Oleh: Soraya Dimyathi

Perjalanan Hidup KH. Dimyathi Romly

Dimyathi Romly dilahirkan di Rejoso, Peterongan Jombang pada tanggal 3 Mei 1944. Kedua orang tuanya bernama KH. Romly bin Tamim (1888–1858) dari Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan dan Nyai Hj. Khadijah binti Lukman (1920–1993) dari Suwaru Mojoagung Jombang. Beliau adalah anak ke-tiga dari lima bersaudara yang semuanya laki-laki. Ayahnya adalah Mursyid Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah yang berpusat di Rejoso, dan kakeknya, Kiai Tamim Irsyad, adalah pendiri pondok Pesantren Darul Ulum bersama menantunya KH. Cholil Juremi di tahun 1885.

Masa kecilnya berada dalam keadaan yang cukup memperihatinkan. Beliau terlahir pada masa penjajahan Jepang. Masa kanak-kanaknya dilewati ketika terjadinya agresi militer I dan II oleh Belanda. Itulah masa-masa darurat dan kegentingan yang tak berkesudahan. Bahkan, kakaknya beda Ibu, yakni Gus Ishom (kakak KH. Musta’in Romly) meninggal dalam pertempuran melawan Belanda saat agresi militer ini.

Dimyathi kecil pernah berada dalam kondisi fisik yang sangat kritis, sampai-sampai disangka tidak akan berumur panjang. Karena pada saat itu terjadi wabah penyakit campak dan cacar yang mematikan. Banyak di antara teman seumurannya yang meninggal. Alhamdulillah, Allah berkenan menyelamatkan hidupnya yang sembuh dan sehat kembali, meskipun menyisakan bekas lubang-lubang cacar di wajahnya.

Ketika muda banyak yang mengenalnya sebagai anak yang suka usil, ada beberapa cerita keisengannya terhadap saudara-saudaranya, teman-temannya dan kepada orangtuanya. Karena hal itulah kadang kala membuat Buya Romly kesal dan marah. Bahkan beliau sering kali diludahi oleh Buyanya, tetapi dari situlah beliau menjadi anak yang paling sering didoakan orangtuanya. Apabila ada hal-hal aneh atau kekacauan di rumahnya, Buyanya sudah paham, bahwa ini pasti kelakuan anak ketiganya, “Siapa lagi kalau bukan Dim!” seperti itu batinnya.

Saat usianya menginjak remaja, keisengannya bukannya berkurang, tapi malah menjadi-jadi. Beliau seakan-akan menjadi biangnya anak-anak usil. Dimyathi muda yang punya solidaritas tinggi sering kali mengajak teman-temannya liwetan (menanak nasi dengan ikan asin) atau rujakan bersama. Selain itu, Dimyathi paling suka main bola. Beliau pernah membina anak-anak main bola dan membentuk tim bola dengan nama tim Tuyul. Timnya sering menang di berbagai pertandingan, dan saingan terberat adalah tim Putra Mataram, tim bolanya KH. Hanan Ma’shoem, sepupunya. Sampai K.H. Hanan pernah bilang, “Pokoknya kalau sampai bisa mengalahkan Tuyul, berarti bakal menangan.

Dimyathi Romly tumbuh dalam pengasuhan dan bimbingan langsung kedua orangtuanya dan paman-pamannya di Darul Ulum. Memulai belajar di sifir awwal, sifir tsaani, dan sifir tsaalis, semacam pendidikan pra-sekolah yang belajarnya di masjid. Kemudian bersekolah di Madrasah Ibtida’iyah Rejoso selama enam tahun dan Madrasah Tsanawiyah Rejoso selama tiga tahun. Pada saat sekolah Tsanawiyah inilah, beliau kehilangan buyanya, KH. Romly meninggal dunia pada tahun 1958 dalam usia 72 tahun. Selanjutnya Dimyathi bersekolah di Madrasah Aliyah Rejoso atau saat itu disebut Perguruan Muallimin Atas, dan lulus pada tahun 1962 di usia 18 tahun. Selain sekolah formal tersebut, Dimyathi Romly muda kerap mondok tabarukan untuk mendapatkan ilmu dan keberkahan dari para kiai dan ulama. Di antaranya di Ploso Mojo Kediri di bawah pengasuhan KH. Djazuli Usman, allahu yarham.

