{"id":454,"date":"2020-06-27T01:13:55","date_gmt":"2020-06-27T01:13:55","guid":{"rendered":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454"},"modified":"2020-07-03T17:52:26","modified_gmt":"2020-07-03T17:52:26","slug":"mendidik-melalui-riyadhah-kisah-kh-mashum-mahfudhi-karanggawang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454","title":{"rendered":"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: M. Amsar Roedi<\/strong><\/p>\n<p>Di jalur jalan pantura Demak, sebelah utara jembatan Wonokerto kira-kira 4 kilometer, tepatnya di dusun Karanggawang Desa Sidorejo Sayung Demak, hiduplah seorang yang bernama Kiai Ahmad Yasir. Beliau mempunyai dua orang istri yaitu Nyai Aminah dan Nyai Hafshah. Kiai Yasir adalah seorang tokoh agama di Karanggawang. Merupakan tokoh yang memprakarsai berdirinya masjid Al-Amin di Dusun Karanggawang yang masih dapat kita lihat saat ini. Seperti orang-orang pada masa itu, Kiai Yasir bekerja sebagai seorang petani mengolah sawah untuk membiayai kehidupan keluarganya.<\/p>\n<p>Jum\u2019at, 5 Ramadhan 1347 H\/15 Februari 1929 adalah hari yang bahagia bagi Kiai Yasir, karena saat itu Nyai Aminah melahirkan seorang anak yang kelak akan mengharumkan nama keluarga dan nama Karanggawang. Bayi laki-laki tersebut diberi nama Ma\u2019shum Mahfudhi. Secara harfiyah, kedua lafadz tersebut memiliki kesamaan makna. Lafadz <em>Ma\u2019shum<\/em> memiliki makna \u2018yang terpelihara\u2019, namun lafadz ini berkaitan dengan sifat Nabi. Sementara lafadz <em>Mahfudh<\/em> juga memiliki makna \u2018yang terpelihara\u2019 namun dituju\u00adkan kepada para wali Allah. Tampaknya kedua lafadz tersebut kelak semakin meneguhkan pribadi dan karakter Kiai Ma\u2019shum sebagai ulama\u2019 yang terpelihara dari sifat-sifat tercela.<\/p>\n<p>Kiai Yasir dikarunia 5 anak, yaitu Abdullah Zaini, Ma\u2019shum Mahfudhi dan Sholihul Hadi yang berasal dari istri pertamanya, Nyai Aminah. Sementara dari istri kedua, Nyai Hafshah memiliki anak Khomsatun dan Syahid.<\/p>\n<p>Ada pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika dilihat dari sisi nasab, pepatah tersebut berlaku bagi keluarga Ma\u2019shum Mahfudhi. Ayahnya, Kiai Yasir adalah putra dari Kiai Tobri bin Kiai Rofi\u2019i bin Mustofa Singodrono. Singodrono sendiri adalah salah satu abdi Kerajaan Mataram. Pada zaman penjajahan dulu, Mbah Singodrono bersama temannya dikejar-kejar oleh tentara Belanda. Saat pengejaran itulah mereka berpisah dan Singodrono memilih untuk berkelana dan menempati daerah yang dinamakan Desa Babadan Kecamatan Sayung. Kemudian salah satu keturunannya pindah daerah Sidorejo.<\/p>\n<p><strong>Menuntut Ilmu<\/strong><\/p>\n<p>Ma\u2019shum kecil tumbuh sebagaimana anak pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa kelak dia akan menjadi tokoh besar. Hanya saja, kedua orang tuanya sangat memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya. Ma\u2019shum kecil beserta saudara-saudaranya mulai dari kecil sudah belajar membaca al-Qur\u2019an dari ayah dan ibunya. Selain itu, Ma\u2019shum juga diperintahkan untuk mengaji di kediaman K. Nawawi, seorang Kyai ter\u00adpandang di Kuripan Sidorejo, sebuah Dusun di sebelah timur Karanggawang.<\/p>\n<p>Namun upaya Kiai Yasir membimbing anak-anaknya mengenal agama terhenti saat Ma\u2019shum kecil berumur 12 tahun. Tepatnya tanggal 20 Rajab 1362 H Mbah Yasir meninggal dunia. Praktis, saat itulah Ma\u2019shum beserta saudara-saudara\u00adnya menyandang gelar yatim. Semua kebutuhan keluarga dan pendidikan ditangani oleh ibu mereka masing-masing. Oleh Nyai Aminah, Ma\u2019shum kecil kemudian diantarkan ke Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen untuk belajar agama di hadapan KH. Mushlih, seorang tokoh di Jam\u2019iyah Ahlit Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN).<\/p>\n<p>Selama di Mranggen, Ma\u2019shum belajar ilmu dasar selama kurang lebih enam tahun. Ilmu-ilmu yang dipelajari Ma\u2019shum kecil di Mranggen adalah fiqih, tajwid, nahwu, sharaf, bahasa Arab, tauhid, akhlak dan lain-lain. Menurut beberapa teman seperjuangan, Ma\u2019shum dikenal sebagai santri yang rajin muthalaah dan riyadhah puasa.