43 Pembaca

Oleh: Amirul Ulum

(Santri Mbah Moen & Khadim Ulama Nusantara Center)

Syarat untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan barokah di antaranya adalah memuliakan ilmu dan ahlinya, para guru. Termasuk memuliakan seorang guru adalah memuliakan keturunannya, hal ini sebagaimana yang diajarkan dalam kitab Ta’lim al-Mutaallim karya Syaikh az-Zarnuji.

Mbah Moen, sapaan akrab Kiai Maimoen Zubair saat mencari ilmu, dikenal sangat memuliakan guru-gurunya, baik ketika masih nyantri di Pesantren Sarang, Pesantren Lirboyo, atau saat menjalani dirasah di Haramain. Karena akhlaknya yang luhur dalam memuliakan ilmu dan ahlinya, maka tidak mengherankan jika para masyayikh menjadi akrab dengannya.

Kiai Anwar Manshur, Pengasuh PP. Lirboyo pernah mengatakan, “Kami memandang Mbah Maimoen semenjak berada di Lirboyo memang seorang yang sangat menghormat kepada para masyayikh. Tidak cukup kepada masyayikhnya saja, sehingga dzuriahnya ikut dihormati oleh beliau. Kita tetap menghormat kepada Mbah Maimoen. Beliau adalah seorang ulama yang betul-betul tahqiq di dalam masalah ilmu dan amalnya. Beliau tidak pernah membicarakan (kejelekan) orang lain, itu tidak pernah. Saya mengakui betul itu. Dijaga betul. Istilahnya orang sekarang itu menjelekkan orang itu, tidak pernah. Beliau sangat menghormati kepada orang alim.”

Ketika guru-guru Mbah Moen sudah kembali ke Rahmatullah, maka penghormatannya tidak pudar sampai di situ. Setiap habis shalat Maktubah, beliau selalu mendoakan para gurunya tersebut. Ruh selalu bersambung hingga jasad berpisah dengan ruh dan bertemu dengan ruh para guru dan orang-orang shaleh yang telah mendahului.

Kepada keturunan para gurunya, Mbah Moen senantiasa menyambung tali silaturrahim, dengan cara memerintahkan anak-cucunya untuk belajar (atau bertabarruk) kepada mereka, agar ikatan ruh terus bersambung, seperti halnya Mbah Moen memerintahkan anak cucunya untuk belajar di Pesantren Lirboyo atau belajar kepada keturunan Sayyid Alawi ibn Abbas al-Maliki.

Mbah Moen sering sekali sowan kepada keturunan guru-gurunya. Ia sering memberikan hadiah yang dihaturkan kepada mereka dengan tujuan memuliakan. Salah satu keturunan gurunya yang sering ia sowani adalah Sayyid Ahmad al-Maliki, cucu Sayyid Alawi ibn Abbas ibn Abdul Aziz al-Maliki. Sowan di kediaman beliau dilakukan setiap mengunjungi Haramain, baik untuk menunaikan ibadah haji atau umrah.

لولا الشيخ المربي المهذب الدال على الله و الموصل إليه ظاهرا وباطنا حالا ومقالا ما عرفت التأدب مع ربي في الخلوات و الجلوات ،

“Ketika tidak ada syaikh/orang yang terpandang karena ilmu dan kedudukkannya, al-Muhadzab/pendidik yang terbukti baik dan terdidik, ad-Daalu/orang yang lihai menunjukkan jalan kepada Allah dan bisa bersambung/berkomunikasi secara dzahir dan bathin kepada-Nya, dengan perbuatan dan kata-kata, niscaya aku tidak akan mengerti beradab/bertatakrama dengan-Nya disaat sepi dan disaat rama.”

Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2021.

Yogyakarta, 25 November 2021