Oleh: Sri Sugianti, S.Pd

Yatim Piatu

KH. Ali Ustman Dahlan merupakan tokoh ulama yang berasal dari keluarga sederhana. Lahir di Demak pada tanggal 05 Maret 1943. Saat usianya baru 1 tahun, ibunda tercinta telah menghadap kepada yang Maha Kuasa, dan ayahanda (Bapak Dahlan) juga meninggalkan beliau di saat usianya baru 3 tahun. Di usia yang masih sangat belia tersebut Kiai Ali Ustman telah menjadi anak yatim piatu. Beliau dan kakaknya Siti Khodijah dirawat dan dibesarkan oleh bibinya yang bernama Ibu Kasmunah, sekaligus menjadi ibu susunya. Sebenarnya beliau memiliki saudara kembar, namun telah meninggal sesaat setelahdilahirkan, nama kecil beliau adalah Saman dan saudara kembarnya Samin.

Saat usia beliau menginjak 12 tahun, atas arahan dari saudara jauhnya (kang Sahli) yang bertamu ke rumah bibinya, menyarankannya untuk nyantri. Akhirnya beliau memutuskan untuk menuntut ilmu di pondok pesantren. Menurut pemikiran beliau sejelek dan sesengsaranya orang, jika mempunyai ilmu pasti akan dihargai dan dihormati. Baru empa tahun beliau menuntut ilmu di Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang sudah mendapatkan amanat dari guru beliau Syeh Ma’shum Mahfudhi untuk ikut membantu mengajar di Tsanawiyah dan sorenya di pesantren. Mendapatkan tawaran yang luar biasa mulianya ini menambah semanggat beliau untuk memperdalam lagi pengetahuannya dengan menimba dari guru-guru yang ada di pesantren. Diibaratkan menyelam sambil minum susu, mengajar dan mengaji.

Perjuangan beliau sungguh luar biasa sebagai seorang yatim piatu dan hanya dibesarkan oleh seorang bibi yang juga seorang janda, menuntut beliau untuk bekerja keras. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan untuk membeli kitab-kitab yang harus dipelajari, beliau harus bekerja keras untuk mengumpulkan rupiah. Bermodalkan beberapa kebun yang ditinggalkan oleh ayahnya,  membuatnya harus memetik hasil dari kebun itu seperti kelapa dan mengumpulkan kayu bakar yang nantinya dijual. Dari sanalah biaya hidup beliau terutama untuk memenuhi kebutuhan selama di pesantren. Namun tak pernah membuatnya berkecil hati ataupun putus asa. Karena hidup sejatinya butuh perjuangan, untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta beliau pun selalu rutin untuk melaksanakan puasa sunah sebagai suatu wujud keprihatinan mengharapkan kemudahan dari Allah atas segala usahanya untuk menuntut ilmu dan memberikan ilmu kepada santri-santrinya.

Tetep Mondok

Atas kegigihan, kesederhanaan dan kepandaian, telah membuatnya sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Baginya berumah tangga tentunya sangat dibutuhkan saling pengertian dan kejujuran, menyatukan dua hati yang berbeda untuk menjadi satu tidaklah mudah. Akhirnya pada tahun 1970 beliau menambatkan pilihan hatinya pada seorang gadis yang juga santri di pesantren Fathul Huda. Gadis yang sangat beruntung itu bernama Hj. Isyatun Rodiah. Bagaimana tidak beliau terpikat dengan gadis yang memiliki paras ayu dan lemah lembut itu. Pilihan beliau sungguh sangat tepat karna gadis tersebut mau mendampingi dalam suka maupun duka, mendampi beliau saat berjuang mendirikan sebuah pesantren, sampai akhir hayatnya sang istri dengan setia mendampinginya.

