20 Pembaca

Oleh: Achmad Dhani

Pondok pesantren Al-Isti’anah yang didirikan oleh allahu yarham KH. Nur Rohmat, kali ini diasuh oleh menantu beliau yaitu Gus Najib Anwar. Sebelumnya pondok ini diasuh oleh Gus Imam Sya’roni Dziya’urrohman SH, M.Kn, yang merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Beliau termasuk anak lelaki sendiri di antara 4 saudara tersebut. Di waktu beliau menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Isti’anah memiliki cita-cita yang sangat besar untuk meng-kader para santri. Menjadikan santri sebagai generasi penerus bangsa yang profesional di segala bidang. Melihat zaman yang semakin maju seperti saat ini, membutuhkan peran para santri agar mampu untuk bersaing.

Gus Imam Sya’roni Dziya’urrohman atau yang biasa disapa Gus Roni adalah penerus kedua pondok pesantren Al- Isti’anah Plangitan, Pati. Beliau diamanahi tanggung jawab estafet perjuangan pendidikan di pesantren tersebut oleh abahnya. Sebenarnya amanah kepemimpinan pondok telah diberikan kepadanya satu tahun sebelum abah beliau wafat.

Selain menanggung amanah pendidikan di pesantren, Gus Roni juga memiliki jama’ah thariqah maupun jama’ah pengajian selapanan. Kepiawaian beliau dalam mengomando dan mengkader para santri bukanlah hal yang remeh. Tak kalah berbeda dengan abahnya dengan sama-sama memiliki visi dan misi yang sangat besar dan progresif. Karena dalam konteks ini, abah beliau pernah berpesan bahwa “Adanya lembaga pendidikan itu tidak dalam rangka main-main, dan jika demikian maka lebih baik tidak ada lembaga pendidikan, dari pada ada tetapi gagal”.

Maka dari itu setelah abah beliau wafat, banyak kebijakan dan tata kelola yang beliau atur dengan apik. Misalnya dalam masalah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), para siswa dan guru diberi fasilitas jaringan wifi untuk melaksanakan keberlangsungan KBM. Sebagai pembelajaran, siswa diperbolehkan membawa laptop asalkan sebelumnya harus menyetorkan hafalan Juz ‘Amma.

Tetapi sayang, setelah setahun sepeninggal abah beliau, Gus Roni menyusul abahnya pulang ke rahmatullah. Sebuah kesedihan yang amat begitu mendalam bagi para santri dan muhibbin beliau. Dalam dua dekade, kami sebagai santri sangat kehilangan dua guru besar.

Walaupun hanya sebentar, Gus Roni membuat perubahan yang sangat drastis. Beliau memiliki beberapa gagasan dan cita-cita yang sangat visioner. Adapun gagasan atau cita-cita beliau tercantum dalam konsep “IDE KERE”. Kata tersebut merupakan kepanjangan dari: Ilmu; Dzikir; Ekonomi; Kekuasaan; dan Regenerasi.

Berikut ini, akan penulis jabarkan satu persatu:

Pertama, Ilmu

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menginginkan persoalan yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia memiliki ilmunya pula; dan barang siapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-keduanya pula.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dalam beberapa kesempatan, Gus Roni sering berpetuah bahwa santri wajib memiliki kecerdasan dan keilmuan yang sangat mumpuni di segala bidang. Agar kelak mampu menjadi panutan di kalangan masyarakat. Karena ketika santri sudah pulang ke kampung halaman masing-masing, bukanlah suatu hal yang tidak mungkin akan menjadi sorotan bahkan sebagai rujukan atas segala persoalan yang terjadi di masyarakat.

Maka tak heran, jika Gus Roni selalu mengingatkan akan pentingnya meluruskan niat para santri di pondok Pesantren Al-Isti’anah. Apakah mereka ke pondok karena paksaan orang tua atau hanya sebagai pelarian semata, karena tidak diterima di sekolah negeri. Semua butuh penjernihan niat. Sebab, dalam hal ini Gus Roni tidak mau meremehkan terselenggaranya lembaga pendidikan yang telah dibangun oleh abah beliau.

Kedua, Dzikir

Orang yang menempuh pendidikan di pesantren, pastinya tidak hanya diajarkan tentang ilmu pengetahuan saja. Melainkan akan dibentuknya jiwa santri yang ahli dzikir, taqarrub kepada Allah. Dalam artian bahwa santri dibekali pengetahuan mengenai sikap tidak ketergantungan kepada sesama makhluk. Serta memotivasi kita untuk selalu memohon dan meminta kepada Allah Yang Maha Pemurah.

