Oleh: Nofi Setiawati

Di sebelah selatan Masjid Menara Kudus sekitar 100 meter, tepatnya di Desa Madureksan, Kerjasan dulu tersebutlah pasangan keluarga shaleh yang sangat mencintai Al- Qur’an. Pasangan keluarga ini adalah KH. Amin Said dan Hj. Wafinah yang sangat terkenal di Kudus Kulon terutama di kalangan santri.

KH. Amin Said dan Hj. Wafinah adalah pasangan keluarga yang sangat shaleh dan hidup dalam suasana yang religius, karena beliau berdua keturunan kiai yang cukup terkenal. Yang menarik adalah, meski beliau keduanya tidak hafal Al-Qur’an namun beliau berdua sangat gemar membaca Al-Qur’an hingga dapat khatam satu kali dalam sepekan. Hal terebut merupakan kebiasaan yang jarang dilakukan oleh kebanyakan orang, bahkan oleh orang yang hafal Al- Qur’an, karena kegemaran itulah pasangan suami dan istri ini diberi anugrah oleh Allah dengan putra putri yang shaleh dan shalehah, tiga dari dua belas putra dan putrinya menjadi penghafal Al-Qur’an dan bahkan menjadi tokoh yang sangat disegani, yang di antaranya adalah beliau sang kiai istiqomah dan kharismatik KH. Arwani Amin.

Kelahiran KH. Arwani Amin

KH. M. Arwani Amin adalah salah satu ulama yang sangat masyhur dan dihormati di Kudus karena kedalaman ilmunya serta sifatnya yang sangat santun dan lemah lembut kepada siapa pun. Beliau dilahirkan pada Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H, yang bertepatan dengan tanggal 5 September 1905 M di Desa Madureksan Kerjasan di Kota Kudus. Mbah Arwani di waktu kecil tumbuh wajar sebagaimana anak-anak lainnya, namun ada hal yang menarik pada Mbah Arwani di waktu kecil yaitu menjadi anak yang santun, lembut dan cerdas. Kegemaran orang tua beliau membaca Al-Qur’an dan belajar ilmu agama juga diwarisinya. Mbah Arwani pun senang belajar al-Qur’an dan agama kepada para kiai di sekitar Menara Kudus, seperti Mbah Asnawi, termasuk juga kepada kakek beliau sendiri yaitu KH. Imam Haramain dan KH. Abudullah Sajad, yang kemudian menjadi kakek mertua Mbah Arwani. Garis nasab Mbah Arwani dari ibu, sampai ke pahlawan nasional yang juga ulama besar yaitu Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Mas Ontowiryo.

Mbah Arwani adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Kakak beliau yang pertama seorang perempuan yang bernama Muzainah, sementara adik-adik beliau secara berurutan adalah Farkhan, Sholikhah, H.Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Muflikhah, dan Ulya. Dari 12 bersaudara ini ada tiga yang paling menonjol yaitu Mbah Arwani, Farkhan dan Ahmad Da’in, ketiganya hafal Al-Qur’an. Bahkan menurut cerita KH. Sya’roni Ahmadi, Ahmad Da’in sudah hafal Al-Qur’an sejak umur Sembilan tahun, tak hanya itu Abdul Da’in dikenal hafal dua kitab hadist yang sangat monumental yaitu Shahih Bukhori dan Muslim. Sayang adik Mbah Arwani, Ahmad Da’in meninggal dalam usia 18 tahun dan belum menikah. Nama “Arwani” sendiri digunakan setelah kepulangan beliau dari ibadah haji pertamanya pada tahun 1927, sedangkan nama “Amin”  di belakangnya adalah nama depan Ayah beliau bukan laqob atau julukan.

Pendidikan Mbah Arwani dan adik-adiknya hanya mengenyam di madrasah dan pondok pesantren. Mbah Arwani memulai pendidikan di madrasah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan, sebelah utara Menara Kudus, beliau masuk di madrasah ini sewaktu umur 7 tahun. Madrasah Mu’awanatul Muslimin sendiri merupakan salah satu madrasah tertua yang berada di Kudus. Madrasah ini didirikan oleh Syarikat Islam (SI) pada tahun 1912 M.

