Oleh: Retno Puspita Napsari

Muhammad Darwisy atau KH. Ahmad Dahlan merupakan seorang ulama sekaligus pahlawan Nasional Indonesia. Lahir di daerah Kauman, Yogyakarta, pada tanggal 1 Agustus 1886 M. Beliau merupakan putra ke empat dari tujuh bersaudara (yang semuanya perempuan kecuali adik bungsunya).

Kiai Dahlan merupakan putra KH. Abu Bakar seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta pada masa itu. Ibunya bernama Siti Aminah merupakan putri dari H. Ibrahim seorang penghulu Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu juga.

Kiai Dahlan merupakan keturunan ke-12 dari Maulana Malik Ibrahim, salah satu tokoh Walisongo yang telah menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Silsilahnya yaitu Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana ‘Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).

Terlahir dari keluarga yang agamis sebagai pelopor pendakwah menyebarkan Agama Islam membuat KH. Ahmad Dahlan sangat gemar juga dalam berdakwah sejak kecil. Pada usia 15 tahun, beliau menunaikan ibadah haji dan menetap di Makkah selama 5 tahun. Selama di Makkah, beliau memperdalam ilmu agama dan berinteraksi dengan para tokoh pemikir pembaharuan Islam yaitu Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah.

Pada tahun 1888, beliau kembali ke tanah air (kampungnya) dan mengganti namanya dari Muhammad Darwisy menjadi Ahmad Dahlan. Kemudian pada tahun 1903, beliau pergi lagi ke Makkah dan menetap selama 2 tahun. Saat itu, beliau sempat berguru kepada Syekh Ahmad Khatib yang juga merupakan guru dari KH. Hasyim Asy’ari (tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama).

Sepulangnya dari Makkah, beliau menikah dengan Siti Walidah (sepupunya sendiri putrinya Kiai Penghulu Haji Fadhil), yang kemudian dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Beliau juga seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari pernikahannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan dikaruniai 6 orang anak, yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah.

Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan juga pernah menikah dengan Nyai Abdullah, janda dari H. Abdullah. Beliau juga pernah menikahi Nyai Rum, adik dari Kiai Munawwir Krapyak. Beliau juga mempunyai putra dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau juga pernah menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.

KH. Ahmad Dahlan memiliki cita-cita pembaruan Islam di Bumi Nusantara. Diawali dari cara berpikir dan beramal yang harus sesuai dengan tuntunan agama Islam. Beliau ingin mengajak umat Islam di Indonesia untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Guna melaksanakan cita-cita tersebut, beliau mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta, pada tanggal 18 Nopember 1912. Sejak awal berdirinya organisasi ini, KH. Ahmad Dahlan telah menetapkan bahwa organisasi ini bukan organisasi politik, tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan dan dakwah.

Gagasan pendirian organisasi Muhammadiyah mendapat banyak penentangan, baik dari keluarga maupun masyarakat sekitar. Berbagai macam fitnah, tuduhan, dan hasutan datang menghampirinya. Beliau dituduh hendak menegakkan agama baru yang menyalahi agama Islam.

Banyak yang menuduhnya sebagai Kiai palsu, karena sudah meniru bangsa Belanda (beragama Kristen), menjadi pengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang kebanyakan berasal dari golongan Priyayi, dan bermacam tuduhan lainnya.

Pada waktu itu, KH. Ahmad Dahlan sempat mengajar agama Islam di OSVIA Magelang, yang merupakan sekolah khusus Belanda untuk anak-anak Priyayi. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun beliau tetap berteguh hati untuk melanjutkan cita-citanya dalam perjuangan pembaruan agama Islam di tanah air. Berkat kegigihan dan semangat juangnya, beliau bisa mengatasi semua rintangan dan masalah tersebut. Pada tanggal 20 Desember 1912, KH. Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Namun, permohonan tersebut baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914.

Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi itu hanya boleh bergerak di Yogyakarta. Pemerintah Hindia Belanda khawatir akan perkembangan organisasi ini, oleh karena itu gerakannya dibatasi hanya di daerah Yogyakarta saja. Meskipun organisasi Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri, dan lain-lain telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Guna mengatasinya, KH. Ahmad Dahlan menyiasati dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain, seperti Ahmadiyah di Garut, Nurul Islam di Pekalongan, sedangkan di Solo sendiri bernama Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF).

Perkumpulan-perkumpulan dan jama’ah-jama’ah ini mendapat bimbingan langsung dari Muhammadiyah, berupa Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi.

