Oleh: Ahmad Zaki Mubarok

Riwayat Hidup

Di kalangan lingkungan sekitar dan orang-orang dekat, beliau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Mik. Nama lengkapnya adalah Abdul Hamid, lahir di Kota Lasem pada tanggal 26 Muharram 1364 atau bertepatan dengan 30 Desember 1945. Dibesarkan di lingkungan pesantren dan masyarakat Lasem yang majemuk. Merupakan putra ke-11 dari Kiai Baidhowi bin Abdul Aziz dan Nyai Hamdanah putri Kiai Ahmad Ngadipurwo Blora.

Ayah beliau sebelumnya menikah dengan Nyai Halimah binti Shiddiq Rembang. Dari pernikahan pertama dikaruniai dua orang anak. Yaitu Nyai Raudhoh yang setelah ditinggal wafat Kiai Zawawi bin Kiai Ashari bin Kiai Ibrahim bin Kiai Baidhowi Awal Lasem, kemudian menikah dengan Kiai Thohir bin Kiai Nawawi bin Kiai Abdullah yang masih terbilang dzurriyah simbah Kiai Ahmad Mutamakkin Kajen Pati. Dan putra yang kedua yakni Kiai Abdul Bar (pernah nyantri kepaada Hadhratus Syeikh Hasyim Asyari). Sedangkan dari hasil pernikahan Mbah Baidhowi dengan Nyai Hamdanah (menikah lagi setelah seribu hari wafatnya Nyai Halimah) lahir 9 putra dan putri:

  1. Nyai Afwah (setelah diperistri H. Choiron bin H. Chasan bin H. Ahmad Khan Kauman Semarang kemudian dinikahi Kiai Wahib bin Kiai Wahab Hasbullah Tambakberas Jombang)
  2. Kiai Abdul Quddus
  3. Abdul Malik (wafat kecil)
  4. Kiai Abdul Halim.
  5. Nyai Saudah (istri Kiai Mas’ud Busyro Blora).
  6. Nyai Khairiyyah (setelah Kiai Masykuri Lasem wafat diperistri Kiai Hasan Fatah Parakancanggah Banjarnegara).
  7. Nyai Fahimah (istri Kiai Maimoen Zubeir Sarang)
  8. Haniah (wafat kecil)
  9. Kiai Abdul Hamid.

Jika ditilik dari silsilah yang ditulis Kiai Suyuthi bin Abdul Aziz Tasikagung Rembang, maka trah beliau akan sambung kepada Mbah Sambu. Yakni, Abdul Hamid bin Baidhowi bin Abdul Aziz bin Baidhowi awal bin Abdul Lathif bin Abdul Bar bin Abdul Alim bin Abddurrahman Basyaiban (Mbah Sambudigdo). Mbah Sambu sendiri dikenal sebagai ulama yang menurunkan banyak Kiai, bahkan Rais Akbar dan Rais am NU juga dzurriyah Mbah Sambu. Di antaranya: Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bishri Syansuri, Kiai Ahmad Shiddiq dan Kiai Ali Maksum.

Beliau mempersunting Nyai Djamilah Cholil putri dari Kiai Cholil Abdullah Umar Baureno Bojonegoro. Seorang wedono sekaligus kiai pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Baureno yang saat ini berkembang tak hanya berbasis pendidikan pesantren saja namun juga menyangkup lembaga pendidikan lainnya mulai dari PAUD, TK, MI, MTs, MA hingga SMK Darul Ulum. Yang menarik adalah, jika mertua Mbah Mik (Kiai Cholil) sanad keilmuannya diperoleh dari Kiai Dimyathi Tremas maka ayah beliau (Mbah Baidhowi) berguru kepada kakak kandung dari Kiai Dimyathi, yakni Syekh Mahfudz at-Termasi. Dari pernikahan ini beliau dikarunia 4 orang putra dan putri, serta 11 cucu. Di samping itu beliau juga menjadi besan Kiai Ahmad Abdul Haq (Mbah Mad) Watucongol Muntilan Magelang, Kiai Zainal Arifin Tuban, Kiai Nurul Huda Jazuli (Yai dah) Ploso Kediri dan Kiai Muhibbin Muhsin Mranggen Demak.

