{"id":388,"date":"2020-06-15T02:35:53","date_gmt":"2020-06-15T02:35:53","guid":{"rendered":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388"},"modified":"2022-10-25T00:48:16","modified_gmt":"2022-10-25T00:48:16","slug":"kh-asad-syamsul-arifin-situbondo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388","title":{"rendered":"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: <b>Luthfya Fithriani<\/b><\/strong><\/p>\n<p><strong><b>Kelahiran KH. As\u2019ad Syamsul Arifin<\/b><\/strong><\/p>\n<p>KH. As\u2019ad Syamsul Arifin merupakan anak pertama dari pasangan KH. Syamsul Arifin dan Nyai Siti Maimunah yang berasal dari Pamekasan, Madura. Beliau memiliki satu saudara (adik) yaitu bernama KH. Abdurrahman. Kiai As\u2019ad di lahirkan pada tahun 1897 di Makkah tepatnya di kampung Syi\u2019ib Ali, yang berdekatan dengan Masjidil Haram ketika kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu ke-islaman. Ada darah bangsawan pada diri Kiai As\u2019ad yang berasal dari kedua orang tuanya. Sang ayah yaitu Raden Ibrahim (KH. Syamsul Arifin) merupakan keturunan dari Sunan Kudus I, dan sang ibu Nyai Siti Maimunah yang masih mempunyai keturunan dari Sunan Ampel.<\/p>\n<p>Ketika berusia 6 tahun kedua orang tuanya membawa beliau pulang ke Pamekasan, Madura dan tinggal di pondok pesantren Kembang Kuning Pamekasan, Madura. Sedangkan adiknya, Kiai Abdurrahman yang saat itu masih berusia 4 tahun dititipkan kepada Nyai Salhah yang merupakan sepupu Nyai Siti Maimunah yang tinggal di Makkah. Setelah 5 tahun tinggal di Pamekasan, Kiai As\u2019ad diajak sang ayah untuk pindah ke pulau Jawa yang pada saat itu masih berupa hutan belantara tepatnya di daerah Asembagus, Situbondo, Jawa Timur untuk menyebarkan agama Islam. Di sana sang ayah membangun sebuah pondok pesantren sebagai tempat untuk berdakwah. Pemilihan tempat tersebut bukan tanpa alasan melainkan atas saran dua ulama dari Semarang yaitu Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah.<\/p>\n<p>Awal pembangunan pondok pesantren hanya terdiri gubuk kayu kecil, musholla, dan asrama santri yang pada saat itu masih dihuni oleh beberapa orang saja. Seiring berjalannya waktu dengan banyaknya santri yang berdatangan untuk belajar ilmu agama, maka pada tahun 1914 pesantren tersebut berkembang. Pondok pesantren tersebut dikenal dengan nama pondok pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah.<\/p>\n<p><strong><b>Masa Pendidikan KH. As\u2019ad Syamsul Arifin<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Kiai As\u2019ad sejak kecil sudah mendapatkan ilmu agama dari ayahnya yang merupakan seorang ulama. Setelah beranjak usia remaja sang ayah mengirim beliau untuk belajar di sebuah pondok pesantren tua yang didirikan tahun 1785 di Banyuanyar, Pamekasan, Madura. Selama 3 tahun belajar di pondok pesantren tersebut (1910-1913) Kiai As\u2019ad diasuh oleh KH. Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid, yang merupakan masih keturunan dari sang pendiri pondok pesantren yakni KH. Itsbat Hasan.<\/p>\n<p>Setelah selesai belajar di pondok pesantren Banyuanyar, beliau dikirim lagi oleh ayahnya ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Ketika menimba ilmu di Makkah, beliau belajar di Madrasah Salathuyah, sebuah madrasah yang sebagian besar murid dan guru-gurunya berasal dari al-Jawi (Melayu). Beliau belajar ilmu-ilmu keagaan bersama ulama-ulama terkenal, baik dari ulama al-Jawi maupun ulama Timur Tengah. Di antara guru-guru beliau adalah Syeikh Abbas Al-Maliki, Syeikh Hasan Al-Yamani, Syeikh Muhammad Amin Al-Quthbi, Syeikh Hasan A-Massad, Syeikh Bakir (Yogyakarta), Syeikh Syarif As-Sinqithi.<\/p>\n<p>Sepulangnya dari Makkah beliau tidak langsung meneruskan pondok pesantren ayahnya. Akan tetapi beliau mengembara di berbagai pondok pesantren untuk memperdalam ilmunya lagi, antara lain ponpes Tebuireng Jombang asuhan KH. Hasyim Asy\u2019ari, ponpes Demangan Bangkalan asuhan Syaikhona Kholil, ponpes Panji Buduran, ponpes Tetango Sampang, dan ponpes Sidogiri Pasuruan.<\/p>\n<p>Kiai As\u2019ad ketika <em><i>nyantri<\/i><\/em> di pondok pesantren Syaikhona Kholil yang berada di daerah Demangan, Bangkalan, Madura, beliau merupakan santri andalan Syaikhona Kholil pada saat itu. Suatu hari pada tahun 1924 M, saat Syaikhona Kholil memanggil beliau untuk ditugasi mengantarkan sebuah tongkat dengan pesan \u201cQS. Thaahaa: 18-21\u201d kepada KH. Hasyim Asy\u2019ari di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Selang beberapa bulan di akhir tahun 1924 Syaikhona Kholil kembali memanggil Kiai As\u2019ad untuk pergi ke Tebuireng menemui KH. Hasyim Asy\u2019ari untuk mengantar tasbih dan berdzikir \u201cYaa Jabbar Yaa Qohhar\u201d.