Oleh: Rangga Azareda Dwi F.

Dr KH. Noer Muhammad Iskandar SQ. Para santri lebih akrab menyapa beliau dengan panggilan Abah Noer, sedangkan di khalayak umum beliau dikenal dengan sebutan Kiai Noer. Dr KH. Noer Muhammad Iskandar SQ. Lahir pada 5 Juli 1955 di Sumber Beras, Banyuwangi, Jawa Timur dari pasangan KH. Askandar dan Nyai Robiatun, serta merupakan putra ke-sembilan dari sebelas bersaudara.

Kiai Noer memulai pendidikannya dengan menimba ilmu di pesantren tradisional milik ayahnya sendiri, yakni KH. Askandar di Sumber Beras, Banyuwangi. Setelah tamat Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada tahun 1967, beliau melanjutkan nyantri di pondok pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur yang saat itu diasuh oleh KH. Mahrus Aly. Di Lirboyo ini Kiai Noer seangkatan dengan KH. Husein Muhammad (Cirebon), bahkan Kiai Noer pernah menjadi ketua panitia imtihan dan KH Husein Muhammad sebagai sekretarisnya. Kiai Noer juga pernah memimpin organisasi Ikatan Santri Banyuwangi di Lirboyo. Kemudian pada tahun 1974 setelah lulus dari Lirboyo beliau melanjutkan study di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta.

Kiai Noer melepas masa lajangnya di usia 27 tahun, lebih tepatnya yakni pada tahun 1982, dengan menikahi Nyai Siti Nur Jazilah putri dari KH. Mashudi asal Tumpang, Malang, Jawa Timur. Diceritakan bahwa Nyai Nur Jazilah pernah memimpin pondok pesantren putri di Cukir, Tebuireng Jawa Timur. Dalam pernikahannya, hadir dua Kiai besar yang berasal dari Jawa Timur yakni KH. Mahrus Aly sebagai pembawa khutbah nikah dan perwakilan pihak Kiai Noer. Sedangkan dari pihak istri adalah KH. Adlan Aly (pengasuh pondok pesantren Cukir Tebuireng) yang melakukan akad nikah. Seminggu setelah pernikahan, Kiai Noer kembali ke Jakarta bersama istri, karena mengingat pesan yang diberikan KH. Mahrus Aly saat khutbah nikah, bahwasannya Kiai Noer tidak diperbolehkan kembali ke Banyuwangi ataupun Tumpang, dan tidak diperkenankan juga kembali ke Lirboyo. “Inti Nasihatnya saya harus kembali ke Jakarta.” Begitu kata Kiai Noer.

Upaya dakwah di ibukota pun menuai jalan dan lika-liku perjuangan yang tidak mudah. Di awal kedatangannya bersama istri, secara terpaksa beliau harus rela menitipkan sang istri kepada keponanakannya Dra. Marsidah Tahir dalam rumah kontrakan di Kampung Utan, Ciputat agar mendapat tempat tinggal sementara. Sedangkan Kiai Noer melakukan apa saja yang bisa ia lakukan.

KH. Noer Muhammad Iskandar ditemani beberapa sahabat mendirikan Yayasan Al Mukhkisin di Pluit. Berbagai kegiatan pendidikan mulai dirintis, dan ditekuni dengan hati ikhlas. Hingga yang dulunya berawal dari remaja masjid Al Mukhlisin, telah berkembang menjadi madrasah diniyah. Lambat laun pun Beliau banyak dikenal masyarakat dan mulai mendapat undangan untuk mengisi ceramah.