Rihlah Ilmiah

Selain mendapat asuhan langsung dari ayahnya dan kiai-kiai sepuh Lasem lainnya Mbah Mik juga pernah nyantri di beberapa pesantren. Yaitu di Kajen Pati dalam bimbingan Kiai Thohir Nawawi, di Tebuireng dalam asuhan Kyai Yusuf Hasyim. Tak sampai di situ beliau juga pernah nyantri di Sarang (termasuk santri pertama al-Anwar asuhan Kiai Maimoen Zubair), Pondok Seblak Jombang dan Pesantren Tegalrejo Magelang yang diasuh Kiai Chudhori. Selain itu juga pernah tabarukan ngaji dan mengambil silsilah sanad dari Syekh Yasin al-Fadani di Mekah al-Mukarramah.

Ada satu cerita yang diungkap Mbah Mik sebelum beliau wafat. Beliau berkisah ketika mondok di Sarang dulu jika pulang ke Lasem pernah naik cikar bersama Mbah Yai Idris Marzuki Lirboyo. Kenangan itu beliau sampaikan sesaat setelah beliau disturi perso (dikabari) bahwa Kiai Idris meninggal, tepat 7 hari sebelum Mbah Mik wafat.

Menurut cerita lain, saat mondok di Tegalrejo Mbah Mik tak seperti teman-teman sebayanya. Jika sudah tidur, beliau sangat susah dibangunkan untuk budal (berangkat) ngaji. Melihat kondisi bapak seperti itu, Mbah Chudhori hanya mendiamkan dan enggan memarahi. Malah Mbah Mik kerap ditimbali (dipanggil) ke ndalem dan nurut saat disuruh makan. Bisa jadi karena keseringan makan dengan piring-sendok yang dipakai Mbah Yai dan dengan nasi serta lauk yang sama, turut membentuk bapak kami mendapat sirr dan berkah dari para gurunya. Begitu juga setelah beliau boyong, Gus Dul Bar (putra Mbah Halim Baidhowi) juga merasakan hal yang sama. Tak pernah ditegur jika sering bolos ngaji.

Usut punya usut ternyata Mbah Chudhori pernah dawuh, bahwa alasan membiarkan mereka adalah karena alasan adab kepada guru beliau. Dalam prinsip Mbah Chudhori, adalah satu nikmat dan anugrah besar jika di pondok asuhannya ditunggui dzurriyah guru dan kiai-kiai beliau. Meski jarang ngaji yang penting masih mau mondok dan dekat dengan beliau itu sudah lebih dari cukup. Ibarat jimat, kesempatan ngemong (mengasuh) putra-putra guru beliau adalah bentuk khidmah beliau kepada guru. Inilah kemudian yang diyakini menjadi salah satu kunci sukses para kiai sepuh dalam mencari keberkahan.

Berbeda lagi kisah saat awal-awal merintis pesantren di tahun 60-an, Mbah Maimoen Zubair kala itu hanya memiliki segelintir orang santri. Di antara murid generasi pertama beliau adalah Mbah Hamid Baidhowi dan Mbah Imam Mahrus Lirboyo. Tak heran jika keduanya begitu dekat saat muda hingga akhir hayat.

Seperti yang terekam dalam sebuah majlis, keduanya didapuk Mbah Moen untuk memberi mau’idzoh kepada para hadirin dalam satu acara. Berhubung yang menyuruh sang guru, tak ada alasan bagi mereka berdua untuk bisa menolak.

Taushiyah pertama disampaikan oleh Mbah Imam, di sela-sela dawuhnya seringkali beliau gasaki Mbah Hamid. Mbah Imam kemudian berkisah: “Dulu waktu mondok, Gus Hamid itu hobinya tidur terus. Ngaji yo turu, tapi anehe kok dadi kyai yo?”. Canda beliau disambut tawa mustamiin. Belum puas sampai di situ, Mbah Imam lalu meneruskan jika sebenarnya Mbah Mik di Sarang itu tidak mondok tapi ikut kakaknya, yaitu Nyai Fahimah istri Mbah Maimoen.

