44 Pembaca

Oleh: Ahmad Agung Basit

Arek-arek Cirebon, Indramayu lan liyan-liyane, yen ora bisa belajar maring aku, cukup kae karo Syathori”. (dawuh KH. Hasyim Asy’ari).

Dibesarkan di Pesantren

Kiai Syathori adalah sosok yang tumbuh dewasa dan menghabiskan seluruh masa hidupnya di pesantren, sehingga ia menjadi seorang yang alim dalam hal keagamaan, dan mempunyai concern terhadap pemberdayaan umat. Lahir pada tahun 1905 di dusun Lontang Jaya Desa Panjalin Majalengka. Meski tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulan kelahirannya, beberapa sumber menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada hari senin.  Karena pada masa kecilnya sempat dijuluki “Tunen” (dilahirkan pada hari senin). Sumber lain menyebutkan, meski dilahirkan di Lontang Jaya, masa kecil dan sekolahnya dihabiskan di daerah Arjawinangun.

Arjawinangun merupakan daerah yang multi etnis, kondisinya sangat kondusif bagi keragaman. Hal ini tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi melalui proses belajar yang panjang. Di antara faktor terbentuknya kondisi seperti ini yaitu karena adanya tokoh-tokoh masyarakat yang mempeloporinya. Di antara tokoh yang melegenda dan juga menciptakan kondisi damai ini adalah KH. Abdullah Syathori (w. 1969).

Kiai Syathori terlahir dari keluarga ulama dan bangsawan, darah ulama mengalir melalui jalur ayahnya. KH. Sanawi bin KH. Abdullah bin KH. Muhammad Salabi Lontang Jaya. Kiai Salabi ini seorang ulama pejuang penentang kolonialisme Belanda pada “Perang Kedongdong”. Adapun Jalur dari ibunya Nyai Arbiyah merupakan putri dari Kiai Abdul Aziz, yang masih keturunan sultan Banten dari jalur Sura Manggala yang memerintah kesultanan Banten pada tahun 1808, dan pada ujung silsilahnya sampai pada Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Djati).

Dalam realitasnya, seorang kiai adalah pemangku figur keagamaan yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya yang juga seorang kiai. Bagi masyarakat Jawa, ulama merupakan sosok yang terhormat, menduduki posisi elite di tengah kaum santri yang cenderung religius. Julukan Ulama ini lebih populer dengan panggilan “kiai” Clifford Geertz (1960) dalam Javanese Kijaji menyebutkan, Kiai adalah produk dari pergulatan antara nilai-nilai keagamaan dan praktik kebudayaan lokal. Sosok yang lahir karena identitas institusional, dan perannya dalam mendidik umat melalui pesantren.

Pesantren merupakan sekolah keagamaan yang menyediakan asrama bagi murid-muridnya. Sebuah pesantren biasanya dipimpin oleh seorang ulama di Jawa dikenal dengan istilah kiai. Fokus dari pesantren adalah pengajaran agama Islam, pada hakekatnya bersifat tradisional. Hal itu telah berlangsung selama berabad-abad yang lampau lebih menekankan pada sufisme (mistisisme Islam) maka seorang kiai harus dihormati sebagai guru sekaligus pembimbing ruhani.

Syathori kecil hidup dalam suasana keagamaan dan sangat disiplin, berkat kecerdasan dan didikan orang tuanya, diusianya yang masih dini beliau telah mampu menghafal Juz ‘Amma dengan Fasih. Selain dikenal sebagai anak yang cerdas dan rajin belajar, Syathori kecil dikenal sebagai anak periang dan suka berolah raga, salah satu kegemarannya adalah bermain sepak bola.