<\/p>\n<p>Di pondok Futuhiyah, suasana belajar Ma\u2019shum sangat berat karena pada saat itu adalah masa proklamsi kemerdekaan Indonesia. Tidak jarang wilayah Mranggen dihujani bom oleh penjajah karena saat itu KH. Muslih adalah salah satu kiai yang menentang keras penjajah.<\/p>\n<p>Setelah ilmu yang didapat terasa cukup, Ma\u2019shum kecil kemudian melanjutkan pendidikannya ke sejumlah pesantren. Beberapa pesantren yang pernah disinggahi belajar adalah Pesantren Bareng Kudus, Pesantren Pondowan, Pati dan Pesantren Darul Hikam Bendo, Pare, Kediri.<\/p>\n<p>Pesantren Bareng Kudus saat itu diasuh oleh KH. M. Yasin, mujiz Dalail al-Khairat di Indonesia. Ma\u2019shum sendiri mulai mondok di pesantren Mbah Yasin se\u00adkitar tahun 1947. Beliau mengaji, selama kurang lebih tiga tahun. Dari gurunya ini, Ma\u2019shum menerima ijazah Dalail al-Khairat dan Kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilany yang dijalani melalui riyadhah puasa. Dan bahkan bukan hanya itu, di Pesantren yang dikenal sebagai pesantren riyadhah ini, tidak sedikit ijazah yang diterima Ma\u2019shum dari KH. Yasin.<\/p>\n<p>Dari pesantren Bareng Kudus, Ma\u2019shum meneruskan pendidikannya ke pesantren Pondowan Pati yang diasuh oleh KH. Muhammadun. Di hadapan Mbah Madun, Ma\u2019shum memperdalam ilmu tauhid, nahwu, sharaf, fiqh, balaghah, ushul fiqh, tafsir dan ta\u00adsawuf. Pada bidang nahwu, Mbah Madun yang dikenal sebagai Sibawaih Jawa, begitu telaten mengajar santri-santrinya. Misalnya saat membaca sebuah kitab, beliau sering mencontohkan aplikasi ilmu nahwu.\u00a0 Jadi setiap membaca, ke\u00admudian pembacaan kitab berhenti sejenak guna untuk mem\u00adbedah lafadz yang bersangkutan dalam segi nahwu, sambil mengingatkan santri pada pelajaran nahwu yang sudah lewat. Hal ini beliau lakukan supaya santri-santrinya memahami nahwu tidak hanya sebatas teori saja tapi juga aplikasinya dalam struktur bahasa Arab.<\/p>\n<p>Kepada KH. Muhammadun, Ma\u2019shum mengaji selama kurang lebih dua tahun lantas kembali ke tempat kelahirannya, Karanggawang. Kiai Ma\u2019shum kemudian mengajar agama di masjid Al-Amin dan menikah dengan seorang gadis bernama Hikmah. Namun beberapa saat setelah menikah, konon pada suatu malam kiai Ma\u2019shum bermimpi bertemu dengan ayahnya, Kyai Yasir. \u00a0Saat itu ayahnya memerintahkan Ma\u2019shum untuk belajar lagi karena apa yang sudah dia dapat masih belum cukup dalam memuliakan agama Islam.<\/p>\n<p>Maka Kiai Ma\u2019shum menceraikan istrinya dan lantas melanjutkan belajarnya ke Pesantren Darul Hikam Bendo, Pare, Kediri yang diasuh oleh KH. Muhaji, murid Syaikhona Kholil Bangkalan Madura yang dikenal memiliki banyak keramat dan luas keilmuannya. Seorang ulama yang berhasil menelurkan sejumlah kiai besar di seantero Jawa.<\/p>\n<p>Di Bendo Ma\u2019shum memperdalam ilmu tasawuf dan fiqih. Kitab-kitab yang dikaji di hadapan Kyai Muhajir antara lain <em>Ihya\u2019 Ulumiddin<\/em>, <em>Mahalli<\/em>, <em>Fathul Wahab<\/em>, <em>Fathul<\/em> <em>Mu\u2019in<\/em>, <em>Bajuri<\/em>, <em>Taqrib<\/em>, dan kitab-kitab kecil lainnya. Di sana Ma\u2019shum bertemu dan berdiskusi dengan teman santrinya yang berasal dari ber\u00adba\u00adgai daerah yang memiliki berbagai macam keutamaan masing-masing. Ma\u2019shum sendiri dikenal sebagai santri yang gemar <em>riyadhah.<\/em> Ada banyak teman seperjuangan Ma\u2019shum saat mondok di Bendo, antara lain adalah Kyai Sahal Mahfud Kajen, KH. Abuya Dimyathi Banten, Kyai Mas\u2019ud Cilacap, KH. Syam\u2019ani, Jember, KH. Salman Dahlawi Popongan Klaten dan lain-lain.