Oleh : Muhamad Setiawan Harnawan (Zuriat Syaikh Jamak dari jalur wanita; Ibu)

Pembahasan kali ini mengenai biografi ulama yang tidak terlepaskan dari sejarah asal-usulnya atau tempatnya. Pada pembahasa awal ini penulis akan lebih fokus untuk menelusuri lokasi tempat dimana sang tokoh yang bergelar “Puyang Meranggi” ini berdakwah, menelusuri lokasi dimana beliau mangkat dan dimakamkannya, serta lokasi dimana berkembangnya zuriyat beliau hingga kini.
Sebuah desa yang terletak tidak jauh dari Kota Palembang Darussalam, berjarak kurang lebih 100 km yang dapat ditempuh dengan mengendarai kendaraan roda 2 dengan estimasi waktu kurang lebih sekitar dua jam. Lokasi tersebut juga dapat ditempuh dengan jalur laut atau sungai ogan dengan kendaraan air seperti ketek, sekoci, perahu dan sebagainya dengan waktu tempuh yag lebih lama yaitu lebih kurang sehari penuh.
Desa Kelampadu, sebuah komunitas pemukiman penduduk yang mendiami pesisir sungai ogan dengan lokasi koordinat Lintang = -3°33’28.36” LS dan Bujur = 104°36’21.3” BT ini memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang.
Sebelum wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini berdiri, desa ini sudah membentuk pemukimannya seperti sekarang ini dengan nama Dusun Kelampadu, hanya saja lokasinya berbeda dengan yang sekarang ini. Sekarang desa ini terletak di wilayah administratif Kecamatan Muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.
Di bumi meranggi ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Salah satu bukti eksistensi Islam di sana yaitu berdirinya bangunan Masjid Jami’ terbesar di desa tersebut yaitu Masjid Al-Ikhlas. Masjid tersebut pertama kali dibangun di dusun Lamo Seberang.
Menurut beberapa penuturan para tetua setempat, baik masjid Lamo di dusun Lamo seberang maupun masjid Lamo di desa saat ini bentuk arsitekturnya menyerupai beberapa masjid bersejarah di Palembang Darussalam seperti Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo (Masjid Agung Palembang) dan masjid bersejarah lainnya dengan bentuk bangunan atap bertumpang tiga ala khas Palembang dilengkapi dengan menara untuk ngebang (mengumandangkan adzan). Ketika muadzin mengumandangkan adzan harus naik ke atas menara agar gema suara tersebut dapat terdengar ke seluruh penjuru desa. Dikarenakan belum adanya pengeras suara. Khas lainnya di masjid ini yaitu berwudhu menggunakan kambang (kolam) yang berisi air. Seperti halnya yang sampai saat ini digunakan di Masjid Al-Mahmudiyah (Masjid Suro), sungguh pemandangan yang sangat antik khas Palembang Darussalam.
Setelah itu masjid ini dipindahkan ke kampung ulu, seperti yang saat ini kita saksikan dengan ala masjid modern khas turki menggunakan gubah putih. Satu sisi kecantikan dan kemodernan masjid ini sangat baik, namun di satu sisi lainnya kita kehilangan unsur sejarah keantikan dari beberapa masjid lama sebelumnya. Mengenai nama Al-Ikhlas sendiri, penulis belum menemukan mengapa para tetua desa menggunakan nama tersebut untuk masjidnya. Namun yang pasti untuk mengambil barokah dari sebuah surah di dalam Al-Quran yang jika kita baca sebanyak tiga kali sama dengan mengkhatamkan Al-Quran atau dibaca sebanyak satu kali sama dengan membaca sepertiga Al-Quran.
Selain masjid, di beberapa hari belakangan ini berdiri sebuah langgar (musholla) yang diberi nama Langgar Al-Kautsar di tanah wakaf dekat SD Negeri Kelampadu (yang bertransformasi menjadi SD Negeri 08 Muara Kuang).
Selain bangunan rumah ibadah, di desa ini juga berdiri sekolah agama (Madrasah). Di samping beberapa bangunan yang membuktikan eksistensi Islam, di sini juga ada beberapa kesenian Islam yang berisi pujian dzikir kepada Allah dan pujian shalawat atas Nabi, dan syair spiritual lainnya yang berbentuk gru-grup seperti grup terbangan lanang (sama seperti syarofal anam), grup robana ibu-ibu (musik islami khusus kaum hawa), dan grup terbangan burdah.
