Oleh: Nyai Soraya Dimyathi

Perjalanan Hidup KH. As’ad Umar

KH. As’ad Umar dilahirkan di Desa Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang pada tanggal 18 Agustus 1933, dengan nama asli Muhammad As’ad. Beliau merupakan putra ketiga dari pasangan Kiai Umar Tamim dan Nyai Muzamzamah. KH. As’ad Umar terlahir dari rahim pesantren, Ayahnya adalah putra ke empat Kiai Tamim Irsyad, pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Kiai Tamim Irsyad berasal dari Bangkalan Madura dan menetap di Rejoso sejak tahun 1880an dan bersama menantunya, Kiai Cholil Juremi, beliau mulai merintis berdirinya pesantren Darul Ulum pada tahun 1885.

As’ad Umar tumbuh dan menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pondok pesantren Darul Ulum di Jombang, sebuah kota yang dikenal dengan sebutan kota santri. Latar belakang keluarga yang santri dan lingkungan yang agamis ini telah membentuk karakter As’ad Umar menjadi seorang yang religius. Beliau dikenal sebagai orang yang taat beribadah dan semangat berislamnya sangat tinggi.

Karakter dan pemikiran yang ada pada diri KH. As’ad Umar tidak bisa dilepaskan dari pengalaman masa kecilnya, didikan orang tua dan lingkungan pergaulannya. Ayahnya, KH. Umar Tamim, adalah tokoh Thariqah yang berperan sebagai pembantu utama dalam bidang khususiyah, yaitu acara khusus pengamalan ilmu thariqah atau tasawuf. Oleh karena itu As’ad Umar mendapat didikan yang dekat dengan ajaran tasawuf dari ayahnya. Namun agak berbeda dengan ayahnya, As’ad Umar lebih tertarik dengan ilmu hadis dan ilmu pemerintahan atau tatanegara. Sedangkan ibunya, Nyai Muzamzamah adalah perempuan yang gigih dalam berwirausaha, beliau datang dari Brangkal Perak Jombang, sebagai anak seorang petani kaya dan juragan sawah yang disiplin dan giat di bidang ekonomi. Dari sisi karakter, As’ad Umar lebih mirip dengan sifat ibunya, yaitu disiplin, tegas, teguh dan ulet dalam berusaha, ini dikarenakan didikan dari ibunya lebih dominan dalam keluarga.

Selain itu As’ad Umar sangat dekat dengan pamannya yaitu KH. Romly Tamim dan istrinya, Nyai Khadijah, yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Bahkan yang memberinya nama As’ad adalah KH. Romly Tamim. Diceritakan ketika Nyai Muzamzamah melahirkan anak ketiga yang merupakan anak lelaki pertamanya, KH. Umar meminta pendapat kakaknya, KH. Romly untuk memberi nama anaknya yang baru lahir. KH. Romly memberi nama Muhammad As’ad dikarenakan beberapa waktu sebelumnya, Darul Ulum mendapat kunjungan dari KH. As’ad Syamsul Arifin. Sebagai seorang muslim orang tuanya meyakini bahwa nama adalah doa, maka diharapkan Muhammad As’ad menjadi orang shalih yang bermanfaat bagi umat dan menjadi ulama besar sebagaimana KH. As’ad Syamsul Arifin.

As’ad Umar kecil hidup dalam keadaan yang menekan, yaitu saat Bangsa Indonesia berada di bawah penjajahan Kolonial Belanda dan Jepang. Beliau tumbuh di masa ekonomi yang suram. Kehidupannya serba sulit dan kekurangan. Orang tuanya mengajarkan hidup sederhana dan melatihnya untuk mandiri, sehingga tidak menggantungkan dirinya kepada orang lain. Sebagai anak laki-laki pertama, As’ad Umar tumbuh menjadi anak yang mandiri, memiliki inisiatif dan semangat tinggi dalam mewujudkan keinginannya. As’ad Umar terus memikirkan bagaimana beliau harus lebih baik, dan bagaimana bisa merubah keadaan. Sikap ini akan terbawa hingga beliau besar ketika berhasil melakukan perubahan-perubahan yang menjadi fenomenal di zamannya.