Setelah Kyai Imam bicara, giliran Mbah Hamid yang dedawuhan (pidato). Tak mau membuang kesempatan, Mbah Hamid pun membalas gojlokan Mbah Imam dengan gaya khasnya: “Dulu waktu awal mondok, setiap manjing (masuk) waktu sholat yang adzan selalu Gus Imam, padahal suaranya fals”. Lalu dengan nada yang dimirip-miripkan beliau mempraktekkan suara Mbah Imam saat adzan yang terbilang aneh dan cempreng. Sontak para hadirin pun turut terkekeh.

Peran Inteletual

Setelah Kiai Baidhowi wafat di tahun 1970 meski masih terbilang muda beliau meneruskan estafet kepemimpinan dan menjadi pengasuh pesantren tinggalan sesepuh yang terus menjaga manhaj dan tradisi ahlis sunnah wal jamaah. Otomatis kiprah beliau dalam mengajar dan mendidik santri tidak diragukan lagi. Menurut penuturan Nyai Djamilah, saat masih muda Mbah Mik sudah terbiasa ngaji 4-5 kali dalam sehari dengan kitab yang berbeda. Namun di akhir tahun-tahun sebelum beliau wafat, saat mengajar masih beliau lampahi meski dilakukan sambil rebahan di atas kursi panjang akibat kondisi badan yang tak mampu duduk berlama-lama.

Dalam mengasuh pesantren beliau masih tetap memegang manhaj kitab salaf. Meski begitu beliau tak membatasi hanya kebutuhan pendidikan pesantren saja namun juga mewadahi beberapa lembaga lain mulai dari pendidikan Playgrup, TK, TPQ, madrasah diniyah hingga majlis ta’lim ahad pagi dan pengajian selapan ahad kliwon dalam naungan Yayasan Pondok Pesantren al-Wahdah. Tak hanya itu, kontribusi intelektual beliau juga dapat dilacak ketika Mbah Hamid juga tercatat pernah aktif mengajar di Madrasah Jailaniyah (ditutup tahun 1985) yang terletak di komplek Masjid Jami’ Lasem.

Kecintaan beliau terhadap ilmu tak sampai di situ, upaya agar putra-putranya bisa mondok bahkan ada dikirim belajar di dua kota suci (Mekkah-Madinah) semakin memberi petunjuk betapa sangat pentingnya sanad keilmuan di mata Mbah Hamid dan seriusnya beliau mencetak generasi melek ilmu sebagai bentuk tanggung jawab dan penghargaan beliau terhadap ilmu dan ngaji.

Dalam menempa dan mendidik santri konon katanya Mbah Hamid sangat jarang duko atau marah-marah dengan para santri. Kalaupun terpaksa marah biasanya hanya memakai sindiran dan sekedar bicara pelan. Seperti saat itu misalnya, sekitar akhir tahun 80-an, ketika ada beberapa santri yang kepergok di gotha’an (kamar) sedang iseng main kartu saat liburan. Keseruan mereka semakin menjadi tatkala setiap ada yang kalah wajib dioles dengan arang. Semakin sering kalah semakin legam di sekujur wajah.

Dan saat memergoki kejadian itu, kembali beliau hanya menyindir tenang: Cung, dolanan kartu nek gak ono telo godoge yo kurang marem (Nak, main kartu kalau tak ada singkong rebusnya ya kurang seru). Mendengar suara khas Mbah Mik dari arah pintu, seketika membuat para santri menjadi blingsatan tak karuan. Meski dengan kalimat datar, namun dawuh lirih semacam itu cukup mujarab menciptakan efek ciut nyali bagi para santri mbeling (nakal) zaman itu.

Di antara santri-santri beliau antara lain: Kyai Harisun Pondok Pesantren Salafiyah Kauman Bangil Pasuruan, Kiai Arifin Baqoh Hamid Pondok Kajoran Magelang, Kyai Ali Qoishor Ahmad Pondok Watucongol Magelang, Kyai Habibullah dan Kyai Mahrus Pondok Darussalam Kebumen, Kyai Raden Muhaimin pondok Salamkanci Magelang, Kyai Aziz Pondok Nurul Hidayah Kademangan Probolinggo, Kyai Mahmudi Kawali Ciamis, dan masih banyak yang lainnya.

