Oleh: Naufal Yoga Ababiel

Perkembangan agama Islam yang sangat pesat di Indonsia tak lepas dari peran para ulama’ terdahulu. Ulama menjadi rujukan bagi umat Islam sebagai tempat belajar menimba ilmu dan bekonsultasi tentang kehidupan di dunia, khususnya persoalan agama. Ulama dinilai sebagai orang yang mumpuni untuk menjawab persoalan-persoalan keagamaan. Sosoknya sangatlah tepat untuk dijadikan tumpuan menjawab segala pertanyaan seputar keagamaan. Mereka sebagai perantara antara Allah Sang Dzat Pencipta dengan ciptaannya, yakni manusia. Ulama’ bertugas meneruskan perjuangan yang telah dilakukan oleh para nabi di zaman dahulu sebegai penerus warisannya. Warisan tersebut berupa ilmu agama.  Seperti dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda:  الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ “Ulama’ adalah pewaris nabi”. (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda RA). Dari sinilah kita ketahui bahwa para Ulama’ adalah orang-orang pilihan. Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman,

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami”. (Fathir: 32)

Sudah mashur bahwa para salafussholih selalu mengajarkan agar menjadikan ulama’ sebagai rujukan dan pedoman dalam segala hal pelik yang membutuhkan solusi. Bahkan lebih dari itu, mereka juga menempatkan ketaatan kepada ulama sebagai prioritas.  

Lantas bagaiamana cara kita meneladani kisah dari ulama’ terdahulu? Salah satu caranya adalah mengenal beliau dengan membaca kisah-kisah teladannya. Membaca biografi para ulama’ tidak pernah ada habisnya. Meskipun kita gunakan seluruh umur untuk membaca biografi para ulama yang ada di seluruh dunia maka tentu itu tidak cukup. Namun membaca biografi ulama dengan perasaan senang, hormat, dan cinta InsyaAllah telah mencukupi kita sebagai bekal di akhirat kelak. Begitu pula yang akan penulis sampaikan. Kisah teladan yang berasal dari tokoh ulama’ yang sangat dihormati dan menjadi pedoman masyarakat. Beliau adalah KH. Abdullah Zain Salam, yang berasal dari desa Kajen, Margooso, Pati.

Kisah perjuangan beliau dimulai dari desa kecil bernama Kajen, berada di kecamatan Margoyoso, berjarak sekitar 18 km ke arah Utara dari Pati kota. Desa yang biasa disebut “Desa Pesantren” ini merupakan desa yang telah banyak berjasa menyumbangkan putra-putri terbaiknya terhadap Bangsa, Negara dan Agama. Perkembangan pesat tersebut juga tak lepas dari Waliyullah Syekh Ahmad Mutamakkin yang merupakan penyebar agama Islam pertama di kawasan Kajen dan sekitarya, serta yang mencetuskan nama desa Kajen.

Hal itu di rasa tidak berlebihan, di mana desa tersebut mengajarkan berbagai literatur Ilmu agama Islam dan ilmu umum dari hasil karyanya para ulama. Lembaga pendidikan formal (madrasah) maupun lembaga pendidikan non formal (pesantren) yang kelahirannya dipelopori oleh ulama-ulama kharismatik yang berwibawa tinggi di hadapan para umatnya, telah mampu menjadikan tampilan wujud Desa ini menjadi sangat kontras bila dibandingkan dengan desa-desa lain di Kabupaten Pati. Bahkan tak ayal desa Kajen praktis menjadi kiblat refrensi dan rujukan dari berbagai penyelesaian keagamaan.

Profil

Abdullah Zain Salam yang akrab disapa dengan Mbah Dullah dilahirkan di desa Kajen Margoyoso Pati dengan nama Abdullah. Ketika kanak-kanak nama beliau ditambahi Zain, menjadi Abdullah Zain untuk membedakan beliau dengan beberapa anak sebaya yang kebetulan bernama sama, yaitu Abdullah. Dan imbuhan nama “Salam” diambil dari nama Romo beliau menjadi Abdullah Zain Salam.

