Oleh: Fathul H. Panatapraja

Ki Ageng Gribig: Siapakah ?

Ki Ageng Gribig, adalah sebuah dengungan, gabungan bumbu mitos dan percakapan yang terus menerus diperbincangkan. Betapa tidak, jika kita mencari buku utuh tentangnya hampir dipastikan kita kesulitan. Atau jika kita berselancar di dunia maya maka yang akan muncul pastilah “makam Ki Ageng Gribig”. Menurut cerita yang berkembang beliau merupakan seorang ulama atau tokoh penyebar agama Islam di Malang yang misterius dan selalu dihubung-hubungkan dengan wangsit gaib suksesi kepala daerah di Malang.

Ki Ageng Gribig, konon merupakan seorang tokoh penyebar Islam yang tersohor tahun 1600-an. Beliau juga disebut sebagai salah satu figur yang berperan dalam mendirikan kota Malang. Namun beberapa kalangan masih simpang siur tentang asal usul serta perannya menyebarkan agama Islam. Apakah benar Ki Ageng Gribig merupakan tokoh Pembabat Alas Malang seperti cerita dari mulut ke mulut selama ini? Jawabannya tidak mudah, berbelit-belit, dan banyak versi. Apalagi dengan tumpang tindihnya balutan mitos yang mengelilingi nama dan makamnya.

Di antaranya berdasarkan cerita lisan dari juru pelihara makam,Toyibi, nama asli Ki Ageng Gribig sebenarnya “Ario Pamoetjoeng”. Konon Ario Pamoetjoeng ini utusan Sunan Kalijaga, salah satu dari Sembilan Wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa (Widodo: 2006, 89-96). Menurut keterangan dari Thoyibi di buku yang sama, “Ario Pamoetjoeng terbukti berhasil mengislamkan penduduk suatu dusun secara massal. Daerah yang kini dikenal dengan Dusun Gribig merupakan daerah pertama di Malang yang berhasil di-islamkan.

Bahkan Ario Pamoetjoeng pernah mendirikan sebuah pondok pesantren”. Kemudian beliau dijuluki dengan nama Ki Ageng Gribig, karena telah mengislamkan orang dengan cara meng-gribig (mengislamkan orang secara massal). Lambat laun akhirnya orang-orang pun lebih mengenal Ario Pamoetjoeng sebagai Ki Ageng Gribig.

Versi lain tentang Ki Ageng Gribig berdasarkan catatan penelusuran Majalah Liberty, Edisi 1754, 16-31 Juli 1991, pada halaman 31 disebutkan bahwa, “Ki Ageng Gribig adalah adik kandung Sunan Giri, salah seorang Walisongo yang di makamkan di Gresik.

Pada medio tahun 2017 penulis pernah wawancara singkat dengan Agus Sunyoto tentang siapakah sebenarnya sosok Ki Ageng Gribig, Agus Sunyoto mengatakan bahwa Ki Ageng Gribig adalah keturunan dari Sunan Giri. Dan berdasarkan lacakannya memang Ki Ageng Gribig lah yang pertama kali mengislamkan daerah Malang yang dulu masih merupakan hutan belantara.

Konon, Ki Ageng Gribig muda sangat senang mengembara ke tempat-tempat jauh untuk menimba ilmu dan memperkuat iman. Pada suatu saat sampailah Ki Ageng Gribig di sebuah daerah yang berhutan lebat. Karena merasa cocok dengan tempat tersebut, maka Ki Ageng Gribig membabatnya dan menjadikan tempat itu sebagai tempat tinggal.

Menurut cerita yang berkembang, nama Malang sendiri diberikan oleh Ki Ageng Gribig. yang melatarbelakangi penamaannya adalah adanya Gunung Buring dan deretan pegunungan yang “melintang” di kiri dan kanannya. Pegunungan yang berderet memanjang di sebelah tenggara kalau diperhatikan memang “malang” atau melintang jalan. Dan jika dilihat posisi daerah Gribig hari ini memang berdekatan dengan daerah Buring.

