20 Pembaca

Oleh : Vivid Rohmaniyah

Penyebaran agama Islam di pulau Jawa dimulai dari pesisir pantai utara pulau Jawa, khususnya dari pesisir pantai utara Gresik – Lamongan. Dimulainya dari sunan Maulana Malik Ibrahim yang mendarat di pesisir pantai Gresik, kemudian menyebarkan agama Islam di sekitar sana dengan cara berdagang. Sehingga banyak warga yang hidup di sekitar pantai utara Gresik memeluk agama Islam dan berguru kepada Sunan Maulana Malik Ibrahim. Hingga saat ini, perkembangan agama Islam di wilayah pantai utara pulau Jawa semakin bertambah pesat dengan dibuktikan banyak didirikannya pondok pesantren.

Salah satu pondok pesantren yang didirikan hingga berkembang pesat saat ini adalah pondok pesantren modern yang terletak di Sesa Sembungan Kidul, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur yaitu Pondok Pesantren Maskumambang. Pesantren ini didirikan oleh salah satu ulama besar yang asli keturunan Jawa Timur pada tahun 1859 M, beliau adalah Abdul Jabbar. Abdul Jabbar merupakan putra pertama dari Wirosari yang masih memiliki garis keturunan sampai Pangeran Pajang atau yang biasa dikenal oleh masyarakat sebagai Jaka Tingkir.

Pada tahun 1859 M, Kiai Abdul Jabbar mendirikan sebuah sekolah berbasis pesantren. Pada awalnya jumlah santri masih sangat sedikit, karena hanya dihuni oleh keluarga Kiai Jabbar dan penduduk sekitar di kampung Maskumambang. Metode yang digunakan di pesantren ini sangat sederhana, yakni dengan halaqah dan sorogan. Demikian pula dengan pelajaran yang diajarkan yakni hanya sebatas Al-Qur’an dan beberapa dasar ilmu agama Islam.

Pondok pesantren Maskumambang mengikuti madzhab Syafi’iyah karena hal tersebut sudah menjadi ciri khas pesantren-pesantren yang ada di Jawa Timur. Tradisi pesantren seperti ziarah kubur, tahlilan, dan haul diterapkan di pesantren ini. Juga tradisi seperti doa qunut dalam shalat subuh, 2 adzan pada sholat jum’at dan seruan sholawat-sholawat Nabi.

Pada tahun 1857 M di komplek pesantren Maskumambang di desa Sambungan Kidul, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur terlahir anak ke 4 Kiai Jabbar dan Nyai Nursimah yang mereka beri nama Muhammad Faqih Maskumambang. Muhammad Faqih masih tergolong darah biru dari keturunan Ayah dan Ibunya. Ayahnya merupakan keturunan Sultan Hadiwijaya atau yang lebih dikenal dengan Jaka Tingkir yang nasabnya bersambung hingga Sunan Giri. Sedangkan Nyai Nursimah merupakan putri dari Kiai Idris, Kebondalem, Bojonegoro.

Semasa hidup Muhammad Faqih Maskumambang pernah menikah sebanyak 3 kali. Pernikahan beliau yang pertama dengan Nur Khadijah yang merupakan putri dari Kiai Muhammad Achyat Kebondalem Surabaya yang dikaruniai 9 anak. Kemudian pernikahan kedua dengan Fatimah, namun tidak memiliki keturunan. Sedangkan pernikahan ketiga beliau dengan seseorang bernama Sribanun yang dikaruniai 5 orang anak.

Sejak beliau kecil, Muhammad Faqih terbiasa belajar sendiri di rumah dengan ayahnya. Beliau banyak mempelajari ilmu agama kepada ayahnya, yang merupakan pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Maskumambang. Dalam sebuah karya dijelaskan, “Sebelum meninggal dunia, sang Ayah telah mewasiatkan kepada putra-putrinya agar kelak yang menjadi penerus perjuangannya adalah Muhammad Faqih Maskumambang. Oleh karena itu, setelah menginjak usia remaja Muhammad Faqih Maskumambang dipersilahkan oleh Ayahnya untuk mendalami ilmu agama di Pesantren Langitan Tuban, Jawa Timur.”

Muhammad Faqih Maskumambang menimba ilmu di Pondok Pesantren Langitan selama 3 tahun, kemudian beliau melanjutkan belajarnya ke Pondok Pesantren Kebondalem Surabaya. Setelah selesai menimba ilmu di Surabaya beliau melanjutkan pendidikannya lagi ke Pondok Pesantren Ngelom Sepanjang di Sidoarjo, kemudian lanjut ke Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah Gresik yang diasuh oleh Kia Sholeh Tsani.

Sepulang dari perburuan ilmu beliau di daerah Jawa, Muhammad Faqih Maskumambang belajar ke Makkah sambil menunaikan ibadah haji. Beliau menimba ilmu di Makkah selama 3 tahun lamanya. Kemudian kembali pulang ke Maskumambang dan membantu Ayahnya untuk mengajar di pesantren.

Di usianya yang ke-43 tahun, sekitar tahun 1900 M, Muhammad Faqih Maskumambang mulai fokus untuk mengajar dan mengabdikan diri di pondok pesantren Maskumambang milik Ayahnya. Dengan dibantu oleh saudara-saudaranya. Pondok Pesantren Maskumambang terletak di pusat perdagangan Sidayu, Gresik. Sehingga banyak pedagang yang bersal dari Pulau Madura, Kalimantan, Sumatra, Surabaya, Tuban, Lamongan dan daerah lain ikut nyantri di pesantren Maskumambang. Karena pada saat itu, Sidayu merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Gresik.

