Oleh: Millatul Miskiyyah

Prinsip agama Islam belakangan ini mendapatkan sorotan tajam dari berbagai kalangan. Lantas hal ini sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang euphobia Islam. Sebagian sorotan tersebut ada yang menganggap bahwa Islam adalah agama kekerasan, teroris, anarkis, dan sebagainya. Bagi mereka yang  memiliki sikap netral dan pemikiran objektif tentu tidak membenarkan anggapan keliru tersebut, karena Islam jauh dari segala bentuk kekerasan, terorisme, dan anarkisme. Islam merupakan agama yang masuk akal dan sejalan dengan fitrah hati nurani manusia.

Agama Islam sendiri mengandung berbagai ajaran yang sangat mulia. Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang memberikan perdamaian, keselamatan, dan ketentraman bagi seluruh alam. Derajat manusia dalam pandangan Islam itu sama, tidak ada diskriminasi yang terselip sedikit pun. Lalu jika ada yang bertanya: “Apa esensi Islam sebenarnya ?”, tentu jawabannya; “Islam adalah agama rahmatanlil ‘aalamiin agama kedamaian (agama salam) untuk seluruh apa saja yang ada di alam, maka tidak ada perdamaian tanpa adanya Islam”.

Esensi perdamaian ini dapat dilihat dari prinsip Islam yang mudah, moderat, dan fleksibel. Dimana Islam sepenuhnya mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, baik individu maupun sosial. Rasulullah SAW bersabda:

إنَّ هَذَا الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أحَدٌ إلَّا غَلَبَهُ فَشَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَيَسِّرُوا وَاسْتَعِيْنُوا بِالغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدَّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak seorang pun yang melaksanakan agama ini dengan keras dan ketat, kecuali akan dikalahkan olehnya. Carilah kebenaran, saling mendekatlah, berilah kabar gembira, mudahkanlah. Ambillah sedikit kemudahan, kelapangan, dan kelembutan.”

Jika seseorang telah ber-Islam, berarti telah bersedia untuk menjadi orang yang selalu mencintai kemudahan, kedamaian, dan ketentraman. Sehingga kedamaian tersebut dapat dibawa dalam kehidupan individu maupun bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam menjalankan kehidupan, manusia dianugerahi atau diamanahi oleh Allah SWT sebagai khalifah fil ardh dengan misi menjaga bumi dari segala bentuk kerusakan dan kekerasan. Untuk menjalankan misi tersebut, Islam hadir sebagai penyelamat dunia yang membawa kedamaian dan manusia sebagai penggeraknya. Oleh karenanya, Islam agama damai memiliki nilai prinsip dan ideologi yang tidak membenarkan segala bentuk kekerasan, radikalisasi ideologi yang digunakan demi mencapai tujuan politik.

Hal ini dapat kita lihat dari figur Rasulullah SAW saat menyampaikan pesan dakwah kepada penduduk Makkah, dimana Rasulullah SAW ketika itu sering ditentang, dicemooh, dimusuhi, bahkan Rasulullah SAW hampir saja dibunuh oleh kaum kafir Quraisy. Namun hal tersebut tidak menjadikan Rasulullah SAW membenci mereka, atau bahkan memusuhi mereka. Justru Rasulullah SAW senantiasa mendoakan mereka agar diberi petunjuk tentang kebenaran agama Islam.

Dalam memegang teguh nilai toleransi beragama, terdapat prinsip Islam yang tercermin pada sikap Rasulullah SAW saat diminta untuk mengikuti agama Kaum Kafir Quraisy. Namun Rasulullah SAW menolak permintaan mereka dengan sikap penolakan yang lembut, seraya mengatakan firman Allah SWT, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan kedamaian. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an:

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

“Dan tidaklah Kami mengutuskamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (Q.S. Al-Anbiya’: 107)

Dalam penggalan ayat di atas menunjukkan kalau rahmat kasih sayang Allah SWT tidak hanya berlaku untuk umat Islam saja, tetapi juga berlaku untuk seluruh umat manusia di seluruh alam semesta. Tanpa membedakan suku, ras, agama, dan sebagainya. Rasulullah SAW dikatakan sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam karena beliau merupakan perantara dimensi ketuhanan yang ditujukan untuk seluruh umat manusia dan alam semesta. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Qayyum dalam karyanya Miftah as-Sa’adah “Andai saja tidak ada risalah kenabian, maka di alam ini tidak akan ada satu pun ilmu yang bermanfaat, kebaikan, serta keadilan. Kedudukan manusia bagaikan ternak yang selalu bermusuhan”. Hal ini menunjukkan bahwa peran Rasulullah SAW sebagai pembawa perdamaian sangatlah penting dalam kehidupan seluruh umat manusia di dunia. Sehingga diibaratkan jikalau tidak ada risalah kenabian maka manusia seperti halnya ternak, dimana mereka hidup dengan tanpa aturan, saling menang sendiri, dan tidak ada kedamaian yang dirasakan.

Oleh karenanya, kita sebagai umat Rasulullah SAW, nabi pembawa perdamaian, hendaknya kita pun juga mampu menebar perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita sebagai umat Islam yang hidup di bumi Nusantara ini tidak boleh egois untuk selalu mengunggul-ngunggulkan nama Islam, apalagi melakukan tindak kekerasan demi mengunggulkan kepentingan Islam sendiri. Ya, dalam menciptakan perdamaian pun banyak hal yang dapat kita lakukan, di antaranya kita bersikap toleransi antar umat beragama, menjunjung tinggi nilai keadilan terhadap siapa pun, hidup dalam kerukunan, saling tolong-menolong dalam kebaikan, dan menghindari perpecahan. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 103: “Dan berpegang lah kamu sekalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”