<\/p>\n<p>Di mata teman-temannya, Ma\u2019shum merupakan sosok santri yang <em>khusyuk<\/em> dan <em>wira\u2019i<\/em>. Konon, ia pernah \u2018ditantang\u2019 salah seorang temannya untuk mendoakan agar segera mendapat kiriman uang. Padahal zaman dulu, sangat jarang sekali seorang santri mendapat kiriman bekal dari rumah karena perekonomian sangat sulit. Temannya tersebut bersedia memberi imbalan jika permintaannya tersebut bisa ter\u00adwujud. Benar juga, setelah didoakan Ma\u2019shum, selang beberapa saat ternyata ada kiriman untuk temannya tersebut. Alhasil Ma\u2019shum mendapatkan apa yang dijanjikan kepadanya.<\/p>\n<p>Di sela-sela mondok di Bendo, Kiai Ma\u2019shum menyempatkan pergi ke berbagai daerah di Jawa Timur untuk tabarrukan kepada para kiai. Salah satunya adalah Kyai Ma\u2019ruf Kedonglo Kediri. Dari Syekh Ma\u2019ruf lah beliau menerima sanad ijazah Puasa al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p><strong>Mendirikan Pesantren dan Kisah Pernikahan<\/strong><\/p>\n<p>Pada tahun 1958, Kiai Ma\u2019shum pulang dari Bendo Pare Kediri. Beliau segera menyebarkan ilmunya dengan mengajar mengaji anak-anak kampung di masjid Al-Amin. Selang beberapa waktu, datanglah enam santri dari Madiun secara bergantian. Usut punya usut ternyata mereka mendapat amanat dari almarhum guru mereka untuk menuntut ilmu kepada Kiai Ma\u2019shum. Selain mereka juga ada beberapa santri dari desa sekitar. Kiai Ma\u2019shum kemudian membangun pesantren di lahan peninggalan ayahnya, sebelah timur kurang lebih 200 meter dari masjid Al-Amin. Pondok Pesantren tersebut kemudian dinamakan Fathul Huda.<\/p>\n<p>Setelah <em>ngrumat<\/em> pesantren selama kurang lebih enam tahun, barulah Kiai Ma\u2019shum menikahi seorang perempuan ber\u00adnama Sayyidah, putri KH. Umar, seorang ulama Undaan Kidul Karanganyar Demak yang pernah mukim di Mekah.<\/p>\n<p>Pernikahan Kiai Ma\u2019shum dengan Sayyidah di\u00adlak\u00adsanakan pada hari Senin Wage, tanggal 26 Agustus 1963, ber\u00adte\u00adpatan dengan 6 Rabiul Tsani 1382 bertempat di Undaan Kidul Karanganyar Demak. Saat itu Kiai Ma\u2019shum berusia 35 tahun, sedangkan Sayyidah berusia 21 tahun.<\/p>\n<p>Pasangan Kiai Ma\u2019shum dan Nyai Sayyidah dikaruniai tujuh orang anak, yaitu KH. M. Zainal Arifin Ma\u2019shum, Hj. Nur Izzah Ma\u2019shum, Ainistiqamah Ma\u2019shum (wafat saat kecil), Hj. Nur Aliyah Ma\u2019shum, KH. Luthfin Najib Noor Ma\u2019shum, Gus M. Badruddin Ma\u2019shum dan Gus Abdul Lathif Ma\u2019shum. Kelak, KH. M. Zainal Arifin Ma\u2019shum meneruskan perjuangan Kiai Ma\u2019shum mengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda. Sementara adiknya, KH. Luthfin Najib Noor Ma\u2019shum mendirikan pondok pesantren \u00a0di sebelah utara masjid Al-Amin yang diberi nama Pondok Pesantren Ar-Riyadh.<\/p>\n<p>Semakin lama, santri Kiai Ma\u2019shum semakin bertambah. Tidak hanya dari Demak, Jawa Tengah, ada yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat dan luar Jawa. Perlahan tapi pasti, Pondok Pesantren Fathul Huda mengalami perkembangan yang signifikan.<\/p>\n<p>Selain pengajian kitab kuning di pondok dan madrasah diniyah, Kiai Ma\u2019shum juga membuka pendidikan formal mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan saat ini putranya, KH. M. Zainal Arifin Ma\u2019shum tengah merencanakan pendirian perguruan tinggi.<\/p>\n<p><strong>Menjadi Mursyid<\/strong><\/p>\n<p>Tarekat yang dijalani Kiai Ma\u2019shum adalah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dia pelajari dari KH. Muslih Mranggen. Oleh KH. Muslih, Kiai Ma\u2019shum diangkat menjadi mursyid yang kemudian diberikan ijin untuk mengembangkan dan mengajarkan Thoriqoh kepada masya\u00adra\u00adkat. Tempat pengajian tarekat berpusat di masjid pondok pesantren Fathul Huda. Semenjak membuka pengajian ini, sudah ada ribuan orang yang berbaiat dan mengikuti pengajian tarekat beliau, baik dari Demak maupun luar kota. Juga ada yang dari luar jawa. Diantaranya adalah KH. Sulaiman Thoha (Ngawi), \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 KH. Yasin Masyhadi (Demak), \u00a0KH. M. Zainal Arifin Ma\u2019shum (Demak), KH. Abdul Muhid (Maluku), KH. Mahfud (Sumatera Selatan), KH. Ali Utsman Dahlan (Jambi) dan lain-lain.