KH. Ahmad Dahlan juga bersahabat dengan tokoh agama lain. Sering kali beliau mengajak berdialog, berdiskusi dengan para tokoh agamawan. Hal ini membuktikan bahwa agama Islam bukanlah agama yang radikal dan organisasi Muhammadiyah adalah organisasi yang mempunyai sifat toleran dan tidak melarang persahabatan dengan agama lain selagi tidak memengaruhi ketauhidan.

Seperti yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan saat berkunjung ke Muntilan. Pastur Van Lith, yang merupakan tokoh agama Katholik di daerah sana. Van Lith merupakan pastur pertama yang diajak berdialog oleh beliau. Saat itu beliau tidak ragu- ragu masuk kedalam gereja dengan mengenakan pakaian hajinya.

Di sana beliau berdialog tentang pendidikan yang bermartabat dan memanusiakan manusia bersama pastur tersebut. Di sana juga terdapat sekolahan Katholik. Setelah berkunjung ke Muntilan dan berdialog dengan pastur tersebut, KH. Ahmad Dahlan terinspirasi untuk mendirikan sekolah bagi umat Islam, yaitu Madrasah Mu’allimin di Yogyakarta tahun 1918. Madrasah tersebut kemudian diberi nama Qismul Arqa, di Kauman, Yogyakarta.

Gagasan KH. Ahmad Dahlan tentang Muhammadiyah disebar-luaskan dengan mengadakan tabligh ke berbagai daerah. Di samping itu beliau juga menyampaikan tentang Muhammadiyah melalui relasi dagang yang dimilikinya. Dengan demikian gagasan ini cepat tersebar-luas ke berbagai daerah.

Gagasan ini ternyata mendapat sambutan baik dari masyarakat di berbagai daerah. Bahkan ulama-ulama berdatangan menyatakan dukungannya terhadap Muhammadiyah. Sehingga semakin lama Muhammadiyah semakin berkembang di Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 KH. Ahmad Dahlan kembali mengajukan izin kepada pemerintah Hindia Belanda agar bisa mendirikan cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Sebagai seorang yang demokratis, dalam pelaksanaan gerakan dakwah ini KH. Ahmad Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah dalam proses evaluasi kerja dan pemilihan ketua Muhammadiyah.

Selama hidupnya dalam gerakan dakwah Muhammadiyah, beliau mengadakan pertemuan anggota sebanyak 12 kali selama beliau menjadi ketua Muhammadiyah, yang artinya diadakan setahun sekali.

Organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan telah memberi perubahan murni tentang agama Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Beradasarkan ketetapan Muhammadiyah yang berupa organisasi pendidikan dan dakwah, Beliau telah membangkitkan pendidikan agama Islam di Indonesia sehingga Islam mudah dikenal.

Atas jasa-jasa dan perjuangan beliau dalam membangkitkan kesadaran dan membawa perubahan Islam dan Pendidikan, KH. Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai seorang Pahlawan Nasional Indonesia oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961.

Perjuangan beliau yang begitu tangguh berawal dari kegemarannya dalam berdakwah, kemudian menuntut ilmu dan berinteraksi dengan tokoh yang memiliki pemikiran pembaharu dalam Islam di Makkah, hingga suka duka beliau dalam mendirikan organisasi Muhammadiyah.

Meskipun banyak tantangan, masalah, dan rintangan yang mengahadang, beliau tidak berputus asa dan tetap berjuang dalam berdakwah dengan penuh semangat. Akhirnya gagasan Muhammadiyah yang berupa organisasi sosial keagamaan melalui jalan dakwah dan pendidikan diterima oleh masyarakat secara meluas di Indonesia. Beliau menjadi ketua Muhammadiyah pertama dari tahun 1912 hingga tahun 1922.

Pada tanggal 23 Pebruari 1923, di usia 54 tahun beliau pulang ke rahmataullah. Kemudian dimakamkan di pemakaman Karangajen, Yogyakarta.

Kisah hidup beliau telah diabadikan melalui film layar lebar dengan judul “Sang Pencerah”. Bukan hanya tentang kisah hidupnya, film ini juga menceritakan tentang perjuangan-perjuangan beliau dan semangat patriotisme seorang anak muda dalam mempresentasikan gagasannya membawa pembaruan di Indonesia dan dianggap bertentangan dengan pemahaman agama dan budaya pada masa itu.

Demikianlah biografi KH. Ahmad Dahlan seorang Pahlawan Nasional yang merupakan tokoh pendiri Muhammadiyah dan pembaharu Islam dan Pendidikan di Indonesia.