Ada juga versi lain yang berkembang bahwa datangnya Ki Ageng Gribig ke Malang itu ada kaitannya dengan ekspansi wilayah kerajaan. Semacam misi politik. Dalam kaitannya dengan ekspansi wilayah ini pun ada dua versi cerita (Rachman: 2012, 6). Versi pertama yaitu program ekspansi Mataramisasi dan versi yang kedua adalah program ekspansi Blambangan Kulon. Walaupun tidak didapatkan data secara tertulis atau dokumen utuh, kedua versi ini masih di pegang kebenarannya oleh masyarakat setempat, serta kedua versi ini juga diperkuat dengan urutan tahun, yakni pada tahun 1625 ketika Sultan Agung Hanyokro Kusumo menjadi Raja Mataram.

Menurut versi Mataramisasi atau ekspansi Mataram untuk perluasan daerah kekuasaan, Ki Ageng Gribig adalah seorang utusan dari kerajaan Mataram untuk memperluas wilayah kekuasaan dengan dalih penyebaran dakwah agama Islam. Seperti yang diketahui secara mendasar, semua pemimpin Mataram mulai dari Penewu sampai ratu berfungsi sebagai orang yang dituakan, atau sebagai panutan bagi masyarakat. Semua pejabat kerajaan diwajibkan memiliki pemahaman yang luas mengenai agama Islam, sehingga dengan sendirinya semua pejabat Mataram mengemban tugas sebagai ulama atau dikenal sebagai sayyidin panoto agomo. Begitu juga dengan Ki Ageng Gribig, jika dilihat sesuai dengan versi program Mataramisasi beliau adalah satu tokoh penyebar pertama agama Islam yang ada di wilayah Malang, Jawa Timur (Rachman:2012).

Sedangkan menurut versi kedua bahwa Ki Ageng Gribig adalah utusan dari Blambangan Kulon yang pada saat itu dipimpin oleh Aryo Menak Koncar. Tujuan Ki Ageng Gribig ke Malang juga tidak jauh berbeda dengan versi yang pertama. Konon, Ki Ageng Gribig ini adalah utusan dari Blambangan Kulon untuk mengadakan ekspansi Blambangan atau perluasan daerah kekuasaan kerajaan Blambangan. Jika dilihat menurut tahun, Blambangan Kulon ini muncul setelah masa kejayaannya Ratu Tribuana Tunggal Dewi, Ratu Kerajaan Majapahit.

Mata Rantai Keilmuan dan Peran Kemasyarakatan

Ing ngandap punika pratelanipun para wali Ngajeng, wiwit kapranata susuhunan ngampeldenta.

Susunan Pandhanarang: Samarang,

Pangeran Sapanjang: Surabaya,

Pangeran Tumapêl: Madura,

Kyai Agêng Gribig: Malang (Pasuruhan),

Susunan Benang: Tuban (Rêmbang),

Susunan Dalêm ing Giri Kadhaton: Surabaya

(Bauwarna, Padmasusastra, Jilid 2/4. 1898: hal.205)

Jika dilihat dari teks tertulis di atas, maka bisa diidentifikasi bahwa Ki Ageng Gribig jelaslah seorang yang memiliki nasab keilmuan dari para sunan. Utamanya Sunan Ampel. Karena di situ disebutkan bahwa Ki Ageng Gribig merupakan nama wali utama yang memiliki jalur kewalian yang jelas.

Ki Ageng Gribig dikenal juga sebagai tokoh yang mendirikan kota Malang. Ini ditandai dengan adanya Makam Aryo Panji Malang, bapak dari Ki Ageng Gribig yang dimakamkan di belakang Masjid Jamik (Andalas: 2015, 10-11).