Walaupun KH. Ali Ustman Dahlan telah memperistri Hj.Isyatun Rodiah, tetapi keduanya masih tetap tinggal di pesantren dengan menjalani hidup sebagai seorang santri. Bertemunya hanya pada waktu kiriman saja. Setelah dua tahun lamanya perjalanan pernikahan, akhirnya beliau memutuskan untuk (boyong) keluar dari pesantren dan menjalani kehidupan rumah tangga bersama sang istri. Setelah mendapat izin dari pihak ndalem beliau pun menempati sebuah rumah peninggalan orang tuanya bersama sang istri, namun kegiatan beliau di pesantren masih tetap seperti biasa yaitu memberikan pengajaran kepada santri-santri. Di waktu sore hari beliau mengajar mengaji untuk anak-anak kecil yang berada di lingkungan sekitarnya. Dari pernikahan beliau dengan Hj. Isyatun Rodiah telah dikaruniai lima orang anak, dua putri dan tiga putra. Salah satu dari putranya yang kini melanjutkan pesantren yang telah beliau dirikan. Dari sekian banyak santri Fathul Huda Karanggawang murid dari Syeh Mashum Mahfudhi, KH. Ali Ustman Dahlan merupakan salah satu dari alumni pondok pesantren Fathul Huda Karanggawang yang berhasil mendirikan pesantren dengan jeri payahnya sendiri yang sekarang berada di Rimbo Ulu Jl. Rampai Ds. Sukadamai Kec. Rimbo Ulu Kabupaten Tebo Jambi.

Tanah Sumatera

Pada suatu ketika KH. Ali Ustman Dahlan berkunjung ke-tempat saudaranya yang berada di Sumatera, tepatnya di Rimbo, Bujang Jambi. Sepulangnya dari sana beliau pun mengutarakan niatnya untuk pindah ke tanah Sumatera, dan niat itu pun mendapat dukungan dari sang istri. Akhirnya pada tahun 1989 beliau dan keluarga menginjakkan kaki dai tanah Sumatera dengan modal menjual sebagian tanah yang berada di Jawa (tanah peninggalan dari orang tua beliau). Setiba di tanah Sumatera, beliau bersama sang istri bermalam di rumah saudaranya, karena waktu itu  hari sudah masuk senja dan tanah yang akan beliau beli belum dibayar. Niatnya di pagi harinya akan beliau bayar, sekali lagi ujian datang. Saat akan membayar ternyata uang yang telah beliau siapkan hilang diambil pencuri dan tidak tersisa barang sedikit pun. Atas bantuan sanak saudaranya, akhirnya beliau mendapatkan pinjaman untuk membayar tanah yang telah menjadi kesepakatan. Setelah satu tahun di tanah Sumatera beliau kembali ke tanah Jawa untuk menjengguk bibinya yang sudah beliau anggap seperti ibu sendiri. Setelah mendengar cerita dari beliau bibi yang beliau panggil dengan sebutan ibu itu menyuruh beliau untuk menjual sawah peninggalan ayahnya yang masih tersisa untuk mengembalikan uang saudara-saudara yang ada di Sumatera yang telah dipinjam beliau.

Hanya Empat Santri

Sekembalinya dari tanah Jawa, beliau pun mengembalikan uang yang telah dipinjam dari saudaranya. Namun karena merasa kurang nyaman, akhirnya beliau mencari tempat yang baru, dan kebetulan ketika itu ada orang yang akan menjual lahan, setelah melihat lokasi yang ditawarkan, akhirnya beliau memutuskan untuk menjual tanah yang baru beliau tempati itu dan uangnya untuk membayar lahan yang baru. Di tempat yang baru itulah beliau dan keluarga mendirikan sebuah rumah yang hanya terbuat dari papan, lahan yang masih kosong itu dibersihkan bersama dengan sang istri. Setiap kali hendak memulai aktifitas beliau selalu mengingatkan sang istri “Opo wes diniati hasile le nyambut gae nggo sangu munggah haji” (Apa sudah diniati hasil dari usahanya untuk naik haji). Dengan senyum manisnya, sang istri selalu mengiyakan. Perlahan tapi pasti entah dari mana kabarnya tiba–tiba berdatangan warga sekitar yang mengantarkan anaknya untuk mengaji kepada beliau, tentunya dengan senang hati beliau bersama sang istri menerima, waktu itu awal-awal masih empat orang santri putra, karna rumah yang hanya kecil dan terbuat dari papan. Akhirnya beliau memutuskan untuk memberi sekat pada bagian depan agar dapat ditinggali oleh santrinya. Beliau dan sang istri pindah kebagian belakang, walaupun jika hujan turun, tempat tidur beliau dan sang istri kebanjiran. Menurut pengakuan dari salah stu santri beliau yang berhasil penulis hubungi, kehidupan beliau sangat prihatin, sehari hanya makan satu kali. Jika sudah pukul 03.00 pagi setelah sholat tahajut bu Nyai (sang istri) sudah mulai menumbuk padi untuk di masak. Dan para santri yang tinggal di sana pun turut hidup prihatin dengan  makan hanya satu kali walaupun beras yang mereka bawa dari rumah masih banyak, namun tidak berani untuk memasak.