Belum tahu jelas tentang tahun, tanggal dan bulan kelahiran beliau.  Menurut KH. Makmun Muzayyin, menantu Mbah Dullah, berdasarkan informasi dari ayahnya KH. Muzayyin, Mbah Dullah lahir pada tahun 1917. Sementara, masih menurut KH. Muzayyin, Mbah Dullah sendiri secara langsung pernah mengatakan bahwa beliau dilahirkan tahun 1920. Di pihak lain, ada sumber yang mengatakan bahwa beliau dilahirkan berkisar antara tahun 1910-1915.

KH. Abdullah Zain Salam adalah keturunan ke tujuh dari pihak ayah sampai kepada Syekh Ahmad Mutamakkin. Silsilahnya adalah KH. Abdullah Zain Salam bin KH. Abdussalam bin KH. Abdullah bin Nyai Muntirah binti KH. Bunyamin bin Nyai Toyyibah binti KH. Muhammad Hendro bin KH. Ahmad Mutammakin. Yang jika ditarik garis keturunannya menunjukkan bahwa beliau, Syaikh Abdullah Zain Salam masih mempunyai garis darah sampai pada Nabiyullah Muhammad SAW yang tepatnya ketururan ke 35. Hingga pada masanya Mbah Dullah menikah dengan Nyai Aisyah dan dikaruniai 7 putra-putri.

Perjalanan Ilmu

Perjalanan pendidikan KH. Abdullah Zain Salam, salah satunya yaitu sejak kecil Mbah Dullah telah terbiasa hidup mandiri dan terpisah dari keluarganya, belum genap tujuh tahun beliau ikut pamannya dari pihak Ibu di Jepara yaitu Kyai Sholihin untuk belajar mengaji Al-qur’an Binnadhor.

Saat usianya mencapai tujuh tahun, beliau melanjutkan pendidikan di Kajen, tepatnya di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) di mana Ayahnya sendiri KH. Abdussalam sebagai mudir (kepala sekolah) waktu itu. Setelah lulus dari Mathole’ beliau diantar kakaknya KH. Mahfudh yang merupakan ayah dari KH. Sahal Mahfudh (Rais ‘Aam Syuriah Nahdlatul Ulama ke-8). Mbah Dullah diantar ke Madura untuk menghafal Al qur’an di bawah asuhan Kiyai Mohammad Sa’id dan kemudian melanjutkan ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari.

Versi lain mengatakan bahwa setelah beliau mengaji Al-qur’an binnadhor di Jepara, lalu melanjutkan ke Sampang Madura, baru kemudian kembali ke Kajen untuk tholabul ilmi di Perguruan Islam Matholi’ul Falah,. Setelah itu baru diantar kakaknya ke Tebu Ireng. Di Tebu Ireng beliau seangkatan dengan teman-teman sesama dari Kajen antara lain KH. Duri Nawawi, KH. Ni’am Tamyis dan KH. Abdul Hadi. Di antara teman-temannya tersebut, beliau termasuk yang paling muda, namun demikian justru beliaulah yang sering membantu mencarikan tambahan bekal bila kedua teman tersebut kehabisan.

Meskipun secara formal pendidikannya sudah berakhir, namun beliau masih aktif belajar pada beberapa pihak, termasuk kepada KH. Muhammadun Kajen. Beliau juga pernah safari ilmu ke Kudus yaitu kepada KH. Arwani Amin Said untuk mendalami Qiro’ah Sab’ah dan Thariqah. Selepas itu, beliau juga belajar kepada KH. Abdul Hamid Pasuruan. Semua proses belajar ditekuni dengan senang hati untuk mengharap keberkahan dan ridho ilahi.

