Oleh: Ni’amul Qohar

Cerita tentang Nabi Musa AS yang berguru kepada Nabi Khiddir AS sudah mashur didengar oleh umat muslim. Terdapat banyak pelajaran yang bisa diambil dari cerita tersebut. Salah satunya tentang makna mencari ilmu walaupun kepada seorang guru yang tempatnya sangat jauh. Al-Imam Abu Abdillah Al-Bukhari dalam kitab hadistnya di bab Al-Ilmu menceritakan tentang kepergian Nabi Musa AS menuju laut untuk menemui Nabi Khiddir AS, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

“Musa berkata kepada Khiddir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?.” (QS. Al-Kahfi: 66)

Sebagian ahli kitab menjelaskan bahwa Musa yang berpergian menemui Khiddir adalah Musa bin Mansa bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil. Biasa kita kenal dengan Nabi Musa AS dari Bani Israil[1].

Sedangkan keterangan mengenai siapa yang dimintai ilmu oleh Nabi Musa AS, Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan yang sanadnya sampai kepada Ibnu Abbas RA, “Sesungguhnya Ibnu Abbas dan Al-Harru bin Qais Al-Fazari berbeda pendapat mengenai siapa sahabat Nabi Musa AS ini, maka Ibnu Abbas mengatakan, “Dia adalah Nabi Khiddir”. Di saat terjadinya perselisihan karena berbeda pendapat, Ubay bin Ka’ab melewati mereka. Sehingga membuat Ibnu Abbas memanggilnya dan berkata “Sungguh aku berbeda pendapat dengan sahabatku ini tentang seorang yang dicari Nabi Musa AS untuk dimintai ilmu, apakah kamu pernah mendengar Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang cerita ini ?”. Ubay bin Ka’ab menjawab: “Ya, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Suatu ketika, Musa berkhotbah di hadapan Bani Israil, lalu beliau bertanya, ‘Siapakah manusia yang paling berilmu ?’. ‘Aku’, jawab Musa. Kemudian Allah menegur Musa karena tidak menyatakan yang paling tahu adalah Allah. Maka turunlah wahyu kepadanya, “Sungguh, Aku memiliki seorang hamba yang berada di tempat pertemuan antara dua lautan, dia lebih berilmu darimu, namanya Khiddir”[2].

Lantas Nabi Musa AS bertanya kepada Allah SWT: “Ya Rabb! Bagaimana aku bisa menemuinya ?.” Allah SWT menjawab, “Bawalah seekor ikan, dan letakkan dalam keranjang, ketika engkau kehilangan ikan itu, disitulah dia berada”. Nabi Musa AS kemudian bergegas mengambil ikan dan meletakkannya ke dalam keranjang. Pergilah beliau bersama salah satu santrinya yang bernama Yusya’ bin Nun. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebongkah batu besar di tepi laut yang bisa dibuat untuk istirahat, hingga akhirnya membuat Nabi Musa AS tertidur. Waktu itu juga ikan yang berada di dalam keranjang jatuh ke tanah lalu mencari jalan menuju lautan dengan cara aneh. Saat Nabi Musa AS terbangun. Santrinya yang melihat ikan jatuh dan menuju laut, lupa untuk memberitahu perihal kejadian tersebut. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan selama siang-malam. Baru ketika Nabi Musa AS merasa kelaparan dan kecapekan karena melakukan perjalanan yang sangat jauh. Kepada santrinya beliau bertanya perihal bekal makanan yang dibawanya. Santrinya tersebut baru memberitahukan kepada Nabi Musa AS yang sudah terekam dalam Surah Al-Kahfi ayat 64 “Tahukan kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di bawah batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya menuju laut dengan cara yang sangat aneh.” Nabi Musa AS lalu berkata “Itulah tempat yang kita cari”. Kemudian mereka kembali ke tempat tersebut.” (Q.S. Al-Kahfi 64)[3]

Akhirnya mereka berdua bertemu Nabi Khiddir AS yang kisahnya sudah diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Penjelasan mengenai kisah ini menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari-nya, memiliki makna tentang motivasi yang harus rela bersusah payah dalam menuntut ilmu. Meskipun Nabi Musa AS memiliki kedudukan yang lebih tinggi, yaitu sebagai nabi dan rasul. Namun tidak membuatnya enggan untuk menuntut ilmu kepada Nabi Khiddir yang kedudukannya hanya sebagai nabi bukan rasul. Jarak yang sangat jauh dengan melewati jalur darat dan laut, tidak menyurutkan semangatnya dalam menempuh perjalanan demi mendapatkan ilmu. Begitu juga apa yang dikatakan oleh Al-Hafizh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam kitab Ar-Rihlah fi Thalab Al-Hadist, bahwa sebagian ahli ilmu mengatakan sesungguhnya jerih payah yang dilakukan Nabi Musa AS untuk mencari ilmu dengan menempuh perjalanan jauh yang disertai sifat kesabaran, rendah hati, dan menurut kepada Nabi Khiddir AS (selaku guru). Menunjukan tingginya kedudukan ilmu dan orang yang memiliki ilmu. Serta sikap tawadhu’ terhadap orang yang hendak kita mintai ilmu[4].

Kedudukan ilmu dan orang yang memiliki ilmu sangatlah tinggi. Maka tidak heran jika para santri atau murid yang rela menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barakah.

Allahu’alam Bishowwab

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Fatah Abu Ghadah. Kisah Kisah Kesabaran Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu. Kediri: AZHAR RISALAH CV, 2016.

Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Jakarta: UMMUL QURA, 2014.

 

[1] Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi (Jakarta: UMMUL QURA, 2014).

[2] Katsir.

[3] Fatah Abu Ghadah Abdul, Kisah Kisah Kesabaran Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Kediri: AZHAR RISALAH CV, 2016).

[4] Abdul.