Pengembaraan dalam mencari Ilmu

Semasa belajar di pesantren keluarga, Syathori kecil mengikuti pendidikan formal tingkat dasar (SR) di Arjawinangun. Setelah usianya menginjak dewasa, kedua orang tuanya mengirimkannya ke beberapa pesantren setempat. Untuk pertama kalinya, beliau belajar di pesantren Babakan, di bawah asuhan Kiai Ismail bin Adzro’i bin Nawawi, dan juga kepada Kiai Dawud, murid dari Kiai Kholil Bangkalan Madura. Ada asumsi masyarakat luas terutama wilayah Cirebon dan sekitarnya. Untuk memulai dalam mencari ilmu sebaiknya di pesantren Babakan terlebih dahulu. Karena “mbabak” berarti melalukan langkah awal sebagai persiapan kejenjang yang lebih tinggi.

Kemudian beliau menimba ilmu di pesantren Asromo Majalengka dibawah asuhan KH. Abdul Halim. Kiai yang organisatoris sekaligus pejuang kemerdekaan, dalam sejarah beliau dikenal sebagai pendiri Persatuan Umat Islam (PUI). Tidak cukup sampai disitu, kemudian Kiai Syathori melanjutkan di pesantren Ciwedus, terletak di desa Timbang Kec. Cilimus Kab. Kuningan. Dibawah asuhan KH. Shobari, murid dari Kiai Kholil Bangkalan. Dalam sejarahnya KH. Shobari baru selesai belajar pada Kiai Kholil setelah berusia 40 tahun. Artinya bahwa keilmuannya sangat matang, merupakan kiai kharismatik pada zamanya. Maka tidak heran banyak ulama di wilayah sekitar Jawa Barat berguru padanya. Selain Kiai Syathori, murid lainnya adalah KH. Sanusi yang kemudian menjadi ulama di Babakan Ciwaringin.

Merasa tidak puas dengan belajar di pesantren Cirebon dan sekitarnya. Kemudian Kiai Syathori melanjutkan belajar di pesantren Jamsaren Solo di bawah asuhan Kiai Idris, seorang ulama kharismatik pada zamannya, murid dari Kiai Sholeh Darat Semarang. Secara bersamaan Kiai Syathori sekolah di Mambaul ‘Ulum terletak di Kauman dekat keraton Solo Jawa Tengah. Madrasah ini didirikan atas kerjasama pemerintah kolonial dengan keraton Surakarta Hadiningrat, dengan tujuan untuk meluluskan para calon ulama sekaligus menjadi penghulu.

Di pesantren ini Kiai Syathori banyak belajar mulai dari rajin mengaji, menghafal, serta muthala’ah berbagai kitab. Sehingga mulai terbentuk karakter keilmuan dan kealimannya. Sedangkan dari madrasah Mambaul ‘Ulum Kiai Syathori mendapatkan ijazah sekolah formal. Di kemudian hari ijazah ini sengaja beliau bakar, dengan alasan agar tidak mengurangi keikhlasannya dalam mencari dan mengembangkan ilmu-ilmu keislaman.

Dirasa masih belum puas dalam mencari ilmu, selanjutnya Kiai Syathori singgah di pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari, murid istimewa Kiai Kholil Bangkalan. KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan tokoh pembaharu terhadap sistem pengajaran di pesantren. Suatu hal yang kemudian ditiru secara luas oleh pesantren-pesantren lainnya. Pesantren ini bertambah masyhur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah. Kelak, Termasuk Kiai Syathori sendiri.

Di Pesantren Tebuireng ini Kiai Syathori memperkaya kajian dan bacaan keilmuan lebih banyak lagi. Seperti belajar Tafsir Baidlawi dan kitab-kitab yang dikembangkan di Makkah pada waktu itu, dikenalkan dan dikaji di pesantren ini. Setiap kitab yang dikaji memiliki sanad[1] yang langsung dan sampai kepada penulisnya (mushanif). Dalam suatu kesempatan Kiai Hasyim mengijazahi kiai Syathori dengan “ijazah ammah wa muthlaqah tammah’’ yang tertulis dalam kitab al-Kifayah al-Mustafid dengan maksud menerangkan sanad kitab dari karya KH. Mahfudz Termas.