Selain menelurkan banyak murid, Mbah Mik juga memiliki beberapa karya kitab dan buku karangan, seperti:

  1. Kitab Tabshirah Min al-Quran wa as-Sunnah Fi Raddialaa Rawafidho wa asy-Syi’ah Haula Nikahi Mut’ah
  2. Kitab Dhiyau al-Lahdhah Fi Masjidi al-Khitthoh
  3. Kitab al-Lu’lu wa al-Marjan Fi Mas’alati Nikah wal Khitan
  4. Ar-Risalah al-Maftuhah Fi raddialaa al-Ilmaniyah
  5. Al-Abyat al-Qashirah (Ad-dinu wa ad-Daulah Mutalaazimani Fi Raddi Ilmani wa Librali),
  6. Kitab Fi Masalati Itsbatis Syawwal dan beberapa kitab lainnya.
    Peran Sosial Keagamaan

Beliau pernah menjabat sebagai pimpinan tanfidziyah NU cabang Lasem dan menjadi rais syuriah PCNU Lasem. Dari kepemimpin beliau kemudian lahirlah madrasah di bawah lembaga pendidikan ma’arif NU. Dari sebidang tanah yang awalnya tanah milik Kyai Hamid Pasuruan dan Kyai Ali Maksum Krapyak ini akhirnya diwaqafkan untuk kepentingan taklim dan kini berdiri komplek pendidikan mulai dari SMP NU, MA NU dan SMK NU. Di samping itu juga berkah perjuangan beliau mampu bersama elemen masyarakat menggagas dan membangun sebuah masjid serta panti asuhan untuk yatim piatu dan dhuafa bernama Darul Aitam di bilangan timur kota Lasem. Sebuah daerah yang dulu dikenal abangan.

Saat NU dalam masa kepemimpinan beliau pula PCNU Lasem pernah mengadakan hajat besar dan menjadi tuan rumah, yaitu kongres IPNU-IPPNU XI yang diadakan di Pondok Pesantren al-Wahdah pada tanggal 23-27 Desember 1991. Saat itu yang menjadi ketua IPNU terpilih adalah Zainut Tauhid Sa’ady, yang saat ini menjabat sebagai wakil menteri agama RI. Tak sampai di situ, cinta beliau terhadap NU juga dapat dilacak dari sebidang tanah yang terletak di jalan raya pantura di daerah utara Lasem yang sengaja beliau waqafkan untuk kepentingan NU. Hal ini tidak mengagetkan mengingat ayah beliau adalah satu pendiri NU di wilayah Lasem bersama Kyai Maksoem Ahmad dan Kyai Kholil Masyhuri. Bahkan dalam beberapa kesempatan Mbah Hamid pernah menyampaikan bahwa Mbah Baidhowi pernah berpesan singkat: “Cekelono NU masio karek plange (pegangi terus NU meski tinggal papan namanya saja)”.

Peran beliau dalam masyarakat tak sebatas dalam jabatan penting saja, namun dalam hal apapun tak jarang disowani sebagai tempat jujugan dan berkeluh kesah. Mulai dari masalah hutang sampai tanggal pernikahan tak jarang kerap dimintai pendapat dan pangestu. Bahkan soal sapi saja juga pernah diadukan ke Mbah Hamid. Cerita ini berawal dari seseorang yang sapinya sakit keras bahkan nyaris sekarat, orang tersebut lalu sowan minta air untuk sapi agar didoakan dan disuwuk. Dengan sedikit terdesak Mbah Hamid lalu mendoakan. Karena saking bingungnya, beliau lalu berdoa singkat. Berikut bunyi doanya: Mati kersane Allah, urip kersane Allah.. (Mati kehendak Allah, hidup kehendak Allah..). Kemudian beliau meniupkan ke arah air yang sudah disiapkan. Dan beberapa waktu kemudian terdengar kabar bahwa sesuai kehendak Allah Ta’ala sapi tersebut akhirnya mati.

Peran Dakwah

Tidak ada yang bisa membantah jika beliau adalah termasuk juru da’i dan mubaligh. Gaya panggung yang khas menjadikan beliau susah dilupa oleh para pendengarnya. Bahkan sebagian orang menyebut beliau sebagai singa mimbar karena dikenal garang namun juga tak jarang membuat audiens terpingkal.