Sebuah desa tua di tepian sungai Ogan yang terletak di kecamatan muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir Sumsel, bernama desa Kelampadu, mempunyai akar sejarah yang sangat erat dengan kota Pelembang Darussalam, Kelampadu terdiri dari dua kosa kata bahasa Pelembang asli yakni Kelam yang berarti pagi-pagi sekali, dan Padu yang berarti mulai semua kegiatan dan aktifitas. Kelampadu berarti desa yang penduduknya berasal dari kota Pelembang Darussalam yang rakyatnya mempunyai kebiasaan memulai semua aktifitas dan kegiatannya pada waktu pagi-pagi sekali dalam setiap harinya.
Jika berbicara tentang desa Kelampadu dan kota Pelembang Darussalam maka kita tidak bisa dipisahkan dengan dua orang tokoh yaitu Puyang Meranggi leluhur desa Kelampadu yang makamnya di seberang sungai Ogan desa Kelampadu dan Puyang Muara Ogan (kyai marogan) leluhur tokoh ulama besar kota Pelembang Darussalam yang makamnya di muara sungai Ogan kertapati Palembang.
Puyang Meranggi adalah leluhur penduduk desa Kelampadu, Kecamatan Muara Kuang Kabupaten, Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Nama lengkapnya belum diketahui secara pasti, beliau merupakan sahabat karib dari Puyang Muara Ogan (Datuk Kiai Marogan) di Pelembang yang keduanya berasal dari Kota Pelembang Darussalam. Sampai saat ini bahasa daerah yang digunakan oleh penduduk desa Kelampadu persis seperti bahasa asli Pelembang Darussalam baik bahasa sehari-hari maupun bahasa halus (bebaso). Begitupun dengan arsitektur bangunan rumah ibadah tempo dulu di desa ini, maupun rumah limas yang didirikan oleh para pendahulu di desa ini.
Puyang Meranggi merupakan seorang waliyullah sahabat seorang waliyullah yang ada di Pelembang yaitu Kiai Marogan yang mana keris kepunyaannya atau brangkonya di buat oleh Puyang Meranggi di desa Kelampadu. Hingga Kiai Marogan mengambil tempahan brangko kerisnya di desa Kelampadu dan brangko keris itu pas dan cocok dengan keris Kiai Marogan yang ada di Pelembang. Sesuai julukannya Puyang Meranggi merupakan seorang tokoh yang berprofesi sebagai pembuat brangko keris di zaman kesultanan Palembang Darussalam dan zaman sesudahnya.
Dan salah satu karomah beliau ketika hijrah ke desa Kelampadu dari kota Palembang Darussalam yaitu menyusuri sungai Ogan menggunakan perahu dan gayung, atas izin Allah SWT tidak sampai sepuluh kali gayungan sudah tiba di lokasi (tempat keturunan dan zuriyat berdomisili hingga hari ini).
Namun kini makam beliau beserta pengikut dan kerabatnya di dusun Lamo seberang desa Kelampadu sudah hilang, dikarenakan terkikis oleh derasnya arus air sungai Ogan, hingga tersisa beberapa makam yang bernisankan batu sedangkan makam dengan nisan kayu sudah habis akibat kebakaran hutan. Tradisi turun temurun penduduk desa ini yakni selalu menziarahi makam leluhurnya: Puyang Meranggi yang ada di seberang sungai Ogan Kelampadu dan makam kerabat karib leluhurnya yaitu Puyang Muara Ogan (Kiai Marogan) yang ada di muara sungai Ogan kertapati Palembang. Demikian cerita Pak Zamhari yang merupakan tokoh agama dan tokoh masyarakat desa Kelampadu, disarikan kembali oleh Muhamad Setiawan yang keduanya merupakan zuriyat Puyang Meranggi.
Desa Kalampadu Kecamatan Muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir (OI) yang jaraknya lebih kurang 100 km dari Pusat Kota Palembang Darussalam itu menyimpan banyak situs makam bersejarah. Seperti dua nisan tanpa jirat dengan tipe nisan Melayu Aceh yang biasa digunakan untuk kalangan bangsawan Palembang Darussalam seperti Pangeran, Tuan Putri, dll. Ditambah lagi dengan beberapa nisan lainnya yang berjumlah lebih kurang 5 buah makam dengan tipe nisan Batu Kali tanpa jirat dan inskripsi.