<\/p>\n<p>Ketika Syaikhona Kholil memberikan tasbih itu, Kiai As\u2019ad meminta agar dikalungkan di lehernya. Beliau menjaga dengan sangat baik amanah dari sang guru dan memberikan tasbih itu kepada KH. Hasyim Asyari sebagai tanda bahwa beliau memberi restu akan berdirinya Nahdlatul Ulama. Bisa dikatakan bahwa beliau KH. As\u2019ad Syamsul Arifin adalah penyampai pesan cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).<\/p>\n<p>Sepeninggalan sang ayah KH. Raden Syamsul Arifin pada tahun 1951, kepengasuhan pondok pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah diberikan kepada Kiai As\u2019ad. Di bawah asuhan beliau pondok pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga pada tahun 1968 berdirilah sebuah Universitas Syafi\u2019iyah dengan Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah.<\/p>\n<p>Tidak berhenti sampai disitu, beliau mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1980. Kemudian kemajuan yang lainnya juga di tunjukkan pada tahun 1985 dengan berdirinya sebuah Sekolah Dasar (SD). Selang satu tahun kembali mendirikan sekolah di bidang perekonomian dengan berdirinya Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Atas (SMEA) pada tahun 1986. Dan di tahun 1990 berdiri berbagai lembaga salah satunya Lembaga Kaderisasi Fuqoha\u2019 atau yang lebih dikenal dengan nama Ma\u2019had Aliy, yang merupakan lembaga dalam rangka mengantisipasi isu krisis ulama.<\/p>\n<p><strong><b>Masa perjuangan KH. As\u2019ad Syamsul Arifin <\/b><\/strong><strong><b>M<\/b><\/strong><strong><b>elawan <\/b><\/strong><strong><b>P<\/b><\/strong><strong><b>enjajah<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Tak hanya sebagai ulama yang menyebarkan ilmu agama dan memimpin pesantren, Kiai As&#8217;ad juga turun gunung bergerilya berjuang mengusir penjajah Jepang dari Jember. Di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono yang menjadi markas utamanya, Kiai As&#8217;ad menyusun strategi dan melancarkan serangan untuk melumpuhkan penjajah, demikian seperti dikutip dari situs NU.<\/p>\n<p>Beliau memimpin para pejuang\u00a0untuk melawan\u00a0serdadu Jepang di Garahan, Kecamatan Silo. Beliau bersama pejuang lainnya bergerilya dari Sumberwringin menyusuri jalan puluhan kilometer, naik turun lembah, menembus hutan belantara dan menyeberang sungai. Gerakannya tercium musuh dan dicegat pasukan penjajah di Sungai Kramat.<\/p>\n<p>Pada masa perjuanganya, beliau bersama dengan sepupunya KH. Abdus Shomad\u00a0sempat mendapatkan kursus teknik dasar militer di Jember\u00a0pada waktu itu. Dengan modal inilah beliau bersama kiai-kiai lainnya\u00a0menyusun pergerakan yang dipadukan dengan kekuatan rakyat dan para santri.<\/p>\n<p>Sosok beliau yang berkarisma menjadikannya disegani oleh para masyarakat yang berada di kawasan Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Pasuruan. Terutama disegani oleh ketiga laskar di kawasan itu yaitu laskar Sabilillah, laskar Hizbullah, dan laskar Pelopor. Semua kiai yang berada pada laskar Sabilillah menuruti semua strategi yang di buat oleh beliau. Begitu juga dengan para santri yang berada pada laskar Hizbullah, mereka dengan senang hati mengikuti strategi pergerakan perjuangan beliau. Tak hanya kiai dan para santri saja, para rakyat termasuk para preman yang berada pada barisan laskar Pelopor juga mengikuti strategi beliau.<\/p>\n<p>Pasukan yang dipimpin oleh beliau berhadapan langsung dengan musuh. Meskipun begitu beliau bersama pasukannya bisa mengatasi para penjajah Jepang, sehingga membuat mereka lari menuju ke tengah hutan. Gerakan pasukan Kiai As&#8217;ad membuat Jepang nyalinya menciut dan akhirnya berhasil diusir tanpa peperangan di Garahan.<\/p>\n<p>Pesan KH. As\u2019ad Syamsul Arifin dalam berjuang membela negara adalah dengan niat. Niat memperjuangkan agama dan negara. Memperjuangkan agama untuk akhiratnya dan memperjuangkan negara untuk dunianya.<\/p>\n<p><strong><b>Perjuangan di Bidang Politik<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Ketika NU memutuskan untuk menjadi partai politik dan meninggalkan Masyumi pada 1952, beliau dan para ulama nusantara yang lain mengembangkan dan memperluas pengabdiannya menuju politik kenegaraan yang sebelumnya hanya fokus di politik kebangsaan dan kerakyatan. Bahkan pada 1957-1959 beliau menjadi juru kampanye\u00a0partai NU dan dipercaya mengemban amanat sebagai penasehat pribadi Wakil Perdana Menteri kala itu KH. Idham Khalid.<\/p>\n<p>Menurut beliau peran masyarakat Islam dalam mendukung partai NU dan men-<em><i>coblos<\/i><\/em>nya ketika pemilu sangatlah penting. Karena berazazkan <em><i>Ahlu Sunnah Wal Jamaah<\/i><\/em>\u00a0dan konsepsi pemikiran yang diajukan dalam sidang bersumber dari ajaran Islam serta para calon yang diajukan berasal dari ulama nasional. Alasan inilah yang menjadikan\u00a0beliau berjuang dari satu\u00a0tempat\u00a0ke\u00a0tempat lain\u00a0yang\u00a0tak lain demi membela NU di ranah politik.