Oleh : Nailal Muna

Mbah Shodiq, sapaan akrab masyarakat sekitar terhadap tokoh yang terkenal dari Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri Jawa Timur. Nama lengkapnya Muhammad Shodiq, pengasuh generasi ke 3 di Pondok Pesantren Salafiyah dusun Kapurejo Desa Pagu Kabupaten Kediri Jawa Timur. Mbah Sodiq lahir pada tahun 1921 dengan nama lengkap Muhammad Hayyin, putra ke 4 dari 9 bersaudara pasangan Kiai Yasir dan Nyai Umi Kultsum. Secara silsilah dari jalur ibu, Nyai Umi Kultsum adalah putri dari Kiai Hasan Muhyi pendiri Pondok Kapurejo, dan  kakak kandung dari Ibu Masruroh, istri Hadratus Syekh HAsyim Asy’ari[1].  Sedangkan dari jalur ayah, Kiai Muhammad Yasir, merupakan salah satu santri dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Perubahan nama Muhammad Hayyin menjadi Muhammad Shodiq terjadi ketika beranjak dewasa, perubahan nama tersebut dilakukan oleh Kiai Yasir dengan harapan kelak ketika sudah dewasa Muhammad Shodiq menjadi orang yang banyak berbuat kebenaran.

Masa belajar Muhammad Shodiq dilalui seperti halnya anak muda dan anak Kiai pada umumnya, setelah selesai belajar mengaji kepada orang tuanya, yaitu Kiai Yasir, Shodiq muda mengembara dari satu pesantren ke pesantren lainnya.[2] Pada tahun 1940, kakak perempuan Muhammad Shodiq, Siti ‘Aini mengikuti suaminya yaitu Kiai Abdul Fatah mendirikan pesantren di daerah Nglawak Kertosono. Shodiq muda mendapat amanat dari ibunya untuk mengikuti kakak kandungnya ke Nglawak Kertosono. Di Nglawak sambil melayani kakak kandungnya, Muhammad Shodiq belajar berbagai ilmu kepada Kiai Abdul Fatah. Cukup lama Muhammad Shodiq belajar pada kakak iparnya tersebut. Selain belajar kitab kuning, karena pada waktu itu adalah masa-masa agresi militer Belanda dan masa awal kemerdekaan, di mana mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang wajib sebagaimana fatwa Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari, otomatis jiwa perjuangan Shodiq muda juga bergejolak, bersama dengan teman-teman santri, acapkali Shodiq muda mengikuti gemblengan dari beberapa Kiai. Berbagai hizb, puasa mutih, ataupun amalan khas pesantren dikuasai cukup baik oleh beliau. Hal itu pulalah yang kelak menjadikan namanya cukup terkenal.

Aktivis Pendidikan Dan Nahdlatul Ulama

Sekitar tahun 1955, ketika pesantren Kapurejo memerlukan tenaga pendidik untuk santri, Shodiq muda kembali pulang ke Kapurejo untuk melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren. Bersama dengan saudara-saudaranya yang lain, Muhammad Shodiq membuat inovasi pendidikan di pesantren Kapurejo, apalagi setelah kakak kandungan Kiai Mawardi yang merupakan penggagas sistem madrasah meninggal dunia, Kiai Shodiq semakin intens memimpin pendidikan di pesantren Salafiyah Kapurejo.  Kiai Shodiq mendapat amanah dari keluarga besar pesantren untuk menjadi kepala sekolah. Beberapa inovasi yang dilakukan adalah dengan membuat sistem pendidikan madrasah di bawah naungan pesantren Salafiyah. Yang diberi nama Madrasah Islam Salafiyah (MIS). Sejajar dengan Madrasah Diniyah Ula ini menampung siswa dari masyarakat sekitar Pagu dan meluber hingga ke luar wilayah kecamatan, Madrasah ini berkembang dari tahun ke tahun. Yang unik dari lembaga ini, adalah tidak ada sekat pemisah antara santri laki-laki dan santri perempuan dalam proses belajar[3]. Selain itu, kegiatan ekstra kurikuler seperti seni hadrah, drumband menjadi pelengkap kurikulum pendidikan di MIS. Dalam setiap even kegiatan, baik yang diselenggarakan oleh NU maupun pemerintah daerah, seperti upacara HUT Kemerdekaan RI, drumband yang dimainkan oleh santri putra dan putri selalu turut memeriahkan[4].