As’ad Umar muda memulai pendidikan di sekolah diniyah, kemudian berturut-turut melanjutkan di Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Mualimin Atas di lingkungan pesantren Darul Ulum. As’ad Umar selalu bersemangat menuntut ilmu, didorong keinginannya untuk mencari pengalaman yang lebih banyak dan mencari bekal untuk masa depannya, selepas Mualimin Atas, beliau memutuskan untuk merantau dan melanjutkan pendidikannya di luar Jombang. Beliau menuntut ilmu di beberapa pesantren, di antaranya di Pondok Pesantren Jamsaren Solo, pimpinan KH. Abu Amar, dan Pondok Pesantren Al Munawir Krapyak Yogjakarta, di bawah asuhan KH. Ali Ma’sum dan KH. Abdullah. As’ad Umar memiliki keinginan yang kuat untuk sekolah di perguruan tinggi, pada tahun 1958 beliau kuliah di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) Yogjakarta. Namun tidak sampai meraih gelar sarjana, baru satu tahun kuliah beliau terpaksa berhenti karena faktor ekonomi, selain itu beliau diminta oleh orangtuanya kembali ke Rejoso untuk turut membantu mengelola pesantren.

Setelah kembali ke Rejoso, As’ad Umar mulai mengamalkan ilmunya dengan mengajar di Pondok Pesantren Darul Ulum. Pada pendidikan formal beliau mengajar di Madrasah Tsanawiah dan Madrasah Mualimin Atas. Mata pelajaran yang diampunya adalah Ilmu Tatanegara. Pada pendidikan non formal, beliau mengajarkan ilmu hadis yaitu Kitab Bulughul Marom dan Risalatul Muawanah.

As’ad Umar adalah pemuda yang mudah bergaul, beliau bersama teman-temannya aktif berorganisasi di Anshor. Pergaulan di organisasi NU ini telah menguatkan kepribadiannya dan memberinya semangat untuk selalu berbuat dan berkontribusi positif bagi bangsa dan agama. Pada tahun 1959 di usia 26 tahun, As’ad Umar mulai terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota DPRD Jombang dari Partai NU. Beliau banyak belajar bagaimana menjalin komunikasi dengan banyak pihak, serta menyuarakan pendapat dan aspirasi masyarakat. Beliau dikenal sebagai tokoh NU yang konsisten dan berani menyuarakan suara NU. Dari sini terlihat bahwa KH. As’ad Umar dibesarkan secara empiris oleh Nahdlatul Ulama. Pemikirannya telah tumbuh bersama ideolagi dan partai NU yang digelutinya.

Pada tahun 1960, di usia 27 tahun, As’ad Umar sudah menjadi ketua DPRDGR Jombang. Beliau terbiasa berhadapan dengan hal-hal yang bersifat konflik atau paradoksial. Ketika seorang menjadi ketua lembaga seperti DPRD, tentu harus bisa mengayomi anggotanya yang berbeda partai dan berbeda kepentingan. Dari sini bisa dilihat, As’ad Umar memiliki kemampuan manajemen yang baik, sejak muda beliau sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang yang berbeda, bagaimana mengelola konflik, bagaimana bisa diterima semua pihak, bagaimana bisa dekat dengan seseorang (yang berseberangan maupun tidak), bagaimana bergaul dengan mereka yang berbeda agama, beda ras dan sebagainya. Pengalaman masa mudanya ini menjadi investasi yang sangat berharga, sehingga ketika menghadapi suatu kepentingan yang harus diperjuangkan, beliau menggunakan cara-cara pendekatan dan lobi-lobi yang sudah dia persiapkan strateginya.