“Kenapa saya bisa berkata demikian karena saya mengamati bahwa bahasa yang digunakan sama seperti bahasa Palembang, baik bahasa sehari-hari maupun bahasa halus yang kini sudah mulai punah, lalu pada dahulunya rumah yang di gunakan rumah limas asli Palembang, arsitektur masjid nya juga serupa Masjid Agung Palembang, walaupun kini semuanya telah sirna,” kata Muhamad Setiawan, anggota Komunitas Pecinta Ziarah Palembang.
Menurutnya lagi, beberapa keterangan yang didapatkan dari beberapa sumber lisan bahwa di Desa ini memang dulu ada seorang Raden yang bernama Raden Fatah, entah itu apakah hanya sebuah gelar atau itulah nama aslinya. Wallahu ‘alam
“Dahulu di perbatasan antara desa ini dengan Desa tetangga terdapat sebuah ungkonan makam bersejarah dan juga terdapat beberapa makam dengan nisan tipe lama yang kini telah hilang dikarenakan erosi tanah yang diakibatkan oleh derasnya arus air sungai Ogan,” katanya.
Selain itu, seorang tokoh yang bergelar Raden tersebut juga sampai saat ini belum didapatkan informasi yang valid, ada yang mengatakan bahwa beliau berasal dari Palembang, ada yang mengatakan berasal dari Demak langsung, dan asal usul silsilah keturunannya pun belum ditemukan hingga kini. Selain itu sebuah ungkonan makam bersejarah juga terdapat di Dusun lama Desa Kalampadu yang terletak di seberang sungai Ogan desa ini, di ungkonan itu berdasarkan sumber lisan terdapat banyak makam bersejarah dengan berbagai tipe nisannya yang kuno.
“Makam bersejarah yang saya temukan di TPU Desa Kalampadu tersebut mirip sekali dengan beberapa nisan yang ada di Palembang Darussalam seperti makam Datuk Agil di 8 Ilir, makam bersejarah di Telaga Sewidak, makam kerabat kesultanan di kawah tekurep dll. Bahan dasarnya batu granit yang berasal dari pulau Belitung pesanan oleh pihak Kesultanan. Terdapat pula ukiran motif tumbuhan dan bunga cantik, rapi pada dua buah nisan seorang tokoh kerabat Kesultanan di desa Kalampadu yang belum kami ketahui siapa nama sang Sohibul Makam tersebut,” katanya.
Selain itu makam tersebut terdiri dari dua buah nisan tanpa jirat dan inskripsi yang terletak tidak jauh di pinggir jalan Raya Desa Kalampadu di dusun 2 Kampung Ulu tepatnya di bawah sebuah pohon cempedak yang sudah tua di Bagian Darat pemakaman.
“Saya pribadi selalu berharap agar makam tersebut selalu di rawat dan dibersihkan , semoga ada relawan yang bersedia untuk memperbaiki dan memugarnya dengan tidak menghilangkan unsur asli arkeologinya. Guna melestarikan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam di desa Kalampadu. Bisa sebagai saksi bisu bahwa desa ini berkaitan erat dengan Kesultanan Palembang Darussalam. Atas nama komunitas Pecinta Ziarah Palembang berharap semoga makam ini selalu menjadi tujuan para pecinta wisata rohani dan wisata religi dari berbagai penjuru Nusantara.”
Desa Kelampadu yang terletak di Kecamatan Muara Kuang, Kabupaten Ogan Ilir (OI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) merupakan desa yang kental akan nilai-nilai religius agama Islam mulai dari sejak berdirinya sekitar abad ke-16 M hingga saat ini masih tetap teguh memegang ajaran mulia yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini.
Terbukti dari beberapa bangunan bernilai sejarah berikut dan beberapa tokoh pendiri desa (para puyang) ditambah lagi dengan data beberapa alim ulama (para kiai) yang banyak di desa ini sebagaimana data berikut :
Bangunan bersejarah di desa Kelampadu :
1. Rumah Limas Tua (sudah hilang semua, berganti rumah baru seperti yang saat ini kita lihat).
2. Masjid Al-Ikhlas (bangunan masjid lama yang asli dulu bergaya melayu, berada di lokasi yang saat ini menjadi kantor kepala desa) bangunan masjid yang kita saksikan saat ini arsitekturnya bergaya Turki Usmani.