Dari sekian kota dan kabupaten di Jawa Timur, Malang disebut sebagai salah satu daerah pedalaman yang berdasarkan letak geografisnya. Kawasan ini di kelilingi beberapa gunung, seperti Semeru, Bromo, Arjuno, Kawi dan sebagainya. Karena faktor ini, Malang terkenal lebih lamban penyebaran Islamnya dibandingkan daerah-daerah pesisir. Karena Malang adalah pedalaman, dan berupa hutan belantara.

Islam masuk ke Nusantara yang paling cepat adalah kawasan pesisir terutama di Pantura. Sementara penyebaran Islam di Malang, menurut berbagai sumber lebih pada tradisi lisan. Karena sejauh ini, para sejarawan di Malang Raya masih belum mampu mendapatkan data tekstual terkait perkembangan awal Islam di Malang atau Malang Raya. Jika merujuk kembali pada tradisi lisan, islamisasi di Malang Raya berpusat pada tokoh Gribig. Adapula yang berpusat pada kerajaan otonom yang sempat berkembang di Malang Raya, Sengguruh atau Tanjung Sengguruh.

Menurut sejarawan dari Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono bahwa di tahun 1960-an Pigeut telah mengumpulkan dan menghimpun literatur tradisi lisan di Jawa, termasuk di dalamnya memuat tradisi lisan di Malang yang juga membahas tentang Gribig dan Sengguruh. Menurutnya tokoh Gribig di sini bukanlah Ki Ageng Gribig yang dikenal masyarakat Malang saat ini. Tokoh ini lebih dahulu muncul meski memiliki nama sama dengan Ki Ageng Gribig. Oleh sebab itu, dia membedakan keduanya dengan sebutan Gribig senior dan junior.

Tokoh Gribig, menurutnya memiliki peranan penting dalam menyebarkan Islam terutama di Malang bagian Timur. Berdasarkan legenda di masyarakat, tokoh Gribig merupakan murid dari Syekh Manganti. Syekh Manganti dikenal sebagai tokoh Muslim yang berada di Surabaya bagian selatan.

Dwi berpendapat, masa hidup Syekh Manganti belum tentu di masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo. Giri di sini bisa jadi keturunan Walisongo Sunan Giri atau Sunan Prapen. Sebab di era tersebut, Giri bukan lagi pesantren, tapi pusat pemerintahan berkekuatan politik dengan latar keislaman. Ia menilai, tokoh Syekh Manganti di sini dapat dipastikan hidup setelah masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo.

Lalu apa hubungannya Manganti dengan Gribig? “Gribig itu muridnya yang ditempatkan di Malang dengan mengambil posisi yang sekarang di Kota Malang bagian timur. Dan untuk apa di Malang?” tegas Dwi. Penempatan Gribig di Malang memiliki dua tujuan. Pertama, untuk mengislamkan daerah pedalaman seperti Malang Raya. Jika legenda ini benar, maka dapat dipastikan asal muasal keislaman di Malang berasal dari Surabaya – Gresik. Kemudian tujuan penempatan Gribig berikutnya lebih pada masalah politik. Gribig ditugaskan untuk mengontrol Kerajaan Sengguruh yang saat itu masih beragama Hindu. Keberadaan Sengguruh termasuk luar biasa mengingat beberapa tempat di Jatim sudah diislamkan, termasuk Majapahit.

Dilansir dari laman Republika.co.id 21 Mei 2018 Dwi Cahyono bercerita panjang mengenai Kerajan Sengguruh. Menurutnya Kerajaan Sengguruh telah berkembang sebelum Majapahit mengalami keruntuhan. Kerajaan otonom ini hadir di masa yang sama dengan Majapahit era Girindrawardhana Wangsa. Dengan kata lain, kerajaan Sengguruh muncul di akhir abad 15 dengan status otonom. Dengan kemampuannya, Raja Pramana mampu mengembangkan Sengguruh tanpa harus meminta persetujuan dari Majapahit. Sengguruh berhasil menjadi kerajaan kuat meski berada di lokasi terpencil. Lokasinya, berada di Malang selatan atau saat ini disebut sebagai wilayah Kepanjen di Kabupaten Malang.