Dan di balik itu semua tak terbantahkan bahwa Mbah Dullah sangat mencintai Al-Qur’an. Sampai membuatnya meneruskan kepemimpinan pondok pesantren yang menganjurkan para santrinya untuk terbiasa membaca Al-Qur’an. Mbah Kiai Abdullah Salam, sangat memprioritaskan Al-Qur’an, daripada ilmu-ilmu lainnya. Kepada putra-putrinya, yang selalu beliau tanyakan adalah: Bagaimana dengan Qur’anmu? Sebagai bentuk kepedulian beliau terhadap Al-Qur’an. Kendati demikian, bukan berarti Mbah Dullah tidak perduli dengan ilmu-ilmu agama lainnya. Pada kenyataannya, Mbah Dullah, selain masyhur dengan Al-Qur’an nya, juga terkenal sangat alim ilmu fiqih, tashawwuf dan seterusnya. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian beliau terhadap ilmu sangatlah tinggi, dan khusus Al-Qur’an perhatian beliau jauh lebih tinggi. Salah satu caranya yaitu menyuruh para santri untuk khataman setiap hari Jum’at. Proses pendidikan yang di lalui Mbah Dullah menunjukan minat besarnya dalam samudera ilmu. Beliau bukan hanya sosok Hafidzul Qur’an tapi juga Hamilul Qur’an yang berusaha memahami dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Selain itu beliau juga sosok Mufassir, dan ahli fiqih yang mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, beliau adalah sosok sufi yang mengkaji dan mengamalkan ajaran tasawuf secara istiqomah. Banyak sekali kitab-kitab yang sangat beliau pahami yang kemudian disampaikan kepada masyarakat dengan ketulusan hati. Hal ini menunjukan kedalaman ilmunya dalam segala bidang keilmuan.

Mbah Dullah pun juga mewariskan hal itu kepada anak-anaknya. Al-hasil dari usaha beliau, sekarang putra-putri Mbah Dullah berhasil mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan pesantren masing-masing.

Sang Pemimpin

KH. Abdullah Zain Salam, sebagaimana disampaikan KH. Abdullah Umar Fayumi dalam Talkshow Tasawuf Kajen di Ma’had Aly PP. Maslakul Huda Kajen yang diadakan oleh Panitia Muktamar Keluarga Mathaliul Falah (KMF) tahun 2017, adalah sosok pemimpin yang mampu mengatur irama dakwah yang ada di Kajen dan sekitarnya. Beliau mampu membagi peran para kiai sesuai potensinya masing-masing untuk meramaikan dan memajukan desa Kajen sebagai kota santri. Serta menjadikannya sebagai sumber ilmu dan hikmah yang dicari oleh para pencari ilmu dari seluruh penjuru Nusantara.

KH. Abdullah Zain Salam menjadi pemimpin para kiai dengan spesifikasi kajian al-Qur’an dan tafsir, KH. MA. Sahal Mahfudh tampil sebagai kiai pakar fiqh, KH. Ahmad Fayumi tampil sebagai kiai pakar falaq (ilmu astronomi), KH. Ma’mun Muzayyin tampil sebagai pakar fiqh yang mampu menjadi komunikator ulung di tengah masyarakat, KH. Faqih Salafiyah tampil sebagai sosok kiai yang sejuk dan damai, KH. Muzammil Thohir-KH. Muadz Thohir tampil sebagai sosok kiai yang pakar fiqh-hadis, kaya wawasan, dan mampu bermasyarakat dengan baik.

Peran beliau ini, kata Gus Umar, melanjutkan apa yang pernah dilakukan oleh Syekh Ahmad Mutamakkin pada masanya yang mampu memimpin para kiai dengan potensi yang beragam.  Pada masa Syekh Ahmad Mutamakkin, tampil beberapa kiai terkemuka, seperti Syekh Ronggokesumo yang menggerakkan dunia bisnis dan perdagangan di Ngemplak Kidul dan sekitarnya, dan juga Syekh Mizan yang menggerakkan dunia pertanian di daerah Margotuwu dan sekitarnya.

Hal ini tidak bisa diragukan lagi, seperti sosok pendiri Perguruan Islam Mathali’ul Falah, yaitu KH. Abdussalam (ayahanda KH. Abdullah Zain Salam dan K.H. Mahfudh Salam) adalah sosok pemimpin para kiai di Kajen yang mampu mengembangkan Islam di seluruh penjuru Kajen. Salah satu murid KH. Abdussalam adalah KH. Mukhtar (ayahanda KH. Ma’mun Mukhtar) dan KH. Hazbullah (Pengasuh PP. Kauman Kajen) yang dikader KH. Abdussalam untuk mengembangkan Islam di Kajen dengan merintis pesantren. Artinya, peran yang dilakukan KH. Abdullah Zain Salam tidak lepas dari peran yang dilakukan leluhurnya, mulai dari Syekh Ahmad Mutamakkin, KH. Abdussalam, dan KH. Mahfudh Salam (ayanda KH. MA. Sahal Mahfudh). Hal ini pernah disampaikan oleh dosen IPMAFA Pati, Dr. Jamal Ma’mur.