Selain belajar, Kiai Syathori di percaya oleh Kiai Hasyim untuk mengajar kitab Alfiyah ibn Malik. Kitab yang membahas tentang kaidah-kaidah ilmu nahwu dan shorof. Di antara santrinya adalah KH. Muhammad Ilyas, mantan Mentri Agama pada zaman Orde Lama, dan putra gurunya sendiri yang juga mantan mentri agama RI, yakni KH. Wahid Hasyim bin KH. Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim senang dengan metode yang diajarkan oleh Kiai Syathori. Hingga dalam suatu kesempatan Kiai Hasyim Asy’ari berkata di hadapan para santri-santrinya: “Arek-arek Cirebon, Indramayu lan liyan-liyane, yen ora bisa belajar maring aku, cukup kae karo Syathori”.

Melihat kecerdasan Kiai Syathori, Kiai Hasyim bermaksud menikahkan dengan putrinya. Namun, Kiai Syathori dengan halus menolak tawaran guru yang sangat dihormatinya, yaitu dengan diam. Sementara Kiai Hasyim menanggapi sikap diam muridnya itu, ia langsung mencari informasi ke Cirebon, sehingga beliau tahu sendiri bahwa sang murid telah memiliki calon istri di Cirebon.

Pada saat yang sama, kiai Syathori juga telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan Nyai Masturoh binti Adzro’i bin Muhammad Nawawi (Ki Glembo). Nyai Masturoh sendiri ditinggal oleh ayah kandungnya Kiai Azdro’i, sejak usianya masih kecil. Kemudian ia dipelihara dan dididik oleh ibunya Nyai Miryati binti H. Said bersama dengan ayah tirinya, Kiai Rofi’i bin Ki Glembo Kali Tengah. Kiai Adzo’i dan Kiai Rofi’i sendiri masih kakak beradik.

Meskipun Kiai Syathori sudah ditunjuk sebagai pengajar di pesantren, ia tidak pernah mengurungkan niatnya untuk terus belajar. Setelah dianggap cukup, kemudian berinisiatif belajar ke guru dari guru-gurunya, yaitu Kiai Kholil Bangkalan Madura. Pada saat itu, Madura sebagai kiblat penting dalam pendidikan keagamaan, dan telah melahirkan para ulama yang moderat.  Sesampainya di Madura, Kiai Syathori sempat bertemu Kiai Kholil pada pengajian pasaran bulan Ramadhan di pesantrennya. Saat itu Kiai Kholil membaca doa, para santri termasuk kiai Syathori serentak mengamininya. Setelah selesai pangajian pasaran, Kiai Syathori berkeinginan akan mengikuti pengajian Kiai Kholil  pada bulan Syawal berikutnya. Namun sebelum Syawal itu tiba, Kiai yang dikenal sebagai wali tanah Madura-Jawa itu berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1925.

Kiai Syathori sendiri sangat mengagumi Kiai Kholil Bangkalan. Beliau menyatakan bahwa dalam tubuh dan perut gemuk Kiai Kholil, kalau dibedah, isinya nadham al-Fiyah. Hal ini, karena Kiai Kholil sendiri dikenal sejak usia muda sangat baik dalam menghafal seribu deret nadham al-Fiyah, sekalipun cara bacanya terbalik, dari akhir ke nadham yang pertama, atau dalam istilah jawa disebut nyungsang.