Pendidikan tingkat atas diselesaikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya, jurusan Syariah hingga mendapat gelar Bachelor of Art (BA), lulus pada tahun 1966. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum dan mendapat gelar Sarjana Hukum (SH). Sambil menyelesaikan kuliahnya, beliau juga mengabdi di pondok Darul Ulum sebagai guru di Pendidikan Guru Agama (PGA) menjadi Kepala Sekolah SMA Darul Ulum dan kemudian sebagai Kepala Sekolah PGAN 6 Tahun Rejoso. Kemudian dia diangkat menjadi Pegawai Negeri pada tanggal 1 Oktober 1967, dan menjadi dosen di IAIN Surabaya sejak tahun 1979.

KH. Dimyathi Romly melangsungkan akad nikah dengan Nyai Muflichah pada 12 Februari 1972. Nyai Muflichah adalah putri pertama dari dari KH. Marzuqi Zahid dan Nyai Hj. Halimah Zaini dari pondok Pesantren Langitan Widang, Tuban. Resepsi pernikahan dilangsungkan di Langitan pada tanggal 19 Agustus 1972, kemudian yang kedua di Rejoso pada tanggal 26 Agustus 1972 di rumah Nyai Romly, dan esoknya di kediaman KH. Musta’in Romly. Dari perkawinannya dikaruniai 8 anak yaitu: Ahmad Syihabuddin, Imelda Fajriati, Soraya, Muhammad Afifuddin, Muhammad Izzulhaq, Fara Habibah, Muhammad Mustain Dzul Azmi dan Ahmad Muharram.

Pernikahan KH. Dimyathi dan Nyai Muflichah meskipun menyatukan dua karakter yang berbeda, sesungguhnya juga ada persamaanya, sama-sama sangat peduli dengan pendidikan. Mereka memahami, bahwa di antara cara untuk membangun peradaban mulia adalah melalui pendidikan yang baik. Keduanya adalah pengajar yang menjadi dosen dan guru. Mereka adalah pasangan pendidik, pembina dan pengasuh Asrama Al Husna di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.

Karakter KH. Dimyathi Romly

Ada sebuah hadits Nabi yang mengingatkan pada  KH. Dimyathi Romly. Semoga  beliau termasuk kedalam mereka yang diceritakan Nabi di bawah ini.

“Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram (tersentuh api) neraka? Para sahabat berkata, “Iya, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “(Haram tersentuh api neraka) orang yang Hayyin, Layyin, Qorib, Sahl” (Sahih Ibn Hibban)

Ciri yang pertama adalah hayyin, yaitu mereka yang memiliki keteduhan dan ketenangan lahir dan batin. KH. Dimyathi adalah ulama pembawa kedamaian. Beliau tidak mudah marah, tidak mudah tersulut berita yang sampai padanya. Beliau adalah pribadi yang nriman dan semeleh, menerima semua yang datang dari langit, rida dengan semua yang digariskan Allah. Karena sikap inilah, beliau seolah tak mengenal masalah atau dirundung duka, sehingga tak pernah terdengar keluh kesah darinya.

Kedua, Layyin, ialah orang yang pembawaannya lembut dan kalem, baik dalam perkataan dan perbuatan. Tutur kata KH. Dimyathi lembut, teratur dan mudah dipahami, sehingga pidato beliau seringkali ditunggu oleh para santri dan murid-muridnya. Lelaku beliau juga kalem, bahkan terkesan santai. Siapa saja yang melihatnya akan turun tingkat beban hidupnya. KH. Dimyathi sangat toleran dan tidak pernah memaksakan kehendaknya, baginya semua adalah apik (baik) selama bersumber pada kebaikan Ilahi.

Ketiga, qarib, yaitu orang yang supel, akrab dan ramah. Selalu menyenangkan orang yang diajak bicara. Ini adalah gambaran KH. Dimyathi yang sesungguhnya, sudah menjadi karakternya sejak kecil, beliau adalah sosok yang humoris, pembawaannya selalu riang dan gembira. Suasana yang sebelumnya kaku, akan cair ketiks beliau tiba. Kehadirannya biasanya akan menularkan virus-virus suka cita, menjadi penawar kesedihan, obat duka lara. “Siapa yang suka menyenangkan orang lain, maka Allah akan menyenangkan hidupnya” begitu di antara prinsip hidupnya.