Karena peminat dari madrasah ini terus bertambah setiap tahunnya. Membuat Kiai Shodiq bersama pengasuh lainnya mengembangkan pendidikan. Di sekitar tahun 1970, berdirilah pendidikan lanjutan setingkat Madrasah Diniyah Wusto yang diberi nama Tarbiyah Islam Mu’allimin (TIM). Tujuan pemberian nama TIM adalah agar attumam (alumni TIM) menjadi pendidik agama di masyarakat. Kurikulum dalam TIM tidak jauh beda dengan kurikulum pendidikan diniyah pada umumnya, berisi pelajaran kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan. Dengan adanya TIM, sIstem pembelajaran antara MIS dan TIM pun mengalami perubahan. Jenjang MIS dilaksanakan selama 6 tahun dan ada pemisahan antara santri putra dan putri dalam proses pembelajarannya, sedangkan jenjang TIM ditempuh dalam masa 4 tahun dengan mencampur santri putra dan putri dalam proses pembelajarannya. Peminat TIM cukup banyak, dengan seiring berjalannya waktu ada pula santri-santri dari luar Kabupaten Kediri, bahkan luar Jawa Timur.

Selian sebagai aktivis pendidikan di pesantren, Kiai Shodiq merupakan salah satu penggerak Nahdatul Ulama yang cukup disegani di daerah Pagu Kabupaten Kediri. Kecintaannya kepada organisasi NU dan khidmatnya terhadap NU terbukti dengan nyata. Kiai Shodiq tiada lelah menghidupkan tradisi-tradisi kegiatan Nahdlatul Ulama. Acara lailatul ijtima’ yang merupakan salah satu amaliyah NU, selalu Kiai Shodiq adakan dengan biaya pribadi. jama’ah lailatul ijtima’ yang biasa disebut manaqiban dilaksanakan setiap malam tanggal 15 di bulan hijriyah. Berkolaborasi bersama sepupunya KH. Mahfud Ilyas, Kiai Shodiq memimpin acara manaqiban dengan jama’ah yang mencapai angka 10.000, yang berasal dari beberapa daerah, baik sekitar Kediri sampai Surabaya. Setiap acara NU baik berskala lokal ataupun kabupaten yang diselenggarakan di pesantren Kapurejo, akan difasilitasi oleh Kiai Shodiq baik dari segi materil maupun non materil, seringkali dalam hal pendanaan untuk acara, Kiai Shodiq tak segan-segan untuk merogoh kocek pribadi. Dalam perhelatan muktamar NU ke 30 di Kediri, setiap hari Kiai Shodiq berkeliling kota Kediri dengan didampingi oleh penderek, tujuannya adalah memberi bantuan makanan terhadap Banser yang kala itu menjaga di perempatan-perempatan jalan dan pojokan jalan. Dalam setiap even istighosah pada tahun 1900 an, Kiai Shodiq akan mengirim para santrinya baik putra ataupun putri untuk mengikuti acara tersebut. Kiai Shodiq juga sering memberikan gemblengan (ijazahan ilmu kanuragan) terhadap banser di wilayah Kecamatan Pagu, maka tak heran personil Banser mencapai angka 2000, bahkan lebih.

Pada tahun 1994 Kiai Shodiq memprakarsai pembangunan Gedung NU wilayah Kecamatan Pagu, sebidang tanah wakaf yang diperuntukkan baginya, dia serahkan pada NU untuk didirikan gedung. Sekitar tahun 1997, Kiai Shodiq turut andil memprakarsai berdirinya lembaga pendidikan formal setingakt MTs dan MA di daerah Pagu, hal ini tidak lepas dari program wajib belajar 9 tahun yang direncanakan oleh pemerintah. Karena itu, bersama-sama dengan MWC NU kecamatan Pagu, membuat lembaga pendidikan dengan tujuan agar putra-putri warga Nahdliyin dapat bersekolah di lembaga milik NU. Kini lembaga tersebut berkembang cukup pesat dan diminati oleh masyarakat nahdliyin maupun masyarakat umumnya.