Pernikahanya dengan Nyai Masturoh

Setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya. Kiai Syathori melangsungkan pernikahan dengan Nyai Masturoh pada tahun 1927. Dalam akad tersebut, turut Hadir KH. Hasyim Asy’ari sebagai salah seorang wali nikah atas undangan Kiai Rofi’i. Seusai melaksanakan akad nikah, atas dorongan orang tua dan mertuanya, Kiai Syathori pergi ke Baitullah. Pada masa itu, menunaikan ibadah haji tidak hanya melaksanakan rukun Islam yang kelima, tetapi juga untuk menambah ilmu. Para ulama berdatangan dari berbagai belahan dunia untuk belajar dan mengajar ilmu keagamaan. Sedangkan ibadah haji merupakan puncak dari petualangan ilmiah. Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, kemudian diselenggarakan pesta pernikahan secara meriah pada tahun 1928. Tepatnya setahun setelah prosesi akad dilaksanaan.

Selanjutnya untuk beberapa lama Kiai Syathori menetap di Kali Tengah Plered Kab. Cirebon. Mengikuti keluarga istrinya terlebih dahulu. Pada saat itu, ada asumsi bahwa siapa pun yang baru menyelesaikan masa belajarnya di pesantren, hendaknya jangan dulu pulang kampung dan mengamalkan ajaranya di tengah masyarakat, sebelum ia belajar ke Kiai Rofi’i Kali Tengah. Yang secara kebetulan ayah tiri dari istrinya. Kiai Rofi’i saat itu dikenal sebagai ahli hikmah[2] yang membekali para santri dengan berbagai wirid, doa dan dzikir.

Di samping mempelajari ilmu hikmah kepada Kiai Rofi’i, Kiai Syathori mulai membuka pengajian kitab kuning untuk masyarakat Kali Tengah dan sekitarnya. Tradisi mengajar ini atau bahasa setempat muruk ngaji[3] merupakan hal yang biasa bagi Kiai Syathori semenjak di pesanatren Babakan, Solo maupun di Tebuireng. Tetapi mengajar kitab di Kali Tengah ini mempunyai makna tersendiri, sebagai persiapan atau bekal beliau untuk mengajar santri-santrinya kelak dan masyarakat. Adapun kitab yang diampu saat itu adalah Shahih Bukhari.

Di usia 50-an Kiai Syathori semakin rajin beribadah, mengajar para santri di pesantren dan madrasah, selalu sholat berjamaah dan memperbanyak membaca al-Qur’an. Semakin senja usia beliau semakin istiqamah hidupnya. Kegiatannya tiada lain di seputar Mushollah, pesantren dan setiap habis sholat Jum’at, beliau berziarah ke kuburan ayahnya, KH. Sanawi. Setelah itu beliau mampir ke rumah-rumah penduduk, untuk sekedar berbincang-bincang ringan. Apa yang dilakukanya memang terlihat sepele, namun dengan demikian beliau dapat merasakan langsung persoalan yang dirasakan oleh masyarakat sekitarnya.

Tepat pada hari Kamis, tanggal 19 Februari 1969 kiai Syathori berpulang ke Rahmatullah. Hari itu adalah hari berkabung bagi masyarakat Arjawinangun khususnya dan masyarakat muslim Cirebon pada umumnya.

Adapun buah dari pernikahannya dengan Nyai Masturoh, mempunyai lima putri dan satu putra, diantaranya: Nyai Hj. Hannah Syathori, Nyai Hj. Ummu Salamah (alm), Nyai Hj, Aisyah (alm), Nyai Hj. Durroh, Nyai Hj. Izzah (alm), dan yang terakhir KH. Abdurrahman Ibnu Ubaidillah Syathori sebagai penerus dan pegasuh pesantren Dar al-Tauhid sekarang.

Membangun Pesantren Arjawinangun

Di pesantren ada adagium yang tidak tertulis. Belajar dalam rangka mengajar”. Menuntut ilmu bukan dalam rangka mencari pangkat dan jabatan, melainkan untuk mencerahkan dan menyelamatkan umat dari kebodohan.