Menurut Dwi, Kerajaan Sengguruh tepat berada di pertemuan antara Sungai Brantas dan Kali Metro. Ditambah lagi, lokasinya dikelilingi bukit-bukit kecil sehingga tampak terisolasi. Karena letak ini, Kerajaan Sengguruh tidak mudah ditaklukkan oleh lawan. Bukan hanya sulit ditaklukkan, Kerajaan Sengguruh juga disebut kuat karena sempat menduduki kesultanan Giri. “Cuma beberapa lama dan baru berakhir sekitar 1530-an. Ini berakhir karena Pasuruan yang merupakan jalur antara Malang dengan Gresik berhasil dipotong Kerajaan Demak. Karena Pasuruan ditaklukan Kerajaan Demak, pendudukan Giri pun ditarik,” tegasnya.

Dibandingkan kerajaan lainnya di Jatim, Sengguruh disebut sebagai wilayah terakhir yang berhasil ditaklukkan Demak. Pusat Majapahit di Kediri berhasil dikuasai Demak sekitar 1517 sedangkan Pasuruan pada 1530-an. Sementara Kerajaan Sengguruh berhasil dikuasai sekitar 1545. “Ini petunjuk bahwa kerajaan Sengguruh cukup kuat,” kata dia.

Di antara berbagai area di Malang, Dwi mengungkapkan, bagian barat yang paling terakhir perkembangan Islamnya. Islam berkembang di sana baru terjadi abad 17, itu berarti satu abad berikutnya setelah penaklukan Kerajaan Sengguruh. Sedangkan Islamisasi di Malang barat tak lepas dari sosok Raden Trunojoyo yang membangun benteng di Ngantang, Kabupaten Malang. Bersama tokoh handal militer dari Kerajaan Gowa, Karaeng Galesong, mereka  bersama-sama melawan Belanda dan Kesultanan Mataram. Dengan mendirikan benteng di atas bukit tinggi Ngantang, mereka dapat memonitor pergerakan lawan dari atas. Namun sayangnya pada 1679, pertahanan Trunojoyo berhasil dikalahkan Belanda dan Kesultanan Mataram. Trunojoyo ditangkap dan dibunuh oleh Sultan Mataram sekitar 1680. Sementara Karaeng Galesong mengalami sakit, entah sejak setelah atau sebelum perang terjadi. Dan tokoh yang terkenal di Gowa ini makamnya ada di pedalaman Malang, Ngantang.

Penguatan ajaran Islam semakin besar ketika eks laskar Untung Suropati dan Pangeran Diponegoro lari ke Malang Raya. Sekitar 1750-an, mereka memasuki Malang dan memberikan dampak yang kuat pada pemahaman Islam warga setempat. Hal ini lebih tepatnya terjadi di Malang tengah dan selatan.

Makam Ki Ageng Gribig dan Mitos Politik

Ki Ageng Gribig disemayamkan di kompleks pemakaman yang luas bersama makam para bupati Malang generasi awal beserta kerabatnya. Kompleks pemakaman tersebut secara administratif berada di Dusun Gribig Sentana, RW 004, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Tepatnya di Gang II sekitar 2 km dari exit tol arah Pandaan menuju pusat Kota Malang.

Makam Ki Ageng Gribig menurut folklore ditemukan oleh Bupati Malang pertama, R.A.A. Notodiningrat I (Raden Pandji Wilasmorokusumo 1819-1839). Setelah menemukan makam tersebut, ia membangun dan memelihara tempat peristirahatan pendiri Kota Malang tersebut. Kemudian kompleks permakaman itu pun digunakan oleh R.A.A. Notodiningrat I sebagai makam keluarga dan berlangsung secara turun temurun.

