Oleh : Rifki Yusak (Santri Ponpes Fathul Huda)

KH. Ahmad Muhyiddin adalah seorang ulama mufasir pada masa ini yang jarang orang awam mengetahuinya. Beliau lahir di Kudus pada tanggal 05 Mei 1957 M. Beliau adalah putra dari Kiai Masyhud ibn Shodiq ibn Tohawy al-Qudsi.

Karena kealimannya serta budi pekertinya yang baik, beliau diambil menantu Kiai Ma’shum Mahfudhi, seorang kiai yang ahli riyadhoh dari Demak, yakni dinikahkan dengan putrinya yang bernama Nyai Nur Izzah.

Setelah menikah, Kiai Muhyiddin berdomisili di Demak dan mendapat amanah menjadi salah satu pengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda, Karanggawang Sidorejo Sayung Demak, meneruskan estafet perjuangan mertuanya bersama kaka iparnya KH. M. Zainal Arifin Ms. serta keluarga dalem ponpes Fathul Huda.

Beliau dikenal sebagai kiai sederhana, bersahaja serta luas keilmuanya. Selain itu beliau juga dikenal sebagai kiai alim yang produktif dalam tulis-menulis. Melek literasi beliau luar biasa hingga keproduktifannya menghasilkan banyak karya tulis, baik itu berupa buku, kitab berukuran kecil hingga berjilid dari berbagai disiplinkeilmuan, seperti akhlak, nahwu, shorof, balagah, ilmu hadist, mantiq, tafsir dll. Kecintaan beliau dalam dunia tulis-menulis ini sudah berakar sejak mondok di Lasem. Hingga saat ini beliau sudah menghasilkan puluhan karya tulis.

Di antara deretan karya beliau adalah kitab “Durusul Adab”. Yaitu sebuah kitab yang menjelaskan tentang adab. Pentingnya adab dan ilmu yang telah diramu dengan sangat apik oleh Kiai Muhyiddin. Beliau menyajikan dengan 51 nadham dalam 16 bab yang telah digubah dan diterjemah sendiri ke dalam bahasa Jawa pegon yang tentunya memudahkan khalayak umum dalam mempelajari kitab tersebut. Hal ini terabadikan dalam hutbah kitab beliau;

“Para sederek Muslimin Muslimat, meniko risalah ingkang kulo nameni “Durusul Adab” ingkang rupi nadham lajeng kulo terjemahaken kanti ma’na gandul lan keterangan sak cekape wonten sak ngandape risalah meniko, kulo damel  kanti maqsud supados lare-lare gampil anggenipun maham lan ngafalake, kawolo inggih menyadari bilih kitab meniko kirang sampurno lan katah kesalahanipun. Milo pitedah sangking para asatizd lan para ulama kulo ajeng-ajeng sanget lan kanti pangestu para masayikh lan para ulama mugo-mugo kitab meniko katah ginanipun lan manfaatipun. Amin.”

Kitab ini selesai beliau tulis di Karanggawang pada bulan Rajab 1435 H dengan ketebalan 42 halaman. Menurut Kiai Muhyiddin dalam Durusul Adab: Akhlakul karimah atau adab menjadi sebagian dari agama, jika agama itu berupa buah semangka, bilamana semangka tersebut dibelah menjadi dua bagian, maka bagian yang pertama berupa adab dan sebagian yang lain berupa syariat, tauhid dll.

Dalam hal ini, kita tahu betapa sangat pentingnya adab bagi manusia. Sebab manusia dapat dihargai karena adabnya, bukan semata-mata ilmu dan harta yang ia punya. Hingga Kiai Muhyiddin menyebutkan bilamana seseorang tidak menpunyai adab maka ia sepertihalnya lalat yang digusah rono rene (tidak dihargai).

Selanjutnya, dalam Bab Tahliyatin Nafsi bil Ilmi wal Adab, Kiai Muhyiddin menghimbau agar kita menghiasi diri dengan adab seperti berakhlak baik, jujur, malu bila berbuat maksiat, amanah, mengikuti ulama dan cinta tanah air. Jangan takabur, jangan sombong, jangan berbangga diri atas pakaian dan nasab karena sifat seperti itu dibenci Allah SWT.

Kemudian setelah menghimbau agar berhias diri dengan adab, Kiai Muhyiddin juga menghimbau agar kita berhias diri dengan ilmu. Sebab keduanya: adab dan ilmu harus dimiliki dan harus beriringan dalam kehidupan manusia. Menurut beliau, ilmu itu laksana cahaya yang menyinari jalan yang gelap gulita dan barang siapa menapaki jalan tersebut dengan ilmu maka ia akan selamat nan bahagia.