Dzikir juga dapat menumbuhkan akhlakul karimah bagi siapa saja yang melakukannya. Pribadi yang ahli berdzikir tentu hatinya akan selalu mengingat Allah, penuturan katanya selalu mengandung nilai-nilai kebaikan yang disukai Allah, dan perbuatannya pun senantiasa diridhoi Allah. Maka tak heran, ketika orang ahli dzikir perilakunya dapat membuahkan amal sholeh. Dzikir juga bisa membuat kita jauh dari kemaksiatan.

Ketiga, Ekonomi

Selain membutuhkan ilmu yang matang. Dalam strategi dakwah, memang sangat dibutuhkan ekonomi yang kuat. Ekonomi (dana) dalam berdakwah tidak dapat dipisahkan. Apa jadinya kalau dakwah terhambat karena tidak adanya sumber pendanaan.

Jangan sampai hanya karena masalah ekonomi,  kita menjadi lemah, yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat keimanan kita. Masih banyak orang-orang di luar sana yang rela menukar keimanannya demi bantuan sembako, pakaian, rumah dan lain sebagainya. Maka Gus Roni mewanti-wanti betul akan terjadinya hal semacam itu.

Dengan demikian, santri setidaknya harus inovatif akan hal keuangan. Tidak mungkin kita menggantungkan diri kepada orang lain. Kita perlu mengembangkan ekonomi kita sendiri. Membangun usaha-usaha perekonomian yang mampu menghidupkan dakwah Islam. Demi keberlangsungan dan kemaslahatan umat.

Keempat, Kekuasaan

Di tengah era fitnah dan penuh kekacauan ini, para santri harus mampu tampil sebagai sosok pemimpin umat. Sangatlah dibutuhkan orang-orang alim untuk berkecimpung di dunia perpolitikan agar keberadaannya memberi manfaat kepada umat dan lembaga keagamaan Islam.

Apa jadinya apabila para pemimpin kita adalah orang-orang fasik yang tidak mengerti agama. Tentunya akan menjadi madhorot dan kesengsaran bagi rakyat. Terlebih lagi bangsa kita yang sangat memerlukan pemimpin untuk membawa perubahan ke depan yang lebih baik. Bukannya malah memperosotkan negri kita ke dalam lembah ketertinggalan.

Maka tampillah jiwa santri yang siap untuk memimpin di setiap elemen masyarakat. Bukan hanya untuk pemimpin di dalam lingkup keluarga saja. Melainkan juga menjadi pemimpin di tingkat desa, kecamatan, daerah maupun sampai tingkat elit negara.

Kegiatan organisasi-organisasi di lingkup pesantren tentunya mampu membina santri untuk bisa menjadi pemimpin. Walupun hanya ditingakatan pondok saja. Hal tersebut merupakan bekal kita untuk mempraktikkannya di tengah masyarakat nanti.

Kelima, Regenerasi

Ide dan cita-cita Gus Roni memang sangatlah luhur. Tidak mungkin perjuangan dan jerih payah para pendahulunya akan berhenti begitu saja. Pasti membutuhkan kesinambungan kepada generasi selanjutnya.

Ajaran-ajaran akan ilmu pengetahuan, budaya dan filsafat hidup yang telah diajarkan oleh para kiai dan ulama bukanlah sekedar warisan biasa. Tetapi suatu hal yang perlu dilestarikan dan kelak akan diteruskan oleh generasi berikutnya.

Pencapaian yang sudah pada titik pintu keberhasilan ini jangan sampai musnah ditelan oleh zaman yang semakin modern.

Dan sebelum KH. Nur Rohmat, abah beliau wafat, pernah berpesan kepada Gus Roni bahwa Perjuangan tidak boleh berhenti. Perjuangan harus tetap dilanjutkan untuk memintarkan anak-anak, mendidik anak-anak agar menjadi generasi yang bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara. Dengan mengatur segala sesuatunya baik pendidikan formal maupun pendidikan diniyahnya”.

Itu adalah sedikit dari beberapa cita-cita Gus Roni yang yang dititipkan kepada generasi penerusnya. Semoga guru-guru yang telah mendahului kita diberi kenikmatan di alam barzakhnya dan dipertemukan dengan kekasih-kekasihnya.

Terkhusus kepada kedua guru besar kami…Lahuma alfaatihah.