Oleh: M. Ryan Romadon

Masjidil Haram -sebagai kiblat sholat dan berdoa umat Islam- adalah bangunan (tempat ibadah) yang pertama kali dibangun. Bangunan ini didirikan oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as dengan maksud agar dijadikan sebagai tempat ibadah (Q.S Al-Baqaroh: 127). Kemudian setelah beberapa tahun -sebuah riwayat mengatakan berjarak 40 tahun- Nabi Sulaiman as. membangun Masjidil Aqsha (1005 sebelum Masehi). Inilah kiranya ringkasan pendapat dari beberapa sumber –wallahu a’lam. Berikut pandapat dari para mufassir dalam menafsirkan Surah Al- Imron: 96;

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَٰلَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”.

Adapun sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat ini adalah berkenaan dengan orang yahudi dan orang islam yang saling mengunggulkan tempat ibadah mereka; orang yahudi berpendapat bahwasanya Baitul Maqdis itu lebih utama dan agung daripada Ka’bah, karena Baitul Maqdis -masih menurut mereka- adalah tempat persinggahan hijrah para nabi dan terletak di daerah yang suci. Mendengar ucapan tersebut, orang Islam pun tidak mau kalah, mereka berpendapat bahwasanya Ka’bah-lah yang lebih utama. Kemudian terdengar lah kabar ini sampai kepada Rasulullah saw, dan turunlah ayat ini (Ali Imron: 96) sampai penjelasan tentang maqom (napak tilas) Nabi Ibrahim as “مقام إبراهيم”. Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir ra dan Imam Mujahid ra.

Kemudian setelah berbicara tentang Masjidil Haram sebagai tempat ibadah yang pertama kali dibangun, ayat setelahnya berbicara tentang beberapa keistimewaan Masjidil Haram yang menjadikannya lebih utama daripada masjid-masjid yang lain.

Dalam memaparkan beberapa keistimewaan Masjidil Haram, para mufassir mempunyai pandangannya masing-masing. Berikut adalah ringkasan pemaparan -yang kami baca- dari para mufassir tentang beberapa keistimewaan Masjidil Haram;

1). Adanya beberapa bukti kekuasaan Allah swt di dalamnya, yang mana salah satunya adalah napak tilas tempat berdirinya Nabi Ibrahim as saat membangun Ka’bah (maqom ibrahim). Hal ini menjadi salahs atu bukti kekuasaan Allah swt, sekaligus bukti kenabian Nabi Ibrahim as, karena napak tilas kaki beliau -bahkan sampai kedua mata kakinya pun ikut tenggelam- pada batu yang amat keras, merintih-nya sebagian batu, serta terjaganya situs tersebut sampai beribu-ribu tahun adalah sebuah mukjizat yang teramat sangat agung.

2). Tempat yang di berkahi sekaligus banyak kebaikan di dalamnya. Hal ini -menurut Ibnu Abbas ra- karena di lipat-gandakannya pahala ibadah yang dikerjakan di dalamnya. Sedangkan menurut Imam Qoffal; boleh jadi yang di maksud dari keberkahan tersebut adalah apa yang di Firmankan-Nya dalam Surah Al-Qoshos: 57;

يُجْبَىٰٓ إِلَيْهِ ثَمَرَٰتُ كُلِّ شَىْءٍ رِّزْقًا مِّن لَّدُنَّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ…

“…yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.

Hal ini mengingatkan bahwasanya walaupun notabene-nya daerah sekitar Masjidil Haram adalah daerah padang pasir yang tandus dan berupa kawasan jurang yang tidak ada tetumbuhan, namun banyak sayur-mayur dan berbagai macam buah di dalamnya yang menjadi komoditi produksi dunia.

3). Tempat bersumber-nya petunjuk bagi manusia. Tempat dimana semua orang yang sholat menghadap ke arahnya, pun juga tempat yang menjadikan bermilyar-milyaran orang berbondong-bondong mendatanginya untuk menunaikan ibadah haji dan umroh. Hal ini berkat do’anya Nabi Ibrahim as kepada Allah swt (QS. Ibrahim: 37) dan dikabulkan oleh-Nya (QS. Al-Hajj: 27-28)

4). Terjaminnya keamanan seseorang dan hartanya, baik dari musuh maupun dari orang yang hendak berbuat jahat. Oleh karena itu, di sana tidak ada darah haram yang dialirkan dan tidak ada pula seorang pun yang dibunuh di dalamnya, walaupun dengan tujuan untuk menuntut balas dendam ataupun qishoh. Hal ini selaras dengan apa yang menjadi Firman-Nya dalam Surah Al-Ankabut: 67, Surah Al-Qoshosh: 57, Surah Al-Baqoroh: 125 dan do’a Nabi Ibrahim yang tertera dalam Surah Al-Baqarah: 126.

5). Tempat yang menjadi simbol persatuan orang islam. Di mana mereka mempunyai kesamaan dalam hal menghadap ke arah masjidil haram dalam sholat mereka.

Demikianlah ringkasan pendapat -yang kami baca- dari para mufassir tentang beberapa keistimewaan masjidil haram yang menjadikannya layak menjadi yang pertama dan utama. Namun, tidak menutup kemungkinan masih banyak keistimewaan-keistimewaan lainnya yang tidak dipaparkan di sini.

Adapun ayat selanjutnya; Ali Imron: 97;

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (Ali Imran: 97)

Secara garis besar berbicara tentang kewajiban ibadah haji bagi orang yang mampu melakukan dan tidak ada sesuatu yang menghalanginya untuk sampai ke masjidil haram. Tulisan ini tidaklah akan menghidangkan tentang seluk beluk ibadah haji, karena yang menjadi fokus disini hanyalah membahas tentang beberapa keistimewaan Masjidil Haram sehingga layak menjadi yang pertama dan utama.

Wallahu a’lamu bishshowab

 

Referensi:

– Tafsir Jalalain

– Tafsir ash-Showy

– Tafsir al-Qurthuby

– Tafsir Ruh al-Ma’any

– Tafsir an-Nawawy

– Tafsir al-Munir az-Zuhaily

– Shofwah at-Tafasir