Oleh: Ni’amul Qohar

Di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Muslim dari Jabir bin Abdullah, bahwa pada suatu hari sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq sowan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam. Dari luar pintu beliau meminta izin untuk masuk ke dalam rumah. Namun nampaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam belum mengizinkan atau memperbolehkan beliau untuk masuk. Selang beberapa lama kemudian sahabat Umar ibn Khaththab juga sowan dan meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam. Tetapi beliau pun masih saja belum mengizinkannya untuk masuk.

Karena tidak mendapatkan izin. Dua sahabatnya ini menunggu di depan pintu rumahnya bersama para sahabat lainnya, yang juga dari tadi menunggu untuk sowan dan belum mendapatkan izin untuk masuk ke dalam rumah.

Tidak lama kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam mengizinkan mereka berdua, yaitu sahabat dekatnya (Abu Bakar dan Umar) untuk masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, alangkah terkejutnya dua sahabat ini melihat beliau duduk mematung, diam seribu bahasa di antara kepungan para istrinya. Mereka berdua tidak berani bertanya perihal apa yang terjadi atas peristiwa tersebut.

Pemandangan ini membuat sahabat Umar ibn Khaththab sangat heran, karena tidak biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam seperti ini. Sahabat yang sekaligus memantunya itu (bapaknya Hafshoh: istri Rasulullah) melihat kesedihan di raut wajahnya, membuat Umar ibn Khaththab ingin menghiburnya, “Sungguh aku benar-benar akan berbicara sesuatu apa saja, supaya bisa membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam tertawa”.

Kemudian Umar ibn Khaththab melakukan aksinya tersebut dengan berkata “Ya Rasulullah! Seandaiya engkau tadi melihatku memukul leher istriku, sewaktu ia meminta nafkah kepadaku…. ?”.

Ternyata usaha Umar ibn Khaththab bershasil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam langsung tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Beliau tertawa, karena apa yang sedang terjadi pada dirinya sama dengan apa yang terjadi kepada sahabat atau mertuanya itu. Sementara Umar ibn Khaththab tidak menyadarinya.

“Ya Umar! Hunna hauli yas’alnani an-nafaqota (Wahai Umar!, tahukah kamu bahwa mereka semua ini berada di sekelilingku juga sedang meminta nafkah kepadaku).” Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam sambil menahan tawanya.

Sahabat Umar ibn Khaththab pun tidak menyangka, ternyata apa yang dialaminya sama dengan yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam. Tidak hanya Umar ibn Khathathab yang merasa tidak menyangka atau kaget, sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq pun sangat terperanjat melihat apa yang terjadi kepada beliau beserta para istrinya. Lebih-lebih karena di antara para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam ada putrinya yaitu Siti Aisyah.

Tanpa piker panjang, Sahabat Umar dan Abu Bakar menghampiri masing-masing putrinya yang telah menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasaalam. Dua sahabat tersebut berkata kepada putri-putrinya “Kalian berdua meminta kepada Rasulullah apa yang tidak beliau punya?”.

Belum juga Abu Bakar dan Umar selesai berbicara. Aisyah dan Hafshoh menjawab dengan serempak “Demi Allah! Mulai detik ini kami tidak akan meminta lagi kepada Rasulullah apa yang tidak beliau punya”.

 

Sumber Rujukan

Qutub Izziddin Jamil Al-Syarwi, Lc. “Fiqih Humor”. Perpustakaan Mutamakin Press Komplek Masjid Jami’ Kajen, 2016