Setelah mencari ilmu di berbagai pesantren, beliau singgah untuk beberapa saat di Kali Tengah, kemudian memilih kembali ke kampung halaman, yaitu Arjawinangun Cirebon. Setahap demi setahap Kiai Syathori mulai membangun dan mengembangkan pesantren. Sebagai langkah awal mendirikan Madrasah Wathoniyyah, disebut demikian, karena kebanyakan pengajar pada saat itu dari daerah lokal (Abna Al-Wathon) sekitar pesantren. Selain itu, ada juga yang berasal dari desa-desa yang jauh seperti dari Kerangkeng dan Dukuh Jati. Biasanya mereka adalah lulusan pesantren Jombang atau pesantren Lirboyo yang berniat mengabdikan dirinya mengajar di pesantren Kiai Syathori ini.

Di tangan Kiai Syathori, pesantren mengalami berbagai renovasi. Semula hanya satu-dua kompleks, kemudian menjadi delapan kompleks. Penamaan kompleks dengan menggunakan abjad latin; A,B,C,D,E,F,G dan H. Tidak menggunakan nama atau abjad arab. Pada awalnya Kiai Syathori menamakan pesantren Arjawinangun. Ini mengikuti kebiasaan pesantren-pesantren (tradisionalis- nahdhiyyin) saat itu, dimana nama pesantren mengikuti nama daerahnya. Seperti pesantren Buntet, pesantren Kempek, pesantren Babakan, pesantren Lirboyo, Tebuireng dst. Baru belakangan ini nama-nama pesantren menggunakan kalimat-kalimat Arab, seperti Raudhatut Thalibin, Assalafie dll, termasuk pesantren Dar al-Tauhid (DT) yang semula bernama pesantren Arjawinangun. Pesantren ini mencapai puncaknya pada tahun 1950-1970. Saat itu kiai-kiai di Cirebon berdatangan untuk mengaji kepada Kiai Syathori. Pada tahun 1943, jumlah santri yang datang mencapai 500 orang, ini jumlah yang sangat istimewa mengingat fasilitas pesantren saat itu masih terlihat apa adanya.

Adapun metode pendidikan pada pesantren ini di antaranya, pertama sorogan, santri maju satu persatu membaca dan menjelaskan di hadapan kiai, kemudian di akhir kiai membetulkan bacaannya, menjelaskan atau menambahkan keterangan pada santri tersebut. Cara belajar seperti ini dinilai sangat efektif, merangsang pengetahuan para santri, untuk mempersiapkan bacaan dan memahami sebelum disodorkan atau dibacakan ke hadapan kiai. Kedua Halqah (Bandongan), metode ini sangat lumrah di pesantren-pesantren, di mana kiai membacakan isi kandungan kitab kuning, lalu para santri mencatat makna dan kandungan dari kitab yang dibacakan, dalam istilah pesantren disebut menghafshai. Metode ini juga, diterapkan Kiai Syathori pada pengajian umum yang dihadiri oleh masyarakat sekitar. Seperti pengajian ibu-ibu pada Jum’at siang, adapun kitab yang dibaca adalah Kitab Sulam, Majmu’atus Syariah dan Bidayatul Hidayah. Sedangkan untuk pengajian bapak-bapaknya pada hari selasa, dengan pembacaan Tafsir Jalalain, Sunan Turmudzi dan Nasa’i.

Ketiga Metode Klasikal, dengan mengklasifikasi kelompok belajar dalam madrasah, dengan istilah Sifir Awal, Sifir Tsani dan Tsalits, yang kini berubah menjadi Ibtidaiyyah kelas satu, dua dan seterusnya. Sistem seperti ini beliau mengadopsinya dari pesantren Tebuireng, yang pada saat itu belum banyak berkembang. Bentuk pendidikanya berupa madrasah, maka media yang digunakan pada saat itu masih menggunakan kapur dan papan tulis. Pada saat itu merupakan hal yang tabu bagi pesantren tradisional di Cirebon. Mereka beranggapan menggunakan alat tersebut (kapur tulis) haram hukumnya, sebab debu hasil penulisan ayat-ayat al-Qur’an dikhawatirkan akan terinjak-injak, hal ini sama dengan menghina al-Qur’an. Di sini Kiai Syathori dapat mengatasinya dengan baik tanpa menimbulkan permasalahan yang berlanjut. Dengan cara mengumpulkan ulama-ulama se-wilayah Cirebon, melakukan klarifikasi (tabayun) dan menjelaskan bahwa menulis dengan kapur tulis yang semula dikhawatirkan debunya akan terinjak-injak, tetapi bila dilihat manfaat dan madharatnya, maka menulis dengan kapur tulis tentu jauh lebih banyak manfaatnya.