Ahli dalam membaca kitab

Dalam kehidupan sehari-hari beliau sangat bermasyarakat, apalagi dengan para santrinya yang sangat beliau sayangi. Hampir tidak ada jarak antara murid dengan guru. Bahkan tak jarang beliau mengajak santrinya untuk makan bersama, hal ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi para santri yang dapat makan bersama dengan seorang guru kebanggaan. Salah satu yang menjadi kegemaran beliau adalah bermain catur, sering kali mengajak para santrinya untuk bermain bersama. Menurut beliau, bermain catur sama halnya dengan membuat strategi dalam peperangan.

Kemajuan yang sungguh luar biasa dengan semakin banyaknya santri yang mengaji kepada beliau. Akhirnya sedikit demi sedikit bisa membangun gotakan atau asrama untuk para santri. Dalam mengajar para santri, beliau sangat luar biasa dalam membaca kitab. Ketika santrinya membaca lalu salah dalam mengartikannya, beliau tahu dan langsung menegurnya, bahkan tidak jarang beliau memukul atau melempar kopiyah, padahal beliau tanpa melihat kitab tersebut, hal ini menandakan bahwa isi kitab tersebut sudah berpindah ke dalam ingatan beliau. Kekerasan beliau dalam mengajar membuat santri-santrinya belajar dengan sungguh-sungguh. Di samping ketekunan KH. Ali Ustman Dahlan dalam mengajar, beliau juga telah memberikan contoh pengaplikasian isi dalam kitab di kehidupan sehari-hari.

Selain beliau mahir dalam kitab ada suatu kelebihan yang tidak sembarangan orang lain bisa memiliki kelebihan tersebut. Pernah suatu malam hari, kejadiannya di masjid setelah melaksanakan jamah. Tiba-tiba banyak santri yang kesurupan, satu sembuh lalu satu kesurupan lagi (silih berganti secara bersamaan), telah banyak yang menangani, namun hasilnya nihil. Suara yang keras keluar dari mulut para santri yang kesurupan, menambah suasana semakin mencekam, di tenggah kegaduhan suara yang menyayat hati dan membuat takut bagi santri yang lain, tiba-tiba beliau datang dan hanya mengeluarkan satu suara yang cukup keras “ Heeeey”!. Sekali saja dan spontan santri–santri yang kesurupan seketika itu diam, suasana yang bising itupun berubah menjadi hening. Setelah itu beliau langsung berlalu meninggalkan masjid, yang menambah kekaguman para santri lagi yaitu ketika cucu beliau jatuh dan kepalanya benjol menagis luar biasa, dan sekali lagi hanya diusap oleh beliau, tangis itu langsung reda dan tak merasakan sakit lagi.

Pesan Terakhir

Usaha beliau dalam membangun pesantren Fathul Huda sungguh luar biasa, tak pernah merasakan lelah walaupun hampir tak ada waktu untuk beristirahat. Pesantren yang beliau dirikan telah berkembang dengan pesat, baik dari bangunan dan mutu pendidikannya. Semula hanya mengaji Al-Qur’an dan kitab, kini telah dilengkapi juga dengan pendidikan formal, mulai dari jenjang RA, MI, MTs dan MA. Usianya yang telah rentan namun tak mematahkan semangatnya dalam berdakwah. Pada tahun 2011 beliau jatuh sakit, walaupun beliau sedang sakit, namun masih saja melaksanakan aktifitasnya. Hingga pada tanggal 10 Ramadhan 2015 beliau menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan sang istri Hj. Isyatu Rodiah dan juga di hadapan putra-putri beliau setelah sholat subuh. Pesan beliau terakhir sebelum pergi bahwa beliau tak mau dibawa kemana-mana. Akhirnya beliau pun dimakamkan di area pesantren. KH. Ali Ustman Dahlan beristirahatlah dengan tenang namamu akan selalu terkenang dan harum di setiap hati santri-santrimu. Wassalam