Oleh: Rangga Azareda Dwi F.

Siapa yang tidak mengenal Presiden Soekarno? Presiden pertama Indonesia ini terkenal sebagai orator yang sangat handal dan hebat. Dengan pidato atau oratornya tersebut telah mampu menggerakkan hati semua rakyat. Namun, siapa sangka bahwa Soekarno masih memiliki ikatan darah dengan Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Walisongo penyebar agama Islam di tanah Jawa. Dalam ceramahnya KH. Nur Rohmat bercerita, pernah suatu ketika sowan ke Kadilangu dan bertanya mengenai keris Kyai Carubuk pasangan dari Rompi Antakusuma milik Sunan Kalijaga. Lalu dijawab bahwa Keris Kyai Carubuk dulunya dibawa oleh Presiden Soekarno. Mengapa bisa sampai di tangan Soekarno? Karena Soekarno merupakan putra dari R. Soekemi Sosrodihardjo bin Raden Hardjodikromo bin Raden Danoewikromo Lurah Wirosari, Grobogan yang masih keturunan Hamengkubuwono II dari istri selir.

Sedangkan istri kakeknya, Raden Ayu Nganten Hardjodikromo adalah putri dari Tumenggung Haryokusumo bin Pangeran Serang yang merupakan suami dari Nyai Ageng Serang. Jadi jika ditarik ke atas maka nasab Soekarno akan sampai ke Pangeran Wijil putra Sunan Kalijaga, karena Nyai Ageng Serang masih keturunan Kadilangu Sunan Kalijaga. Pantas saja jika wibawanya turun ke Soekarno, dan keris Kyai Cerubuk ada dalam genggamannya sebab Sunan Kalijaga masih merupakan buyutnya.

KH. Nur Rohmat juga bercerita ketika Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan, berkali-kali ditahan oleh tentara Belanda dan akan dihukum mati. Ketika Soekarno dijatuhi hukuman mati oleh tentara Belanda, beliau selalu meminta kesempatan untuk izin berwudhu, kemudian melaksanakan salat dua raka’at dan mengamalkan wiridnya. Mengenai dari siapa wiridnya itu KH. Nur Rohmat tidak menceritakannya, wallahu a’lam. Akan tetapi setiap selesai membaca wirid tersebut, Soekarno lolos dari hukuman mati. Ketika saatnya tentara Belanda menghukum mati Soekarno, tiba-tiba datang kabar bahwa hukuman mati untuknya tidak jadi dilaksanakan. Peristiwa tersebut terjadi berulang kali.

Tidak hanya itu, Soekarno yang nantinya akan menjadi Presiden, sebenarnya sudah diketahui oleh KH. Kholil Bangkalan pada jauh-jauh hari, bahkan saat beliau masih kecil. Diceritakan oleh KH. Nur Rohmat, bahwasannya Soekarno kecil sewaktu masih di bawah asuhan HOS Cokroaminoto pernah diajak sowan Ke Bangkalan Madura. KH. Kholil yang mengetahui kedatangan Soekarno dan HOS Cokroaminoto lalu menyuruh santri-santrinya membukakan jalan untukĀ  mereka. KH. Kholil amat senang karena beliau tahu yang datang bersama HOS Cokroaminoto bukanlah anak sembarangan, melainkan tamu istimewa. KH. Kholil langsung memanggil mereka. “Mrene gus, mrene, pinarak.” (Kesini Gus, silahkan duduk), panggil KH. Kholil kemudian bertanya kepada HOS Cokroaminoto. “Sopo iki jenenge Cokro?” (Siapa nama anak ini Cokro?) “Namine Kusno yai” (Namanya Kusno, yai), jawab HOS Cokroaminoto. Memang nama kecil Bung Karno adalah Kusno sebelum diubah menjadi Soekarno. KH. Kholil kemudian menimang Soekarno sambil berkata “Sok mben dadi ratune nuswantoro ya Gus.” (Kamu nanti jadi Pemimpin Nusantara ya Gus). Dan ternyata benar terjadi kalau Soekarno menjadi Presiden pertama Indonesia sekaligus Sang Proklamator Kemerdekaan.