Pada masa kepemimpinan Muhammad Faqih Maskumambang, Pondok Pesantren Maskumambang mengalami banyak perkembangan, baik dari segi fisik maupun sistem belajar-mengajarnya yang menjadi sangat berfariatif dari sebelum-sebelumnya. Jumlah santri yang bertambah banyak, jumlah gedung yang digunakan untuk asrama juga bertambah banyak. Sistem belajarnya juga ditambah dengan sistem bandongan, wetonan, dan sorogan.

Pondok Pesantren Maskumambang mengalami masa puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Muhammad Faqih Maskumambang. Dalam sebuah karya Dennis Lombard menyebutkan bahwa pesantren Maskumambang menjadi sangat terkenal di pulau Jawa bahkan di Nusantara pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dikarenakan kharisma kepemimpinan Muhammad Faqih Maskumambang dan juga letak pesantren yang tidak jauh dari pusat pemerintahan. Pondok Pesantren Maskumambang menjadi tenar juga disebabkan oleh kealiman dan pemikiran-pemikiran brilian Muhammad Faqih Maskumambang yang dituangkan dalam kitab-kitab yang dipelajari di pesantren.

Salah satu bentuk pemikiran Muhammad Faqih Maskumambang yang dituangkan dalam buku yang berjudul Al-Manzumat Al-Daliyah fi ‘Awa’il Al-‘Ashhur Al-Qamariyah. Buku ini berisi tentang ilmu falak, untuk mengetahui permulaan tanggal di setiap bulan Qomariyyah. Karya ini kemudian menjadi pegangan kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bermadzab Syafi’i yang ada dalam tradisi Nahdlatul Ulama.

Kitab lain yang dihasilkan dari buah pikiran Muhammad Faqih Maskumambang adalah kitab yang berjudul Al-Nusus Al-Islamiyah Fi Al-Aradi ‘Ala Madhahib Al-Wahabiyah yang kemudian diterjemahkan oleh Abdul Aziz menjadi Menolak Wahabi. Dalam buku ini menjelaskan tentang apa pengertian wahabi, kemudian tentang penyimpangan sekte wahabi mulai dari Ibnu Taimiyah sampai Abdul Qadir at-Tilmisani termasuk juga di dalamnya membahas tentang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab.

Pada saat Muhammad Faqih Maskumambang menjadi pemangku Pondok Pesantren Maskumambang, saat itu mulai bermunculan organisasi-organisasi masyarakat dan partai-partai Islam. Sehingga pada saat itu beliau juga ikut berperan dalam beberapa organisasi yang ada di masyarakat. Salah satunya adalah Taswirul Afkar dan Nahdlatul Ulama. Ketika diadakannya kongres tahunan, ketika Taswirul Afkar sudah memasuki tahun ke-6. Muhammad Faqih Maskumambang terpilih menjadi ketua I dan merangkap jabatan sebagai Dewan Penasehat bersama dengan Hasyim Asy’ari dari Jombang.

Tahun 1926, organisasi Nahdlatul Ulama lahir di Kota Surabaya. Organisasi ini dibentuk oleh beberapa ulama yang memiliki pengaruh di wilayah Jawa Timur pada saat itu. Para kiai yang hadir di sana memilih Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar Nahdlatul Ulama dan Muhammad Faqih Maskumambang sebagai wakilnya. Setelah keduanya menjabat, mereka makin terlihat akrab, mengingat beliau berdua pernah belajar di Guru yang sama.

Saat memasuki usia 69 tahun, Muhammad Faqih Maskumambang tetap menjadi salah satu rujukan kiai-kiai di Jawa Timur sebelum dan sesudah didirikannya NU. Beliau sering mendiskusikan tentang hokum-hukum Islam, salah satunya adalah diskusi beliau dengan Hasyim Asy’ari tentang hukum penggunaan kentongan dan bedug untuk menandakan waktu sholat. Keduanya memiliki pendapat yang berbeda, Hasyim Asy’ari berpendapat bahwa penggunaan kentogan tidak disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sehingga beliau mengharamkan penggunaannya untuk penanda waktu sholat. Sedang Muhammad Faqih Maskumambang berpendapat bahwa masalah tersebut adalah masalah qiyas, kentongan sudah memenuhi syarat sebagai penanda waktu sholat. Meski demikian, keduanya tidak pernah berseteru dan tetap saling menghargai pendapat masing-masing.

Suatu waktu, Hasyim Asy’ari di undang Muhammad Faqih Maskumambang untuk mengisi ceramah di Pondok Pesantren Maskumambang. Kiai Faqih meminta takmir masjid dan mushollah yang ada di sekitar pesantren untuk menurunkan semua kentongan selama Kiai Hasyim Asy’ari berada di Gresik. Ini merupakan sikap Muhammad Faqih Maskumambang yang patut kita teladani.

Kiai Muhammad Faqih Maskumambang mengabdikan seluruh hidupnya di jalan Allah dengan cara berdakwah hingga usia beliau mencapai 80 tahun. Pada tahun 1353 H/ 1937 M, Kiai Faqih kembali ke Rahmatullah.