Oleh: Afina Izzati

Siapa sangka, daerah Lasem Rembang memiliki ulama-ulama kharismatik yang belum diketahui oleh orang banyak. Salah satunya KH. Ma’shum Ahmad yang kerap dikenal dengan Mbah Ma’shum Lasem. Beliau merupakan ulama terkenal dengan kiprah perjuangan yang luar biasa dalam penyebaran agama Islam di Lasem.

Belum banyaknya tulisan yang mengungkap Mbah Ma’shum Lasem. Menjadikannya tidak begitu dikenal oleh beberapa kalangan masyarakat. Sebagai ulama berpengaruh, Mbah Ma’shum juga memiliki jasa bagi Indonesia, yaitu ikut berjuang merebut kemerdekaan bangsa. Keberhasilan Indonesia untuk maraih kemerdekaan tidak bisa dilepaskan atas perjuangan para ulama pada masanya.

Mbah Ma’shum merupakan putra Kiai Ahmad dan Nyai Qosimah (sebagian mengatakan Nyai Ruqoyyah). Dari jalur ayahnya, beliau masih keturunan salah satu Sultan Minangkabau yang sampai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Mbah Ma’shum memiliki saudara yang bernama Nyai Zainab dan Nyai Malichah.

Selama hidupnya, Mbah Ma’shum menikah sebanyak 2 (dua) kali. Beliau menikah untuk pertama kalinya dengan seseorang perempuan dari Desa Sumber Girang, Lasem yang bernama Nyai Malihah binti Kyai Musthofa Lasem, namun tidak diketahui kapan pernikahan itu terjadi. Dari pernikahan ini Mbah Ma’shoem dan Nyai Malihah tidak dikaruniai keturunan.

Ketika Nyai Malihah meninggal dunia, pada usia 33 tahun, tepatnya tahun 1320 H/ 1903 M, Mbah Ma’shum menikah untuk yang kedua kalinya dengan Nyai Nuriyah binti KH. Zaenuddin bin KH. Ibrahim bin KH. Abdul Latif bin Mbah Baidhowi awwal bin Mbah Abdul Halim bin Mbah Sambu Lasem. Nyai Mashfuriyah binti KH. Abdul Aziz bin Abdullatif adalah nama ibu dari Nyai Nuriyah. Saat itu Nyai Nuriyah menikah pada usia 11 tahun.

Dari pernikahan tersebut, mereka di anugerahi keturunan 13 orang yaitu Ali, Fatimah, Ahmad Syakir, Zainuddin, Solichah, Abdul Qasim, Asmu’i, Azizah, Hamnah, Salamah, Muznah, Sa’adah, Abdul Jalal. Dari jumlah tersebut yang hidup hanya 5 (lima) orang yaitu: Kyai Ali Ma’shum Krapyak, Nyai Fatimah, Kyai Ahmad Syakir, Nyai Azizah dan Nyai Hamnah. Selebihnya wafat ketika masih kecil.

Secara fisik Mbah Ma’shum merupakan figur yang berbadan tinggi, berjenggot tipis, berdahi luas, berkulit putih, jika beliau berjalan terlihat tenang dan berwibawa. Beliau lahir pada tahun 1290 H/1870 M di daerah Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Lasem merupakan salah satu kecamatan terbesar di Kabupaten Rembang, dengan memiliki 20 desa dan jumlah penduduk kurang lebih 47.868 jiwa pada tahun 2005. Lasem dikenal sebagai kota santri yang sudah melahirkan banyak ulama tersebar di Indonesia. Termasuk pesantren milik Mbah Ma’shum yang telah menurunkan orang-orang hebat yang ada di Indonesia.

Pondok pesantren Al Hidayat didirikan pada 1334 H/ 1916 M, dalam bentuk musholla serta beberapa ruang sederhana untuk para santri. Pada zaman dahulu orang mengenalnya pondok Lasem, karena terkenal pertama kali dengan sebutan pondok adalah pesantren milik Mbah Ma’shum.