Sosok Kiyai Dermawan

Mbah Dullah merupakan sosok Kiai Dermawan. Meski, jika melihat secara fisik bangunan rumah beliau, kelihatan amat sederhana. Pondok pesantren tempat Mbah Dullah mengajar santri, awalnya hanya bangunan gothakan bambu biasa disebut angkruk, yang membujur di samping kediaman beliau, yang mampu menampung ratusan hingga ribuan jamaah ketika hadir dalam pengajian.

Mbah Dullah memiliki pengajian rutinan untuk warga, yang beliau ungkapkan dengan sangat tawadlu, sebagai ‘belajar bersama’ cara beliau untuk terhindar dari riya’ dan sombong diri. Warga dan santri yang mengaji tidak hanya diberikan limpahan ilmu dan keberkahan, sekaligus juga makan bersama setelah mengaji.

Kisah waskita dan ngilmu hikmah Mbah Dullah Salam sudah melegenda. Suatu ketika, pernah ada seorang tamu yang ikut pengajian, dan melihat ribuan jamaah setelah mengaji diberi jamuan makan oleh Mbah Dullah. “Orang sebanyak ini dikasih makan semua? Apa tidak kasihan kiainya?” tamu bergumam.

Lalu, setelah hiruk pikuk pengajian usai, sang tamu diajak beliau untuk melihat ke dapur rumah, melihat gabah dan karung beras yang bertimbun menggunung. Si tamu hanya bisa bengong, melihat betapa kaya Mbah Dullah. Bagi Mbah Dullah, kekayaan bukan untuk ditampakkan di muka publik, namun hanya disedekahkan, ditasharufkan untuk kemaslahatan umat.

Mbah Dullah tidak sekedar mengajar sisi lahir, namun menempa batin dan ruhani. Seorang santri Mbah Dullah, diberi wirid dan “kewajiban” mudarasah yang berbeda dengan santri lain. Ada yang ditugaskan mendaras 20 juz Al-Qur’an per hari, ada juga yang diwajibkan 10 juz. Berbeda-beda, tergantung kemampuan dan wadah spiritual santri masing-masing. Kelihatan, betapa Mbah Dullah mengerti sisi lahir batin santri-santrinya. Tak hanya itu, Mbah Dullah juga memiliki kepedulian tinggi terhadap Nahdlatul Ulama, organisasi yang diprakarsai para kiai untuk menjadi benteng Islam dan Indonesia. Mbah Dullah aktif mengikuti agenda bahtsul masail di wakil cabang (Kecamatan), ataupun Cabang (Kabupaten).

Di kalangan kiai NU, Mbah Dullah dianggap sesepuh karena ilmu hikmah dan samudra cinta yang ditebarnya. Pada Muktamar NU ke-28 di Situbondo, Jawa Timur, panitia atas usulan Kiai Syahid Kemadu meminta beliau untuk membuka muktamar dengan memimpin pembacaan surat Al-Fatihah sebanyak 41 kali. Mbah Dullah tanpa sungkan berjalanan kaki dari tempat parkir mobil ke tempat sidang yang cukup jauh, demi semata-mata karena tidak ingin menyusahkan panitia.

Dari petuah hikmah Mbah Dullah, kita dapat menyesap manisnya agama, dapat memahami teduhnya islam. Islam, bagi Mbah Dullah, bukanlah sebagai jubah yang mengerikan dan menakutkan, namun sebagai wasilah untuk mendekatkan kepada Allah, dengan memancarkan cahaya agama yang teduh, ramah dan menjernihkan.

