Oleh: Ni’amul Qohar

Nabi Muhammad s.a.w di usia 40 tahun telah menerima wahyu ketika berkhalwat (mengasingkan diri) di Gua Hira. Peristiwa ini menjadi tanda, bahwa beliau telah diangkat menjadi rasul atau nabi akhir zaman. Tugasnya sebagai utusan Allah s.w.t yaitu untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Perjuangan dakwahnya dimulai dari keluarga atau kerabat terdekat agar memeluk agama Islam. Jumlah para pengikutnya pada periode ini masih sangatlah sedikit, dari golongan yang memiliki status sosial yaitu Siti Khadtijah, Ali ibn Abi Thalib, Zaid ibn Haritsah, dan Abu Bakar as-Shiddiq. Terdapat pula golongan yang tidak memiliki status sosial seperti Bilal, Khubab, Ammar bin Yasir dan lain sebagainya. Mereka semua di himpun oleh Rasulullah s.a.w untuk belajar bersama tentang  ayat-ayat Al-Qur’an. Serta menerima penjelasan-penjelasan mengenai dasar-dasar keimanan. Setelah itu seiring adanya petunjuk dari Allah s.w.t, dakwah beliau mulai ke lingkup yang lebih luas lagi (secara terang-terangan).

Perjalanan dakwah beliau selama 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah telah memberikan banyak teladan bagi kita sebagai umat Islam. Dakwah yang diawali dengan sembunyi-sembunyi sampai terang-terangan ini telah menyuguhkan banyak pelajaran. Rasulullah s.a.w berdakwah dengan penuh kasih sayang, lembut dan tidak menggunakan kekerasan. Jadi bukan hanya sekedar melalui lisan saja cara berdakwah beliau, tetapi juga melalui teladan perilaku yang baik dan penuh kasih sayang. Lantas jika beliau berperilaku seperti tersebut mengapa ada peperangan dalam penyebaran agama Islam ?.

Mengenai permasalahan peperangan beliau nabi ketika masih berada di Mekkah tidak menggunakan metode ini dalam berdakwah. Hingga memasuki kota Madinah juga tidak menggunakan jalan peperangan. Ketika banyak kafir Quraish yang menyerangnya, beliau hanya membalasnya dengan kebaikan dan kesabaran. Sehingga ketika sudah melakukan hijrah turunlah sebuah ayat yang diperbolehkannya untuk berperang. Hal ini disebabkan karena maraknya penyiksaan kaum kafir Quraish kepada kaum muslim seperti Asmar, Bilal, Yasir, Abu Bakar dan Rasulullah s.a.w. Peristiwa tersebut menjadi asbabun nuzul turunnya ayat untuk berperang. “Telah diizinkan berperang kepada mereka yang diperangi, oleh karenanya mereka sesungguhnya dianiaya, dan sesungguhnya allah amat maha berkuasa menolong mereka” (QS. Al-Hajj (22): 39-40). Ayat ini menjadi landasan kaum muslim untuk melawan kedholiman kafir Quraish.

Rasulullah s.a.w dalam melakukan perang telah memberikan teladan yang sangat baik tentang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Hal ini juga dilakukan oleh para sahabatnya yaitu ketika mengirimkan ekspedisi selalu berpesan bahwa seandainya mereka bertemu dengan orang tua, perempuan, anak-anak, gereja-gereja, sinagog-sinagog, orang yang sedang beribadah di dalamnya, maka mereka diminta agar tidak sekali-kali mengganggunya. Orang-orang Islam tidak pernah menggunakan istilah (qahr) yang artinya penaklukan, tetepi pembebasan (fath).

Beliau dengan para sahabat melakukan peperangan melawan musuh tidak sama sekali bermaksud untuk mendapatkan harta benda, meregut nyawa, membinasakan manusia maupun memaksa manusia agar memeluk agama Islam. Satu-satu tujuan yang hendak beliau gapai dari peperangan adalah menciptakan kebebasan yang utuh bagi manusia dalam masalah aqidah dan agama tanpa adanya penyiksaan atau penindasan. Allah s.w.t telah berfirman “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dam barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (QS. Al-Kahfi (18): 29).

Kemenangan di Makkah (Futuh Makkah) dalam Al-Qur’an dinilai sebagai Fathan Mubina artinya kemenangan paripurna (QS. Al-Fath (48): 1). Kata tersebut juga berpengaruh terhadap Nusantara yaitu pada waktu kebangkitan Sultan Demak yang dipimpin oleh Sultan Fatah. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati bersama menantunya Fatahillah atau Falatehan berhasil mengusir kerajaan Katolik Portugis dari Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527 M atau 22 Ramadhan 933 H. Kemenangan ini memiliki arti bahwa Wali Sango berhasil menggagalkan Imperialisme Katolik yang akan melanggengkan penjajahan di Nusantara. Hal tersebut disyukuri dengan mengganti nama Pelabuhan Kelapa dengan Fathan Mubina atau Jayakarta sekarang Jakarta yang artinya kemenangan Paripurna.

Ajaran Islam yang dibawakan oleh beliau nabi Muhammad s.a.w sangat mengedepankan kasih sayang dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Adapun adanya sebuah peperangan itu hanya sebagai bentuk perlawanan umat Islam terhadap suatu kedholiman. Bahkan dalam Al-Qur’an sendiri menggunakan redaksi pembuka bukan penaklukan sebagai bentuk keberhasilan suatu dakwah. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa agama Islam yang dibawa beliau nabi Muhammad s.a.w selalu mengedepankan aspek kemanusian, jika ada yang mengatakan agama Islam itu agama yang keras, kejam dan suka berperang itu suatu paham yang tidak benar. Maka sangat diperlukan untuk membaca sejarah dengan baik berdasarkan sumber yang dapat dipercaya.

 

Sumber Rujuan

Kamba, Muhammad. Sejarah Otentik Nabi Muhammad s.a.w. Tenggareng Selatan: IIMaN, 2018.

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Darussalam.

Madjid, Nurcholish. Enciklopedi Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban. Mizan, 2006.

Mansur Suryanegara, Ahmad. Api Sejarah. Bandung: Salamadani, 2013 (cetakan ke-VI)