Ulama Lasem tersebut menunjukkan atensi yang besar terhadap berbagai permasalahan sosial masyarakat. Kiprah Mbah Ma’shum banyak terekam jejaknya hingga saat ini yang telah membekas di hati masyarakat Lasem. Berikut akan diungkap lebih jelasnya.

Kiprah Aktif Mbah Ma’shum

Ketika Nahdlatul Ulama (NU) dideklarasikan pada 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 1926 M, Mbah Ma’shum bersama KH. Khalil Masyhuri mewakili daerah Lasem untuk menghadiri peresmian organisasi keagamaan tersebut di Jl. Bubutan VI Surabaya. Menurut keterangan cucunya, KH. Zaim Ahmad bahwa Mbah Ma’shum merupakan salah satu pendiri NU. Beliau aktif di organisasi NU bersama Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab dan KH. Kholil. Kiprah beliau pasca berdirinya NU adalah dengan mendirikan cabang-cabang NU seperti di Lasem yang menjadi cabang NU ke 11, Rembang, dll.

Selain itu pada jaman pemberontakan PKI, Mbah Ma’shum turut aktif berjuang dengan mengirim 50 penjalin atau pecut untuk menghadapi teror PKI. Penjalin tersebut di asma’ (dibacakan doa-doa) ke mbah Imam Sarang. Hal tersebut merupakan salah satu upaya Mbah Ma’shum untuk menyiapkan santrinya dalam menghadapi kekejaman PKI dengan cara memerangi.

Pada waktu itu sejarah mencatat bahwa kompleks pondok pesantren Al Hidayat Lasem serta kediaman Mbah Ma’shum telah berubah menjadi markas besar pertahanan bagi pengikut-pengikut paham Pancasila. Termasuk pejabat pemerintah, pimpinan Partai Nasional Indonesia, terutama umat Islam.

Kisah Mbah Ma’shum dan Santrinya

Menurut keterangan santrinya, Habib Ridwan, Mbah Ma’shum dihadapan santri-santrinya adalah tegas dan keras namun santun dan kasih sayang kepada santri-santrinya. Mbah Ma’shum seringkali mengajak makan bersama-sama dengan santri, sekaligus agar beliau dapat mengenal santri-santrinya. Mbah Ma’shum termasuk kiai yang keras dalam menegakkan hukum.

Ketika ada santri mencuri maka tidak segan-segan beliau menghukum dengan menggunduli di halaman pondok, agar dilihat santri lain dan dapat dijadikan pelajaran bagi santri-santri lainnya. Namun ketegasan yang dimiliki Mbah Ma’shum tidak serta merta berbuat kekerasan, namun melakukan klarifikasi terlebih dahulu untuk menyelesaikan permasalahan.

Banyak tokoh berpengaruh di Indonesia yang sempat menjadi santri beliau. Antara lain, KH. Idham Chalid (Ketua MPR RI ke-4), KH. Muhammad Ilyas (Menteri Agama ke-8), KH. Saifuddin Zuhri (Menteri Agama ke-10), H. Mukti Ali (Menteri Agama ke-12), dan masih banyak lagi.

Para santri yang pernah berguru langsung kepada Mbah Ma’shum memiliki kisah unik dan menarik. Banyak dari mereka menjadi orang berhasil di kemudian hari. Meski kenyataan yang terjadi pada saat mondok mustahil rasanya karena sulit mencerna pelajaran dari Mbah Ma’shum.

Mbah Ma’shum semasa hidup dikenal sebagai ulama yang dalam berbicara dan bertindak sulit dicerna akal. Namun, di balik setiap kehendaknya selalu memiliki maksud dan tujuan tertentu. Khususnya, untuk para santri didikan beliau.

Ada sebuah kisah yang diceritakan KH. Zaim Ahmad. Suatu ketika ada santri asal Madura, setiap ngaji sorogan kepada Mbah Ma’shum selalu salah karena begitu bodohnya. Sampai santri tersebut putus asa. Namun, Mbah Ma’shum berusaha menguatkan santri tersebut dengan berkata bahwa beliau tak menyuruh santrinya mengaji sampai bisa karena urusan bisa dan paham adalah urusan Allah. Saat ini santri tersebut telah memiliki pesantren sendiri.