Untuk memasuki kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig pengunjung akan disambut dengan jalan setapak yang dibuat dari rambatan semen cor, yang kiri kanannya di tumbuhi pohon-pohon nogosari dan bungai teratai beserta taman hias lainnya. Di dalam kompleks makam terdapat tiga bangunan besar dan beberapa bangunan kecil. Bangunan terbesar terletak di bagian tengah, yakni tempat disemayamkannya Bupati Malang pertama, R.A.A. Notodiningrat. Di sebelahnya, tepatnya di bagian teras terdapat 17 makam para kerabat dekat dan 8 kerabat jauh R.A.A. Notodiningrat I.

Selanjutnya bangunan kedua adalah makam Bupati Malang kedua, R.A.A. Notodiningrat II (Raden Bagus Doro 1839-1854)  bersama 26 makam kerabat dekat dan 6 kerabat jauh. Di teras bangunan yang kedua ini juga ada makam Mas Ajoe Aminah istri Raden Toemenggoeng Ario Soerjoningrat, Bupati Probolinggo.

Sedangkan bangunan besar ke tiga yang terletak dibagian paling belakang adalah tempat persemayaman Ki Ageng Gribig bersama istrinya. Di samping makam Ki Ageng Gribig terdapat musala Ki Ageng Gribig. Di musala itulah Ki Ageng Gribig berdakwah. “Tak jauh dari makam juga terdapat Masjid yang diberi nama “Ki Ageng Gribig” yang memiliki desain bangunan yang indah dan megah.

Di kompleks makam terakhir, merupakan makam Bupati Malang ketiga. Letaknya berada dalam bangunan besar yang tertutup, tetapi dibuatkan bangunan kecil terbuka dan disekat dengan kain korden. Terdapat tulisan jelas di batu nisan dari marmer berbunyi “R. Toemenggoeng Ario Notodiningrat wafat 8 Juli 1898”. Walaupun makam ini berada di luar bangunan gedung, keadaannya tetap terawat rapi. Nisan dan payungnya ditutup dengan kain berwarna kuning tua. Di sebelah makam Bupati Malang ketiga, terdapat makam Bupati Bondowoso, yaitu R.T.A. Notodiningrat yang wafat pada tengah malam 13 Oktober 1934. Sedangkan jauh di depan, dekat pintu gerbang komplek makam terdapat makam Bupati Surabaya, R. Soekarso yang menjabat pada 1958-1968. Tertulis jelas di batu nisannya terlahir pada 11 Desember 1908 dan wafat pada 7 Desember 1986.

Setiap tahun makam Ki Ageng Gribig selalu diziarahi oleh Pemerintah Kabupaten Malang pada tanggal 28 November, yang merupakan peringatan HUT Kabupaten Malang. Begitu juga pada setiap malam 1 April, ketika menjelang HUT Kota Malang, keesokan harinya, jajaran pejabat Pemerintah Kota Malang, juga melakukan ziarah kubur ke Makam Ki Ageng Gribig.

Begitu pula dengan para calon kepala daerah Malang Raya selalu membuat jadwal sowan politik ke Makam Gribig dengan tujuan meminta restu atas majunya dan meminta kemenangan. Mitos tersebut menjadi semacam keharusan, karena masyarakat Malang Raya masih meyakini bahwa Malang masih terus dijaga oleh para leluhurnya, salah satunya Ki Ageng Gribig.

 

Daftar Pustaka

Sumber Tertulis:

Dukut Imam Widodo, Malang Tempo Doeloe Djilid Satoe. Malang: Bayumedia Publishing, 2006.Doni Rachman, Kajian Mitos Masyarakat Terhadap Folklor Ki Ageng Gribig. Malang: Skripsi. Universitas Negeri Malang, 2012.

Majalah Liberty, Edisi 1754, 16-31 Juli 1991.

Bauwarna, Padmasusastra, Jilid 2/4. 1898.

Eggy Fajar Andalas, Mitos-Mitos Kabupaten Malang: Cara Orang Jawa dalam Menjelaskan Dunianya. Padang: Jurnal Puitika, Vol. 11, No.2, 2015.

Media: Republika.co.id. Senin , 21 Mei 2018.

Wawancara: Agus Sunyoto, 2017