KH. As’ad Umar menikah dengan Nyai Azzah binti Abdul Rohim yang berasal dari Malang pada tahun 1961. Pasangan ini dikaruniai 8 anak dengan enam putra dan dua putri. Sepanjang hidupnya KH. As’ad Umar mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk terus bergerak dalam perjuangan mengangkat derajat umat melalui dunia pendidikan kepesantrenan. Beliau memanfaatkan berbagai sarana perjuangan dengan aktif terlibat di berbagai organisasi sosial keagamaan, anggota dewan tokoh politik dan pengasuh pesantren

KH. As’ad Umar terserang stroke pada tahun 2004 yang membuatnya harus berada di atas kursi roda. Namun semangat hidupnya tak pernah redup, selama 6 tahun di atas kursi roda, beliau tetap memperhatikan perkembangan pesantren Darul Ulum, seperti memimpin musyawarah Mejelis Pimpinan Pondok, mengontrol pekerjaan staf dan bawahannya, menerima kunjungan tokoh nasional hingga memantau proses pembangunan yang berlangsung di Darul Ulum. Hingga akhirnya pada 5 Desember 2010, Bapak Pembangunan Darul Ulum ini pulang ke dalam rahmat Allah, dengan meninggalkan banyak kenangan, harapan dan inspirasi.

Karakter KH. As’ad Umar

Kiai As’ad memiliki prinsip bahwa hidup ini harus terus melangkah, dan berani mengambil resiko. Beliau tidak suka diam dan tidak mau tinggal diam, apapun yang beliau lakukan bertujuan agar kondisi tidak tetap dan jumud. KH. As’ad Umar menghendaki sebuah kedinamisan, sebuah perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Pemikiran ini diilhami oleh perkataan Imam Syafi’i yang mengibaratkan dengan sebuah air, di mana air yang menggenang akan membawa bau yang tidak sedap dan membusuk, sedangkan jika ia terus bergerak dan mengalir, maka ia akan terlihat bening dan sehat untuk diminum.

KH. As’ad terus melangkah selama apa yang beliau lakukan diyakininya sebagai kebaikan dan tidak melanggar syariat Islam. Segala resiko siap dihadapi dengan tanggung jawab dan lapang dada. KH. As’ad Umar adalah seorang yang fokus pada tujuan yang diyakini baik, benar dan membawa manfaat. Beliau sering menjelaskan pada banyak kesempatan, tentang hakikat orang hidup dunia. Menurutnya di dunia ini hanya terdiri dari dua macam, yaitu orang yang suka dan orang yang tidak suka dengan kita. Apapun yang kita lakukan selalu ada dua hal tersebut, itulah resikonya. Maka terhadap orang yang tidak senang tidak perlu dipikirkan, sejauh apa yang kita lakukan itu tidak melanggar syariat Gusti Allah.

Di antara contoh resiko yang harus ditanggung KH. As’ad Umar dengan keputusannya adalah seperti ketika beliau memilih Golkar di awal tahun 1980. Saat itu Darul Ulum ditinggalkan banyak santrinya, santri yang semula 4000 tinggal 1500 saja. Kemudian ketika beliau mendirikan SMA 2 Unggulan BPPT dan menerapkan sekolah dengan gaya semi militer seperti anak Taruna Nusantara, banyak yang mencibir dan meragukan keputusannya, seperti pertanyaan “Mau dibawa ke mana Darul Ulum ini?” dan pertanyaan bernada sumbang lainnya. Tetapi KH. As’ad tetap tenang saja, karena beliau meyakini bahwa waktu yang akan membuktikan. Terbukti hingga sekarang, orang-orang yang semula meragukan bahkan menentang kini justru melihat bahwa pilihan KH. As’ad Umar untuk terus melangkah adalah pilihan yang tepat.

KH. As’ad Umar memiliki jiwa perjuangan, beliau terus bergerak dan tak pernah bisa tinggal diam, jiwanya selalu terpanggil untuk menolong dan membantu orang lain. Beliau adalah seorang ulama yang energik dan penuh semangat, suka menolong dan ingin selalu bermanfaat bagi orang lain. KH. As’ad Umar dikenal sebagai pribadi yang dermawan, baik kepada keluarga, saudara, tetangga, santri dan masyarakat sekitar. Karakternya ini sesuai dengan filosofi hidupnya yang terangkum dalam rangkaian kalimat yang menjadi motto dan ajarannya, yaitu: Berzikir Kuat, Berpikir Cepat, Bertindak Tepat, Berazas Manfaat. Motto ini kemudian menjadi slogan dari Pondok Pesantren Darul Ulum.