<\/p>\n<p><strong>Mendidik Melalui Riyadhah<\/strong><\/p>\n<p>Semenjak kecil saat belajar di Pondok Futuhiyah Mranggen, Kiai Ma\u2019shum sudah sudah mulai menjalani laku riyadhah puasa sepanjang hari. Riyadhah ini dijalani hingga akhir masa hayatnya. Beliau layak disebut sebagai ahli riyadhah lantaran selama lebih dari tiga perempat umurnya beliau habiskan untuk menjalani puasa dan berdzikir.<\/p>\n<p>Syekh Ma\u2019shum berhasil mendidik santri-santrinya karena kedalaman ilmu, akhlak mulia dan keikhlasan. Wajar bila banyak santri Syekh Ma\u2019shum menjadi \u201corang\u201d sekembalinya ke rumah. Metode mendidik yang diterapkan Syekh Ma\u2019shum sebenarnya sangat sederhana tapi membuahkan hasil yang sangat luar biasa.<\/p>\n<p><em>Pertama<\/em>, memahami kitab kuning. Kitab kuning yang membahas bidang ilmu nahwu, sharaf, fiqh, ushul fiqh, hadits, tafsir, tasawuf dan sebagainya semua beliau ajarkan. Tahap awal yang dilakukan beliau adalah mengajarkan ilmu alat yaitu ilmu nahwu dan sharaf. Kepada para santri, Syekh Ma\u2019shum mewajibkan meng\u00adhafal kedua ilmu tersebut di luar kepala.<\/p>\n<p>Tahap selanjutnya setelah menguasai ilmu alat adalah memahami isi kitab kuning. Pada tahap ini sistem <em>bandongan<\/em> dan <em>sorogan<\/em> beliau lakukan. Selain belajar kepada Syekh Ma\u2019shum, para santri juga memliki kesempatan berdiskusi dengan santri lain dalam musyawarah yang membahas isi kitab kuning. Tahap terakhir adalah mempersiapkan santri me\u00adnye\u00adbar\u00adkan ilmu dengan cara mengkader santri senior untuk meng\u00adajar santri yunior.<\/p>\n<p><em>Kedua<\/em>, Syekh Ma\u2019shum mendorong santri-santrinya untuk melaksanakan shalat berjamaah. Shalat berjamaah sebanyak lima kali dalam sehari. Beliau meyakinkan bahwa seseorang yang rajin melanggengkan shalat berjamaah, pasti akan mendapat keberkahan dalam hidup.<\/p>\n<p><em>Ketiga,<\/em> melatih riyadhah. Selain mewajibkan santri-santrinya belajar yang tekun dan giat, Syekh Ma\u2019shum juga mendorong mereka untuk melakukan riyadhah. Bagi beliau, belajar saja belum cukup. Seorang santri juga harus melakukan riyadhah puasa agar ilmu yang telah mereka kuasai dapat menjadi ber\u00adkah dan manfaat.<\/p>\n<p>Para santri dianjurkan untuk melakukan riyadhah puasa mulai dari Manaqib Syekh Abdul Qadir selama 40 hari, puasa Al-Qur\u2019an selama satu tahun dan puasa Dalail al-Khairat selama tiga tahun. Selain ketiga macam puasa tersebut, Kiai Ma\u2019shum juga menganjurkan puasa-puasa lainnya. Tak heran jika banyak santri Kiai Ma\u2019shum yang tidak makan minum saat siang hari. Ijazah-ijazah wirid juga tak luput dari pendidikan yang diajarkan Kiai Ma\u2019shum kepada santri-santrinya.<\/p>\n<p><em>Keempat,<\/em> menggembleng mental santri seperti mu\u00adja\u00adhadah, zuhud, sabar dan qanaah. Gemblengan seperti ini biasanya disampaikan kepada santri senior dalam sebuah pengajian kitab atau di saat kesempatan sowan.<\/p>\n<p><strong>Kiprah Kiai Ma\u2019shum<\/strong><\/p>\n<p>Di sela-sela perjuangan mendirikan pesantren, Kiai Ma\u2019shum juga aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Karena kealiman dan ketokohannya, pada sekitar tahun 1970 sampai 1980 beliau diberi amanah sebagai Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWC NU) Sayung. Kemudian pada tahun 1985 beliau diberi amanah sebagai Mustasyar Pegurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Demak hingga wafat.<\/p>\n<p>Ketika NU menjadi partai politik, beliau merupakan tokoh NU yang gigih dalam berjuang di tengah intimidasi dari partai penguasa. Selanjutnya saat partai NU berfusi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 5 Januari 1973, Kiai Ma\u2019shum pun masuk ke dalam PPP. Kemudian setelah NU melaksanakan muktamar ke-27 di Situbondo dan memutuskan untuk kembali ke khittah 26, beliau lantas masuk di partai Golkar. Kiprah beliau di partai Golkar berakhir pada era reformasi dengan lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan oleh para kiai NU. Dalam kepengurusan di DPC PKB Demak, Kiai Ma\u2019shum menjabat sebagai penasehat partai hingga wafat.