Beli Buku

Ketika Snock Hurgronje Memuji Kealiman Syaikh Nawawi Al-Bantani

Oleh : Amirul Ulum

Ketika Snock Hurgronje sedang menghadiri majlis ilmu Syaikh Nawawi al-Bantani, dia heran dengan sosok ulama kurus dan parasnya yang kecil yang memakai tudung kepala dengan kain yang dipakainya sudah lusuh, warna pakaiannya sudah tidak terlalu nampak sebab sudah terlalu lama.

Saat diamati secara seksama dengan ikut berbaur dengan para pelajar yang ada di Kampung Jawah (Syamiah), Snock Hurgronje mendapatkan sebuah suasana yang begitu sejuk dan takzim. Saat butiran nash-nash kitab klasik dibacakan dengan suara yang pelan namun jelas dan terdengar di seluruh ruangan majlis, para santri menunduk sembari mendengarkan apa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani. Penjelasannya lugas dan tak membuat jenuh bagi yang mendengarkannya. Dalam menjelaskan sebuah keilmuan, al-Bantani dikenal dengan sebutan Imâmu al-Manthûq wa al-Mafhûm. Yaitu, ulama yang paling menguasai dalam hal pemahaman ilmu dan cara menyampaikannya. Dengan mudah beliau dapat menerangkan kata-kata dan kalimat-kalimat Arab yang artinya tidak jelas atau sulit dimengerti yang tertulis dalam syair yang bernafaskan keagamaan. Sesuatu yang asalnya rumit, jika yang menjelaskan al-Bantani, maka akan menjadi gamblang dan jelas.

Snock mengamati terus apa yang dilakukan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani. Usai menutup kitabnya sebagai tanda pelajaran telah usai, Snock menemui al-Bantani seraya berkata; “Mengapa Syaikh tidak mengajar di Masjidil Haram, tapi malah di perkampungan Jawah?”

“Pakaianku yang jelek dan kepribadianku tidak cocok dan tidak pantas, tidak layak bila disejajarkan dengan keilmuan seorang syaikh yang berbangsa Arab,” sahut Syaikh Nawawi al-Bantani dengan penuh ketawadukan.
“Bukankah di Masjidil Haram banyak orang yang tidak sepandai Anda, akan tetapi mereka tetap dipersilahkan untuk tetap mengajar!?”
“Jikalau mereka diizinkan untuk mengajar di Masjidil Haram, tentunya mereka adalah orang-orang alim pilihan,” jawab Syaikh Nawawi al-Bantani dengan rendah hati.

Syaikh Nawawi al-Bantani merupakan sosok ulama yang selalu mengedapankan akhlak yang luhur. Meskipun keilmuannya membumbung tinggi, akan tetapi beliau tidak merasa tinggi hati. al-Bantani selalu merasa masih faqir dalam sebuah keilmuan sehingga tidak bosan-bosan ia selalu bermuthâlaah dari berbagai kajian keilmuan Islam.

Teladan yang baik selalu dikedepankan Syaikh Nawawi al-Bantani ketika berinteraksi dengan siapa saja. Karena, sebuah ilmu yang tinggi jika tidak dibarengi dengan akhlak yang luhur maka ilmu tersebut tidak ada gunanya. Sebuah pepatah mengatakan, “Kesopanan lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan.” Bukankah buah dari sebuah ilmu itu harus diamalkan? Sedangkan Rasulullah SAW itu diutus untuk menyempurkan akhlak. Rasulullah SAW bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak akhlak mulia.”(HR. Baihaqi).

 

Share:

Ulama Nusantara Center

Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.