<\/p>\n<p>Melihat perjuangan beliau dan para kiai muda lainnya, membuat presiden Soekarno memilih beliau agar menduduki jabatan\u00a0sebagai\u00a0Menteri Agama. Namun beliau bukan seorang yang haus akan jabatan, dengan halus beliau menolak tawaran itu karena menurutnya\u00a0jabatan seperti itu bukanlah keinginannya, beliau lebih memilih memimpin sebuah pondok pesantren yang keilmuannya itu telah di wariskan oleh ayah dan guru-gurunya.<\/p>\n<p>Pengaruh Kiai As\u2019ad tentu membuat cemas para penguasa orde baru yang represif dan otoriter. Sehingga segala cara dilakukan untuk melemahkan NU. Melihat keadaan sepert ini membuat para ulama NU mengadakan Musyawarah Nasional Alim \u2018Ulama yang bertempat di pondok pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah Situbondo.<\/p>\n<p>Pada 1983 Munas menyatakan bahwa NU menerima Pancasila dan Revitalisasi Khittah 1926. Gagasan ini dikemukakan oleh KH. Achmad Shiddiq yang langsung disetujui oleh Kiai As\u2019ad karena ini dapat menjadi pukulan telak bagi penguasa orde baru yang hendak membubarkan NU dengan dalih tidak menerima Pancasila.<\/p>\n<p>Dari perjuangan beliau di bidang politik, pada 3 November 2016 beliau dianugrahi gelar sebagai Pahlwan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) RI No. 90\/TK\/Tahun 2016.<\/p>\n<p><strong><b>Karomah KH. As\u2019ad Syamsul Arifin<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Sebagai seorang kiai dan ulama besar, Kiai As\u2019ad tidak hanya menguasai banyak ilmu dari pada guru-guru dan kitab-kitab hikmahnya, Kiai As\u2019ad juga menguasai ilmu yang di anggap oleh masyarakat sebagai ilmu ghaib. Murid dari beliau pun banyak yang berasal dari kaum <em><i>bromocorah<\/i><\/em>\u00a0(preman,brandalan) yang mendalami ilmu kanugrahan, yaitu ilmu kekebalan tubuh. Ketika sesama mereka dibekali oleh sebuah pedang dan celurit untuk saling bacok, tidak ada dari mereka yang cidera sedikit\u00a0pun.<\/p>\n<p>Salah satu dari muridnya yang bernama Mabruk\u00a0dulunya seorang preman yang kemudian bergabung pada laskar Pelopor untuk menghadapi pasukan penjajah, beberapa hari telah mendalami ilmu kanugrahan tersebut beserta silat. Ia juga di suwuk (ditiup dengan do\u2019a) oleh KH. As\u2019ad Syamsul Arifin. Kemampuannya dibuktikan ketika perjalanan di daerah Dabasah yang merupakan tempat gudang senjata para penjajah. Dengan izin Allah, pasukan laskar Pelopor berhasil mengambil 24 pucuk senjata dan sejumlah amunisi\u00a0tanpa mendapatkan perlawanan sedikit\u00a0pun. Dengan ilmu ghaib yang telah dibekalkan ke pasukan laskar Pelopor tersebut oleh kiai As\u2019ad, mereka mampu masuk gudang tanpa terlihat oleh pasukan penjajah.<\/p>\n<p><strong><b>Wafatnya KH. As\u2019ad Syamsul Arifin<\/b><\/strong><\/p>\n<p>KH. As\u2019ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 di Situbondo Jawa Timur pada usia ke 93 tahun.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Luthfya Fithriani Kelahiran KH. As\u2019ad Syamsul Arifin KH. As\u2019ad Syamsul Arifin merupakan anak pertama&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3202,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[21,32,77,93,25],"series":[],"class_list":["post-388","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-biografi-ulama","tag-biografi-ulama","tag-global-press","tag-manakib-kiai","tag-pecinta-ulama","tag-ulama-nusantara-center"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo - Ulama Nusantara Center<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo - Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Luthfya Fithriani Kelahiran KH. As\u2019ad Syamsul Arifin KH. As\u2019ad Syamsul Arifin merupakan anak pertama...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama\" \/>\n<meta property=\"article:author\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-06-15T02:35:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-10-25T00:48:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1494\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@center_ulama\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388\"},\"author\":{\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b\"},\"headline\":\"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo\",\"datePublished\":\"2020-06-15T02:35:53+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-25T00:48:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388\"},\"wordCount\":1565,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"Biografi Ulama\",\"Global Press\",\"Manakib Kiai\",\"Pecinta Ulama\",\"Ulama Nusantara Center\"],\"articleSection\":[\"Biografi Ulama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388\",\"name\":\"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo - Ulama Nusantara Center\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2020-06-15T02:35:53+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-25T00:48:16+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1494},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/\",\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"description\":\"Melestarikan Khazanah Pemikiran dan Karya Ulama Nusantara\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization\",\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png\",\"width\":499,\"height\":499,\"caption\":\"Ulama Nusantara Center\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama\",\"https:\/\/x.com\/center_ulama\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b\",\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png\",\"caption\":\"Ulama Nusantara Center\"},\"description\":\"Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.ulamanusantaracenter.com\",\"Ulama Nusantara Center\",\"https:\/\/x.com\/Ulama Nusantara Center\"],\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo - Ulama Nusantara Center","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo - Ulama Nusantara Center","og_description":"Oleh: Luthfya Fithriani Kelahiran KH. As\u2019ad Syamsul Arifin KH. As\u2019ad Syamsul Arifin merupakan anak pertama...","og_url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388","og_site_name":"Ulama Nusantara Center","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama","article_author":"Ulama Nusantara Center","article_published_time":"2020-06-15T02:35:53+00:00","article_modified_time":"2022-10-25T00:48:16+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1494,"url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ulama Nusantara Center","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@Ulama Nusantara Center","twitter_site":"@center_ulama","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Ulama Nusantara Center","Estimasi waktu membaca":"9 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388"},"author":{"name":"Ulama Nusantara Center","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b"},"headline":"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo","datePublished":"2020-06-15T02:35:53+00:00","dateModified":"2022-10-25T00:48:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388"},"wordCount":1565,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg","keywords":["Biografi Ulama","Global Press","Manakib Kiai","Pecinta Ulama","Ulama Nusantara Center"],"articleSection":["Biografi Ulama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388","name":"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo - Ulama Nusantara Center","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg","datePublished":"2020-06-15T02:35:53+00:00","dateModified":"2022-10-25T00:48:16+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#primaryimage","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/15-Biografi-KH.-Asad-Syamsul-Arifin-Situbondo-scaled.jpg","width":2560,"height":1494},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=388#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Biografi KH. As\u2019ad Syamsul Arifin Situbondo"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/","name":"Ulama Nusantara Center","description":"Melestarikan Khazanah Pemikiran dan Karya Ulama Nusantara","publisher":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization","name":"Ulama Nusantara Center","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png","width":499,"height":499,"caption":"Ulama Nusantara Center"},"image":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama","https:\/\/x.com\/center_ulama"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b","name":"Ulama Nusantara Center","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png","contentUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png","caption":"Ulama Nusantara Center"},"description":"Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik","sameAs":["http:\/\/www.ulamanusantaracenter.com","Ulama Nusantara Center","https:\/\/x.com\/Ulama Nusantara Center"],"url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/388","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=388"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/388\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3203,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/388\/revisions\/3203"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=388"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=388"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=388"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fseries&post=388"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}