Oleh: Lathifatus Sa’adah

Salah satu makam ulama di Pati yang tersohor ialah Makam Sunan Ngerang. Terletak di Desa Pekuwon, Juwana, Pati. Tepatnya di kompleks Makam Sentono. Nama aslinya ialah Syaikh Muhammad Nurul Yakin. Beliau merupakan guru sekaligus mertua dari Sunan Muria, salah satu anggota Walisongo yang makamnya berada di puncak Gunung Muria, Kudus.

Dalam menyiarkan agama Islam Sunan Ngerang memiliki banyak pengikut/murid. Di antaranya ialah Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak, Kapa dan adiknya, Gentiri, serta masih banyak lagi.

Di Kompleks Makam Sentono Pekuwon terdapat pula makam Nyai Juminah yang makamnya berada persis di samping Makam Sunan Ngerang. Berdasarkan data yang tertera di papan pengumuman terdapat makam Joko Pekuwon, KA. Tlogo Mojo, Bupati Paranggaruda, KA. Ngenis, Maling Kenyo, Bupati Cokrojoyo, dan lain-lain.

Nasab Sunan Ngerang berada di urutan ke-26 dari Nabi Muhammad SAW. Ayahnya bernama Ki Ageng Jabung trah Sunan Ngudung ayah dari Sunan Kudus. Sedangkan sang istri, Nyai Juminah berada di urutan ke 23. Hal tersebut terlihat dari papan informasi yang ada di dekat makam.

Saat ini data yang meriwayatkan kisah hidup Sunan Ngerang bisa dibilang masih minim. Tetapi ada satu kisah antara Sunan Ngerang dan Sunan Muria yang terkenal. Bahkan sering dimainkan dalam lakon ketroprak (drama tradisional yang berasal dari Jawa). Kisahnya adalah ketika Sunan Ngerang mengadakan acara syukuran.

Dalam acara tersebut hadir murid-murid serta tetangga yang sebelumnya diundang oleh Sunan Ngerang. Singkat cerita -karena sudah banyak yang mempublikasikan cerita ini- Dewi Roroyono, pada malam harinya putri Sunan Ngerang, diculik oleh Pathak Warak.

Pencarian pun dilakukan oleh Sunan Muria yang bersedia memenuhi permintaan gurunya itu. Di tengah perjalanan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri. Mereka menyatakan diri sanggup untuk mencari Dewi Roroyono. Bila berhasil, maka Sunan Muria tetap berhak menikahi Dewi Roroyono.

Saat itu Sunan Muria harus kembali ke Padepokan Gunung Muria untuk membimbing para santri. Oleh sebab itu beliau mengizinkan Kapa dan Gentiri mewujudkan itikad baiknya.

Mereka meminta bantuan seorang tokoh sakti di Pulau Seprapat -sebuah pulau kecil di daerah Juwana, Pati- bernama Wiku Lodhang Datuk. Usaha mereka menuai hasil. Dewi Roroyono kembali ke Ngerang. Sedangkan Pathak Warak lumpuh di tangan Sunan Muria karena ulahnya sendiri yang mengajak Sunan Muria berkelahi.

Selanjutnya sesuai janji Sunan Ngerang, Sunan Muria akhirnya dinikahkan dengan Dewi Roroyono. Demikian pula Kapa dan adiknya, Gentiri yang diberi hadiah berupa tanah yang terletak di Desa Buntar, Karanganyar.

Sangat disayangkan. Kedua adik kakak itu terlanjur jatuh hati pada kecantikan Dewi Roroyono sewaktu membawanya pulang. Akhirnya mereka berniat untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria.

Untuk melancarkan aksinya Gentiri datang sendiri ke Gunung Muria. Aksinya ternyata dipergoki oleh murid-murid Sunan Muria. Pertempuran pun tak dapat dihindari. Akhirnya Gentiri tewas di puncak Gunung Muria.

Mengetahui tewasnya Gentiri, Kapa mengambil strategi lain dengan datang ke Gunung Muria pada malam hari. Saat Sunan Muria dan beberapa muridnya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Aksinya berhasil dan membawa Dewi Roroyono ke Pulau Seprapat. Menemui sang guru, Wiku Lodhang Datuk. Berharap mendapat perlindungan.

Akan tetapi kedatangannya tidak mendapat sambutan baik. Ia malah dimarahi dan dimaki oleh gurunya sendiri.

Saat mereka bersiteru tiba-tiba datanglah Sunan Muria dan beberapa muridnya. Kebetulan Sunan Muria juga ingin sowan (berkunjung) ke sana. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan Sunan Muria untuk mengukuhkan silaturahmi. Meskipun sama pemeluk agama lain.

Melihat kedatangan Sunan Muria, Kapa langsung menjuruskan serangan menggunakan kesaktian miliknya. Beliau menggunakan aji pamungkas, puncak kesaktiannya.

Namun Sunan Muria bukanlah tandingan Kapa. Jurus yang ditujukan kepada Sunan Muria berbalik ke arahnya hingga mengakibatkan beliau tewas seketika.

Kemudian Sunan Muria dan Dewi Roroyono pulang ke Gunung Muria guna melanjutkan dakwah.

Adapun dalam Sabda Palon: Sandyakala Wilwatikta (2019) Sunan Ngerang pernah menghadiri pertemuan dengan para ulama. Termasuk Walisongo di Pesantren Ampel Denta atas undangan Sunan Ampel.

Hal itu menunjukkan bahwa Sunan Ngerang atau Syaikh Nurul Yakin pernah ikut andil bersama Walisongo dalam menyiarkan agama Islam di Indonesia pada umumnya dan di Jawa pada khususnya