Setelah tiga bulan lamanya menitipkan istri pada keponakan, akhirnya beliau mulai mengontrak rumah dengan berbekal rezeki seadanya dari Allah. Akan tetapi, ternyata Allah lebih berbaik hati, kedatangan sahabat beliau Ir. H. Bambang Sudayanto kepala PPL Pluit adalah untuk mengucapkan terima kasih atas do’a yang diberikan Kiai Noer, sehingga pekerjaan yang dijalankannya terkait Pantai Indah Mutiara Kapuk sukses dan berjalan dengan lancar. Pak Bambang memberikan sebuah kios kecil di Pluit dan ongkos untuk berangkat haji Kiai Noer sebagai rasa terima-kasihnya. Bagi Kiai Noer hadiah ini adalah hadiah yang sangat istimewa, sehingga beliau tidak ingin menunda-nunda keberangkatan. Pada tahun berikutnya yakni 1983, dikarenakan pendaftaran yang sudah ditutup, beliau berinisiatif untuk menemui kawan lamanya H. Rosyidi Ambari yang saat itu menjadi asisten menteri agama, untuk mengurus keberangkatan haji.

H. Rosyidi pun terkejut akan kedatangan Kiai Noer, karena H. Rosyidi telah lama mencari-cari beliau untuk mengelola sebidang tanah di Kedoya untuk dijadikan sebuah lembaga pendidikan. Namun Kiai Noer tidak lantas menerimanya saja, beliau meminta petunjuk Allah dengan istikharah dan meminta pertimbangan dari Kiai-kiai dan gurunya. Kiai Noer juga tidak langsung memberikan jawaban, ia akan menjawab tawarannya setelah pulang ibadah haji dari Mekkah. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa tanah Kedoya yang diwakafkan H. Jaani ini sangatlah strategis jika dibangun sebuah pesantren. Sehingga setelah segala macam pertimbangan dari banyak kiai dan gurunya, Kiai Noer menerima tawaran tersebut kepada H. Rosyidi. Akan tetapi, H. Rosyidi membawa langsung Kiai Noer untuk menemui H. Jaani, pada akhirnya tanah wakaf seluas 2000 meter yang sempat dipercayakan kepada H. Rosyidi dialihkan kepada Kiai Noer.

Upaya pertama kali yang dilakukan adalah membangun musholla dari triplek, dan biaya yang dipakai saat pembangunan adalah modal pemberian dari H. Abdul Ghoni putra dari H. Jaani. Dengan penuh ketelatenan berdakwah di ibukota, meski harus merintis dengan keprihatinan. Namun dengan ketelatenan dan dukungan dari guru KH. Mahrus Aly, inilah yang memberikan semangat untuk menjadikan sebuah lembaga pendidikan yang nantinya maju dan berkembang. Kiai Noer berhasil mendirikan pesantren Asshiddiqiyah dengan memadukan sistem pembelajaran klasik (salaf) dan modern (formal). Asshiddiqiyah yang pada mulanya hanya lahan 2000 meter sekarang telah menjadi 2,4 ha. beserta 11 cabang pesantren Asshiddiqiyah lainnya di Batu Ceper, Tangerang; Cimalaya, Karawang; Serpong, Tangerang; Cijeruk, Bogor; Musi Bayuasin, Sumsel; Way Kanan, Lampung; Gunung Sugih, Lampung; hingga Cianjur, Jawa Barat.

Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar SQ. Tidak hanya dikenal sebagai da’i kondang asal ibukota dan penceramah pengisi acara di salah satu stasiun televisi nasional. Da’i yang juga seleting dengan KH. Zainuddin MZ. Ini juga pernah terjun dalam dunia politik. Pada tahun 2004, ia pernah menjabat sebagai anggota DPR dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Lalu, pada 3 Oktober 2007, Kiai Noer kemudian memutuskan untuk pindah partai ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Saat itulah, ia kemudian ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pakar DPP PPP. Begitulah riwayat singkat Ulama Kharismatik penakluk Jakarta. Kiai Noer Wafat pada hari Ahad, 13 Desember 2020 di rumah sakit Siloam Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Banyak teladan dan Ibrah yang bisa diambil dari sosok Kiai Noer dalam perjuangannya mendakwahkan agama Allah. Meskipun dalam keadaan sesulit apapun, jika dengan kegigihan, bersungguh-sungguh dan ikhlas maka Allah pasti memberikan jalan.