27 Pembaca

Oleh: Redaktur

Sahabat Umar ibn Khaththab yang sangat terkenal dengan sifat ketegasan dan kerasnya tersebut, ternyata ada sisi lain yang jarang diketahui oleh umat Islam. Ada sebuah cerita yang bisa dilihat dari sisi lain kepribadian beliau sang singa Islam. Yaitu ketika beliau dan para sahabat lainnya sedang bercengkrama dalam satu majlis dengan Rasulullah shalaallahu ‘alaihi wassalam. Waktu itu posisi duduknya berada di dekat baginda Rasulullah shalaallahu ‘alaihi wassalam. Membuatnya dimintai tolong untuk bercerita, “Wahai Umar, coba ceritakan kepadaku sebuah kisah yang bisa membuatku ketawa” perintah Rasulullah.

Umar pun bercerita di hadapanan Rasulullah dan  para sahabatnya. Beliau mengisahkan cerita lucu yang pernah dialami semasa sebelum memeluk agama Islam.

Dulu sebelum aku memeluk agama Islam pernah membuat patung berhala untuk disembah yang terbuat dari bahan manisan. Tiba di suatu hari aku merasa sangat lapar, kepada patung itulah aku meminta makan dengan berkata: “Demi Latta, Uzza, dan Manna! yang mulia, tolong berikan aku rizki berupa makanan!”. Setelah selesai ritual penyembahan, aku pun bergegas pergi ke dapur untuk mencari makanan. Akan tetapi, aku tidak menemukan makanan sedikit pun di sana. Tanpa pikir panjang, aku kembali ke tempat penyembahan patung manisan itu berada. Karena tidak tahan dengan rasa lapar, akhirnya aku memakan patung tersebut sampai habis. Ketika sudah habis, aku baru sadar bahwa patung ini adalah tuhanku tempat aku memuja dan meminta, penyesalan pun menimpaku seketika itu juga.

Mendengar cerita Umar ibn Khaththab, baginda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasaalam ketawa terkekeh-kekeh hingga terlihat gigi gerahamnya. Lalu diikuti oleh para sahabat lainnya yang juga ikut ketawa.

“Memangnya dimana akal sehatmu wahai Umar pada waktu itu?”, tanya Rasulullah lebih lanjut.

“Sebenarnya, aku memiliki akal yang cerdas Ya Rasulullah. Akan tetapi sesembah tersebut telah menyesatkanku pada waktu itu”, tegas jawaban Umar.

***

“Wahai Umar, sekarang sampaikanlah cerita sedih kepadaku yang bisa membuatku menangis” pinta Rasulullah untuk kedua kalinya.

Sahabat Umar pun memulai bercerita tentang kisahnya yang pilu ketika sebelum memeluk agama Islam.

Dulu aku mempunyai seseorang anak perempuan, di suatu hari aku mengajaknya ke sebuah tempat. Setibanya di sana, aku mulai menggali tanah membentuk sebuah lubang. Setiap kali tanah hasil galian mengenai bajuku, anakku selalu membersihkannya. Sementara ia tidak tahu bahwa lubang tersebut nantinya untuk menguburnya hidup-hidup sebagai persembahan untuk berhala. Setelah selesai menggalinya, aku melempar anak perempuanku masuk ke dalamnya. Ia merasa takut sehingga membuatnya menangis kencang sambil menutup wajahnya dengan penuh iba. Tetapi aku tetap menguburnya hidup-hidup hingga ia tak tampak lagi oleh kedua mataku yang sudah tertutup tanah. Namun, bayangan wajahnya masih saja memenuhi pikiranku ketika aku mengamati gundukan tanah tersebut sebelum meninggalkannya. Kisah Umar ibn Khaththab sambil menahan tangis.

Mendengar kisah Umar yang menyedihkan itu membuat Rasulullah sedih yang tak kuasa menahan tangis. Air matanya pun yang bening itu menetes di pipinya. Begitu pula dengan Umar yang telah sangat menyesali perbuatannya di zaman jahiliyah. Tidak ketinggalan pula para sahabat yang hadir di majlis tersebut menangis terenyuh dengan kisah Umar ibn Khaththab.

 

Sumber

Qutub Izziddin Jamil Al-Syarwi, “Fiqih Humor”, Perpustakaan Mutamakkin Press, Pati, 2016.