3. Langgar Al-Kautsar (walaupun tergolong baru bangunan ini bergaya melayu Kelampadu).

Daftar nama-nama ulama, aulia dan para leluhur (Puyang) di desa Kelampadu :
1. Puyang Meranggi/ Kiai Jabar /Ki Jabaranti /Syekh Jamak bin Syekh Abdul Quraisyin (makamnya di dusun lama seberang bagian ilir dusun, sayangnya makamnya sudah terbis/ hilang karena derasnya erosi tanah di pinggiran Sungai Ogan)
2. Puyang Batu/ Puyang Kafid Putih/ Puyang Siyap/ Ahmad Anom Subadra Al-Hafidz (makamnya di ulu dusun lama seberang ,bagian ulu dusun seberang saat ini, Alhamdulillah makamnya sampai saat ini masih ada dan bisa kita ziarahi)
3. Puyang Makam/ Puyang Nyi Rara Kemeni (makamnya di TPU (tempat pemakaman umum) kita saat ini, di ulu dusun bagian laut saat ini, Alhamdulillah makamnya sampai saat ini masih ada dan bisa kita ziarahi)
4. Puyang Renek / Puyang Bedil / Abdillah (makamnya di darat dusun saat ini, atau tepatnya di daerah lebak cakil arah dusun sunur, ada keunikan di makam satu ini, ada yang mengatakan panjang makam beliau 9 depo (9 meter) ada juga yang mengatakan memang makamnya 9 buah, disini ada yang unik dengan rahasia angka 9, wali songonya Kelampadu kah ? Wallahu ‘alam, Alhamdulillah makamnya sampai saat ini masih ada dan bisa kita ziarahi).
5. Puyang Gamat (makamnya di ilir dusun saat ini, atau tepatnya di ulu dusun bantian, sayangnya makamnya sudah terbis/ hilang lantaran derasnya erosi tanah pinggir Sungai Ogan).

Daftar nama-nama alim ulama (para Kyai-Kyai) di desa Kelampadu dari masa ke masa :
1. Kiai Haji Amir (beliau adalah abahnya Alm. Guru Muhammad Isa) di kampung ulu dusun.
2. Kiai Haji Basri (beliau adalah abahnya Alm. Kiai Ahmad Rifa’i / Yek Syihab) di kampung ulu dusun
3. Kiai Haji Ilyas (beliau adalah abahnya Alm Pesirah Haji Nawawi / Yek Kemal) di kampung ulu dusun.
4. Kiai Haji Umar (beliau adalah abahnya Bapak Jumadi), rumah beliau di kampung ilir laut dusun. Beliau belajar ilmu agama Islam dan menahun di kota Madinah Al-Munawwarah.
5. Kiai Haji Jun (beliau adalah abahnya Bapak Qok) rumah beliau di kampung ilir dusun.
6. Kiai Muhammad Alifiah (Yek Buyut Uju Ali), beliau adalah abahnya Bapak Darul Qutni Ali (yek uju darul) Kades kito. Beliau Kepala Sekolah Agama Madrasah Nurul Huda pada masanya di dusun kito kampung ulu.
7. Kiai Ahmad Rifa’i (Yek Syihab), beliau adalah abahnya Ibu Badariah (Wak Simin) di kampung ulu dusun, koleksi kitab-kitab peninggalan beliau sangat banyak dan dapat kita saksikan di rumah anak beliau, menandakan giatnya beliau dalam mempelajari berbagai disiplin ilmu agama Islam.
8. Kiai Musthofa Sako (Yek Las), beliau adalah abahnya ibu Lasmini / ibu Ruk di kampung Ilir dusun.
Semoga desa ini kedepannya semakin berkah dan senantiasa masyarakatnya teguh memegang nilai-nilai agama Islam dan menjadi desa yang Qoryatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur. Nama desa yang terletak di Kecamatan Muara Kuang, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan ini banyak makna sejarahnya.
Kedua nama ini sering menjadi perdebatan dalam 2 generasi terakhir, tentang sulitnya menemukan jejak sejarah secara lisan ataupun benda peninggalannya. Tentu generasi sekarang kurang tertarik pada sejarah. Kita runut mundur kisaran waktu 150-200 tahun yang lalu atau 1800-1850 M, hidup dimasa itu Ki Jabaranti atau Kiai Jabar atau lebih dikenal dengan Syekh Jamak atau Puyang Meranggi lebih akrab ditelinga kita. Kata Kalampadu muncul sebelum menjadi desa atau sebelum pemerintahan desa dipimpin oleh seorang Jawatan Krio. Saya masih menelusuri sejarah Krio atau kepala desa pertama di desa Kelampadu.