Komitmen Keumatan

KH. Syathori adalah ulama sekaligus penggerak bagi warga setempat, mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap masalah-masalah aktual yang muncul di tengah masyarakat. Sosok dari pribadi yang sederhana dan bersahabat dengan siapa saja, terutama masyarakat kalangan bawah yang beragam. Dalam hal ini, pesantren tidak hanya memosisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan an sich, tetapi sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. Oleh karenanya, pesantren tidak terpisahkan dengan realitas masyarakat, bahkan menjadi bagian dari masyarakat.

Karena Arjawinangun merupakan daerah yang multi etnis, sosok Kiai Syathori selalu menghormati dan menghargai perbedaan yang ada, beliau aktif menciptakan hidup bersama secara damai. Hal Ini ditunjukkan ketika bulan puasa, di mana beliau memperbolehkan para masyarakat Tionghoa, baik muslim maupun non-muslim untuk mengirimkan ta’jil (makanan berbuka puasa) kepada para santri dan muslim yang berbuka di masjid. Selain itu, Kiai Syathori menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Tionghoa dan non-muslim yang berada di sekitar. Beliau membiarkan generasi penerusnya memahami keragaman sejak awal, tanpa harus khawatir anak-anaknya terbawa atau terpengaruh agama lain.

Kerjasama dengan nonmuslim ini terus dibangun secara konsisten, ada tokoh Tionghoa setempat yang ahli dalam pengobatan, selalu menggunakan do’a-do’a yang berasal dari Al- Qur’an, meski dia bukan muslim. Ini dia lakukan, karena do’a-do’a tersebut diajarkan Kiai Syathori terhadapnya. Kiai Syathori tidak memaksanya untuk memeluk agama Islam, tetapi mengajarinya beberapa do’a penyembuhan. Dan nyatanya do’a itu ampuh untuk menyembuhkan.

Apa yang dilakukan KH. Syathori dalam menghargai keragaman, sedikit banyak berdampak pada kehidupan di masyarakat. Selain pendiri dan pengasuh Pesantren Arjawinangun, beliau adalah sosok Kiai yang bukan hanya bergelut dengan lembaran-lembaran kitab kuning, tetapi juga aktif dalam ranah sosial dan politik, beliau pernah telibat aktif di NU antara tahun 50-an hingga 70-an. Dan pernah menjadi Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Demikianlah peran dan kontribusi Kiai Syathori dalam pendidikan Islam di Arjawinangun Cirebon. Ini semua beliau dilakukan dengan penuh kesadaran, rasa tanggungjawab, konsisten dan komitmen serta keuletan dan kesabaran yang tinggi.

Sumber Rujukan

[1]Sanad salah satu ciri khas dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya ilmu hadits. Yang berarti runtutan periwayat atau deretan guru-guru yang terangkai atau bersambung sampai kepada (mushanif) pengarang kitab yang dikaji. Bukan hanya bersifat keilmuan semata tetapi dapat dipertanggungjawabkan secara sakral.

[2]Istilah ahli hikmah ini digunakan untuk menunjuk seseorang yang menekuni bidan kebathinan Islam. Terutama dalam hal pengobatan dan doa-doa mujarab untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupan.

[3] Muruk ngaji sama dengan mulang atau mengajari, memberi pengertian pada santri yang mengaji.