Oleh: Redaktur

Mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, akan tetapi mengenai ideologi yang dianut dalam bernegara adalah Pancasila. Para tokoh nasionalis, tokoh lintas agama dan para pemuda pada zaman dahulu telah merumuskan dan menyepakati Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia. Ideologi Pancasila sudahlah final dengan di dalamnya terdapat semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetap satu. Semboyan ini sangat tepat diterapkan di Indonesia yang terkenal dengan masyarakatnya yang majemuk. Beragam suku, agama, ras, budaya, dan bahasa menjadikan identitas dan kekayaan tersendiri bagi negara Indonesia dibandingkan dengan negara lain.

Indonesia mengangkat semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular untuk dijadikan pemersatu bangsa Indonesia. Semboyan ini juga telah diatur dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 36A yang berbunyi Lambang Negara Indonesia ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika memiliki landasan yang kuat dalam agama Islam. Meskipun secara susunan kalimat berasal dari frasa Jawa kuno. Agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW kepada umatnya dalam bentuk rahmatan lil ’alamin, penuh kasih sayang, perdamaian, keharmonisan, kerukunan, dan persatuan.

Lantas bagaimana agama Islam yang mayoritas di Indonesia ini dapat merawat Bhinneka Tunggal Ika ?. Di dalam surah Al-Hujurat ayat 13 Allah SWT berfirman yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. Ayat tersebut telah menjelaskan bahwa keberagaman yang berada di sekitar kehidupan manusia adalah suatu sunatullah (kehendak allah) yang tidak bisa diganggu gugat.

Selain itu, Islam juga telah mengajarkan untuk selalu bersikap toleransi, hal ini dapat ditemukan dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 136 “Wahai orang-orang yang berfirman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. Sebagai orang yang beriman, ayat ini menyerukan pada kita agar meyakini para Rosul dan juga kitab-kitabnya yang diturunkan pada masa sebelum nabi Muhammad SAW. Islam tetap menghargai bahkan meyakini kitab-kitab suci para umat terdahulu sebagai bagian dari ajaran Islam yang pokok (tentang keimanan).

Nabi Muhammad SAW telah memberi teladan bagi kita dalam menjadi warga negara yang baik. Salah satu dalam peristiwa yaitu ketika beliau merumuskan Piagam Madinah. Melalui piagam Madinah ini umat Islam diperkenalkan dengan kenyataan bahwa di luar mereka ada kelompok lain yang mempunyai hak hidup damai dan saling berdampingan. Piagam Madinah berisi 47 pasal, di antaranya mengatur tentang hubungan sosial antar penduduk yang berbeda agama dan ras di Madinah pada zaman nabi Muhammad SAW. Aktivitas peribadatan yang beraneka ragam dilindungi oleh negara dan dihormati sehingga masyarakat menjadi aman.

Allah SWT telah berfirman dan beliau nabi Muhammad SAW juga telah bersabda tentang bersikap toleransi, saling menghargai, menjaga persatuan, kerukunan dan keharmonisan dalam hidup bernegara. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika jelas mengandung nilai-nilai yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW berdasarkan firman Allah SWT. Keberagaman yang ada di Indonesia jangan sampai dijadikan permasalahan sehingga terjadi perpecahan. Akan tetapi jadikanlah sebagai potensi atau kekuatan untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih maju. Agama Islam hadir sebagai penyempurna agama-agama terdahulu dan menjawab segala persoalan yang ada.