Kata Kalampadu memiliki makna multi tafsir tergantung pada pendekatannya. Jika menggunakan bahasa Melayu kata Kelampadu bermakna pagi – pagi atau sudah bepadu, selalu diawali dengan bermusyawarah dalam setiap pengambilan keputusan, tapi saya kurang sependapat dengan penafsiran ini rasanya kurang pas melihat fakta sejarah secara kontinyu, karena sistem kekuasaan atau kepemimpinan masih bersifat sentralistik atau pengaruh tokoh sentral.
Justru saya punya pemikiran lain tapi bisa jadi juga salah, Kalam berarti diambil dari nama lain kitabullah dalam pemahaman ilmu tauhid dan pengajaran tauhid yang memasukkan nilai – nilai spiritual dan disadur dengan kearifan lokal sehingga menjadi Kalampadu. Penafsiran ini belum bisa juga disimpulkan karena perlu pengkajian literatur sejarah yang mendalam.
Jika dihubungkan dengan Syekh Jamak sebagai pancer (tokoh sentral) karena saat itu belum bersifat pemerintahan yang masih berkiblat kepada Palembang Darussalam. Ada tiga titik pancer pengemban tauhid pada saat itu yaitu desa Kalampadu, desa Srikembang dan desa Srinanti. Masing-masing memiliki tugas yang sama tetapi dengan panggung yang berbeda.
Saya tidak konsen ke wilayah ini karena terlalu riskan dan perlu penelusuran para ahli sejarah. Desa Kalampadu terletak di seberang sungai yang beriring waktu masyarakatnya berpindah ke sebelah selatan desa dataran tinggi. Dilihat dari peninggalan sejarahnya, cuma tersisa makam, salah satu makam yang dikenal adalah Puyang Kafid Putih atau Ahmad Anom Subadra. Perlu pendalaman apakah Kafid Putih terhubungan dengan Puyang Bedil atau Puyang Renek atau Abdillah yang berada di daerah lebak cakil. Sebagian masyarakat melakukan migrasi ke seberang desa arah utara yang disebut Jerongkop atau lokasi saat ini menjadi desa Bantian atau Ulak Kembahang saat ini.
Kemudian penduduk utara dengan beberapa kejadian akhirnya bermigrasi ke seberang sungai (barat) di sebelah selatan desa Kalampadu saat ini. Di ilir desa Kalampadu juga terdapat beberapa komplek makam tua yang dikenal dengan sebutan Puyang Gamat dan di ulu desa Kalampadu tepatnya di pemakaman umum juga terdapat makam tua yakni Puyang Makam/ Puyang Nyi Rara Kemeni.
Saya belum berani menyimpulkan, tetapi saya masih tertarik pada hal-hal dibalik sebuah cerita, atau misteri dari sebuah kisah atau fakta. Kalampadu atau Kalam dan Padu, saya mendapat sebuah cerita istilah atau makna lain dari kata Kalam yang berarti “Tai emas” yang digunakan dalam dunia tambang/ galian tradisional. Ada penemuan uang logam di zaman Belanda yang berlobang persegi empat berkarung-karung.
Beberapa puluh tahun yang lalu ditemukan di kebun karet milik warga setempat. Tetapi tidak sempat menghebohkan, karena uang logam tersebut tidak dicari yang dianggap tidak komersil. Konon ada lokasi galian di desa lama tapi belum ada cerita lanjut, maaf saya tidak sedang berimajinasi tentang hal-hal mistik, tapi saya mencoba merasionalkan dan mengkorelasikan fakta-fakta sejarah walaupun tidak banyak sumber yang bisa kita gali, jangan-jangan Belanda menyembunyikan sebuah informasi tentang kekayaan perut bumi meranggi selain minyak.
Saya rasa ada yang tertarik untuk mencoba mendalami dan mengkaji, karena orang-orang terdahulu ketika mencetuskan sebuah nama pasti melalui sebuah petunjuk. Bagian ini yang menantang untuk menggali informasi secara ilmiah dan secara batiniah, timbul pertanyaan, jika kata “Kalam” bermakna “Tai emas” dikorelasikan dengan “Lokasi galian” yang masih sangat rahasia, temuan “Uang logam” yang analisa saya bukan dari sebuah hubungan transaksi tapi sebuah lokasi produksi, mudah-mudahan ada sumber-sumber informasi yang masih bisa digali.