Selain itu ada kisah lain santri Mbah Ma’shum yang berasal dari Demak. Suatu hari datang santri baru di pesantren Mbah Ma’shum. Sudah menjadi kebiasaan Mbah Ma’shum mengajak bicara sejenak santri-santri baru untuk mengetahui besarnya kemampuan yang dimiliki seorang santri.  Suatu ketika, Mbah Ma’shum mengutus santrinya menulis dengan menebali selembar kitab yang di atasnya telah diletakkan selembar kertas kosong. Santri tersebut menebali lengkap kitab berserta makna gandulnya.

Mbah Ma’shum lalu meminta santri tersebut membaca kitab. Baru sebaris dibaca, namun sudah banyak kesalahan. Kemudian, Mbah Ma’shum memerintahkan untuk berhenti mengaji. Santri tersebut justru diperintah menguras sekaligus mengisi air untuk bak di kamar mandi Mbah Nuriyah, istri Mbah Ma’shum.

Selama 20 tahun menjadi santri Mbah Ma’shum, ia hanya mengaji satu baris saja. Anehnya, beberapa tahun kemudian setelah santri tersebut keluar dari pondok justru memiliki pesantren, majelis ta’lim, dan madrasah yang sangat besar di Demak Jawa Tengah. Bahkan santri tersebut sekarang masih hidup dan berusia 80 tahun lebih.

Wafatnya Mbah Ma’shum

Mbah Ma’shum wafat pada 12 Ramadhan 1392 H/ 20 Oktober 1972 M saat berusia 102 tahun setelah menunaikan shalat Jum’at di Masjid Jami’ Lasem. Beliau meninggalkan sorang istri dan 5 (lima) orang anak. Makam Mbah Ma’shum berada di sebelah Utara Masjid Jami’ Lasem dekat dengan para Masyayikh Lasem, seperti: Sayyid Abdurrohman (Mbah Sambu), Kyai Abdul Aziz bin Abdullafhif bin Baidlowi dan Kyai Baidlowi bin Abdul Aziz.

Firasat kepergiannya telah dirasakan sebelumnya, ketika Mbah Ma’shum mendengar kabar bahwa KH. Baidlowi bin Abdul Aziz wafat pada tanggal 12 Syawwal 1390/11 Desember 1970 M, beliau berkata: “Seandainya Paman (KH. Baidlowi bin Abdul Aziz) wafat pada hari ini, saya akan menyusul dua tahun kemudian,” Lalu, ketika KH. Baidlowi bin Abdul Aziz hendak dimakamkan, Mbah Ma’shum berbisik di telinga almarhum KH. Baidlowi bin Abdul Aziz dengan bisikan: “Wahai paman dua tahun lagi saya akan menyusul.” Ternyata benar. Tepat dua tahun setelah KH Baidlowi bin Abdul Aziz menghadap Allah, Mbah Ma’shum menyusul ke Rahmatullah.

Mbah Ma’shum wafat setelah menderita sakit selama kurang lebih 6 (enam) bulan karena usianya yang sudah lanjut. Beliau jatuh sakit pada hari Jum’at, 14 Maulud 1392 (28 April 1972) jam 14.00 WIB. Meskipun sakitnya sudah sangat parah namun setiap malam beliau tetap melaksanakan sholat tahajjud berjamaah dengan santri-santrinya yang setia.

Banyak umat yang merasakan kehilangan beliau. Denys Lambard dalam tulisannya yang dikutip oleh Luthfi Thomafi menyebutkan bahwa Mbah Ma’shum merupakan figur guru dari Lasem yang kurang dikenal pada tingkat Nasional, namun ketika wafatnya pada tahun 1972 menimbulkan goncangan yang terasa dari ujung jaringan yang satu ke ujung lainnya. Ini menyiratkan bahwa Mbah Ma’shum memiliki pengaruh besar sebagai seorang kiai.