Salah satu pemimpin madrasah ini di awal didirikannya adalah KH. Abdullah Sajad. Di madrasah ini, Mbah Arwani kecil belajar ilmu-ilmu agama seperti nahwu, sharaf, fiqih, tajwid, bahasa Arab, akhlak, tauhid, dan ilmu agama yang lainnya. Sewaktu belajar di madrasah ini Mbah Arwani tergolong sebagai murid yang sangat cerdas, selain itu beliau adalah murid yang sangat tekun belajar dan hormat kepada para guru. Sebelum belajar di madrasah ini, beliau sudah mendapatkan pendidikan agama dari orang tuanya, mulai sejak kecil beliau sudah dididik belajar shalat dan membaca Al-Qur’an. Selain pendidikan dalam keluarga yang diberikan orang tuanya, Mbah Arwani kecil juga gemar mengikuti pengajian-pengajian atau majlis taklim baik di Masjidil Aqsa Menara Kudus maupun di Masjid Kauman Wetan. Salah satu kiai beliau adalah KH. R. Asnawi yang juga pelopor pergerakan Syarikat Islam dan salah satu pendiri Nahdlotul Ulama bersama-sama dengan KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Ridwan dan lain sebagainya.

Di masa remaja Mbah Arwani tidaklah cepat puas dengan ilmu yang dipelajarinya, maka setelah beberapa lama belajar di Kudus, beliau melanjutkan pendidikan agamanya ke berbagai pondok pesantren di luar Kudus, di antaranya adalah Pondok Pesantran Jamsaren (Solo), Pondok Pesantren Tebu Ireng (Jombang), Pondok Pesantren Al- Munawwir (Krapyak, Yogyakarta), dan Pondok Pesantren Popongan Solo. Mbah kiai Arwani dalam mencari ilmu selalu menerapkan sikap kedisiplinan, utamanya disiplin masalah waktu. Sewaktu masih belajar Qiraat Sab’ah pada KH. Munawir di Krapyak yang pelajarannya dimulai pada pukul 02.00 dini hari sampai menjelang shubuh beliau sudah siap pada pukul 12.00 malam, dan sambil menunggu waktu pelajaran dimulai beliau memanfaatkannya untuk melaksanakan sholat sunnah dan dzikir. Kebiasaan tersebut berlanjut setelah beliau kembali dan mukim di Kudus. Biasanya beliau mulai tidur pada pukul 20.00 WIB dan bangun pukul 21.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan sholat sunnah dan dzikir, apabila sudah lelah kemudian tidur lagi kira-kira selama satu samapi dua jam, kemudian bangun lagi untuk melaksanakan sholat dan dzikir, begitu setiap malamnya sehingga beliau di kalkulasi hanya tidur dua sampai tiga jam setiap malamnya.

KH. Arwani, Farkhan, dan Ahmad Da’in adalah tiga serangkai penghafal al-Qur’an. Ketiganya sangat menonjol di antara putra-putri H. Amin Sa’id. Ke-tiganya juga pernah menjadi santri KH. Hasyim Asy’ari di pondok Tebu Ireng, Jombang. Namun dari tiga saudara ini, hanya KH. Arwani Amin yang diberikan umur panjang dan diberi kesempatan oleh Allah untuk mengembangkan ilmunya kepada umat, baik lewat pondok Huffadh Yanbu’ul Qur’an yang dibangun beliau maupun dari jama’ah thoriqoh yang dibimbingnya. Dari Yanbu’ul Qur’an ini, telah lahir kiai-kiai yang sangat berpengaruh dan disegani. Di antaranya adalah KH. Abdullah Salam (Kajen, Pati), K. Hisyam (Kudus), KH. Hasan Mangli (Magelang), KH. Sya’roni Ahmadi (Kudus), dan masih banyak lagi santri beliau yang menjadi kiai yang tersebar di seluruh kota di Indonesia.

Farkhan adik beliau selepas nyantri di pesantren Tebu Ireng, Jombang , di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari, lebih memilih tinggal di Kudus. Sekembalinya dari Tebu Ireng Farkhan mengajar di Madrasah Mu’awwanatul Muslimin di mana tempatnya belajar dahulu.