Kiai Politisi

KH. As’ad Umar tidak bisa dilepaskan dari dunia politik. Dunia inilah yang membesarkan namanya, dunia yang menempa dirinya sejak usia muda, hingga menjadi politisi yang handal dan berpengalaman. Sebelum menjadi pemimpin pondok pesantren dan dipanggil dengan sebutan kiai, beliau sudah dikenal sebagai politisi. Masyarakat mengenalnya sebagai tokoh politik dari partai NU, yang kemudian melawan arus umat Islam saat itu dengan memilih bergabung di dalam gerbong Golkar.

Sebelum akhirnya menjadi politisi Golkar, As’ad Umar adalah seorang politisi NU. Pengalaman organisasinya dimulai dari Ansor NU, kemudian menjadi anggota DPRD Jombang dari Partai NU pada 1959-1960. As’ad Umar menjadi ketua DPRDGR Jombang dari Partai NU pada tahun 1960 – 1966, dan kembali menjadi ketua DPRD Jombang dari tahun 1968 hingga tahun 1970. Selain itu ia juga menjadi ketua Front Nasional Kabupaten Jombang pada 1960 – 1963, dan menjadi ketua PERTANU Kabupaten Jombang.

As’ad Umar adalah aktifis NU yang totalitas dalam memperjuangkan NU. Ketika Nahdlatul Ulama (NU) masih sangat kental nuansa politiknya dan masih menjadi partai politik, As’ad Umar adalah orang kepercayaan NU di bidang politik di Jombang. Sebagai aktifis NU yang fanatis, kala itu As’ad Umar dianggap sebagai  macannya NU Jombang.

Pada sekitar tahun 1975, KH. As’ad Umar mengikuti KH. Mustain Romly, (pemimpin Pondok Pesantren Darul Ulum saat itu) untuk masuk ke dalam gerbong Golkar. Bergabungnya kedua tokoh Darul Ulum ke dalam Golkar ini atas pengaruh KH. Imam dari Sarang, yang lebih dikenal Mbah Imam Sarang, yaitu pengasuh pesantren Ma’had Ilmis Syar’i (MIS), sebuah pesantren induk di Sarang, Jawa Tengah, yang menjadi cikal bakal pesantren-pesantren lainnya di wilayah Sarang. Menurut Mbah Imam, Golkar nanti akan kuat dan lama kekuasaannya, orang NU harus ada yang bisa masuk di sana, dan yang masuk di Golkar bukanlah sebarang orang, harus pinter, cerdas, cerdik. Maka Mbah Imam Sarang menyarankan KH. Mustai’in dan KH. As’ad Umar untuk bergabung di Golkar.

KH. Mustain mengibaratkan pemerintah dengan Golkarnya sebagai sebuah kapal besi yang kuat dan NU seperti kapal karet. Hal ini menjelaskan bahwa pemerintah Golkar saat itu memiliki kekuatan yang besar, yang secara logika tidak mungkin dilawan oleh NU yang belum memiliki kekuatan seimbang untuk mengejar Golkar. Jalan terbaik adalah mengikuti Golkar dan masuk ke dalam kekuatan pemerintah, bukan justru melawan dari luar, yang berarti bersiap dengan kekalahan.

Dari sini terungkap bahwa di antara keputusan bergabung ke Golkar  adalah dalam rangka perjuangan Islam dan untuk menyelamatkan umat. Apabila semua orang Islam berada di PPP, yang belum memiliki kekuatan yang memadai dan kemudian dihancurkan oleh kekuatan besar seperti Golkar, maka perjuangan umat Islam akan hancur dan berakhir begitu saja. Kejadian seperti ini tentu tidak diharapkan dan harus dihindari.

Pada Pemilu 1977 KH. As’ad Umar belum mencalonkan diri sebagai anggota dewan, tetapi beliau sudah aktif di organisasi dakwah Golkar. Beliau menjadi ketua Majelis Dakwah Islamiyah Propinsi Jawa Timur pada tahun 1975 – 1982. Sedangkan KH. Mustain menjadi pengurus MDI Pusat sebagai wakil ketua umum. Selain itu beberapa pengasuh Darul Ulum juga aktif di orgaisasi GUPPI yang berafiliasi dengan Golkar. Oleh karena itu pada masa ini kontribusi pemerintah untuk Darul Ulum (pondok dan universitas) sangat besar karena memang KH. Mustain dan KH. As’ad sudah menunjukkan dukungannya untuk Golkar.