<\/p>\n<p><strong>Menghadap Sang Pencipta<\/strong><\/p>\n<p>Senin 24 Rajab 1426 H atau 29 Agustus 2005 adalah hari terakhir Kiai Ma\u2019shum di dunia. Ya, kiai yang menjadi kebanggaan Demak ini menghembuskan nafas terakhirnya di kediaman beliau setelah sebelumnya mengalami gangguan pernafasan. Kiai yang dikenal sebagai gudang ijazah ini meninggal dalam usia 76 tahun. Pagi hari setelah kabar duka menyebar, ribuan pelayat mendatangi komplek Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang. Keluarga, alumni, para muhibbin seakan tidak rela melepas kepergian Kiai Ma\u2019shum saat itu.<\/p>\n<p>Jenazah Kiai Ma\u2019shum dimakamkan di samping makam orang tuanya dan temannya, KH. Abdullah Rifa\u2019i, Cebolek Pati di pemakaman umum Dusun Kuripan Desa Sidorejo.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: M. Amsar Roedi Di jalur jalan pantura Demak, sebelah utara jembatan Wonokerto kira-kira 4&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":456,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[101,82,93,25],"series":[],"class_list":["post-454","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-biografi-ulama","tag-biografi-uama","tag-globalpress","tag-pecinta-ulama","tag-ulama-nusantara-center"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang - Ulama Nusantara Center<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang - Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: M. Amsar Roedi Di jalur jalan pantura Demak, sebelah utara jembatan Wonokerto kira-kira 4...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama\" \/>\n<meta property=\"article:author\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-06-27T01:13:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-07-03T17:52:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1084\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"980\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@Ulama Nusantara Center\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@center_ulama\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ulama Nusantara Center\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"11 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454\"},\"author\":{\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b\"},\"headline\":\"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang\",\"datePublished\":\"2020-06-27T01:13:55+00:00\",\"dateModified\":\"2020-07-03T17:52:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454\"},\"wordCount\":2160,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg\",\"keywords\":[\"Biografi Uama\",\"Globalpress\",\"Pecinta Ulama\",\"Ulama Nusantara Center\"],\"articleSection\":[\"Biografi Ulama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454\",\"name\":\"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang - Ulama Nusantara Center\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg\",\"datePublished\":\"2020-06-27T01:13:55+00:00\",\"dateModified\":\"2020-07-03T17:52:26+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg\",\"width\":1084,\"height\":980},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/\",\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"description\":\"Melestarikan Khazanah Pemikiran dan Karya Ulama Nusantara\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization\",\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png\",\"width\":499,\"height\":499,\"caption\":\"Ulama Nusantara Center\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama\",\"https:\/\/x.com\/center_ulama\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b\",\"name\":\"Ulama Nusantara Center\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png\",\"caption\":\"Ulama Nusantara Center\"},\"description\":\"Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.ulamanusantaracenter.com\",\"Ulama Nusantara Center\",\"https:\/\/x.com\/Ulama Nusantara Center\"],\"url\":\"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang - Ulama Nusantara