Belajar Thoriqoh                                                   

Mbah Arwani Amin mendapatkan ijazah thoriqoh dari KH. Muhammad Mansur Popongan, Solo. Sebelum nyantri dan belajar thoriqoh kepada KH. Muhammad Mansur ini, Mbah Arwani sudah mengenal sang kiai. Beliau Mbah Arwani belajar thoriqoh di pondok Popongan dengan tujuan agar bisa menjauhi sesuatu yang dilarang agama, baik yang makruh, lebih-lebih yang haram atau dalam bahasa jawanya bisa menjadi orang yang wira’i. Selain itu belajar mendekatkan diri kepada Allah agar bisa ma’rifat kepadaNya. Selama menjadi santri KH. Muhammad Mansur, Mbah Arwani adalah murid yang taat dan patuh pada gurunya. Maka apapun yang diperintahkan oleh gurunya, akan segera beliau laksanakan tanpa berfikir panjang.

Pernikahan                                                

Mbah Arwani Amin pun melaksanakan pernikahan dengan salah satu seorang putri Kudus pada sekitar tahun 1935, yang kebetulan cucu dari guru atau kiai beliau sendiri yaitu KH. Abdullah Sajad. Perempuan sholehah yang disunting oleh beliau adalah ibu Naqiyul Khod. Dari pernikahannya dengan ibu Naqiyul Khod ini, Mbah Arwani diberi dua putri dan dua putra. Putri pertama dan kedua beliau adalah Ummi dan Zukhali (Ulya), namun kedua putri beliau ini meninggal dunia sewaktu masih bayi. Hingga sampai kini kedua putra beliaulah yang meneruskan perjuangan KH. M. Arwani Amin dalam mengelola pondok pesantren yang didirikannya. Kedua putra beliau adalah KH. Muhammad Ulin Nuha Arwani dan KH. Muhammad Ulil Albab Arwani. Kelak dalam menahkodai Pondok pesantren Yanbu’ul Qur’an, mereka dibantu oleh KH. Muhammad Manshur. Salah satu santri dari Mbah Arwani yang kemudian dijadikan sebagai anak angkat beliau.

Perjuangan Mbah Arwani

Beliau mengajarkan Al-Qur’an pertama kali sekitar tahun 1942 di masjid Kenepan Kudus yaitu setamat beliau nyantri dari pesantren Al-Munawir krapyak Yogyakarta. Pada periode ini santri-santri beliau kebanyakan berasal dari luar kota Kudus. Seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit santri beliau semakin bertambah banyak dan bukan hanya dari Kudus dan sekitarnya, tapi ada yang berasal dari luar propinsi bahkan dari luar pulau Jawa. kemudian beliau membangun sebuah pondok pesantren yang diberi nama Yanbu’ul Qur’an yang berarti sumber al-Quran. pondok pesantren ini diresmikan pada tahun 1393 H/1973 M. Semasa hidupnya, beliau juga mengajarkan thariqat naqsabandiyah kholidiah yang pusat kegiatannya bertempat di mesjid kwanaran. Beliau memilih tempat ini karena suasana di sekeliling cukup sepi dan sejuk. Di samping itu tempatnya dekat perumahan dan sungai gelis yang dulunya air dari sungai tersebut jernih, sehingga dapat untuk membantu penyediaan air untuk para peserta kholwat. Beliau juga pernah menjadi salah satu pimpinan jam’iyah ahli ath-thariqat al-mu’tabarah yang didirikan oleh para kiai pada tanggal 10 Oktober 1957 M. Waktu mu’tamar NU 1979 di Semarang nama tersebut diubah jam’iyyah ahl ath-thariqat al-mu’tabarah an-nahdliyyah menjadi (JATMAN).