Pada Pemilu tahun 1982 KH. As’ad Umar mulai dicalonkan dan berhasil menjadi anggota DPRD tingkat I Jawa Timur. Selanjutnya pada Pemilu tahun 1987 KH. As’ad Umar kembali menjadi anggota  DPRD tingkat I Jawa Timur dan pada waktu yang sama beliau  juga menjadi pemimpin Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. KH. As’ad Umar diangkat menjadi Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok pada tahun 1985, menggantikan KH. Mustain Romly yang wafat pada tanggal 21 Januari 1985.

Posisi strategisnya sebagai anggota dewan dan pemimpin sebuah pondok pesantren dijalankan dengan sebaik mungkin. Kedekatannya dengan pemerintah dimanfaatkan untuk membesarkan institusi pesantren Darul Ulum yang dipimpinnya dan untuk kepentingan umat pada umumnya. Tak terhitung berapa banyak lobi-lobi politik yang dijalankan, dan telah banyak pula tokoh Orde Baru yang berkunjung ke Darul Ulum.

Karir politik KH. As’ad Umar terus meningkat, sejak Pemilu 1992 beliau menjadi anggota DPR/MPR RI hingga 1999. Selama kurun waktu ini berbagai kebijakan dikeluarkan, berbagai strategi dan inovasi dijalankan untuk mengembangkan Pondok Pesantren Darul Ulum dan mendukung pemerintah melalui Golkarnya.

Ketika usianya menginjak senja, KH. As’ad tidak lagi terlibat di ranah politik praktis, beliau memilih keluar dari keanggotaan Golkar. Ada dua alasan yang mendasari keputusannya ini, pertama, sejak adanya multi partai KH. As’ad Umar menganggap paradigma partai sudah berubah, menurutnya partai sudah semakin banyak sudutnya, banyak kepentingannya, apalagi saat itu pemilihan anggota dewan tidak lagi diangkat dan dipilih oleh partai. Mekanisme pemilihan terbuka dengan calon legislatif mencari suara, bertentangan dengan harapannya. Kedua, beliau ingin kembali mengurus Pondok Pesantren Darul Ulum dengan lebih fokus dan intensif. Semangatnya untuk mengabdi dan mengurus pesantren Darul Ulum beliau tunjukkan dengan dedikasi yang luar biasa, bahkan dalam keadaan fisik yang tidak lagi prima.

Bapak Pembangunan Pesantren

Di bawah kepemimpinan KH. As’ad Umar, Pondok Pesantren Darul Ulum berbenah, berkembang dan menemukan karakteristik khasnya, yang membedakan Darul Ulum dengan pondok pesantren lainnya. KH. As’ad Umar berhasil membangun dan memajukan pesantren Darul Ulum Jombang hingga menjadi salah satu pondok pesantren terbesar di Jawa Timur.

Semula masyarakat melihat pesantren tidak lebih dari sebuah lembaga pendidikan keislaman saja, yaitu mendidik peserta didik atau santrinya untuk memahami ajaran agama Islam semata. Namun K.H As’ad Umar tidak bersependapat dengan hal tersebut. Baginya pondok pesantren adalah lembaga pendidikan keislaman yang strategis, tempat para santri menuntut ilmu, baik ilmu agama dan ilmu umum. KH. As’ad Umar memahami pengertian ilmu dalam dua penjelasan. Pertama, bahwa setiap ilmu itu adalah ilmu Allah, dan ilmu Allah itu sangat luas. Ilmu bukan hanya masalah ubudiyah atau hubungan kepada Allah saja, seperti ilmu syariah, tapi juga ilmu tentang kehidupan dan alam seisinya. Sehingga ia berupaya untuk membuka wawasan para santri agar memiliki minat kepada ilmu yang bermacam-macam tersebut.