Dibalik gaya santainya, beliau adalah seorang yang penuh perhatian, tidak cuek dan acuh. Beliau selalu memperlihatkan wajah yang berseri dan enak dipandang, karena senyuman selalu menghiasi wajahnya. Itulah senyuman yang karib, pengundang keakraban. Siapa saja akan merasa senang bergaul dengan beliau, dari anak kecil hingga usia lanjut. Beliau seorang yang egaliter, bergaul dengan semua kalangan, dan tidak mengambil jarak dengan siapapun, hal ini menyebabkan beliau dcintai jamaah dan masyarakatnya.

Keempat, sahl, yaitu orang yang baik hati dan memudahkan segala urusan. KH. Dimyathi tidak pernah mempersulit keadaan, semua dibuat mudah dan ringan. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Karenanya beliau seringkali menjadi tempat pengaduan masalah orang-orang di sekitarnya, dan beliau akan menawarkan solusi yang membuat siapapun merasa ringan.

KH. Dimyathi adalah pejuang pendidikan, selama menjadi guru, beliau senantiasa menjembatani kegiatan murid-muridnya. Selalu mendukung apa-apa yang diperlukan untuk mengembangkan potensi anak didik dan untuk memajukan pendidikan. Rumahnya bisa disebut basecamp bagi anak-anak didiknya. Beliau selalu berusaha menyediakan diri dan apa yang dimiliki untuk kelancaran dan kemudahan urusan orang lain, tanpa beban dan pikir panjang lagi. Sebagaimana prinsipnya, siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya.

KH. Dimyathi juga sangat peduli pada masalah literasi, beliau suka membaca, menulis dan menyukai sastra. Minatnya pada literasi ini membuatnya menjadi guru sastra di SMA Darul Ulum dan menjadi Kepala Perpustakaan UNDAR. Kemudian pada tahun 1986 beliau menjadi Pembantu Rektor III Bagian Kemahasiswaan dan menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin UNDAR pada tahun 1993. Selain itu juga menjadi dosen di Fakultas Hukum UNDAR Jombang dan dosen di fakultas Syariah IAIN Surabaya dari tahun 1979 sampai pensiun di tahun 2000.

Karena kepedulian beliau di dunia pendidikan ini, sejak tahun 1985 KH. Dimyathi Romly mendapat amanah di Majelis Pimpinan Pondok (MPP) Darul Ulum sebagai Koordinator Bidang Pendidikan. Amanah ini berlanjut hingga beliau menjadi Pemimpin Pondok Pesantren Darul Ulum, menggantikan KH. As’ad Umar yang meninggal dunia pada 5 Desember 2010.

Keseharian KH. Dimyathi sebagai pengasuh di pondok Darul Ulum adalah menjadi imam jamaah shubuh di Masjid Induk Darul Ulum. Kemudian dilanjutkan memimpin bacaan dzikir istighatsah bersama santri Darul Ulum. Selain itu hal yang rutin beliau lakukan adalah ziarah ke pesarean para wali, leluhur dan pendiri pondok.

KH. Dimyathi paling gemar mengunjungi para ulama dan kiai untuk mendapatkan doa dan keberkahan. Penghormatannya kepada para ulama dan orang yang berilmu sangat luar biasa. Beliau sering menceritakan kepada anak-anak dan santrinya tentang profil kiai-kiai yang menjadi rujukan masyarakat. Beliau sering mengajak anak-anaknya sowan ke kiai dan ulama, untuk bisa dekat dan ngalap berkah dari para ulama. Begitu pun kalau ada ulama atau kiai besar berkunjung ke rumah, Beliau biasanya menyuruh anak-anaknya untuk meminum minuman kiai tersebut, menurutnya hal seperti ini biasa dilakukan KH. Romly kepada beliau saat kecil dulu.

Tak hanya menghormati dan mencintai mereka yang berilmu atau ulama, beliau juga sangat mencintai semua santri, para penuntut ilmu. Perhatiannya kepada mereka ditunjukkan dengan sering berbagi hadiah dan motivasi untuk terus semangat menuntut ilmu terutama bagi santri yang berada dalam perantauan. Doanya selalu terpanjatkan untuk santri Darul Ulum, “Tak dongakno santri Njoso ilmune barokah lan manfaat, opo iku manfaat? neng ndi-ndi dibutuhno wong, neng ndi-ndi disenengi wong, (Aku doakan santri Njoso ilmunya berkah dan manfaat, di mana-mana dibutuhkan orang, di mana-mana disenangi orang). Sebuah doa yang sangat indah dan sarat makna. Pertama, beliau mendoakan keberkahan ilmu bukan mendoakan agar para santri menjadi orang terkenal, pintar ataupun sukses. Karena kesuksesan seseorang hanya terjadi bila ia mampu memberi manfaat, dan itulah keberkahan. Kedua, doa agar para santri dibutuhkan dan dicintai orang, ini adalah salah satu pertanda dari ilmu yang berkah, dibutuhkan dan dicintai semua orang.