Walaupun memiliki banyak peran dalam pengembangan organisasi Nahdlatul Ulama, Kiai Shodiq selalu menolak masuk dalam struktural Nahdlatul Ulama, baik tingkat ranting, Majlis wakil cabang, maupun tingkat kabupaten. Meskipun begitu, banyak tokoh NU setingkat Syuriah PWNU, dan seniman-seniman nasional seperti pelawak kenamaan Kadir, dan penyanyi papan atas Dedi Dores sowan kepada Kiai Shodiq untuk meminta doa restu, tapi kadang kala ada juga beberapa pejabat negara yang tidak beliau temui, walaupun itu seorang menteri.

Zuhud, Nasionalis, Dan Dermawan

Kehidupan sehari-hari Kiai Shodiq begitu bersahaja. Dengan santri yang berjumlah kurang lebih 2000 orang, sebenarnya cukup mudah bagi Kiai Shodiq untuk mendapatkan fasilitas hidup. Tapi tidak bagi Kiai Shodiq, santri adalah anak yang harus mendapat pengayoman dari orang tuanya, jadi sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anaknya, dan memberi suri tauladan bagi anak-anaknya. Sehingga dalam pembiayaan pendidikan, santri dikenai baiaya SPP yang sangat murah, dan tanpa tekanan apapun, tak ada biaya uang gedung, seluruh gedung pesantren dibangun dengan dana pribadi Kiai Shodiq. Kendaraan sepeda kumbang merupakan ciri khas kesehariannya, sepeda kumbang menjadi teman setia, ketika Kiai Shodiq barangkat mengajar, pergi ke pasar atau sekedar jalan-jalan meninjau masyarakat sekitar. Tatkala wafat tahun 2000, kendaraan yang dimiliki beliau adalah sepeda kumbang kesayangannya, dan sebuah sepeda motor keluaran tahun 1970.

Selain terkenal akan kezuhudannya, Kiai Shodiq terkenal akan kedermawanannya, sedekah adalah prinsip hidup Kiai Shodiq. Dalam tradisi kehidupanyya, setiap kali bertemu anak kecil, Kiai Shodiq akan memberikan uang saku kepada mereka, berapapun itu jumlah anak kecil yang ditemuinya, seluruhnya akan mendapat uang saku. Seringkali ketika Kiai Shodiq berkeliling mengendarai sepeda kumbangnya, dan bertemu gerumbulan anak kecil, Kiai Shodiq akan turun dari sepeda dan memberikan uang saku pada mereka. Tidak hanya anak kecil, sering kali ada orang yang datang meminta bantuan finansial, Kiai Shodiq akan dengan sukarela memberi pada orang yang membutuhkan tersebut. Seringkali pula beliau menolak pemberian amplop/uang dari orang-orang yang sowan kepadanya. Seluruh bangunan pesantren menggunakan uang pribadi Kiai Shodiq, beliau selalu manolak untuk manarik sumbangan dari masyarakat, wali santri, maupun sumbangan dari pemerintah. Dalam acara lailatul ijtima’ dengan jamaah mencapai ribuan orang, semua biaya operasional menggunakan uang pribadi Kiai Shodiq. Karena sifat-sifatnya yang merakyat, sederhana, dan dermawan itulah yang membuat masyarakat merasa dekat dengan Kiai Shodiq. Ketika Kiai Shodiq lewat, orang-orang akan datang mendekat untuk sekedar bersalaman, dan dengan telaten Kiai Shodiq melayani permintaan masyarakat tersebut.

Jiwa nasionalis juga cukup kuat bersemayam dalam diri Kiai Shodiq. Di bulan Agustus, seluruh wilayah pesantren, dan jalan-jalan di dusun Kapurejo akan berubah warna bernuansa merah putih. Hiasan bendera merah putih kecil yang terbuat dari plastik atau kertas di pasang memanjang di depan setiap kelas, dan di sepanjang jalan dusun Kapurejo. Dalam kegiatan Peringatan HUT RI di wilayah Kecamatan Pagu, Kiai Shodiq selalu bersemanagat turut serta dalam memeringatinya, baik dalam upacara peringatan Detik-detik Proklamasi, maupun even karnaval lainnya. setiap kali upacara Detik-detik Proklamasi seluruh santri baik putra maupun putri akan diminta untuk ikut melaksanakan upacara bersama pemerintah daerah setempat, Kiai Shodiq rela turut berjalan kaki sepanjang kurang lebih 2 KM bersama sama santri menuju lokasi upacara, seluruh santri yang mengikuti upacara diberi konsumsi, baik air minum maupun makan, yang semuanya berasal dari uang pribadi beliau.

