37 Pembaca

Oleh: Robiihul Imam Fiddaroini

Negara Indonesia, khususnya Jawa telah banyak melahirkan para ulama. Islam bisa berkembang dan maju sampai sekarang karena jasa para ulama terdahulu. Akan tetapi banyak orang yang lupa dan tidak tahu bagaimana sejarah perjuangan para ulama untuk Indonesia. Di sini saya akan membahas tentang sejarah perjuangan Briptu KH. Nur Rohmat, seorang guru yang mengabdikan dirinya sebagai Brimob (Polisi) membela tanah air Indonesia.

Selain mengabdikan diri terhadap Indonesia melalui tugasnya sebagai seorang Polisi. Beliau juga telah mendidik anak-anak desa untuk tidak putus harapan dalam menggapai cita-cita. Di pesantren yang beliau dirikan, kebanyakan santrinya berasal dari pedesaan yang mengalami masalah ekonomi dalam melanjutkan pendidikan.

KH. Nur Rohmat lahir pada tanggal 23 Mei 1959 di Landoh Kayen Pati. Beliau merupakan putra K. Maskuri. Pada waktu kecil beliau belajar di SD Negeri Landoh Kayen. Pada saat itu di sekolah tempat beliau belajar sedang marak-maraknya pergerakan G30S-PKI yang dikenal kejam dan penuh pemaksaan. Bahkan di sekolah tersebut beliau sempat diajari oleh gurunya untuk tidak mempercayai adanya Tuhan. Kejadian ini diketahui oleh bapaknya, akhirnya sang bapak memindahkan beliau ke sekolah lain.

Setelah lulus SD, beliau melanjutkan belajarnya di pondok pesantren yang ada di daerah Lasem Rembang sampai lulus SMA. Awalnya beliau mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter. Akan tetapi, situasi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, akhirnya beliau mencoba mendaftar menjadi Brimob (Polisi). Postur tubuh, kondisi kesehatan, dan lain sebagainya yang telah memenuhi segala kriteria membuatnya diterima menjadi anggota Brimob (Polisi).

Ketika beliau awal-awal menjabat sebagai perajurit, mendapatkan tugas di daerah Srondol Semarang Jawa tengah. Pada suatu kesempatan beliau diperintahkan oleh komandannya untuk mengikuti tugas di Timor Timur atau yang sekarang dikenal dengan Timor Leste. Sebelum bertugas, beliau pergi sowan ke rumah gurunya dengan pakaian dinasnya. Walaupun beliau sudah menjadi seorang polisi tidak menghilangkan rasa takdimnya terhadap seorang guru. Di sana beliau sowan kepada gurunya untuk meminta do’a dan restu. Selain itu KH. Nur Rohmat juga pernah bertugas di Aceh dan berbagai daerah lainnya.

Sekitar tahun 80-an beliau menikah dengan Nyai Hj. Puji Astuti dan dikaruniai satu anak laki-laki dan tiga putri. KH. Nur Rohmat hijrah ke desa Plangitan, Pati, Jawa Tengah setelah ngontrak di desa Puri yang masih berada di wilayah Pati. Di Puri beliau kedatangan 10 santri yang berasal dari daerah Grobogan untuk berkidmah. Awal mula rumah beliau berdiri di desa Plangitan kondisi di sekitarnya masih sangat sepi dari pemukiman penduduk. Dengan gigih dan semangat dakwah yang tinggi beliau membangun pondok pesantren yang dibantu oleh 10 santri tadi yang dari Grobogan. Pembangunan pesantren ini sangat unik karena dikerjakan oleh santrinya sendiri. Diresmikan pada tanggal 23 Agustus 1993 yang diberi nama Pondok Pesantren Al-Isti’anah.

Nama tersebut berasal dari guru sekaligus mursyidnya yaitu Syeikh Abdurrohman Muslih Mranggen. Nama Al-Isti’anah diambil dari Al-Qur’an yang mempunyai arti penolong, harapannya pondok pesantren tersebut bisa menjadi penolong bagi siapa saja.

Dengan mengikuti perkembangan zaman pada tahun 2011, beliau mendirikan dan menyelenggarakan pendidikan formal MTs IBS (Al-Isti’anah Boarding School) dan MA IBS pada tahun 2012. Pesantren dengan basis ajaran salaf ala ahlussunnah wal jamaah kini sudah hadir pendidikan formal sesuai dengan perkembangan zaman. Beliau mendidik para santri dengan sistem milliter yaitu tegas, tertib, disiplin, mencintai NKRI dan lain sebagainya. KH. Nur Rohmat adalah seorang guru yang menjadi salah satu abdi negara melalui tugasnya sebagai Brimob (Polisi). Selain itu beliau juga seorang Kiai, Ulama yang telah berjuang untuk agama Islam. Rasa kecintaanya terhadap santri tidak bisa diragukan lagi. Ketika ada santri yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan, beliaulah yang menyekolahkannya atau ketika ada santri yang ingin mondok di pesantren Al-Isti’anah tetapi tidak memiliki biaya, maka beliau membebaskan santri tersebut dari beban biaya asalkan nurut aturan, semangat, jujur dan mudah diatur. Selain sebagai pengabdi NKRI, pejuang pendidikan, di kalangan masyarakat pedesaan, beliau sangat terkenal dengan seorang Kiai yang ramah, pemberi pesan kedamaian, wawasan sejarahnya luas, dan do’anya mustajab (sering dikabulkan oleh Allah SWT).

Pada tanggal 6 Februari 2018 Allah SWT memanggil beliau tepat pada umur 59 tahun. Kepemimpinan pondok dilanjutkan oleh putra beliau yaitu K. Imam Sya’roni Dziya’urrohman atau yang sering disapa dengan Gus Roni. KH. Nur Rohmat adalah guru serta anggota Brimob (Polisi), sang mursyid Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah yang menjadi panutan para santri, para anggota polisi dan masyarakat. Seluruh hidupnya telah dipersembahkan untuk mengabdi terhadap NKRI dan agama Islam. Semoga beliau diterima di surga Allah SWT.