Kedua, KH. As’ad memiliki satu pandangan bahwa ilmu Allah itu adalah tunggal, menurutnya adanya pemisahan ilmu agama dan ilmu umum adalah upaya penjajah untuk membuat para cerdik pandai tidak memahami agamanya, ataupun sebaliknya, agar mereka yang taat beragama menjadi kurang berilmu. Maka jelaslah bagi KH. As’ad ilmu itu tunggal, yaitu ilmu Allah yang harus dipelajari dan semua harus bisa bermanfaat bagi sesama.

Menurut KH. As’ad Umar seorang santri bukanlah mereka yang hanya akan menjadi seorang modin saja tetapi orang-orang pesantren adalah mereka yang secara aqidah akhlaq memiliki basis keislaman yang kuat, dan secara amaliah memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren. Beliau mencita-citakan akan lahir seorang dokter yang hafal Al-Quran, seorang panglima yang juga ahli tafsir dan sebagainya.

Dengan pandangan seperti itu maka beliau berpikir bahwa sekolah yang selama ini sudah ada di pondok Darul Ulum perlu ditingkatkan lagi eksistensi dan kualitasnya. Sehingga pada masa kepemimpinannya di Darul Ulum beliau mengembangkan sekolah-sekolah unggulan yang mengadopsi sekolah Taruna Nusantara. Di mulai pada tahun 1994 dengan bekerja sama dengan BPPT di bawah pimpinan Menristek B.J. Habibie, beliau mendirikan SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT.

Maka dari SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT inilah masyarakat mulai melihat dan melirik pesantren. Pandangan bahwa sekolah di pesantren tradisional yang dikenal cenderung seenaknya, tidak profesional, tidak disiplin, dan hanya fokus pada pendidikan agama berhasil diubah oleh KH. As’ad Umar menjadi sekolah modern yang disiplin, profesional dan mencetak santri unggulan yang berprestasi baik di bidang agama maupun umum, yang tak kalah bersaing dengan siswa dari sekolah favorit lainnya di luar.

Memang pada awalnya ketika KH. As’ad Umar mencanangkan program sekolah unggulan ini, tidak serta merta mendapat penerimaan dan dukungan dari internal dan eksternal pesantren. Tentu saja sebagai hal yang baru, apa yang dicita-citakan KH. As’ad Umar terkadang hanya dianggap sebagai mimpi dan angan belaka. Tetapi KH. As’ad Umar maju terus dan pantang surut ke belakang, karena beliau meyakini bahwa dengan niat tulus dan kesungguhan tekad, ia mampu menjawab keraguan banyak orang dan membuat perubahan besar untuk kebaikan Pondok Pesantren Darul Ulum.

Kiprah KH. As’ad Umar sebagai pimpinan pondok sangat dirasakan di bidang pendidikan kepesantrenan. KH. As’ad Umar berhasil mendobrak tradisi pesantren, yang selama ini selalu dikesankan kumuh, tradisional dan terbelakang. Beliau menjadi perintis berdirinya sekolah-sekolah unggulan di pesantren, yang sekarang banyak diikuti pesantren lain. Di masa kepemimpinannya, terdapat 16 unit pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Di antara unit pendidikan tersebut terdapat sekolah negeri di dalam pesantren Darul Ulum (seperti MIN, MTSN, MAN dan SMPN 3 Peterongan), sekolah unggulan (seperti SMA DU 1 Unggulan BPPT, SMA DU 2 Unggulan Cambridge International School, MAU, MTS Plus), sekolah kejuruan (seperti SMK DU, SMK Telkom). Sedangkan di tingkat perguruan tinggi didirikan AKPER, AKBID, STIBA yang kemudian bergabung, menjadi fakultas-fakultas di dalam Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) yang berdiri pada tahun 2002. Selain itu sebagai bentuk pengabdian ke masyarakat dan menunjang kesehatan santri di pondok, beliau membangun Rumah Sakit (RS) Unipdu Medika, juga membangun sebuah pusat pengkajian Islam, Islamic Center Darul Ulum. Keberhasilannya membangun dan mengembangkan Pondok Pesantren Darul Ulum ini kemudian membuatnya dikenal sebagai Bapak Pembangunan Pesantren.