Bulan Oktober thun 2000, ketika selesai berwudhu untuk persiapan sholat Ashar, tiba-tiba Kiai Shodiq merasa seluruh tubuhnya lemas, beberapa saat kemudian beliau wafat, meninggalkan ribuan santri dan jama’ah yang menagis mendengar kabar duka tersebut. Ribuan orang mengantarkan beliau ke pemakaman keluarga di belakang pesantren. Kini makam Kiai Shodiq sering kali menjadi tujuan peziarah dari daerah sekitar Kabupaten Kediri.

Karya-Karya Kiai Shodiq

Kiai Shodiq merupakan sosok ulama yang produktif menulis. Pelajaran di MIS sebagian merupakan karya tulis beliau. Karya yang ditulis dengan huruf pegon Arab. Tapi karya-karya tersebut tidak pernah dicetak, hanya disalin oleh siswa ketika proses pembelajaran. Selain dipakai di pesantren, karya beliau banyak dipakai oleh masyarakat di sekitar Kecamatan Pagu.Berikut beberapa karya Kiai Shodiq:

  1. Fiqih Jawan (buku fikih dasar berbahasa jawa)
  2. Tauhid Jawan (Buku Ilmu tauhid dasar berbahasa jawa)
  3. Tajwid Jawan (Buku Tajwid dasar berbahasa Jawa)
  4. Tahaji (buku cara belajar menulis huruf Arab)
  5. Nahwu Wadhi’(ilmu Nahwu dasar)

Selain itu, beliau juga gemar membuat syi’ir lagu–lagu yang juga diajarkan kepada santrinya, berikut beberapa syi’ir karangan Kiai Shodiq :

سعادتنا لهي مقصدنا

سلنكنا اليها بكل العنا

ومن اجلها ولنيل المنا

تركنا الرواح وارتياحنا فانبهوا

واعملوا في سبيل الاسلام

سمروا غمروا في سواد الزمام

فان همتنا كل مجهودنا

فضلنا نعم الانفس

دعائم المجد في ارضنا ومعادنا

فانطلقوا للنضال

Hai Kawan kawanku semua

Maju Bersama sama

Ketujuan yang mulia di dunia dan akhirotnya

Itu berbakti pada tuhan kita yang kuasa

Ajaklah kawan kawanmu

Untuk menuntut ilmu

Guna membela agamamu nusa bangsa dan negerimu

 

Sumber Rujukan

[1] Putra Kyai Hasan Muhyi berjumlah 5 orang, pertama Sukarsih menikah dengan kyai Arif Banyakan, dan keturunannya yaitu Kyai BAdrus mendirikan pesantren al Hikmah Purwoasri Kediri, dan Kyai Ahmad Jalalain atau Kyai Abdul Fatah pendiri PEsantren Miftahul Ula Nglawak KErtosono. Kedua Muh. Ilyas, merupakan Pengasuh PEsantren Kapurejo dan menikah dengan putri Kyai Mustajab dari Gedong Nganjuk. Ketika Umi Kultsum, keempat MAsfuah dan kelima MAsruroh

[2] Kyai MAnhaji (Adik Kyai Shodiq) mengatakan Kyai Shodiq pernah mengaji di Ploso Mojo. Muh. Arif asal Wonorejo Semanding Pagu mengatakan ayahnya (H. Nur Hamid ) adalah teman satu kamar di Pondok Miftahul Ula. Bpk Dawam (alm) menurut putrinya Fitri sering bercerita bertemu Kyai Shodiq di Batu Ampar Madura.

[3] Khotimah (70 th) alumni tahun 1963 mengatakan bahwa teman-temannya satu kelas terdiri dari 3 orang perempuan dan beberapa teman laki laki.

[4] Khotimah mengatakan sekitar tahun 1960 dia bersama teman-temanya bermain drumband setipa peringatan HUT Kemerdekaan RI di Kantor kecamatan, berdampingan dengan ormas-ormas seperti NU, Ansor, Fatayat, Gerwani, dll.