Nasehatnya selalu bagi siapa saja yang hidup (tinggal) di pondok adalah “Jangan mencari hidup dari pondok, tapi tolong hidupkan pondok, maka hidupmu akan berkah. Nasehat ini mengajarkan keikhlasan yang sebenarnya, dan berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi umat, karena itulah sabaik-baik manusia.

Tarekat Jalan Utama

Dalam perjalanan hidup KH. Dimyathi, ada jalan utama yang menjadi pilihan takdirnya, yaitu jalan tarekat. Inilah perjalanan hidup beliau yang istimewa. Sebuah jalan takdir yang sama sekali tidak disangka dan dibayangkan sebelumnya. Inilah amanah besar yang tiba-tiba turun dari langit menimpanya dengan serta merta.

Semua dimulai ketika KH. Rifa’i Romly, al Mursyid Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah saat itu, yang sekaligus kakak tertuanya berpulang pada tanggal 12 Desember 1994. Musyawarah Majelis Pimpinan Pondok Darul Ulum yang diketuai oleh KH. As’ad Umar (1933–2010) menghasilkan keputusan bahwa KH. Dimyathi Romly yang menggantikan KH. Rifa’i Romly sebagai Mursyid Tarekat.

Izinkan penulis menyampaikan apakah Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah itu. Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah (TQN) didirikan oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas. Beliau tinggal di Mekah, mendapatkan baiat Qadiriyah dari Syekh Samsudin dan baiat Naqsabandiyah dari Syekh Sulaiman Zuhdi. Kemudian kedua Tarekat ini digabungkan menjadi satu. Di Tanah Suci, Syekh Ahmad Khatib memiliki tiga khalifah yaitu Syekh Abdul Karim (Banten), Syekh Tolhah (Cirebon), dan Syekh Ahmad Hasbullah (Madura).

Sepeninggal Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Abdul Karim diangkat menjadi mursyid Tarekat. Setelah kepemimpinan Syekh Abdul Karim, TQN mulai berkembang dan kempemimpinan tidak lagi tunggal. Syekh Abdul Karim digantikan oleh Syekh Asnawi Caringin yang kemudian membaiat Kiai Muslih Abdurahman (Mranggen Demak) sebagai mursyid TQN. Demikian pula, Syekh Tolhah membaiat muridnya Abdullah Mubarok (Abah Sepuh) sebagai mursyid TQN di Suryalaya, Tasikmalaya. Demikian juga Syekh Ahmad Hasbullah membaiat Syeikh Cholil Juremi sebagai muryid TQN yang berpusat di Rejoso, Peterongan, Jombang. Dengan demikian setelah kepemimpinan Syekh Abdul Karim, ada tiga pusat TQN terbesar di Indonesia.

Setelah Kiai Cholil Juremi meninggal dunia, tampuk kepemimpinan TQN di Rejoso diserahkan kepada adik iparnya, KH. Romly Tamim. KH. Romly Tamim adalah guru sufi yang sangat berpengaruh di Indonesia. Beliaulah yang menulis zikir istighatsah yang terkenal bagi kalangan Nahdliyin. Setelah KH. Romly Tamim wafat, kepemimpinan TQN digantikan oleh KH. Musta’in Romly. Setelah wafatnya Kiai Musta’in, beliau digantikan oleh KH. Rifa’i Romly. Singkat cerita, inilah kisah sampai KH. Dimyathi Romly menjadi mursyid TQN sepeninggal KH. Rifa’i Romly.

Mengikuti cerita di atas tentang apa itu tarekat dan asal-usulnya, jelaslah bahwa ini adalah urusan yang besar. Lalu dapatkah dibayangkan? Beliau yang masa mudanya penuh dengan keisengan dan kenakalan, suka bercanda, santai dan terkesan slenge’an, tiba-tiba mendapat amanah yang benar-benar serius. Beliau yang suka dan dekat dengan anak-kecil ini harus menghadapi jemaah tarekat yang kebanyakan sudah sepuh.

