziyah atau linuweh yang dimiliknya ini, maka tidak mengherankan jika kediamannya menjadi\u00a0 tempat berlabuh dari berbagai kalangan untuk mencari keberkahan.<\/p>\n<p>Menurut Kiai Maimoen Zubair bahwa\u00a0 Kiai Hamid bisa mencapai derajat tinggi, salah satu sebabnya adalah <em>birrul walidain<\/em>nya kepada kedua orang tuanya. Semua anggota keluarganya ia tata dengan begitu indahnya.<\/p>\n<h2><strong>Kembali ke Rahmatullah<\/strong><\/h2>\n<p>Kiai Hamid dikenal sebagai sosok yang sabar. Ketika ia terkena sebuah penyakit yang menimpa dirinya, ia berusaha untuk menyimpannya sendiri supaya tidak diketahui oleh orang lain, termasuk keluarganya sendiri.<\/p>\n<p>Baca juga&#8230;\u00a0<a href=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/kyai-munawir-krapyak\/\">Kyai Munawir Krapyak<\/a><\/p>\n<p>Ketika penyakit Kiai Hamid sudah semakin parah, akhirnya ia dibawa ke rumah sakit untuk dirawat secara intens. Ketika dokter yang menanganinya melihat tidak ada harapan bagi kesembuhan Kiai Hamid, akhirnya ia menyarankan agar Kiai Hamid dibawa pulang ke Pasuruan.<\/p>\n<p>Sampai di rumah, kondisi kesehatan Kiai Hamid semakin mempritahatinkan. Waktu itu, Kiai Ahmad Shiddiq, sang paman ikut serta dalam menungguinya meminta kepada Nyai Nafisah agar mandi dan mengambil air wudu, kemudian memakai pakaian yang bagus sebagai isyarat bahwa ia sudah rela jika Kiai Hamid akan meninggalkannya. Usulan tersebut dilaksanakan Nyai Nafisah. Tidak lama kemudian, Kiai Hamid kembali ke Rahmatullah dengan menyebut asma-Nya, Allah, Allah, Allah.<\/p>\n<p>Kiai Hamid kembali ke Rahmatullah pada Sabtu dini hari tanggal 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M. Jasadnya dimakamkan di kompleks makam sebelah barat Masjid Jami\u2019 Al-Anwar Pasuruan. Pesarean ini diperuntukkan bagi kalangan kiai dan habaib, seperti makam guru beliau, Habib Ja\u2019far ibn Syaikhan Assegaf, Kiai Achmad Qusyairi, dan Kiai Achmad Ibn Sahal.<\/p>\n<p>Makam Kiai Hamid sampai sekarang ramai diziarahi orang yang berasal dari berbagai daerah. Semoga kita mendapatkan keluberan berkahnya. <em>Am\u00een y\u00e2 Rabbal <\/em><em>\u2018<\/em><em>Alam\u00een<\/em>. []\n<p>Oleh : Amirul Ulum<\/p>\n<h2><strong>Referensi<\/strong> :<\/h2>\n<p>Kebangkitan Ulama Rembang : Sumbangsih untuk Nusantara &amp; Dunia Islam karya Amirul Ulum<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>kh hamid pasuruan.\u00a0 Nama KH. Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid Pasuruan begitu melegenda dalam bab&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3297,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[432,430,431],"series":[],"class_list":["post-2923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-biografi-ulama","tag-kewaliankiaihamid","tag-kiaihamidpasuruan","tag-mbahhamidpasuruan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>kh hamid pasuruan<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"kh hamid pasuruan.\u00a0 Nama KH. Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid Pasuruan begitu melegenda dalam bab kewalian. Ia dikenal dengan sosok waliyullah\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"kh hamid pasuruan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"kh hamid pasuruan.\u00a0 Nama KH. Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid Pasuruan begitu melegenda dalam bab kewalian. Ia dikenal dengan sosok waliyullah\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama\" \/>\n<meta property=\"article:author\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-09-19T05:21:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-03-11T02:03:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1198\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"700\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@center_ulama\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923\"},\"author\":{\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b\"},\"headline\":\"KH. Hamid Pasuruan\",\"datePublished\":\"2022-09-19T05:21:13+00:00\",\"dateModified\":\"2023-03-11T02:03:54+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923\"},\"wordCount\":1678,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg\",\"keywords\":[\"kewaliankiaihamid\",\"kiaihamidpasuruan\",\"mbahhamidpasuruan\"],\"articleSection\":[\"Biografi Ulama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923\",\"name\":\"kh hamid pasuruan\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg\",\"datePublished\":\"2022-09-19T05:21:13+00:00\",\"dateModified\":\"2023-03-11T02:03:54+00:00\",\"description\":\"kh hamid pasuruan.\u00a0 Nama KH. Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid Pasuruan begitu melegenda dalam bab kewalian. Ia dikenal dengan sosok waliyullah\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg\",\"width\":1198,\"height\":700,\"caption\":\"kh hamid pasuruan\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"KH. Hamid Pasuruan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/\",\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"description\":\"Melestarikan Khazanah Pemikiran dan Karya Ulama Nusantara\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization\",\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png\",\"width\":499,\"height\":499,\"caption\":\"Ulama Nusantara Center\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama\",\"https:\/\/x.com\/center_ulama\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b\",\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png\",\"caption\":\"Ulama Nusantara Center\"},\"description\":\"Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.ulamanusantaracenter.com\",\"Ulama Nusantara Center\",\"https:\/\/x.com\/Ulama Nusantara Center\"],\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"kh hamid pasuruan","description":"kh hamid pasuruan.\u00a0 Nama KH. Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid Pasuruan begitu melegenda dalam bab kewalian. Ia dikenal dengan sosok waliyullah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"kh hamid pasuruan","og_description":"kh hamid pasuruan.\u00a0 Nama KH. Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid Pasuruan begitu melegenda dalam bab kewalian. Ia dikenal dengan sosok waliyullah","og_url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923","og_site_name":"Ulama Nusantara Center","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama","article_author":"Ulama Nusantara Center","article_published_time":"2022-09-19T05:21:13+00:00","article_modified_time":"2023-03-11T02:03:54+00:00","og_image":[{"width":1198,"height":700,"url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ulama Nusantara Center","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@Ulama Nusantara Center","twitter_site":"@center_ulama","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Ulama Nusantara Center","Estimasi waktu membaca":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923"},"author":{"name":"Ulama Nusantara Center","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b"},"headline":"KH. Hamid Pasuruan","datePublished":"2022-09-19T05:21:13+00:00","dateModified":"2023-03-11T02:03:54+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923"},"wordCount":1678,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg","keywords":["kewaliankiaihamid","kiaihamidpasuruan","mbahhamidpasuruan"],"articleSection":["Biografi Ulama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923","name":"kh hamid pasuruan","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg","datePublished":"2022-09-19T05:21:13+00:00","dateModified":"2023-03-11T02:03:54+00:00","description":"kh hamid pasuruan.\u00a0 Nama KH. Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid Pasuruan begitu melegenda dalam bab kewalian. Ia dikenal dengan sosok waliyullah","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#primaryimage","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/KH.-Hamid-Pasuruan-1.jpg","width":1198,"height":700,"caption":"kh hamid pasuruan"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=2923#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"KH. Hamid Pasuruan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/","name":"Ulama Nusantara Center","description":"Melestarikan Khazanah Pemikiran dan Karya Ulama Nusantara","publisher":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization","name":"Ulama Nusantara Center","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png","width":499,"height":499,"caption":"Ulama Nusantara Center"},"image":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama","https:\/\/x.com\/center_ulama"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b","name":"Ulama Nusantara Center","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png","contentUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png","caption":"Ulama Nusantara Center"},"description":"Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik","sameAs":["http:\/\/www.ulamanusantaracenter.com","Ulama Nusantara Center","https:\/\/x.com\/Ulama Nusantara Center"],"url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2923"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2923\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3586,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2923\/revisions\/3586"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3297"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2923"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fseries&post=2923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}