Dakwah beliau tak hanya di sekitaran Rembang saja, namun juga berdakwah di luar Jawa semisal Jambi, Palembang, Banjarmasin, Makassar bahkan pernah juga memberi taushiyah di Saudi Arabia saat diminta memberi mauidzoh di tengah-tengah komunitas WNI yang tinggal di Jeddah. Berbicara sebagai narasumber di lingkungan kampus juga pernah beliau lakoni, di mana dunia pesantren dan kampus pada waktu itu belum begitu dekat seperti saat ini. Namun jangan salah, beliau juga sangat gemati dan tak sungkan mendatangi dan mengisi pengajian di pelosok-pelosok desa hingga daerah yang sulit diakses jalan dan transportasi. Semua itu beliau jalani dan nikmati dengan telaten dan sabar tanpa kehilangan semangat untuk berdakwah.

Pernah salah satu santri ndalem bercerita, ketika usai nderekno Mbah Mik pengajian di daerah pedalaman yang harus mereka tempuh dan lewati dengan jalan yang sangat buruk dan melelahkan, Mbah Nyai Hamdanah (ibu beliau) selalu mewanti-wanti: Ojo dipekso mid... Kemudian Mbah Mik menjawab ringan: Amar maruf, buk.. Mboten nopo. Bisa jadi beliau sedang meyakini satu dawuh bahwa setiap ibadah akan mendapat ganjaran masing-masing sesuai dengan tingkat kesulitannya, semakin sulit dan payah maka pahala yang diraih akan semakin bertambah. Seperti maqalah yang sering kita dengar:

الاجرة على حسب المشقة

Peran Kebangsaan

Di era tahun 80-an beliau sempat mengabdi dan terpilih menjadi dewan perwakilan daerah dari partai PPP, namun sayang hal itu tak berjalan lama. Sepertinya beliau lebih senang dan fokus memilih mengurusi NU saat itu. Bisa jadi merasa kurang pas akhirnya jabatan prestise tersebut beliau lepas. Kemudian di masa reformasi pengabdian kepada negara terus berlanjut saat beliau dilantik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) di 3 periode presiden RI sekaligus.

Meski harus bolak-balik sidang dari Lasem ke Jakarta, namun tanggung jawab keilmuan beliau di pesantren tidak dilupakan. Bahkan acara ceramah juga masih bisa ditunaikan di tengah-tengah kesibukan Mbah Mik rapat dan sidang.

Kesederhaan beliau saat menjabat sebagai dewan agung dapat dilihat ketika beliau berangkat sidang yang lebih sering menggunakan moda transportasi bus malam dibanding kereta api apalagi pesawat terbang. Begitupun juga saat memilih penginapan, nyaris tak pernah beliau menginap di tempat sekelas hotel berbintang. Beliau lebih nyaman bermalam di sebuah losmen milik PHI (Pusat Haji Indonesia) di bilangan Kwitang Jakarta Pusat dengan restaurant di dalamnya yang hanya sekelas warteg. Bahkan jika beruntung, di teras taman penginapan tersebut kadang dijumpai tikus got lewat begitu saja. Jiwa sederhananya tak bisa ditutupi meski telah menjadi pejabat tinggi.

Inilah yang kemudian menjadikan Mbah Mik mampu menyisihkan sebagian gajinya untuk membangun madrasah di atas tanah kosong selatan pesantren yang dulu dibeli ayahnya (Mbah Baidhowi) dari orang Tionghoa Lasem. Menurut cerita orang peranakan ini enggan menjual tanah tersebut selain kepada ayah Mbah Hamid. Padahal di sisi lain kiai lainnya justru mendesak untuk membeli. Hingga kini tanah tersebut didirikan madrasah dan masih aktif digunakan kegiatan belajar-mengajar. Pagi untuk TK, siang untuk kegiatan TPQ dan MADIN untuk santriwan dan santriwati di malam hari.