Sosok Yang Istiqomah

Mbah Dullah adalah sosok yang istiqomah. Salah satu ketaatan yang beliau tekuni adalah sholat berjama’ah dengan para santri. Sampai berumur 40 tahun beliau menjadi imam di musholla. Bahkan, pada tahun 1998, ketika fisik beliau sudah nampak lemah sehingga menjadi kesulitan ketika hendak mengimami sholat berjam’ah. Namun demikian, beliau tetap berusaha untuk selalu melaksanakan sholat berjama’ah. Meskipun beliau ketika itu harus naik kursi roda untuk bisa mengikuti sholat jam’ah walaupun hanya menjadi ma’mum dengan keaadan duduk.

Pada usia senjanya, sholat berjama’ah tetap menjadi prioritas utama. Biasanya setelah menjadi imam sholat maghrib, beliau masuk ruangan yang berada di sebelah pengimaman sampai waktu isya’ tiba. Banyak amalan yang beliau lakukan bahkan dalam satu waktu khusunya diruangan tersebut. Sampai-sampai saat air dalam ruangan musholla tersebut mengalir menggenangi ruangan, beliaupun tidak mengetahuinya. Bagi beliau, istiqomah melakukan sholat jam’ah adalah cara mendidik santri dengan keteladanan. Beliau ingin mengjarkan bahwa sholat jama’ah harus diperjuangkan dalam situasi dan kondisi apapun. Bagi beliau, pendidikan haliyah (tingkah laku) lebih diutamakan dari pada maqal (ucapan).

Mbah Dullah juga berusaha melanggengkan puasa daud. Malam harinya juga digunakan untuk melaksanakan ibadah sunnah dan mengkaji kitab selama berjam-jam. Mbah Dullah juga aktif membeli kitab-kitab baru untuk dikaji, sehingga pemikiran dan wawasan pengetahuan beliau cukup mendalam.

Kisah Amplop Mbah Dullah

Pada suatu hari, Mbah Dullah diminta mengisi pengajian sehabis Jum’atan di Desa Margoyoso (sekitar 3 km dari Kajen Pati). Biasanya beliau menyewa dokar untuk mengantar ke tempat pengajian. Selesai menyampaikan pengajian Mbah Dullah pamit, dan saat itu panitia memberi amplop kepada Mbah Dullah seraya mengatakan: “Mbah, ini ongkos untuk naik dokar”. Jarang-jarang Mbah Dullah mau menerima amplop dari ceramah pengajian. Namun saat itu panitia dengan bahasa halus memberikan bisyaroh kepada Mbah Dullah agar beliau mau menerimanya. Setelah naik dokar, Mbah Dullah memberikan amplop itu kepada pak kusir dokar, yang bernama Pak Gampang. Kontan saja pak Gampang heran seraya mengatakan: “Kok amplopnya tebal mbah, terlalu banyak buat saya.” “Betul itu buat sampeyan, tadi panitia bilang, ini untuk ongkos naik dokar mbah,” Mbah Dullah menjawab.

Begitu wira’i dan menghindari syubhat, Mbah Dullah tidak  kerso menerima bisyaroh dari panitia, meskipun itu haknya.

Mencium Tangan Menantu

Cerita menarik tentang sikap rendah hati beliau adalah ketika beliau pergi ke Kudus. Tanpa sungkan Mbah Dullah mencium tangan KH. Ulin Nuha, putra dari KH. Arwani, yang tidak lain adalah menantunya sendiri. Ini dilakukan mengingat beliau adalah santri dari KH. Arwani Said Amin.

Ketawadhu’an beliau juga dibuktikan dengan pesan beliau kepada putranya “Kalau saya meninggal kelak jangan diumumkan ke mana-mana. Jangan sampai terjadi orang bergiliran rombongan demi melakukan sholat jenazah. Saya malu terhadap perlakuan macam itu, karena belum tentu saya termasuk golongan orang-orang baik”.