Center","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang - Ulama Nusantara Center","og_description":"Oleh: M. Amsar Roedi Di jalur jalan pantura Demak, sebelah utara jembatan Wonokerto kira-kira 4...","og_url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454","og_site_name":"Ulama Nusantara Center","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama","article_author":"Ulama Nusantara Center","article_published_time":"2020-06-27T01:13:55+00:00","article_modified_time":"2020-07-03T17:52:26+00:00","og_image":[{"width":1084,"height":980,"url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ulama Nusantara Center","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@Ulama Nusantara Center","twitter_site":"@center_ulama","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Ulama Nusantara Center","Estimasi waktu membaca":"11 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454"},"author":{"name":"Ulama Nusantara Center","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b"},"headline":"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang","datePublished":"2020-06-27T01:13:55+00:00","dateModified":"2020-07-03T17:52:26+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454"},"wordCount":2160,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg","keywords":["Biografi Uama","Globalpress","Pecinta Ulama","Ulama Nusantara Center"],"articleSection":["Biografi Ulama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454","name":"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang - Ulama Nusantara Center","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg","datePublished":"2020-06-27T01:13:55+00:00","dateModified":"2020-07-03T17:52:26+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#primaryimage","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg","contentUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/KH.-MA\u2019SHUM-MAHFUDHI-KARANGGAWANG.jpg","width":1084,"height":980},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?p=454#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mendidik Melalui Riyadhah Kisah KH. Ma\u2019shum Mahfudhi Karanggawang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#website","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/","name":"Ulama Nusantara Center","description":"Melestarikan Khazanah Pemikiran dan Karya Ulama Nusantara","publisher":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#organization","name":"Ulama Nusantara Center","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Logo_UNC-removebg-preview.png","width":499,"height":499,"caption":"Ulama Nusantara Center"},"image":{"@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/nusantaraulama","https:\/\/x.com\/center_ulama"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/0d16f51e8c9769709761f2a45aa2e36b","name":"Ulama Nusantara Center","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png","contentUrl":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/cropped-Logo-Ulama-Nusantara-Center-2-96x96.png","caption":"Ulama Nusantara Center"},"description":"Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik","sameAs":["http:\/\/www.ulamanusantaracenter.com","Ulama Nusantara Center","https:\/\/x.com\/Ulama Nusantara Center"],"url":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/454","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=454"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/454\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":499,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/454\/revisions\/499"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/456"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=454"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=454"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=454"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulamanusantaracenter.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fseries&post=454"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}