Karomah Mbah Arwani

Karena keistiqomahan mbah Arwani dalam berbagai hal, Allah subhanahu wata’ala memberikan keistimewaan  kepada mbah Arwani berupa karomah yang Mbah Arwani sendiri sering menyembunyikannya. Tapi tetap ada saja kelebihan yang beliau miliki yang disaksikan oleh sebagian orang-orang terdekat beliau, di antaranya:

  1. Pergi ke Madinah dalam Sekejap

Suatu hari, ketika guru thariqah dari Mbah Arwani yaitu KH. Manshur (Popongan, Solo) sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit di kota Solo, Mbah Arwani menjenguk gurunya tersebut. Di sela-sela obrolan guru dan muridnya tersebut, tiba-tiba Mbah Manshur minta sesuatu kepada muridnya yaitu Mbah Arwani, “Kiai Arwani saya ingin sekali makan kurma hijau, apa sampeyan bisa mencarikannya untukku”. Dengan bergegas Mbah Arwani menyanggupi permintaan dari gurunya tersebut. Dalam sekejap setelah Mbah Arwani keluar dari kamar tempat gurunya dirawat, Mbah Arwani langsung bisa sampai di kota Madinah Al-Munawrwaroh. Setelah sampai di Madinah, Mbah Arwani pun langsung mencari kurma hijau di sebuah pasar yang berada di kota Madinah. Sehabis membeli kurma hijau, Mbah Arwani tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk berziarah ke makam Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan melakukan shalat di masjid Nabawi. Namun, baru beberapa rakaat shalat selesai didirikan, Mbah Arwani melihat gurunya yaitu Mbah Manshur sudah berada di belakangnya. Betapa kagetnya Mbah Arwani karena sudah disusul oleh gurunya tersebut. Gurunya pun berkata, “Selesai shalat langsung pulang, ya “. Mbah Arwani pun menjawab, “Inggih, Mbah Yai”.

  1. Rokok tak Pernah Habis

Suatu saat, ada seorang yang sowan kepada Mbah Arwani. Tidak berselang lama, si tamu diberi jamuan dan sebungkus rokok. Setelah mendengar nesehat- nasehat dari Mbah Arwani, si tamu pun mohon pamit untuk pulang. Tetapi sebelum pulang, Mbah Arwani bilang, “Bawa saja rokoknya, tapi jangan dihitung berapa isinya”. Si tamu pun mengangguk, “Inggih, Mbah Yai”. Tak terasa, si tamu merasa heran, kenapa sudah satu minggu rokok yang dikasih Mbah Arwani itu tidak habis-habis, padahal dalam sehari ia bisa menghabiskan kurang lebih 6 batang rokok berarti isi batang rokok yang berada di bungkus itu kurang lebih 42 batang, waktu itu, umumnya satu bungkus rokok berisi 12 batang.

  1. Air putih yang Bisa Menjadi Bahan Bakar

Suatu hari, Mbah Arwani pergi ke luar kota untuk menghadiri suatu acara bersama beberapa Kiai dengan menggunakan mobil. Selepas menghadiri acara, rombongan Mbah Arwani pun pulang menuju Kudus. Baru sampai di daerah Rembang tiba-tiba mobilnya mogok. Setelah diperiksa oleh sang Sopir, ternyata bahan bakar mobilnya habis. Sang Sopir dan beberapa anggota rombongan pun bingung, karena pada waktu itu sangat jarang keberadaan SPBU atau yang menjual BBM eceran dipinggir jalan. Di saat Sopir dan para Kiai kebingungan, tiba-tiba Mbah Arwani memberi air putih kemasan dan berkata, Coba air ini tuangkan kedalam tempat bahan bakar mobil”. Tanpa ragu, sang Sopir pun menuruti perkataan Mbah Arwani tersebut. Dan akhirnya atas izin Allah mobil tersebut bisa kembali berjalan.