Akhir Hayat

Sejak seminggu sebelumnya, hari Ahad 4 November 2001, kesehatan KH. Abdullah Zain Salam tampak mulai mengalami gangguan yang cukup serius. Pada hari Seninnya, seperti kebiasaan setiap hari, pagi-pagi betul, meski dengan kondisi fisik yang sudah sangat lemah, beliau memaksakan diri dengan tertatih-tatih untuk berziarah ke kubur kakek buyutnya sekaligus guru rohaninya, yaitu KH. Ahmad Mutamakkin. Maksudnya jelas, beliau sepertinya sudah sangat menyadari bahwa waktunya telah tiba, dan beliau ingin agar proses datangnya waktu tersebut berlangsung dengan cepat, segera dan mudah.

Tak lama kemudian, dokter Muhtadi yang sudah puluhan tahun menangani kesehatan beliau sehingga lebih tampak sebagai dokter pribadi, datang memeriksa. Melihat detak jantung beliau yang tampak cepat dan tidak stabil, dokter Muhtadi sempat kaget sampai memaksa beliau agar mau untuk segera dirawat di rumah sakit. Meski sebelumnya beliau sempat menolak ketika saran yang sama diajukan oleh putra-putrinya. Entah kenapa, mungkin karena permintaan dokter kali ini dia mau menerima saran tersebut bahkan ketika hendak berangkat ke Rumah Sakit Islam Sunan Kudus untuk dirawat, beliau sempat berpamitan pada istrinya, Nyai Aisyah “Sudah ya, saya mau pamit, mau berangkat meninggal”.

Hal yang sama diulangi lagi ketika beliau memaksa untuk pulang dari rumah sakit pada hari Sabtu 1 November 2001. Waktu itu, dokter rumah sakit menghendaki agar beliau mau dirawat sampai kondisi kesehatannya relatif membaik, beliau justru menegaskan “buat apa lama-lama di sini, saya mau pulang sekarang, saya ini mau meninggal”.  Memang, sudah lebih setahun terakhir, beliau acap berkata bahwa beliau sudah tidak punya apa-apa apa-apa lagi, “kecuali ini”, katanya sambil menunjuk jam tangan yang digunakannya waktu itu, tak ada yang berfikir bahwa yang beliau maksud adalah yang beliau miliki tinggal waktu menunggu jemputan ajal.

Sebenarnya setelah lewat sehari dirawat di rumah sakit, berulang-ulang beliau meminta untuk segera dibawa pulang. Menurut beliau sendiri keberadaannya di rumah sakit hanyalah memenuhi saran dokter, tidak lain. Maka sehari semalam di rumah sakit bagi beliau sudah lebih dari cukup untuk memenuhi saran tersebut, selebihnya beliau ingin secepatnya pulang. Beliau selalu mengatakan bahwa perawatan tak perlu lagi, waktunya sudah tiba. Namun demikian keinginan ini selalu bisa dicegah.

Pagi itu keinginan beliau untuk pulang tak bisa dicegah lagi, dan beliau akhirnya memang benar-benar pulang ke rumahnya di Kajen. Bahkan tampaknya bukan ingin pulang ke rumah, tapi sekaligus pulang ke rumahnya sendiri. Ini tampak ketika keluarganya menyiapkan kamar khusus di rumah sakit tersebut, yang di maksud untuk mempermudah perawatan, beliau menolak dan terus memaksa untuk ditempatkan di rumahnya sendiri. Akhirnya beliau ditempatkan di kamarnya sendiri yang sangat sederhana, tempat yang menjadi saksi pengabdian beliau dan tampaknya juga ingin beliau jadikan saksi bagi kepergian beliau.

Setelah semalam kondisi kesehatannya tampak tidak stabil, sehabis subuh beliau tampak tertidur nyenyak. Kondisi ini berlangsung sampai ajal menjemputnya pada pukul 14.30 WIB. Kondisi beliau tampak demikian tenang dan damai ketika berangkat menuju kekasih Agungnya. Hari itu Ahad 11 November 2001, yang bertepatan dengan 25 sya’ban 1422 Hijriyah. Semesta tertunduk menghormati keberangkatan sang permata, inna ilaihi wa inna ilaihi roji’un.

الي روح شيخنا ومرب روحنا العالم العلامة الحاج عبد الله زين سلام والحاجة عائشة عبد الله الفاتحة ……… امين