Menjadi seorang mursyid, artinya menjadi seorang penunjuk jalan (tarekat). Tentunya penunjuk jalan adalah orang-orang yang sangat paham dan telah mengenal jalan dengan baik, yang akan membimbing dan menunjukkan jalan lurus menuju Allah. Mungkin banyak yang menyangsikan, namun ini bagian dari cara Allah memilih hamba-Nya. Akhirnya KH. Dimyathi Romly dibaiat menjadi Mursyid Tarekat pada tanggal 30 Desember 1995.

Seiring berjalannya waktu, beliau berusaha menjalankan perannya sebagai mursyid ini dengan sebaik-baiknya. Mengikuti jejak Buyanya KH. Romly Tamim dan sebagaimana yang dicontohkan dua kakaknya yang menjadi Mursyid sebelumnya, KH. Musta’in Romly dan KH. Rifa’i Romly. KH. Dimyathi Romly memperkuat jaringan TQN Rejoso, dengan membentuk Ikatan Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah (ITQON) yang berpusat di Pesantren Darul Ulum Rejoso.

Inilah tarekat, jalan utama KH. Dimyathi Romly dari perjalanan hidupnya di dunia. Kegiatan rutin tarekat biasa disebut dengan istilah Kemisan, yaitu pengajian pekanan setiap kamis di Darul Ulum. Maka saat itu ratusan tamu dan jemaah tarekat akan berdatangan dari berbagai daerah di sekitar Jombang seperti Nganjuk, Kediri, Madiun, Mojokerto dan lainnya. Beliau juga banyak menerima undangan pengajian tarekat di daerah yang cukup jauh, seperti Purwokerto, Purworejo, Riau, Jambi, Pekan Baru, Lampung, Palangkaraya, Pangkalan Bun, Tarakan, Bima NTB, dan lain-lain. Selain itu, ada tiga acara tahunan, yaitu Suwelasan pada 11 Muharram dan 11 Rabiul Akhir serta acara Syakbanan yang diadakan setiap nisfu Syakban. Pada ketiga acara ini, ribuan jemaah tarekat dari penjuru nusantara berdatangan untuk mengikuti pengajian akbar. Sebuah agenda tahunan yang selalu ditunggu-tunggu oleh para jemaah tarekat dan juga para santri Darul Ulum.

Ketika menjadi mursyid ini beliau juga sempat menjadi politisi. Pada tahun 1997–1999 Anggota DPRD tingkat I Jawa Timur dari Golkar, dan dilanjut perode berikutnya tahun 1999–2004. Menarik untuk mengulas hal ini, bagaimana KH. Dimyathi mampu memadukan aktivitas akademisi, kepesantrenan, tarekat, dan aktivitas politik. Aktivitas yang seakan berlawanan itu tak banyak ditemukan. Kecenderungan seseorang adalah memisahkan aktivitas-aktivitas tasawuf dengan kehidupan syariat, apalagi dengan kehidupan politik. Namun beliau tetap mampu menjalankan aktifitas ini dengan sebaik-baiknya.

KH. Dimyathi Romly selalu mendahulukan kegiatan tarekat dibanding kegiatan yang lain. Beliau akan mengutamakan undangan tarekat dibanding undangan yang lain. Baginya, tarekat adalah janji yang harus ditunaikan melanjutkan amanah Buyanya. Tarekat adalah jalan utamanya, yang dengan sendirinya telah dipilihkan Allah untuknya. Takdir yang telah digariskan Allah untuk melihat sejauh mana dirinya mampu mengemban dan mempertanggungjawabkan amanah usianya di muka bumi.

KH. Dimyathi Romly setia menjalankan amanah yang diembannya hingga akhir hayat, yaitu sebagai al Mursyid TQN (1995-2016), Ketua Umum MPP Darul Ulum (2010-2016), Rais Syuriah PBNU (2015-2016) dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.

KH. Dimyathi kembali kepada Zat Yang Maha Lembut pada 18 Mei 2016 atau 11 Syakban 1437 H. Ribuan jemaah mengantarkan KH. Dimyathi Romly pada peristirahatan terakhirnya. Almarhum dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Asrama Hidayatul Qur’an Darul Ulum. Bacaan tahlil dan shalawat menggema, melangitkan doa dan pengharapan. Semoga Allah menempatkan KH. Dimyathi Romly pada tempat yang mulia di sisi-Nya, dan kita yang ditinggalkan mampu melanjutkan perjuangannya. Aamiin.