Oleh karenanya bilamana seseorang mempunyai keduanya yakni adab dan ilmu, maka orang tersebut akan diangkat derajatnya oleh Allah dan tentunya banyak orang yang mencintai serta ia akan bahagia di dunia dan akhirat. Maka hal ini yang perlu kita garis bawahi. Bilamana kita hendak ingin menapaki kemuliaan seyogjanya kita menghiasi diri dengan adab dan ilmu.

Dalam Bab Ta’dzimil Masyayikh wal Asatidz, Kiai Muhyiddin menggubah tiga belas nadzam. Pada bab ini dan beliau menegaskan agar menta’dzimi para guru sebagaimana menta’dzimin kedua orang tua. Karena guru adalah seorang yang mengenalkan Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam, mengajarkan dan memahamkan agama Islam kepada kita sehingga dengan hal itu semua kita bisa selamat di dunia dan akhirat. Contoh sikap menta’dzimi guru menurut Kiai Muhyiddin ialah ikut kepada guru dalam bahasa jawanya ndereaken dawuhe guru, berbicara halus ketika berhadapan dengan guru, ketika bertemu dengan guru hendaknya enggal-enggal mengucapkan salam, mengamalkan ilmu yang diajarkan, bilamana duduk bersama guru hendaknya beradab, mendengarkan apa yang telah di titahkan, jangan berkata yang unfaedah dihadapan guru, jangan bertanya sesuatu yang tidak dikuasai guru, jangan tolah-toleh bila di terangkan, masuk terlebih dahulu bila ada pengajian jangan sampai didahului guru, menyiapkan tempat untuk guru saat hendak pelajaran, mencatat apa yang harus dicatat dikala pelajaran yang telah diajarkan guru, seyogjanya dalam keadaan suci (mempunyai wudhu) bila saat pelajaran, bermuthalaah atas pelajaran yang telah diajarkan, dan selalu berhusnudzon kepada guru serta jangan menceritakan kesalahan guru bila terdapat kesalahan.

Pada bab selanjutnya, Kiai Muhyiddin menulis Bab Birrul Walidain, beliau berpesan dalam senandung nadhamnya yang telah diterjemahkan dalam bahasa jawa;

Sira wajib gawe bagus ingdalem ucapan lan perbuatanmu mareng bapak lan ibumu sebab lantaran bapak lan ibumu sira bisa lahir ana ing dunyo iki”.

Dalam dawuh tersebut Kiai Muhyiddin mengingatkan kepada kita agar berbuat baik kepada bapak ibu kita, beliau juga mengajak menostalgia betapa susahnya ibu kita saat mengandung dan bapak yang susah payah mencari nafkah.

Selanjutnya, hemat penulis, selain bab-bab yang telah disebutkan di atas, juga masih ada Bab-bab lain, sepertihalnya Bab Ta’dzimil Kutubi wa Thalabil Ikhwan wal A’malil Musriah litahsilil ilmi, Bab Aushoir Rodhail, Bab Tathoyubil wan Nadhafati wal Hirshi ala Sihatil Badan, Bab Adabil Kalam, Bab Bayanil Muruah, Bab Bayanil Hubil Wathan, Bab Bayani Thalabi Izzil Akhirah, Bab Bayani Taqdimil Muhimati minal Ulumi, Bab Bayani Thalabis Salamati fid Dunya wal Akhirah, Bab Bayani Adabil Akli, Bab Bayanil Iqtishodi fil Mal, Bab Bayani Adabiz Ziarah, Bab Bayanil Haya’.

Kemudian dalam ending Durusul Adab, beliau menulis;

Ana ing pungkasane risalah iki, al-Faqir moco sholawat lan salam katur kanjeng Nabi Muhammad Saw kang dadi bendorone poro makhluq, lan Keluargo (ahli warist) lan poro Sohabat, poro Tabi’in lan wongkang podo anut tanpo ono putus-putuse nganti dino qiyamat. Mulo sangking ni’mat lan rahmate Allah Swt sehinggo al-Faqir muji syukur al-Hamdulillah maring Allah dzat Kang aweh pitulung, aku ngarep-ngarep lan nyuwun pitulung maring Allah mugi-mugi risalah iki manfaati kanggo penulis lan kito kabeh, Amin.”