Oleh: KH. Abdi Kurnia Djohan

Murid terakhir Syaikh, Syaikh Kiai Zakwan Abdul Hamid menceritakan kepada saya tentang karomah gurunya Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani al-Makki rahmatullahi alaihi. Di sela-sela peringatan haul Syaikh Yasin, Kiai Zakwan berkata bahwa sangat banyak karomah Syaikh Yasin yang bisa diceritakan.

Kiai Zakwan menceritakan bahwa satu hari beliau dan seorang santri Syaikh Yasin ingin menguji kebenaran apakah Syaikh Yasin seorang wali atau bukan. Peristiwa itu terjadi di kediaman Syaikh Yasin yang lama di Utaibiyyah Makkah. Kata Kiai Zakwan, waktu itu bertepatan dengan hari Jum’at. Sebagaimana biasa Syaikh Yasin hanya melaksanakan shalat Jum’at di masjid terdekat, jika tidak terlambat pergi ke Masjidil Haram.

Kiai Zakwan dan kawannya punya niat iseng untuk membuat Syaikh Yasin terlambat berangkat sholat Jum’at. Diajaknya Syaikh Yasin ngobrol ngalor ngidul hingga tidak terasa azan kedua jum’at sudah dikumandangkan. Syaikh Yasin yang memang senang ngobrol, seperti larut dalam obrolan dan mengabaikan kumandang azan tersebut.

Kiai Zakwan dan temannya memang sengaja mengulur-ulur waktu supaya obrolan menjadi lebih lama. Hingga akhirnya khatib sudah masuk khutbah kedua. Mengetahui bahwa khutbah sudah khutbah kedua, Kiai dan temannya langsung pamit pergi ke masjid dengan berlari. Sambil tertawa kecil, Kiai Zakwan dan temannya beranggapan bahwa Syaikh Yasin tidak mungkin berangkat sholat jum’at. Pasalnya, dengan usia yang sudah memasuki tua, tidak mungkin Syaikh bisa berjalan cepat apalagi berlari. Jika untuk Masjid Haram, itu tidak mungkin dilakukan Syaikh kecuali menggunakan mobil tapi semua pengantar sudah berangkat ke masjid.

Kiai Zakwan dan temannya akhirnya bisa laksanakan sholat jum’at. Sepulang dari masjid, keduanya tersenyum-senyum puas bisa ngerjai sang Guru. Sesampainya di rumah, dijumpainya Syaikh Yasin sedang duduk di ruang tamu dengan senyum merekah. Seperti tidak ada penyesalan bahwa beliau tertinggal sholat jum’at. Melihat itu Kiai Zakwan dan temannya tertawa geli. Tiba-tiba Syaikh Yasin memanggil Kiai Zakwan agar menyiapkan teh karena ada tamu yang akan datang. Kiai Zakwan pun terheran bagaimana Syaikh Yasin bisa tahu bahwa akan ada tamu yang datang.

Tanpa berpikir panjang, Kiai Zakwan menuruti perintah sang Guru. Ketika menyiapkan teh terdengar suara orang dari luar rumah menyapa Syaikh Yasin. Rupanya ada dua orang Arab datang. Syaikh terlihat menyambut mereka dengan hangat. Kiai Zakwan pun keluar membawakan hidangan untuk tamu gurunya itu. Ketika sedang menyuguhkan hidangan, seorang tamu berkata kepada Syaikh Yasin bahwa selepas sholat jum’at tadi ada satu dari beberapa hadits yang belum Syaikh ijazahkan. Satu tamu lagi mengatakan bahwa tadi di Masjidil Haram Syaikh berjanji akan mengijazahkan semuanya.

Mendengar obrolan kedua tamu tadi, Kiai Zakwan jadi bertanya-tanya, ” Masjidil Haram? Bukankah tadi Syaikh Yasin tidak berangkat sholat jum’at? Rasanya tidak mungkin Syaikh Yasin bisa menjangkau Masjidil Haram jika di Utaibiyyah saja khutbah sudah masuk sesi kedua??” Pertanyaan-pertanyaan itu menggayut di benak Kiai Zakwan. Melihat Kiai Zakwan yang sedang kebingungan itu, Syaikh Yasin tersenyum dan masuk ke kamar untuk suatu keperluan. Begitu Syaikh Yasin meninggalkan tempat duduknya, Kiai Zakwan bertanya kepada kedua tamu Syaikh, ” apa benar antum berdua tadi bertemu Syaikh di Masjidil Haram?” Satu dari mereka, ” betul, tadi kami melihat beliau duduk bersandar di tiang dekat Babul Shofā.” Setelah mendengar penjelasan itu, Kiai Zakwan yakin bahwa gurunya merupakan satu dari begitu banyak auliya’ ullah…

 

Diceritakan pada tahun 2015, pada saat Haul Syaikh Yasin al-Fadani di dapur rumah Kiai Abdul Hamid Prapanca…

 

رحم الله شيوخنا الشيخ محمد يسين الفاداني والشيخ عبد الحميد البتاوي وأسكنهما فسيح جناته…