Pemikiran-pemikiran Mbah Hamid

Jika Mbah hamid terlihat tegas dan keras di tiap bicara, sebenarnya secara personal beliau adalah sosok yang lembut dan kalem. Ini juga yang pernah disampaikan Kiai Musthofa Bisri saat bicara sebelum menyolati dan menjadi imam terakhir saat jenazah Mbah Mik akan disolatkan di Masjid Jami’ sambil menahan tangis.

Ketegasan beliau bisa terlihat saat bahasan yang dibicarakan terkait masalah syariat lebih-lebih soal aqidah. Tak mengherankan jika kitab-kitab karangan beliau banyak bicara tentang aliran-aliran yang ditengarai melenceng dan jauh dari aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Meski kadang berbeda pendapat dengan beberapa tokoh dan terkesan melawan arus, namun beliau tetap kukuh memegang prinsip.

Keseriusan beliau dalam kaitannya dengan bab aqidah dapat juga disimak dalam beberapa ceramahnya. Bahkan beberapa hari sebelum wafat beliau masih menghadiri perkumpulan aliansi anti Syi’ah yang diadakan di Bandung. Meski terlihat lelah namun semangat beliau berjuang memperbaiki kondisi umat hingga akhir hayat masih dapat dirasakan geloranya. Dan pada kesempatan itu beliau diminta memimpin do’a dengan isak tangis memohon agar umat Islam diberi keselamatan dari fitnah paham-paham menyimpang yang kian hari kian tumbuh subur di negara ini. Bukan hanya kepada Syi’ah, kepada aliran-aliran nyleneh lainnya juga mendapat perhatian khusus. Sebut saja aliran Ahmadiyah, paham liberal, sekuler dan plularisme.

Pesan tersirat dari Wafatnya Mbah Hamid

Setelah menghadiri haflah akhirussanah di Pondok al-Falah Ploso kondisi kesehatan beliau sempat menurun. Setelah 3 hari dirawat di RS Keluarga Sehat Hospital Pati. Beliau wafat dalam usia 71 tahun (perhitungan hijriyah) bertepatan dengan hari Ahad Kliwon 17 Sya’ban 1435 atau 15 Juni 2014. Beliau dimakamkan di dekat pusara para leluhurnya di utara Masjid Jami’ Lasem. Seperti Mbah Abdurrahman Basyaiban (Mbah Sambu), Mbah Baidhowi Awwal, Mbah Abdul Aziz, Mbah Baidhowi (tsani) dan lain sebagainya.

Uniknya, di saat beliau menghembuskan nafas terakhir saat itu sedang berlangsung pertemuan Bani Baidhowi di Pondok al-Fahriyah Lasem yang dihadiri segenap kerabat dari penjuru daerah. Suasana pertemuan yang awalnya penuh bahagia reuni keluarga besar tiba-tiba berubah haru dan penuh tangis pilu. Dan ketika jenazah datang ke rumah duka, para kerabat dan dzurriyah sudah menyambut kedatangan jenazah tanpa harus repot datang jauh-jauh sebab pertemuan tersebut bertempat hanya beberapa langkah dari kediaman Mbah Hamid. Ini tentu bukan satu kebetulan, di saat sanak-saudara berkumpul tepat saat itu beliau wafat. Ini sejatinya menunjukkan bahwa betapa dekatnya beliau dengan para kerabat. Sehingga dapat disimpulkan satu pesan bagi siapapun agar selalu menjaga tali seduluran dan silaturrahim.

Tak sampai di situ kewafatan beliau di hari Ahad Kliwon juga menjadi satu tanda lain, mengingat Ahad Kliwon juga bertepatan dengan pengajian selapan Ahad pagi yang banyak dihadiri para santri sepuh baik laki-laki maupun perempuan. Sekali lagi ini menjadi petunjuk penting agar di kemudian hari setelah kewafatannya tradisi taklim dan ngaji agar tetap selalu dijaga dan diteruskan. Dua pesan inilah (menjaga silaturahim dan terus ngaji) yang nyata jelas menjadi perhatian khusus beliau. Meski wasiat tersebut tak sempat terucap lewat lisan, namun pesan tersirat tersebut semoga memberi motivasi bagi kita untuk terus merajut hubungan persaudaraan dan tetap seneng ngaji. Wallahu a’lam