4. Terhindar dari Kecelakaan Bus

KH. Manshur Maskan adalah termasuk santri kesayangan sekaligus dianggap oleh Beliau sebagai anak angkat beliau. Setiap kali Mbah Arwani mendapatkan undangan untuk menyimak khataman Al-Qur’an di luar kota, beliau selalu mengajak murid kesayangannya tersebut. Suatu hari, Mbah Arwani mengajak Kiai Manshur untuk menghadiri undangan untuk menyimak khataman al-Qur’an di luar kota. Karena jaraknya jauh, Mbah Arwani pun memutuskan untuk naik bus. Lama sekali Mbah Arwani dan kiai Manshur menunggu datangnya bus. Tak berselang lama ada bus yang kondisinya baik dan mulus lewat dihadapan mereka, saat Kiyai Manshur akan menghentikan bus tersebut, tiba-tiba Mbah Arwani melarangnya, “Jangan bus ini, tapi bus berikutnya saja”. Kiai Manshur pun hanya mengiyakan dawuh gurunya itu. Kemudian datanglah bus yang kondisinya tidak baik dan kurang mulus di depan mereka. Kiai Manshur pun menghentikan bus tersebut atas perintah gurunya itu. Dalam perjalanan, Kiai Manshur melihat sebuah peristiwa kecelakaan yang dialami oleh sebuah bus, ternyata bus tersebut adalah bus yang tadi hampir Kiai Manshur hentikan dan akhirnya dilarang oleh Mbah Arwani, dalam hati Kiai Manshur berujar, “Ternyata Mbah Yai Arwani bisa melihat kejadian sebelum kejadian tersebut terjadi “. Dan masih banyak lagi karomah dari Mbah Yai Arwani .

Berpulang Ke Rahmatullah

Setelah sekian lama berjuang untuk agamanya, masyarakat, dan negaranya, akhirnya beliau pun harus kembali keharibaan-Nya. Beliau wafat pada1 Oktober 1994 M, yang bertepatan dengan 25 Rabi’ul Akhir 1415H, dalam usia 92 tahun. Ribuan pelayat mengiringi kepergian beliau. Suasana duka yang sangat mendalam terasa, bukan hanya dari keluarga yang ditinggalkan, tetapi masyarakat yang ditinggalkan pun kehilangan salah satu sosok panutan yang sangat alim, santun, dan dicintai masyarakat. Beliau KH. Arwani Amin dimakamkan di kompleks Pondok Huffadh Yanbu’ul Qur’an. Sebagaimana kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Namun KH. Arwani Amin, tidak sekedar meninggalkan nama belaka. Tetapi meninggalkan kenangan, karya, dan umat yang tetap mengharumkan namanya sampai sekarang. Di dunia pesantren, nama KH. M. Arwani Amin sangatlah dihormati. Bukan sekedar karena beliau adalah seorang ulama besar keturunan pahlawan nasional,yaitu Pangeran Diponogoro yang sangat dikenal. Tetapi kedalaman ilmu,sikap tarwadlu’, dan suka menghormati sesama inilah yang menjadikan KH.Arwani Amin kian melekat di hati masyarakat. Rasa tawadlu’ KH.Arwani Amin ini terlihat, ketika berbicara dengan santrinya yang telah menjadi kiai, beliau pun berbahasa dengan menggunakan boso kromo inggil dalam bertutur sapa.

Karya  KH. M. ARWANI  AMIN

Mbah Arwani meninggalkan sebuah kitab  yang diberi nama Faidl al-Barakat fi al-Sab’i al-Oira’ar Kitab ini adalah panduan belajar Qira’at Sab’ah Selain kitab ini, beliau juga mentashih banyak kitab yang ditulis oleh para kiai sangat alim dan berpengaruli. yang meliputi diantaranya adalah: Al-Ibriz fi Ma’rifati Tafsiril Qur’an karya KH.Bisri Musthofa (Rembang).

Risalah Tuntunan Thoriqoh Qodiriyyah wa Nagsabandiyyah karya KH. Mushlih (Mranggen,Demak).

Al-Futuhat Al-Robaniyyah fi Thoriqotil Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah karya KH. Mushlih (Mranggen, Demak).

An-Nur Al-burhan fi Tarjamati Lujayni Ad-Dani karya KH. Mushlih (Mranggen, Demak).

Risalatu Al-Qurro’ wa Al-Huffadh karya KH. Abdullah Umar (Semarang). Musthalahu Al-Tajwiid fi Qur’aani Al-majiid karya KH. Abdullah (Semarang).

Risalatu Al-Mubarokah karya KH. Hambali sumardi (Kudus).

Fathul  Manan karya Kiai Maftuh (Kediri).